Dunia pendidikan di Indonesia tengah berada pada sebuah titik balik yang krusial. Kini, pembelajaran tidak lagi semata-mata dimaknai sebagai proses mentransfer ilmu pengetahuan, melainkan sebagai upaya menghadirkan pengalaman belajar yang mampu membuat setiap anak—dengan segala keunikan dan latar belakangnya—merasa benar-benar dilihat, didengar, dan didukung.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, peran guru pun menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Guru tidak hanya dituntut untuk berhadapan dengan kejenuhan siswa terhadap metode pembelajaran konvensional, tetapi juga ditantang untuk menciptakan lingkungan sekolah yang aman, nyaman, dan selaras dengan regulasi pendidikan terbaru.
Artikel ini akan mengulas bagaimana pendekatan personalisasi pembelajaran, yang dipadukan dengan pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), dapat menjadi solusi strategis dalam menjawab tantangan tersebut—sekaligus membuka peluang baru bagi terciptanya proses belajar yang lebih bermakna, relevan, dan berorientasi pada kebutuhan setiap siswa.
Mengapa Pembelajaran Adaptif dan Personalisasi Semakin Dibutuhkan?
Setiap ruang kelas diisi oleh individu-individu yang unik. Siswa datang dengan latar belakang, minat, kemampuan, serta gaya belajar yang berbeda-beda. Dalam realitas seperti ini, pendekatan pembelajaran yang seragam atau one-size-fits-all semakin kehilangan relevansinya. Alih-alih mendorong kemajuan, pendekatan tersebut justru berisiko meninggalkan sebagian siswa dan menghambat potensi mereka.
Di sinilah pembelajaran adaptif dan personalisasi menjadi sebuah kebutuhan yang tak terelakkan.
Meningkatkan motivasi dan hasil belajar
Ketika pembelajaran dirancang selaras dengan minat dan kebutuhan individu, siswa merasa lebih terhubung dengan proses belajar yang mereka jalani. Personalisasi membuat siswa tidak lagi sekadar mengikuti materi, tetapi turut terlibat secara aktif dan emosional.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran personalisasi mampu meningkatkan motivasi, keterlibatan, hingga capaian akademik siswa secara signifikan. Belajar pun berubah menjadi pengalaman yang lebih bermakna dan relevan.
Mengembangkan kemampuan berpikir kritis
Pembelajaran adaptif tidak berhenti pada penguasaan materi atau hafalan semata. Melalui penyesuaian konten dan tantangan belajar, siswa didorong untuk menganalisis, mengevaluasi, serta memecahkan masalah yang kontekstual.
Proses ini membantu mereka mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan kreatif—keterampilan penting yang dibutuhkan untuk menghadapi tantangan masyarakat dan dunia kerja di masa depan.
Baca juga:
Sekolah Aman Itu Hak Anak: 9 Asas Penting dalam Permendikdasmen Budaya Sekolah Aman dan Nyaman 2026
Mendukung pembelajaran mandiri
Dalam pendekatan adaptif dan personalisasi, siswa diberikan ruang untuk mengambil peran aktif dalam proses belajar mereka sendiri. Mereka belajar memantau kemajuan, mengatur strategi, dan merefleksikan hasil belajar secara berkelanjutan.
Kemampuan self-regulated learning ini menjadi bekal penting di era digital, di mana pembelajaran tidak lagi terbatas pada ruang kelas, tetapi berlangsung sepanjang hayat.
Efektivitas waktu dan materi pembelajaran
Teknologi dalam pembelajaran adaptif memungkinkan guru dan sistem pembelajaran memantau perkembangan siswa secara real-time. Materi dapat disesuaikan dengan tingkat pemahaman masing-masing siswa—tidak terlalu sulit, tetapi juga tidak terlalu mudah.
Dengan demikian, waktu belajar dimanfaatkan secara lebih efektif, sementara siswa dapat berkembang sesuai ritme dan kebutuhannya tanpa merasa terbebani.
Bagaimana Cara Melibatkan Siswa yang Tampak Tidak Tertarik?
Siswa yang tampak tidak tertarik pada pembelajaran sering kali bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena metode belajar yang mereka hadapi terasa monoton, pasif, dan terlalu abstrak.
Ketika pembelajaran didominasi ceramah satu arah, siswa kehilangan ruang untuk terlibat secara emosional dan intelektual. Untuk membangkitkan kembali motivasi belajar mereka, guru perlu menghadirkan pendekatan yang lebih relevan, interaktif, dan berpusat pada kebutuhan siswa.
Bertransformasi menuju student-centered learning
Langkah pertama yang dapat dilakukan adalah menggeser peran guru dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran.
Dalam pendekatan student-centered learning, siswa diberi ruang untuk mengeksplorasi, bertanya, mencoba, dan membangun pemahamannya sendiri. Guru berperan mendampingi proses tersebut agar setiap siswa dapat mengembangkan potensi dan kemampuan maksimalnya secara aktif.
Menghadirkan pembelajaran yang hidup melalui gamifikasi dan media inovatif
Rasa bosan sering kali muncul ketika siswa tidak melihat kebaruan dalam proses belajar.
Pendekatan game-based learning serta pemanfaatan media visual interaktif—seperti penggunaan Canva berbasis AI—dapat menjadi solusi untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan.
Gamifikasi tidak hanya membuat kelas lebih hidup, tetapi juga membantu siswa memahami konsep secara konkret dan kontekstual.
AI dapat dimanfaatkan sebagai asisten pembelajaran di dalam kelas (Gambar: Canva/Odua Images)Memberikan otonomi melalui pilihan belajar
Motivasi belajar akan meningkat ketika siswa merasa memiliki kendali atas proses belajarnya. Guru dapat memanfaatkan Choice Boards atau papan pilihan yang dirancang dengan bantuan AI untuk memberikan kebebasan kepada siswa dalam memilih cara mereka menunjukkan penguasaan materi.
