Dari Regulasi ke Ruang Kelas: Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Humanis melalui Permendikdasmen 6/2026 - Guruinovatif.id

Diterbitkan 20 Jan 2026

Dari Regulasi ke Ruang Kelas: Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Humanis melalui Permendikdasmen 6/2026

Permendikdasmen No. 6 Tahun 2026 menjadi tonggak budaya sekolah aman dan nyaman. Artikel ini membahas dampaknya bagi pendidikan serta strategi membangun budaya kelas positif dan pendekatan humanistik demi sekolah yang berkeadilan dan memanusiakan.

Pelatihan Guru

Event Guru Inovatif

Kunjungi Profile
41x
Bagikan

Dunia pendidikan di Indonesia terus bergerak dinamis seiring dengan berkembangnya regulasi dan pendekatan pembelajaran. Perubahan ini tidak hanya berfokus pada peningkatan capaian akademik, tetapi juga pada upaya membangun ekosistem belajar yang aman, nyaman, dan berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan. Sekolah diharapkan menjadi ruang yang tidak sekadar mentransfer pengetahuan, melainkan juga memanusiakan manusia melalui proses belajar yang bermakna.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, pemerintah meluncurkan Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 6 Tahun 2026 tentang Budaya Sekolah Aman dan Nyaman. Regulasi ini hadir sebagai langkah strategis untuk memperkuat peran sekolah dalam menciptakan lingkungan yang melindungi dan mendukung tumbuh kembang seluruh warga sekolah. Di tengah tantangan sosial, psikologis, dan kultural yang semakin kompleks, kebijakan ini menjadi fondasi penting bagi terwujudnya iklim pendidikan yang lebih sehat dan berkeadilan.

Melalui penerapan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman, sekolah diarahkan untuk menjadi ruang yang bebas dari kekerasan, diskriminasi, serta berbagai praktik yang merugikan peserta didik. Lebih dari itu, kebijakan ini mendorong terbangunnya hubungan yang humanis, inklusif, dan partisipatif antara siswa, pendidik, tenaga kependidikan, serta seluruh pemangku kepentingan pendidikan.

Artikel ini akan mengulas lebih dalam mengenai dampak penerapan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 sekaligus membahas strategi dalam membentuk generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, sehat secara mental, dan mampu beradaptasi di tengah dinamika kehidupan sosial.

Dampak Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 terhadap Dunia Pendidikan

Pemberlakuan Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 membawa sejumlah perubahan signifikan dalam penyelenggaraan pendidikan di Indonesia. Regulasi ini tidak sekadar menghadirkan aturan administratif, tetapi juga mendorong transformasi cara pandang sekolah dalam membangun ekosistem pendidikan yang aman, nyaman, dan memanusiakan setiap individu.

Beberapa dampak utama dari kebijakan ini dapat dilihat pada aspek berikut:

1. Pergeseran paradigma tentang peran sekolah

Melalui regulasi ini, sekolah tidak lagi dimaknai semata sebagai tempat transfer pengetahuan akademik. Sekolah diposisikan sebagai ruang sosial dan kultural yang berperan penting dalam membentuk karakter, nilai, sikap, serta kebiasaan peserta didik.

Dengan demikian, proses pendidikan diarahkan tidak hanya pada capaian kognitif, tetapi juga pada pembentukan kepribadian dan kematangan sosial siswa.

2. Penguatan pendekatan yang humanis dan partisipatif

Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menekankan pentingnya keterlibatan aktif seluruh unsur sekolah, mulai dari peserta didik, pendidik, tenaga kependidikan, hingga pemangku kepentingan lainnya. Penyusunan kesepakatan bersama dan pengelolaan budaya sekolah dilakukan secara dialogis dan kolaboratif.

Pendekatan ini mengurangi praktik pengelolaan sekolah yang bersifat struktural, kaku, dan sepihak, sekaligus mendorong tumbuhnya rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.

Baca juga:
Sekolah Aman Itu Hak Anak: 9 Asas Penting dalam Permendikdasmen Budaya Sekolah Aman dan Nyaman 2026

3. Penjaminan kesejahteraan warga sekolah secara menyeluruh

Regulasi ini memberikan penekanan kuat pada pemenuhan kesejahteraan warga sekolah secara holistik. Tidak hanya mencakup pelindungan fisik, tetapi juga pemenuhan kebutuhan spiritual, kesejahteraan psikologis, serta keamanan sosiokultural dan digital.

Dengan jaminan tersebut, sekolah diharapkan mampu menjadi lingkungan yang aman, inklusif, dan suportif bagi tumbuh kembang setiap individu.

4. Reformasi dalam penegakan tata tertib dan aturan sekolah

Dalam aspek penegakan aturan, kebijakan ini mendorong perubahan pendekatan yang lebih edukatif dan berorientasi pada pemulihan.

