Sekolah sering dianggap siswa sebagai rumah kedua. Karena itu, jika suasananya kaku atau penuh tekanan, peserta suit merasa nyaman dan berkembang. Faktanya, masih banyak kasus perundungan dan stres akademik yang muncul akibat lingkungan belajar yang kurang mendukung.
Budaya sekolah positif bukan sekadar slogan atau aturan. Suasana yang aman dan nyaman membuat siswa merasa dihargai dan termotivasi untuk belajar sekaligus bertumbuh sebagai pribadi yang lebih baik.
Di sinilah peran guru sangat penting. Meski kurikulum dan fasilitas bisa berubah, interaksi guru dan siswa tetap menjadi inti pembelajaran. Tenaga pendidik memegang peranan penting dalam menciptakan kelas yang mendukung tumbuhnya karakter dan kesehatan mental siswa.
Menciptakan Ruang Aman secara Psikologis
Belajar hanya berjalan ketika siswa merasa nyaman. Rasa takut salah atau cemas membuat mereka sulit fokus. Karena itu, kelas perlu menjadi tempat yang nyaman untuk bertanya dan mencoba.
Baca juga :
GI Class #113 | Pentingnya Kesehatan Mental di Sekolah: Peran Guru dalam Menciptakan Lingkungan Belajar yang Aman dan Mendukung
Tindakan sederhana, seperti tidak mempermalukan siswa saat salah atau mendengarkan mereka tanpa menghakimi dapat membuat perbedaan besar. Ketika siswa merasa aman, kepercayaan diri dan keberanian mereka tumbuh.
Mengajar Karakter Siswa Melalui Keteladanan Guru
Siswa belajar banyak dari apa yang mereka lihat, bukan hanya apa yang mereka dengar. Nasihat tentang sopan santun atau kejujuran menjadi tidak berarti jika perilaku guru tidak sejalan dengan hal tersebut.
Budaya positif lahir dari contoh nyata. Ketika guru menunjukkan sikap menghargai dan konsisten, siswa akan menirunya. Keteladanan adalah cara paling efektif mengajarkan karakter.
Budaya sekolah positif menciptakan rasa aman yang mendukung pembelajaran dan efektif membentuk karakter siswa (Gambar: Canva/Odua Images)Fokus pada Proses dan Apresiasi
Dalam budaya positif, kesalahan adalah bagian dari belajar. Guru berperan mengarahkan siswa untuk tidak hanya mengejar nilai, tetapi juga menghargai usaha mereka sendiri.
Apresiasi kecil, seperti memberi pujian pada siswa yang berani mencoba atau memperbaikI nilai, sangat membantu membangun kepercayaan diri. Ini menumbuhkan sikap pantang menyerah dan melihat belajar sebagai proses, bukan sekadar angka.
Membangun budaya sekolah positif membutuhkan waktu dan komitmen, tetapi hasilnya sangat berharga. Siswa tumbuh dengan lebih percaya diri, merasa dihargai, dan siap berkembang.
Baca juga:
Ironi Pendidikan: Gaji Guru Honorer Lebih Kecil dari Uang Jajan Siswa
Perubahan selalu dapat dimulai dari ruang kelas. Jadikan kelas sebagai tempat tumbuhnya karakter dan kesehatan mental, bukan hanya tempat belajar.
Sebagai dukungan, GuruInovatif.id menghadirkan Entry Level Assessment (ELA) untuk memetakan kemampuan awal siswa secara akurat. Dengan ELA, sekolah dapat memberi dukungan belajar yang lebih tepat agar siswa berkembang sesuai potensinya.

Konsultasi Profil Data Siswa Anda Di Sini!
Referensi:
Dampak Bullying Sebagai Faktor Risiko Gangguan Kesehatan Mental dan Penurunan Prestasi Belajar pada Mahasiswa
Pendidikan Karakter : Peranan Dalam Menciptakan Peserta Didik yang Berkualitas Peran Guru dan Budaya Sekolah dalam Pembentukan Karakter Siswa
Strategi Guru dalam Pembiasaan Budaya Positif 5S Terhadap Karakter Peserta Didik di SD Negeri 2 Bebesen
Penulis: Ican | Penyunting: Putra