Guru Filosofis: Tetap Bermakna Atau Malah Terpinggirkan Oleh Sistem - Guruinovatif.id

Diterbitkan 30 Des 2025

Guru Filosofis: Tetap Bermakna Atau Malah Terpinggirkan Oleh Sistem

Banyak guru terjebak dalam rutinitas administrasi yang membosankan dan target angka yang kaku. Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Guru Sebagai Filsuf: Reposisi Makna Pendidik di Tengah Absurditas Rutinitas Sekolah sekaligus menjawab pertanyaan krusial.

Seputar Guru

dwi alfaruq

Kunjungi Profile
15x
Bagikan

Banyak guru terjebak dalam rutinitas administrasi yang membosankan dan target angka yang kaku. Artikel ini merupakan lanjutan dari artikel sebelumnya yang berjudul Guru Sebagai Filsuf: Reposisi Makna Pendidik di Tengah Absurditas Rutinitas Sekolah sekaligus menjawab pertanyaan krusial dari rekan penulis: Di tengah tuntutan efisiensi dan capaian kuantitatif yang ketat sejauh mana sikap refleksi filosofis mampu bertahan dan efektif melawan tekanan administrasi dan tuntutan sistem administrasi yang ketat? Apakah guru yang memilih jalan reflektif ini akan terpinggirkan oleh sistem yang menuntut efisiensi?

Meski risiko "dianggap lambat" itu ada, sikap filosofis justru menjadi pelindung agar guru tidak kehilangan jati dirinya sebagai pendidik. Saat ini, hari-hari seorang guru sering kali habis untuk mengisi laporan, mengejar target kurikulum, dan mengikuti berbagai seremoni sekolah. Kondisi ini yang disebut sebagai "absurditas"—sebuah situasi di mana kita sangat sibuk, tetapi kehilangan arah dan makna tentang apa tujuan sebenarnya dari kesibukan tersebut.

Mengapa Berpikir Filosofis Itu Penting untuk Bertahan?

Kita mulai dari sini, refleksi filosofis dalam konteks pendidikan bukan sekadar perenungan teoretis semata, melainkan aktivitas mendalam untuk meninjau ulang keyakinan mendasar guru. Ini adalah cara untuk bertahan secara mental dan profesional di tengah tekanan sistem. Seorang guru filosofis tidak sekadar menjalankan perintah secara otomatis, melainkan selalu mencari makna di balik setiap tugas dengan bertanya "mengapa saya melakukan ini?" agar tidak terjebak menjadi robot pengajar.

Di tengah sistem yang sering kali terpaku pada angka dan nilai rapor, guru filosofis tetap konsisten menjaga fokus pada pertumbuhan nalar sehat serta karakter siswa sebagai misi yang utama. Melalui kemampuan refleksi yang rutin dilakukan, guru mampu membedakan mana kesibukan yang hanya bersifat "pertunjukan" administratif dan mana tindakan nyata yang benar-benar memberikan manfaat bagi perkembangan siswanya.

Apakah Guru Filosofis Berisiko Terpinggirkan?

Jawabannya adalah ya, risiko itu nyata. Sistem pendidikan modern cenderung mencari jawaban yang paling cepat dan mudah. Terdapat risiko nyata bahwa guru filosofis akan mengalami marjinalisasi dalam sistem yang mengagungkan "sibuknya pertunjukan". Efisiensi sering kali diartikan sebagai penyelesaian tugas administratif yang cepat, sementara proses reflektif membutuhkan waktu dan pendalaman.

Guru yang memilih untuk berhenti sejenak dan berpikir mendalam mungkin akan terlihat tidak efisien di mata sistem yang mengagungkan kecepatan administratif. Ada kecenderungan sekolah terjebak dalam "lingkaran absurditas", di mana semua orang tampak bergerak sibuk, tetapi substansi pendidikan sebenarnya jalan di tempat. Inilah potret “lingkaran absurditas” sebuah panggung pendidikan yang gaduh dengan kesibukan teknis, namun sunyi dari makna.

Solusi: Kolaborasi sebagai Strategi

Agar tidak terpinggirkan, peran guru sebagai filsuf tidak boleh dijalankan secara individual. Solusi ini menekankan pentingnya Kolaborasi sebagai pilar ketiga sebagaimana diuraikan pada artikel sebelumnya. Upaya menciptakan makna dalam kehidupan siswa harus menjadi tanggung jawab kolektif, bukan sekadar beban individual. Melalui komunitas sekolah yang memiliki visi filosofis yang sama, tekanan administrasi dapat dikelola tanpa harus mengorbankan esensi "memanusiakan manusia".

Sikap refleksi filosofis memiliki ketahanan yang kuat selama guru memegang teguh pilar kesadaran, refleksi, dan kolaborasi. Meskipun risiko terpinggirkan oleh sistem yang menuntut efisiensi kuantitatif itu nyata, reposisi guru sebagai filsuf pendidikan tetap menjadi urgensi fundamental. Guru filosofis tidak hanya mengajarkan materi, tetapi mengajarkan cara hidup dan berpikir kritis yang dibutuhkan untuk masa depan, bukan sekadar mengisi kepala siswa dengan informasi yang bisa dicari di mesin pencari, melainkan menyulut api kesadaran dan daya kritis yang tidak bisa digantikan oleh algoritma apapun.

Menjadi guru filsuf adalah sebuah bentuk perlawanan intelektual terhadap sistem pendidikan yang sering kali lebih memuja angka di atas kertas daripada kecerdasan majemuk siswa yang tak terbatas.[]

Dwi Santoso


Penyunting: Putra

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Penyebab Gangguan Kesehatan Mental Bagi Guru

Nurlina, S.Pd

Nov 28, 2023
0 sec
Fungsi dan Manfaat Blog Bagi Guru

Edy Samsul

Jul 06, 2022
0 sec
Komunitas Profesional: Sebuah ruang aman bagi guru untuk saling menguatkan

GUSTI DARMA

Dec 12, 2023
0 sec
Kelebihan dan Kekurangan Kurikulum Merdeka
0 sec
Kesehatan Mental Guru dalam Tantangan Global
Komunitas