Peran Pemuda dalam Pendidikan Global: Refleksi Tema Hari Pendidikan Internasional 2026 - Guruinovatif.id

Diterbitkan 23 Jan 2026

Peran Pemuda dalam Pendidikan Global: Refleksi Tema Hari Pendidikan Internasional 2026

Hari Pendidikan Internasional 2026 menegaskan peran pemuda sebagai kunci masa depan pendidikan global. Melalui kolaborasi, inovasi, dan keberanian bersuara, pemuda hadir sebagai agen perubahan untuk pendidikan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Dunia Pendidikan

Redaksi Guru Inovatif

Kunjungi Profile
6x
Bagikan

Pendidikan tidak pernah sekadar menjadi proses transfer ilmu pengetahuan di dalam ruang kelas. Ia adalah fondasi utama bagi terciptanya perdamaian dunia dan pembangunan yang berkelanjutan. Melalui pendidikan, nilai-nilai kemanusiaan, keadilan, dan tanggung jawab sosial ditanamkan sejak dini sebagai bekal menghadapi kehidupan yang terus berubah.

Di tengah arus transformasi digital yang bergerak begitu cepat, dunia pendidikan menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Ketimpangan akses pendidikan masih terjadi di berbagai wilayah, sementara kurikulum di beberapa konteks belum sepenuhnya mampu menjawab kebutuhan nyata kehidupan dan dunia kerja yang dinamis. Perubahan teknologi, sosial, dan budaya menuntut sistem pendidikan untuk terus beradaptasi agar tidak tertinggal oleh zaman.

Namun, di balik berbagai tantangan tersebut, tumbuh sebuah harapan besar. Generasi muda hari ini tidak lagi sekadar ditempatkan sebagai objek pendidikan, melainkan telah bertransformasi menjadi subjek pembelajaran yang aktif. Mereka hadir sebagai penggerak perubahan—berani bersuara, berpikir kritis, dan mengambil peran dalam membentuk masa depan yang lebih adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Sejarah Hari Pendidikan Internasional

Setiap tanggal 24 Januari, perhatian dunia tertuju pada satu hal yang menjadi fondasi peradaban manusia: pendidikan. Hari Pendidikan Internasional diperingati sebagai momen reflektif untuk mengingat bahwa akses terhadap pendidikan bukan sekadar kebutuhan individu, melainkan hak dasar setiap manusia.

Peringatan ini berawal dari keputusan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 3 Desember 2018, yang secara resmi menetapkan 24 Januari sebagai Hari Pendidikan Internasional. Penetapan tersebut menjadi penegasan komitmen global untuk mengakui peran strategis pendidikan dalam mendorong pembangunan berkelanjutan serta menjaga perdamaian dunia.

Melalui UNESCO, PBB menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak asasi manusia, kepentingan publik, dan tanggung jawab bersama seluruh negara. Pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas diyakini sebagai kunci untuk memutus mata rantai kemiskinan, mempersempit kesenjangan sosial, serta mewujudkan kesetaraan gender.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa tantangan tersebut masih jauh dari kata selesai. Hingga hari ini, sekitar 250 juta anak di berbagai belahan dunia masih belum mendapatkan akses pendidikan. Angka ini menjadi pengingat bahwa transformasi sistem pendidikan secara menyeluruh bukan lagi pilihan, melainkan keharusan bersama.

Baca juga:
Asesmen Awal Pembelajaran: Dari Data Diagnostik hingga Strategi Diferensiasi di Kelas

Mengapa Tema 2026 “The Power of Youth in Co-Creating Education”?

Tema peringatan tahun 2026 mengangkat satu pesan penting: masa depan pendidikan tidak bisa dibentuk tanpa melibatkan pemuda secara aktif. Bukan sekadar sebagai penerima kebijakan atau peserta program, melainkan sebagai mitra sejajar dalam proses co-creating education—menciptakan pendidikan bersama.

Fokus pada peran pemuda lahir dari kesadaran bahwa tantangan pendidikan hari ini kian kompleks dan bergerak cepat. Sistem yang tidak cukup responsif terhadap perubahan sosial, teknologi, dan kebutuhan generasi muda berisiko menciptakan kesenjangan yang semakin lebar. Di tengah kondisi inilah, suara dan keterlibatan pemuda menjadi semakin mendesak dan tak tergantikan.

1. Pemuda berada di garis depan ketidaksesuaian sistem.

Merekalah kelompok yang paling awal merasakan ketika pendidikan tidak lagi relevan dengan realitas kehidupan.

Ketika kurikulum tertinggal dari perkembangan zaman atau pendekatan pembelajaran tidak selaras dengan kebutuhan belajar mereka, potensi besar pemuda kerap terhambat bahkan terabaikan. Justru karena pengalaman langsung inilah, pemuda memiliki perspektif autentik untuk membayangkan solusi yang lebih kontekstual dan bermakna.

2. Pemuda hari ini bukan sekadar “pemimpin masa depan”.

Paradigma ini mulai bergeser. Pemuda telah menunjukkan kapasitasnya sebagai agen perubahan di masa kini—menginisiasi gerakan sosial, memanfaatkan teknologi untuk pembelajaran, serta membangun ruang-ruang pendidikan alternatif yang lebih inklusif.

Mengakui pemuda sebagai mitra berarti membuka ruang partisipasi nyata, bukan sekadar simbolik.

Peran Pemuda dalam Pendidikan Global: Refleksi Tema Hari Pendidikan Internasional 2026Pemuda dapat menjadi agent of change dalam memajukan pendidikan negeri (Gambar: Canva/TEDWIP)

3. Kolaborasi dengan pemuda adalah kunci keberlanjutan pendidikan.

Ketika pemuda dipercaya sebagai inovator, kolaborator, bahkan pendidik, ekosistem pendidikan menjadi lebih hidup dan adaptif. Dukungan teknologi memungkinkan ide-ide mereka tumbuh dan menjangkau lebih banyak pihak.