Pemberian sanksi tidak lagi ditekankan pada hukuman yang keras dan berpotensi menimbulkan dampak psikologis negatif. Sebaliknya, sanksi diarahkan untuk bersifat mendidik, tidak diskriminatif, serta diselesaikan melalui dialog, refleksi, dan pemahaman bersama. Pendekatan ini diharapkan mampu membangun kesadaran, bukan sekadar kepatuhan.

Secara keseluruhan, Permendikdasmen Nomor 6 Tahun 2026 menjadi tonggak penting dalam reformasi budaya sekolah di Indonesia. Regulasi ini membuka ruang bagi lahirnya praktik pendidikan yang lebih berempati, berkeadilan, dan berorientasi pada kesejahteraan jangka panjang warga sekolah.

Cara Membangun Budaya Positif di Kelas

Budaya kelas yang positif memegang peranan penting dalam mendukung keberhasilan belajar siswa. Lingkungan belajar yang sehat tidak hanya berdampak pada peningkatan motivasi dan hasil akademik, tetapi juga membantu menumbuhkan efikasi diri, rasa aman, serta keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran.

Budaya positif di kelas dapat dibangun secara bertahap melalui penerapan tiga strategi utama yang saling berkaitan, serta penguatan tujuh dimensi iklim kelas. Keduanya menjadi fondasi penting untuk menciptakan ruang belajar yang mendukung pertumbuhan akademik dan sosial-emosional siswa.

Tiga strategi utama membangun budaya positif

Berikut ini penjelasan terkait tiga strategi utama dalam membangun budaya positif di kelas.

1. Komunikasi yang terbuka dan hangat

Guru memiliki peran sentral dalam membangun hubungan yang bermakna dengan siswa.

Hal ini dapat dimulai dari tindakan sederhana, seperti menyapa siswa dengan ramah, mengenal dan memanggil nama mereka, serta menunjukkan antusiasme dalam mengajar. Umpan balik yang diberikan secara cepat, jelas, dan konstruktif juga membantu siswa merasa dihargai dan diperhatikan.

Selain itu, kepedulian guru terhadap siswa yang mengalami kesulitan akademik menjadi sinyal penting bahwa kelas adalah ruang aman untuk belajar dan bertumbuh.

2. Lingkungan yang inklusif

Budaya positif tumbuh ketika kelas menjadi ruang yang inklusif bagi semua siswa. Guru dapat menghadirkan materi pembelajaran yang merepresentasikan keberagaman ide, latar belakang, dan sudut pandang.

Memberikan variasi metode belajar serta pilihan dalam menyelesaikan tugas juga membantu siswa merasa berdaya, nyaman, dan memiliki kontrol atas proses belajarnya sendiri.

3. Organisasi dan aksesibilitas

Pengelolaan kelas yang tertata dengan baik turut menentukan kenyamanan belajar siswa. Materi pembelajaran sebaiknya disusun secara sistematis, mudah diakses, dan dilengkapi dengan tenggat waktu yang jelas.

Selain itu, pemenuhan standar aksesibilitas—terutama dalam pembelajaran berbasis digital—menjadi faktor penting agar seluruh siswa dapat mengikuti pembelajaran secara setara.

Dari Regulasi ke Ruang Kelas: Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Humanis melalui Permendikdasmen 6/2026Mewujudkan Budaya Sekolah Aman dan Nyaman memerlukan sinergi dari warga sekolah hingga pemangku kepentingan (Gambar: Canva/Delusilab)

Tujuh dimensi iklim kelas yang perlu dikembangkan

Untuk memperkuat budaya positif, guru juga perlu memperhatikan tujuh dimensi iklim kelas berikut ini:

  1. Personalisasi

    Guru mengenal siswa sebagai individu yang unik serta menunjukkan kepedulian terhadap kesejahteraan mereka, baik secara akademik maupun emosional.

  2. Keterlibatan

    Setiap siswa diberi kesempatan dan dorongan untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran, sehingga tidak ada yang merasa terpinggirkan.

  3. Kohesivitas Siswa

    Guru mendorong interaksi positif antarsiswa melalui kerja sama, diskusi, dan kegiatan kelompok agar tercipta rasa kebersamaan di dalam kelas.

  4. Kepuasan

    Siswa merasakan bahwa kelas adalah ruang belajar yang menyenangkan dan bermakna, serta melihat nilai dari setiap aktivitas pembelajaran yang diikuti.

  5. Orientasi Tugas

    Seluruh aktivitas pembelajaran dirancang secara terstruktur dan selaras dengan tujuan pembelajaran yang jelas, sehingga siswa memahami arah dan manfaat dari setiap tugas yang diberikan.

  6. Inovasi

    Guru menerapkan praktik pedagogi yang inovatif dan relevan, serta menjelaskan tujuan dan manfaatnya agar siswa memahami alasan di balik setiap pendekatan pembelajaran.

