Yogyakarta, 9 Desember 2025 — GuruInovatif.id kembali menyelenggarakan webinar Guru Inovatif Class ke-160 dengan tema “Sinergi Guru dan Orang Tua dalam Mewujudkan Sekolah yang Aman dan Kolaboratif bagi Tumbuh Kembang Anak*.”* Kegiatan ini menghadirkan Agita Violy, S.S., S.Pd., M.Pd., trainer GuruInovatif.id, sebagai narasumber utama.
Mengawali sesi, Agita mengajak peserta merefleksikan harapan bersama tentang sekolah. Pada dasarnya, setiap orang mendambakan lingkungan belajar yang aman, bukan hanya bagi siswa, tetapi juga bagi seluruh warga sekolah. Sekolah ideal adalah ruang yang mampu mendukung tumbuh kembang anak secara optimal, sekaligus selaras dengan nilai-nilai luhur Pancasila.
Kriteria Lingkungan Sekolah yang Selaras dengan Pancasila
Agita menjelaskan bahwa meskipun Projek Profil Pancasila kini telah bertransformasi menjadi Dimensi Profil Lulusan, Pancasila tetap menjadi ideologi dan arah utama dalam pendidikan nasional. Karena itu, sekolah perlu memastikan bahwa proses pendidikan mendorong anak tumbuh sesuai dengan nilai-nilai dalam lima sila Pancasila.
Untuk mewujudkannya, sekolah setidaknya perlu membangun empat elemen utama sebagai fondasi, yaitu:
Pembelajaran yang berpusat pada peserta didik
Pendidik yang reflektif, gemar belajar, mau berbagi, dan terbuka untuk berkolaborasi
Iklim sekolah yang aman, inklusif, serta menghargai dan merayakan kebinekaan
Kepemimpinan yang berorientasi pada perbaikan layanan pendidikan secara berkelanjutan
Keempat elemen tersebut menjadi dasar bagi terwujudnya sekolah yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu membentuk karakter siswa sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Baca juga:
Mengapa ‘Learning Experience’ Lebih Penting dari Sekadar Nilai Rapor?
Pembelajaran Berpusat pada Siswa sebagai Kunci
Dalam dua hingga tiga tahun terakhir, Agita menyoroti bahwa arah kebijakan pendidikan semakin menekankan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Proses belajar tidak lagi bertumpu pada guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan memberi ruang bagi siswa untuk aktif, terlibat, dan bermakna dalam belajar.
Menurut Agita, pembelajaran yang berpusat pada siswa perlu dimulai dari beberapa aspek penting berikut ini.
1. Perencanaan pembelajaran
Perencanaan pembelajaran, termasuk penyusunan kurikulum satuan pendidikan, perlu disesuaikan dengan karakteristik sekolah dan kebutuhan peserta didik. Agita mencontohkan, sekolah yang berada di wilayah pesisir dapat merancang kegiatan belajar dan pengembangan life skill yang relevan dengan kondisi lingkungan sekitar, sehingga pembelajaran terasa lebih kontekstual dan bermakna.
2. Pelaksanaan pembelajaran dan asesmen
Proses pembelajaran perlu dirancang untuk mendorong siswa merefleksikan keterkaitan antara materi yang dipelajari dengan kehidupan nyata. Asesmen pun sebaiknya tidak hanya mengukur hasil, tetapi juga membantu siswa memahami proses belajar mereka.
3. Manajemen kelas
Manajemen kelas berperan penting dalam menciptakan suasana belajar yang kondusif dan fokus. Guru dapat melibatkan siswa dalam menyusun kesepakatan kelas agar tercipta rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga lingkungan belajar yang aman dan nyaman.
4. Dukungan sosial emosional
Selain aspek akademik, dukungan sosial-emosional juga menjadi bagian tak terpisahkan. Guru perlu membangun kepercayaan diri siswa, menjaga interaksi yang positif, serta memberikan umpan balik (feedback) yang membangun agar siswa merasa dihargai dan didukung dalam proses belajarnya.

Mengapa Kolaborasi Penting dalam Menciptakan Lingkungan Sekolah yang Suportif?
Agita menjelaskan bahwa secara etimologis, istilah “kolaborasi” berasal dari bahasa Inggris “co-labour”, yang berarti bekerja bersama. Makna ini menegaskan bahwa kolaborasi bukan sekadar berbagi peran, melainkan menyatukan upaya untuk mencapai tujuan yang sama.
Dalam konteks pendidikan, kunci utama dalam membangun lingkungan belajar yang optimal terletak pada kolaborasi yang erat antara sekolah dan orang tua. Ketika kedua pihak berjalan searah, sekolah dapat menciptakan ekosistem belajar yang benar-benar mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Namun, kolaborasi tidak dapat terwujud tanpa fondasi komunikasi yang efektif.
Agita menekankan pentingnya komunikasi yang baik antara guru dan orang tua. Komunikasi ini berperan dalam membentuk perilaku belajar siswa, menumbuhkan rasa saling percaya, serta memudahkan pemantauan perkembangan pendidikan anak. Dengan komunikasi yang terbuka dan berkesinambungan, proses pembelajaran di sekolah dan di rumah dapat saling bersinergi sehingga minat belajar anak semakin terjaga.
Dari komunikasi yang sehat inilah kolaborasi yang efektif lahir. Ketika guru dan orang tua mampu bersinergi, dampaknya akan terasa langsung pada perkembangan anak. Peran masing-masing pihak pun menjadi lebih jelas dan optimal, antara lain:
Guru berfokus pada proses pembelajaran di sekolah, sementara orang tua mendukung pendidikan anak dari rumah, sehingga anak mendapatkan pengalaman belajar yang berkesinambungan.
Program-program sekolah memeroleh dukungan nyata dari orang tua.
Komunikasi yang transparan membuat orang tua merasa lebih tenang, percaya, dan nyaman.
Orang tua yang puas terhadap program sekolah secara tidak langsung menjadi media promosi yang paling autentik dan tepat sasaran.
Baca juga:
Dari Screen Time ke Smart Learning: Peran Bahan Ajar Interaktif dalam Membangun Pelajar Cerdas Digital
Lebih lanjut, Agita membagikan tiga cara yang dapat dilakukan sekolah untuk melibatkan orang tua secara aktif, yaitu:
Melibatkan orang tua dalam pengambilan keputusan, termasuk perumusan program dan kebijakan sekolah.
Mengajak orang tua berpartisipasi langsung, misalnya sebagai sukarelawan atau asisten dalam kegiatan pembelajaran di kelas.
Membangun kemitraan (partnership), dengan menyediakan panduan pendampingan belajar di rumah guna mendukung pencapaian tujuan belajar anak dan visi sekolah.
Bentuk keterlibatan ini dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan, seperti rapat awal tahun bersama orang tua, pembentukan komite sekolah atau koordinator kelas, program “orang tua mengajar”, penetapan target belajar di rumah, hingga pelibatan orang tua dalam proyek-proyek pembelajaran siswa.
Berdasarkan pengalaman pribadi Agita, pada dasarnya orang tua sangat terbuka dan senang diajak bekerja sama serta terlibat dalam aksi nyata. Kuncinya adalah perencanaan yang matang, kegiatan tidak dilakukan secara mendadak, sehingga orang tua memiliki waktu dan kesiapan untuk berkontribusi secara optimal.
Di akhir sesi, Agita juga membagikan berbagai strategi praktis untuk meningkatkan keterlibatan dan kerja sama antara guru, siswa, dan orang tua. Penasaran seperti apa strategi-strategi tersebut? Yuk, simak penjelasan lengkapnya melalui tayangan ulang webinar pada tautan berikut ini!
Tingkatkan mutu pengajaran di sekolah Anda secara eksklusif dengan In House Training (IHT) dari GuruInovatif.id. Sesuaikan kebutuhan dan jadwal pelaksanaan sekolah Anda.

Konsultasi kebutuhan IHT sekolah
Penulis: Eka | Penyunting: Putra