Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa majemuk yang memiliki keragaman dari berbagai jenis pulau, ras, suku, agama, budaya, dan bahasa. Keanekaragaman ini menjadi kekayaan yang perlu dirawat oleh bangsa Indonesia dengan penuh kesadaran sebagai bangsa yang memiliki masyarakat multikultural.
Dalam artikel ini, kami akan menjelaskan peran pendidikan untuk membangun budaya moderasi beragama di sekolah. Simak penjelasannya hingga akhir.
Mengenal Konsep Moderasi Beragama
Sebagai salah satu negeara multikultural terbesar, membangun kerukunan bangsa dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) memerlukan pemahaman tentang keberagaman dan pluralisme. Salah satu cara yang bisa dilakukan adalah pendidikan mengenai moderasi beragama. Pengertian moderasi adalah menjunjung tinggi keadilan dan keseimbangan. Contohnya, menunjukkan sikap saling toleransi terhadap keberagaman.
Moderasi beragama menjadi cara agar seseorang terhindar dari paham radikalisme dan ekstrimisme. Hal inilah yang perlu ditanamkan dan dibentuk kepada siswa di lingkungan sekolah, agar memberikan dampak dalam menyikapi perbedaan.
Untuk membangun moderasi beragama di Indonesia, perlu adanya keterlibatan dari berbagai pihak terutama elemen-elemen di lingkungan sekolah. Guru sebagai pendidik selain mengajar, perlu mendidik siswa dengan menanamkan nilai toleransi di lingkungan sekolah.
Baca juga:
Evolusi Pendidikan: Perbandingan Lengkap Metode Pengajaran Tradisional dan Modern dari Zaman Kuno hingga Era Digital
4 Pilar dalam Moderasi Beragama
Berdasarkan dari laman resmi Kementerian Agama (Kemenag) Republik Indonesia, moderasi beragama memiliki empat pilar untuk menavigasi antara dua ancaman utama dalam konteks berbangsa dan bernegara, yaitu ekstrimisme dan liberalisme. Pilar-pilar dalam moderasi beragama tersebut terdiri dari:
1. Komitmen kebangsaan
Sila pertama Pancasila berbunyi “Ketuhanan yang Maha Esa”, mencerminkan komitmen kebangsaan untuk menghargai keberagaman agama dan kepercayaan. Sila ini menjadi panduan agar masyarakat Indonesia membangun sikap saling menghormati dan menghargai keyakinan orang lain.
Hal ini dapat mencakup upaya untuk menciptakan suasana yang kondusif bagi berbagai agama dan kepercayaan untuk berkembang dan berdampingan secara damai. Contoh nyata dari penerapan pilar ini adalah pemerintah dan masyarakat bersama-sama mengorganisir dan melibatkan diri dalam kegiatan lintas agama untuk menunjukkan rasa persatuan dan solidaritas.
2. Toleransi
Toleransi bukan hanya sikap saling menghormati saja, tetapi juga saling membantu dan bekerja sama untuk menciptakan suasana damai dan harmonis. Toleransi menjadi kunci dalam menjaga kerukunan antar umat beragama.
Dalam konteks moderasi beragama, toleransi mencakup kemampuan untuk menghargai perbedaan keyakinan dan agama orang lain, serta memberikan rasa aman untuk mengekspresikan keyakinan mereka. Sehingga, tercipta lingkungan yang kondusif bagi tiap individu untuk tumbuh dan berkembang, sekaligus memperkaya kehidupan bersama dalam masyarakat yang beragam.
Moderasi beragama perlu ditanamkan kepada anak sedini mungkin (Gambar: Pexels/Raiza Azkaril)3. Anti kekerasan
Moderasi beragama juga mengajarkan untuk menolak segala bentuk kekerasan yang dilakukan atas nama agama. Karena agama merupakan sarana untuk mencapai kedamaian dan kasih sayang, bukan menjadi alasan untuk melakukan kekerasan atau diskriminasi.
Melalui pendidikan yang inklusif, nilai-nilai toleransi serta keberagaman dapat diajarkan sejak dini untuk membentuk karakter individu yang cinta damai dan menghargai perbedaan.
4. Akomodasi dan penerimaan terhadap tradisi dan budaya
Dengan beragamnya tradisi dan budaya di Indonesia yang harus dijaga serta dilestarikan, moderasi dalam beragama juga dapat mencakup sikap akomodatif dan penerimaan terhadap perbedaan tersebut. Sebagai bangsa yang besar, seharusnya kita dapat bersikap terbuka dan menerima perbedaan, bukan menciptakan sekat dan perpecahan agar keharmonisan serta persatuan bangsa terus terjaga.
Salah satu bentuk moderasi beragama dalam menghadapi tradisi dan budaya adalah menghormati dan mengakui keberagaman cara beribadah, adat istiadat, dan tradisi yang ada di masyarakat. Karena setiap agama memiliki keunikan tersendiri dalam mempraktikkan keyakinannya yang kadang saling terkait dengan tradisi dan budaya lokal.
Baca juga:
Mempersiapkan Generasi Berdaya Saing Global dengan Pembelajaran Berbasis HOTS
Membangun Moderasi Beragama di Lingkungan Sekolah
Manajemen pendidikan di satuan pendidikan harus mampu mengatasi tantangan seperti resistensi dari pihak tertentu, keterbatasan sumber daya, dan kurangnya pemahaman tentang konsep moderasi agama. Kepala Sekolah, Guru, hingga staf pendidikan perlu dilatih untuk memahami dan menerapkan konsep moderasi agama dalam kegiatan belajar mengajar.
Keberadaan teknologi juga perlu dimanfaatkan oleh pihak sekolah dalam mendukung implementasi moderasi beragama. Penggunaan teknologi informasi dan komunikasi dapat membantu menyebarluaskan pesan-pesan moderasi dan memberikan akses kepada sumber daya pendidikan yang lebih luas.
Seperti apa langkah-langkah dalam mengajarkan dan menerapkan moderasi beragama di lingkungan sekolah? Simak penjelasannya dalam webinar bersertifikat Guru Inovatif Class berikut ini!

Klik disini untuk daftar
Referensi:
Implementasi Kebijakan Pendidikan Nasional tentang Moderasi Agama di Sekolah Islam
Moderasi Beragama: Pilar Kebangsaan dan Keberagaman
Peran Guru PAI dalam Membangun Moderasi Beragama di Lingkungan Sekolah Provinsi Banten
Penulis: Eka | Penyunting: Putra