  7. Individualisasi

    Siswa diberikan ruang untuk memiliki otonomi dan pilihan dalam aspek tertentu di kelas, sehingga mereka dapat belajar sesuai dengan kebutuhan dan minat masing-masing.

Dengan mengintegrasikan ketiga strategi utama dan tujuh dimensi iklim kelas tersebut, guru dapat membangun budaya kelas yang positif, inklusif, dan berkelanjutan. Pada akhirnya, kelas tidak hanya menjadi tempat transfer pengetahuan, tetapi juga ruang aman yang mendorong siswa untuk tumbuh, berani bereksplorasi, dan mencapai potensi terbaiknya.

Baca juga:
Pemerintah Siapkan SMK 4 Tahun dan SMK Go Global, Lulusan Ditargetkan Lebih Siap Industri

Pendekatan Humanistik di Dalam Kelas

Pendekatan humanistik merupakan pendekatan pembelajaran yang menempatkan pengalaman personal siswa sebagai pusat proses belajar. Dalam pendekatan ini, pendidikan tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan nilai moral, kesadaran diri, dan pengembangan potensi pribadi setiap peserta didik. Siswa dipandang sebagai individu utuh dengan kebutuhan emosional, sosial, dan psikologis yang perlu diperhatikan secara seimbang.

Dengan berlandaskan prinsip student-centered learning, pendekatan humanistik menekankan pentingnya keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi proses tumbuh kembang siswa, bukan sekadar sebagai penyampai materi. Pembelajaran pun menjadi lebih bermakna karena menyentuh dimensi afektif yang berpengaruh besar terhadap perkembangan sosial dan emosional anak.

Dalam praktiknya, pendekatan humanistik memiliki beberapa karakteristik utama. Pertama, internalisasi karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan belajar. Nilai-nilai seperti kejujuran, disiplin, empati, dan tanggung jawab tidak hanya diajarkan secara teoritis, tetapi juga ditanamkan melalui pengalaman nyata dalam kehidupan sehari-hari di kelas.

Kedua, pendekatan ini menuntut terciptanya atmosfer pembelajaran yang mendukung. Guru diharapkan mampu menghadirkan suasana kelas yang hangat, aman, dan penuh penghargaan, sehingga siswa merasa nyaman untuk menyampaikan pendapat, bertanya, serta mengekspresikan perasaan dan ide mereka tanpa rasa takut.

Ketiga, refleksi menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran. Siswa didorong untuk merenungkan pengalaman belajar yang mereka alami, memahami makna dari setiap proses, serta menyadari bagaimana pengalaman tersebut berkontribusi pada pembentukan karakter dan sikap mereka.

Keempat, pendekatan humanistik menjunjung tinggi penghargaan terhadap keberagaman. Setiap siswa hadir dengan latar belakang budaya, karakter, dan kondisi emosional yang berbeda. Melalui pendekatan ini, perbedaan tersebut tidak dipandang sebagai hambatan, melainkan sebagai kekayaan yang memperkuat terciptanya lingkungan belajar yang inklusif dan multikultural.

Secara keseluruhan, sinergi antara regulasi pemerintah yang mendukung keamanan sekolah, pengembangan budaya kelas yang terstruktur, serta penerapan pendekatan humanistik diharapkan mampu melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat, empati tinggi, dan kesadaran sosial yang baik.

Tentu saja, keberhasilan pendekatan ini sangat bergantung pada peran guru dalam memahami psikologi anak dan menghadirkan kebahagiaan di ruang kelas. Guru bukan hanya pendidik, tetapi juga pendamping dalam proses tumbuh kembang siswa. Ingin mengetahui bagaimana menciptakan kelas yang hangat, aman, dan bermakna? Yuk, ikuti webinar nasional berikut ini!

Webinar nasional GIC 161 | Membangun Budaya Kelas Humanis sebagai Awal Transformasi Semester Baru

Daftar webinarnya disini

Referensi:
Classroom Climate and Culture
Humanistic Learning Approach in Internalizing Students' Character in Elementary Schools
Membangun Budaya Sekolah Aman dan Nyaman melalui Pendekatan yang Humanis


Penulis: Eka | Penyunting: Putra

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

GI Class #109 | Mengoptimalkan Karir Mengajar melalui PPG bagi Guru Tertentu
0 sec
Sekolah Juara: Inovasi, Inspirasi, dan Apresiasi pada Insan Pembangun Negeri
0 sec
Gunakan 3 Aplikasi Asesmen Diagnostik Ini untuk Tingkatkan Kualitas Pembelajaran di Kelas
0 sec
Program Pelatihan In House Training Kurikulum Merdeka
0 sec
Pendidikan Abad Ke-21 Melahirkan Empat Kompetensi Penting Berikut Ini!
0 sec
Guru Inovatif Conference 2024 | Pendidikan Masa Depan: Inovasi dan Investasi untuk Kesetaraan dan Kemajuan
0 sec
Komunitas