Dengan demikian, setiap siswa dapat belajar sesuai gaya, minat, dan kekuatan yang dimilikinya.
Pendekatan personal melalui identifikasi dini dan dukungan tepat sasaran
Tidak semua siswa mengalami kesulitan belajar dengan cara yang sama. Teknologi AI dapat membantu guru mengidentifikasi kebutuhan dan kelemahan spesifik siswa sejak dini.
Dengan data tersebut, guru dapat memberikan pendampingan dan intervensi yang lebih personal sebelum siswa merasa tertinggal dan kehilangan kepercayaan diri dalam belajar.
Menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan memberdayakan
Bagi siswa dengan kebutuhan khusus atau hambatan belajar seperti disleksia dan ADHD, AI dapat berperan sebagai “penyeimbang” dalam pembelajaran. Teknologi ini memungkinkan guru mengubah format materi agar lebih mudah diakses dan dipahami, misalnya melalui teks adaptif, audio, atau visual yang disesuaikan.
Ketika siswa merasa mampu mengikuti pembelajaran, rasa percaya diri dan keterlibatan mereka pun tumbuh secara alami.
Bagaimana AI Dapat Membantu Guru dalam Proses Pembelajaran?
Kehadiran AI dalam dunia pendidikan kerap memunculkan kekhawatiran akan tergesernya peran guru. Padahal, AI tidak dirancang untuk menggantikan pendidik. Sebaliknya, teknologi ini berfungsi sebagai asisten yang memperkuat kecerdasan manusia (human augmentation) dalam meningkatkan kualitas proses pembelajaran.
Dengan pemanfaatan yang tepat, AI justru dapat membantu guru bekerja lebih efektif, reflektif, dan berfokus pada hal yang paling esensial: membangun relasi dan mendampingi proses belajar siswa. Berikut beberapa peran praktis AI yang relevan bagi pendidik di kelas masa kini.
Meringankan beban administrasi dan tugas rutin
Salah satu tantangan terbesar guru adalah menumpuknya pekerjaan administratif. AI mampu mengotomatiskan tugas-tugas repetitif, seperti membantu menyusun modul ajar, membuat kuis, hingga memberikan umpan balik awal pada tugas siswa.
Dengan beban administratif yang berkurang, guru memiliki lebih banyak ruang dan energi untuk berinteraksi secara personal dengan peserta didik.
Mendukung analisis data siswa secara lebih mendalam
Melalui pemrosesan data berbasis algoritma, AI dapat membantu guru membaca pola belajar siswa, tingkat keterlibatan, hingga preferensi gaya belajar.
Informasi ini menjadi dasar penting dalam merancang pembelajaran yang lebih personal, relevan, dan berdampak, tanpa harus mengandalkan asumsi semata.
Baca juga:
Dari Regulasi ke Ruang Kelas: Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Humanis melalui Permendikdasmen 6/2026
Asisten pembelajaran yang siaga sepanjang waktu
AI juga dapat berperan sebagai asisten pembelajaran yang dapat diakses kapan saja. Melalui chatbot atau asisten virtual, siswa tetap bisa mendapatkan bantuan belajar di luar jam sekolah atau saat guru tidak berada di tempat.
Hal ini sangat membantu siswa dengan ritme belajar yang berbeda atau mereka yang membutuhkan dukungan tambahan.
Penyedia konten pembelajaran yang cerdas dan inklusif
Dalam hitungan detik, AI mampu menerjemahkan materi presentasi, menyesuaikan tingkat keterbacaan teks sesuai kemampuan siswa, hingga menciptakan simulasi kasus nyata yang kontekstual.
Fitur-fitur ini memudahkan guru menciptakan pengalaman belajar yang lebih inklusif dan adaptif terhadap keberagaman kebutuhan peserta didik.
Membantu mendeteksi potensi bias dalam penilaian
Setelah proses penilaian dilakukan, AI dapat digunakan sebagai alat bantu untuk meninjau kembali apakah terdapat bias subjektif dalam pemberian nilai.
Dengan demikian, objektivitas penilaian dapat lebih terjaga, sekaligus memperkuat kepercayaan dan hubungan positif antara guru dan siswa.
Pada akhirnya, integrasi AI dan strategi personalisasi pembelajaran menjadi kunci dalam membangun sekolah yang tidak sekadar mengejar capaian akademik, tetapi juga berfungsi sebagai ruang sosial untuk menumbuhkan karakter dan nilai kemanusiaan. Namun, penting untuk diingat bahwa teknologi hanyalah alat.
Esensi mengajar tetap berada pada peran guru dalam menanamkan moral, membentuk perilaku, dan membangun koneksi manusiawi—sesuatu yang tidak akan pernah bisa sepenuhnya digantikan oleh mesin.
Lalu, bagaimana strategi mengintegrasikan AI untuk menyusun rancangan pembelajaran yang interaktif dan optimal? Temukan jawabannya dengan mengikuti workshop nasional berikut ini!

Segera daftar workshopnya disini
Referensi:
AI sebagai Asisten Pembelajaran: Bagaimana Teknologi Membantu Personalisasi Pendidikan untuk Setiap Siswa
Penggunaan Teknologi Artificial Intelligence (AI) untuk Meningkatkan Hasil Belajar IPS Siswa SMP
Peranan Kecerdasan Buatan (Artificial Intelligence) dalam Pendidikan
Strategies for Implementing AI for Better Student Engagement
Using AI to Fuel Engagement and Active Learning
Penulis: Eka | Penyunting: Putra