Selama ini, pembelajaran di sekolah lebih banyak berpusat pada guru. Dalam Teacher Centered Learning (TCL), pendidik menjadi sumber utama pengetahuan, sementara siswa hanya mendengar dan menerima. Model ini dulu dirasa sesuai sesuai, tetapi kini mulai kurang relevan.
Saat ini, pembelajaran mulai bergeser ke Student Centered Learning (SCL), di mana siswa lebih aktif mengatur proses belajarnya. Perubahan ini muncul karena tuntutan zaman yang menekankan kemampuan berpikir kritis, kolaborasi, dan pemecahan masalah.
Namun, mengubah pola belajar yang sudah berlangsung lama tidak mudah. Guru menghadapi tantangan baru, tetapi sekaligus peluang besar untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Memahami Pergeseran Paradigma
Peran guru berubah dari pusat perhatian menjadi fasilitator yang mendampingi siswa belajar. Fokusnya bukan lagi pada apa yang disampaikan pendidik, melainkan apa benar-benar dipahami peserta didik.
Siswa tidak lagi dianggap sebagai penerima pasif, melainkan pembelajar aktif yang membangun pemahamannya melalui pengalaman. Keberhasilan pembelajaran kini diukur dari kompetensi yang benar-benar terbentuk.
Dengan peran guru sebagai fasilitator, siswa dapat belajar lebih efektif dan menyenangkan (Gambar: Canva/Odua Images)Tantangan yang Dihadapi Pendidik
Beberapa kendala yang sering muncul di lapangan sebagai berikut.
1. Adaptasi mindset
Sebagian guru masih terbiasa mengendalikan kelas, sehingga merasa kehilangan kontrol saat siswa lebih aktif berdiskusi.
2. Kesiapan siswa
Siswa yang biasa pasif membutuhkan waktu untuk terbiasa belajar mandiri.
Baca juga:
Gimkit: Inovasi Game-Based Learning untuk Menciptakan Evaluasi Pembelajaran yang Interaktif
3. Fasilitas dan teknologi
Tidak semua sekolah memiliki akses teknologi yang merata, sehingga proses SCL belum selalu optimal.
Peluang Emas di Balik Transisi
Meski menantang, perubahan ini membuka peluang positif.
Siswa semakin terbiasa memanfaatkan teknologi untuk belajar, bukan hanya hiburan. Pemahaman pun lebih mendalam karena diperoleh melalui pengalaman langsung. Selain itu, SCL membantu membangun kemampuan berpendapat, bekerja sama, dan bertanggung jawab.
Peralihan dari TCL ke SCL adalah proses bertahap. Guru membutuhkan kreativitas dan kemauan untuk terus beradaptasi. Tujuannya membentuk generasi pelajar yang mandiri dan siap menghadapi tantangan zaman.
Agar pembelajaran berjalan tepat sasaran, guru perlu memahami karakter siswanya terlebih dahulu. Data ini dapat membantu menentukan metode belajar yang sesuai.
Baca juga:
Teaching at the Right Level (TaRL): Inovasi Pembelajaran untuk Menutup Kesenjangan Belajar
Sebagai dukungan, GuruInovatif.id menghadirkan Entry Level Assessment (ELA) untuk memetakan kemampuan awal siswa secara akurat. Dengan ELA, sekolah dapat memberi dukungan belajar yang dengan menentukan metode belajar yang tepat agar mampu menciptakan siswa yang berdaya saing dan siap menghadapi tantangan zaman.

Konsultasi Profil Data Siswa Anda Di Sini!
Referensi:
Menerapkan Metode Pembelajaran Berorientasi Student Centered Menuju Masa Transisi Kurikulum Merdeka
Tranformasi Guru Profesional Penerapan Pendekatan Student Centered Learning (SCL)
Transisi Pembelajaran Teacher Centered Menuju Student Centered: Penguatan Literasi Teknologi Siswa Sekolah Dasar
Penulis: Ican | Penyunting: Putra