Pendidikan pun tidak hanya menjadi sistem yang diwariskan, tetapi proses yang terus diperbarui bersama—lebih adil, lebih relevan, dan berakar pada kebutuhan nyata masyarakat.

Melalui tema “The Power of Youth in Co-creating Education”, tahun 2026 mengajak kita untuk menata ulang cara pandang: bahwa membangun pendidikan yang berkelanjutan bukan tentang siapa yang paling berkuasa, melainkan siapa yang diajak berjalan bersama. Dan di sanalah, pemuda memegang peran yang tak tergantikan.

Peran Penting Pemuda dalam Pendidikan

Dalam lanskap pendidikan yang terus berubah, pemuda hadir bukan sekadar sebagai penerus, melainkan sebagai penggerak utama perubahan. Mereka adalah agent of change—generasi yang membawa energi, keberanian bereksperimen, serta sudut pandang segar dalam menjawab tantangan pendidikan masa kini. Dengan kedekatan alami terhadap teknologi dan isu-isu global, pemuda memiliki posisi strategis dalam membentuk masa depan pendidikan yang lebih adaptif dan inklusif.

Salah satu peran krusial pemuda tampak dalam ranah inovasi teknologi pendidikan (EdTech). Sebagai digital natives, pemuda memiliki kepekaan tinggi terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pengguna. Di kawasan Asia Tenggara, misalnya, sebagian besar pendiri startup pendidikan berusia di bawah 35 tahun. Mereka merancang berbagai solusi untuk menjawab persoalan klasik pendidikan, mulai dari keterbatasan akses belajar hingga rendahnya literasi digital, dengan pendekatan yang lebih kontekstual dan berorientasi pada kebutuhan nyata peserta didik.

Baca juga:
Sekolah Aman Itu Hak Anak: 9 Asas Penting dalam Permendikdasmen Budaya Sekolah Aman dan Nyaman 2026

Di luar inovasi produk, pemuda juga berperan sebagai penggerak literasi digital. Dalam banyak konteks, terutama di daerah tertinggal atau dengan keterbatasan infrastruktur, pemuda hadir sebagai fasilitator yang menjembatani guru dan siswa agar mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, bijak, dan produktif. Peran ini menjadi penting agar teknologi tidak sekadar digunakan, tetapi benar-benar memberdayakan proses belajar.

Kontribusi pemuda juga terlihat dalam pengembangan kurikulum dan konten pembelajaran. Platform seperti ZNotes menjadi contoh nyata bagaimana sumber belajar dapat dibangun oleh siswa untuk siswa, menjadikan pembelajaran sebagai proses kolaboratif dan berbasis pengalaman bersama. Sementara itu, di Ekuador, inisiatif Academia del Océano memperlihatkan bagaimana pemuda merancang konten literasi kelautan yang berakar pada kearifan lokal, sekaligus relevan dengan tantangan global. Pendekatan ini menegaskan bahwa pemuda mampu menghadirkan pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan bermakna.

Tidak kalah penting, pemuda juga memainkan peran sebagai advokat kebijakan dan keadilan dalam pendidikan. Mereka aktif menyuarakan isu-isu strategis seperti pendidikan iklim, kesetaraan gender, dan keberlanjutan lingkungan. Di Indonesia, Brigitta Gunawan melalui inisiatif 30x30 Indonesia menjadi contoh bagaimana advokasi pendidikan lingkungan dapat dilakukan melalui pengalaman belajar imersif yang diperkuat oleh pemanfaatan teknologi, termasuk kecerdasan buatan.

Dengan jejaring global dan semangat kolaboratif yang kuat, pemuda juga berfungsi sebagai jembatan antara praktik pendidikan internasional dan kebutuhan lokal. Akses terhadap informasi global memungkinkan mereka mengadaptasi gagasan, metode, dan inovasi dari berbagai belahan dunia untuk diterapkan secara kontekstual di lingkungan masing-masing.

Melibatkan pemuda dalam merancang masa depan pendidikan bukanlah sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan. Investasi pada pemuda hari ini adalah investasi jangka panjang bagi sistem pendidikan yang lebih inklusif, berdaya saing, dan berkeadilan. Sudah saatnya ruang partisipasi yang lebih luas dibuka bagi mahasiswa dan praktisi muda untuk berkontribusi dan berinovasi, karena suara merekalah yang menjadi kunci transformasi pendidikan yang sesungguhnya.

Referensi:
Co-Creating the Future of Education
Hari Pendidikan Internasional, Begini Sejarahnya
Peran Pemuda dalam Meningkatkan Kualitas Pendidikan di Era Digital
Young Leaders Shaping the PRESENT: Rethinking Education for Impact


Penulis: Eka | Penyunting: Putra

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Berawal dari Hal yang Kecil “MINIATUR KINCIR AIR”
Faktor yang Menyebabkan Rendahnya Hasil Belajar Peserta Didik pada Mata Pelajaran Matematika

Hariyana Hamid

Feb 06, 2024
0 sec
Bangun Generasi Emas 2045 Mulai Golden Age
0 sec
Peran Penting CSR Pendidikan dalam Membangun Generasi Berkualitas di Indonesia
0 sec
Mengapa ‘Learning Experience’ Lebih Penting dari Sekadar Nilai Rapor?
0 sec
Kenapa CSR Pendidikan Penting untuk Peningkatan Kualitas Pendidikan?
0 sec
Komunitas