Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang "Hidup Kembali" di Kurikulum Merdeka - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 21 Mei 2024

Filosofi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara yang "Hidup Kembali" di Kurikulum Merdeka

Intisari dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap konsep pendidikan dan pengajaran, serta relevansinya dengan pendidikan di Indonesia, saat ini seperti mendapat “ruh”-nya kembali di tengah kurikulum baru yang dicetuskan oleh pemerintah, yaitu Kurikulum Merdeka.

Dunia Pendidikan

Oktina Utami

Kunjungi Profile
152x
Bagikan

Intisari dari pemikiran Ki Hadjar Dewantara terhadap konsep pendidikan dan pengajaran, serta relevansinya dengan pendidikan di Indonesia, saat ini seperti mendapat “ruh”-nya kembali di tengah kurikulum baru yang dicetuskan oleh pemerintah, yaitu Kurikulum Merdeka. Khususnya dalam program-program yang diselenggarakan untuk guru, yang beberapa tahun belakangan sedang menjadi primadona di dunia pendidikan kita.

Berdasarkan tulisan-tulisan tentang pemikiran Ki Hadjar Dewantara, dapat disimpulkan bahwa beliau selalu mensinergikan antara Pendidikan dengan Kebudayaan. Kebudayaan adalah hasil akhir dari sistem pendidikan yang dilakukan dalam masyarakat. Dengan mendidik, kita membentuk kebiasaan baru yang akan bermuara pada terbentuknya sebuah kebudayaan yang diinginkan. Dan untuk menjawab tantangan zaman yang terus berubah, pembentukan kebudayaan baru juga harus terus dilakukan sehingga pendidikan pun juga harus selalu bergerak, namun dengan selalu memegang satu prinsip yang tidak boleh ditinggalkan yaitu diferensiasi dan berorientasi pada siswa. Pendidikan harus selalu menghargai perbedaan, keunikan, dan keberagaman siswa, misalnya perbedaan dari segi lingkungan dan perbedaan zaman. Kita tidak bisa menerapkan pendidikan yang sama pada siswa dari lingkungan atau daerah yang berbeda, begitu juga kebutuhan siswa dari zaman ke zaman selalu berubah. Seperti saat ini contohnya dimana kita sebagai pendidik dituntut untuk terus menyesuaikan diri dengan revolusi industri 4.0 yang sudah lebih dikuasai oleh para siswa kita. Dengan terus berorientasi pada siswa, tujuan akhir pendidikan yaitu membentuk kebudayaan yang baik, dapat melahirkan manusia yang memiliki budi pekerti yang baik. 

Pemikiran (Filosofi Pendidikan) dari bapak pendidikan Indonesia, Ki Hadjar Dewantara selama ini memang seperti belum dipelajari dengan seksama oleh kita para guru, bahkan menjadikannya bekal utama dalam setiap langkah. Namun di era Kurikulum Merdeka ini, pondasi dasar tersebut digaungkan secara kontinyu di berbagai program dan menjadi “tren baru” dalam dunia pendidikan, yang padahal, seharusnya, telah dipegang teguh oleh semua pendidik. Sungguh malu rasanya diri ini ketika kita selalu mengatakan “sedang berproses” menjadi pendidik, tapi makna dari Ing Ngarsa Sung Tuladja, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani pun tidak pernah betul-betul diimplementasikan. Awam dengan “kitab wajib”-nya sendiri. Yang hal ini juga dapat dilihat dengan jelas pada kualitas proses pembelajaran kita yang selama ini masih “serampangan” alias sekenanya. Tuntutan ketuntasan materi berdasar kurikulum menjadi patokan terlaksananya pembelajaran, format rencana pembelajaran sesuai yang diinstruksikan birokrasi menjadi tolok ukur tercapainya tujuan, tapi kita tidak pernah bertanya, apa yang didapat murid selain angka dan predikat huruf yang tercantum dalam buku rapornya. Apakah mereka masih ingat bahkan dengan materi yang mereka pelajari seminggu sebelum ujian akhir? Tidak. Karena yang memenuhi otak mereka adalah hafalan rumus yang nanti kemungkinan keluar di soal ujian, sesuai dengan kisi-kisi yang diberikan. Apakah mereka bisa betul-betul mempraktekkan ungkapan yang digunakan pada dialog yang mereka tampilkan di depan kelas di kelas bahasa? Tentu saja tidak, karena konteks dialog yang mereka praktekkan itu tidak pernah betul-betul mereka gunakan dalam komunikasi sehari-hari. Apakah mereka bisa bermasyarakat dan ber“gotong-royong” sesuai yang disebutkan dalam nilai sikap sosialnya? Belum tentu, karena barometer nilai itu hanya diukur dari kegiatan diskusi kelompok di kelas sekali dua kali saja. Jadi apa esensi “belajar” yang sebenarnya dilakukan di sekolah dari pagi hingga sore selama seminggu dan dilakukan anak selama 12 tahun itu? Apakah kita cukup hanya menjadi bagian dari tren peradaban, dimana anak digariskan menghabiskan masa kanak-kanak dan remajanya di dalam bangunan yang dinamakan sekolah, lalu kita harus abai dengan apa yang “seharusnya” mereka dapat, dan bukan hanya apa yang “umumnya” mereka dapat? Nilai Pengetahuan, Keterampilan, dan Sikap Sosial hendaknya tidak lagi hanya menjadi tujuan administratif semata, setelah selesai mengisi buku rapor satu semester, lalu beban itu seperti lepas begitu saja.

Maka sebagai pendidik, kita patut berharap, melalui paradigma baru dalam dunia pendidikan  saat ini, yang tertuang dalam kurikulum baru kita, para pendidik dapat melihat semua hal mulai saat ini dengan lebih bermakna, dari yang sebelumnya hanya melalui permukaannya saja. Mari menjad “guru” bukan hanya “pengajar”, tetapi lebih mampu membentuk karakter, tidak hanya transfer ilmu, dan dengan melayani, bukan memerintah apalagi memaksakan. Mari kita menjadi bagian dari kelompok yang membentuk peradaban melalui penyemaian benih kebudayaan, yaitu pendidikan.

Penyunting: Putra

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Penggunaan Platform Quizlet sebagai Upaya Penguatan Literasi Digital Guru dan Siswa

SRI YUANA PARTIWI

Sep 09, 2023
2 min
Bagaimana Masa Depan Pendidikan pada Transformasi Digital?
2 min
Penguatan Literasi Digital: Peluang Masa Depan

IQBAL

Sep 05, 2023
4 min
3 Fungsi ANBK yang Guru Harus Tahu!
3 min
Sosial Media sebagai Solusi untuk Mengatasi Gawat Literasi di Indonesia
3 Langkah yang Perlu Dipersiapkan Satuan Pendidikan untuk Menyelenggarakan P5
5 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar