Kemudahan dalam mengakses teknologi di era digital saat ini memang membawa banyak manfaat, termasuk dalam dunia pendidikan. Beragam informasi dapat diperoleh dengan cepat dan pembelajaran menjadi lebih fleksibel. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul kekhawatiran baru, terutama terkait menurunnya minat membaca dan menulis pada anak-anak.
Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) tahun 2024 menunjukkan bahwa minat baca siswa di Indonesia mengalami penurunan sebesar 18% dibandingkan tahun 2021. Tidak hanya itu, kemampuan menulis narasi panjang juga cenderung melemah, khususnya pada jenjang Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kondisi ini menjadi sinyal penting bagi dunia pendidikan untuk kembali memberi perhatian serius pada penguatan literasi.
Menulis sejatinya merupakan salah satu keterampilan dasar yang perlu dimiliki setiap individu. Melalui tulisan, seseorang dapat menuangkan gagasan, menyampaikan pemikiran, serta mengekspresikan sudut pandangnya secara terstruktur. Sayangnya, keterampilan menulis masih kerap dianggap sulit. Tidak semua orang merasa mampu mengolah ide dan menuangkannya ke dalam bentuk tulisan yang runtut dan bermakna.
Menulis sebagai Salah Satu Cabang dalam Komunikasi dan Keahlian Berbahasa
Dalam konteks komunikasi, menulis merupakan salah satu cabang penting dari keahlian berbahasa. Pada pembelajaran Bahasa Indonesia, terdapat empat keterampilan utama yang saling berkaitan, yaitu keterampilan mendengar, berbicara, membaca, dan menulis.
Aktivitas menulis menjadi proses sintesis dari informasi yang diperoleh melalui kegiatan membaca dan mendengar, kemudian diwujudkan dalam bentuk teks. Melalui proses ini, siswa tidak hanya belajar menulis secara benar sesuai kaidah bahasa, tetapi juga mengembangkan kemampuan berpikir kreatif dan kritis.
Keterampilan menulis sendiri merupakan proses menghasilkan teks yang memuat gagasan, informasi, fakta, maupun pandangan pribadi, yang disusun berdasarkan cara berpikir masing-masing individu. Oleh karena itu, menulis bukan sekadar aktivitas mekanis, melainkan proses berpikir yang mendalam dan reflektif.
Baca juga:
Prabowo Instruksikan Hidupkan Kembali Pelajaran Menulis di Sekolah: Khawatir Anak Indonesia Harus Pakai Kacamata di Masa Depan
Di sekolah, menulis menjadi materi penting dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Keterampilan ini tidak hanya dibutuhkan selama menempuh pendidikan formal, tetapi juga menjadi bekal penting ketika seseorang memasuki dunia kerja dan berinteraksi di tengah masyarakat.
Sebagai upaya untuk meningkatkan kemampuan menulis siswa, guru dapat menerapkan berbagai strategi pembelajaran yang lebih kontekstual dan menarik. Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode RAFT (Role, Audience, Format, Topic), yang membantu siswa memahami tujuan penulisan, sasaran pembaca, serta bentuk teks yang akan dihasilkan, sehingga proses menulis menjadi lebih terarah dan bermakna.
Metode RAFT untuk Meningkatkan Kemampuan Menulis Narasi Panjang
Mengembangkan kemampuan menulis narasi panjang kerap menjadi tantangan bagi siswa. Banyak di antara mereka kesulitan menentukan ide, sudut pandang, maupun bentuk tulisan yang ingin dibuat. Untuk menjawab tantangan tersebut, guru dapat menerapkan metode RAFT sebagai strategi pembelajaran yang mendorong kebebasan berpikir sekaligus struktur yang jelas dalam menulis.
Metode RAFT memberikan ruang bagi siswa untuk memilih dan mengembangkan topik tulisannya secara lebih mandiri. Dalam penerapannya, guru juga dapat membagi siswa ke dalam kelompok-kelompok kecil. Melalui diskusi dan tukar pendapat antarsiswa, ide-ide tulisan dapat berkembang lebih kaya, sekaligus melatih kemampuan berpikir kritis dan kolaboratif.
Dengan strategi ini, siswa tidak lagi merasa “kosong” saat diminta menulis. Mereka lebih terbantu dalam menuangkan gagasan ke dalam teks, khususnya teks deskriptif dan naratif. Karena memiliki kerangka berpikir yang jelas sejak awal.
Metode RAFT dikembangkan oleh Carol Santa dan dipaparkan dalam bukunya “Teaching Content: Reading and Writing.” Dalam praktiknya, metode ini terdiri atas empat komponen utama yang menjadi panduan bagi siswa dalam menyusun tulisan, yaitu:
Role (Peran) **Menentukan siapa diri penulis dalam tulisan tersebut. Siswa diajak membayangkan peran tertentu yang akan mereka mainkan saat menulis.
Audience (Audiens) Menetapkan kepada siapa tulisan tersebut ditujukan. Audiens yang jelas membantu siswa menyesuaikan gaya bahasa dan isi tulisan.
Format (Bentuk tulisan) **Menentukan bentuk tulisan yang akan dibuat, seperti surat, cerita pendek, jurnal, laporan, atau narasi panjang.
Topic (Topik) Menentukan apa yang akan dibahas dalam tulisan. Topik dipilih sesuai dengan peran, audiens, dan format yang telah ditetapkan.
Melalui keempat langkah ini, metode RAFT membantu siswa menulis dengan lebih terarah, kreatif, dan percaya diri. Tidak hanya meningkatkan kemampuan menulis narasi panjang, strategi ini juga melatih siswa berpikir dari berbagai sudut pandang serta mengekspresikan ide secara lebih bermakna.

Ilustrasi rubrik RAFT mata pelajaran Bahasa Indonesia
5 Langkah Implementasi Metode RAFT
Metode RAFT merupakan salah satu strategi pembelajaran menulis yang dirancang untuk membantu peserta didik memahami konteks penulisan secara lebih mendalam. Metode ini kemudian dikembangkan oleh Shearer dengan merumuskan lima langkah implementasi yang sistematis, sehingga memudahkan guru dalam menerapkannya di kelas.
1. Memilih topik
Pada tahap awal, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil. Setiap kelompok diminta untuk mengusulkan berbagai topik yang akan ditulis, misalnya keragaman budaya Indonesia, lingkungan sekolah, atau isu-isu di sekitar kehidupan mereka. Dari topik tersebut, kelompok kemudian memilih satu subtopik yang akan menjadi fokus utama tulisan.
Selanjutnya, siswa saling bertukar pikiran untuk menyusun dan mencatat pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan subtopik tersebut. Proses ini dapat diulang dengan subtopik lain hingga terbentuk bank ide yang kaya. Di akhir tahap ini, setiap kelompok merumuskan pertanyaan kunci yang akan membantu mereka mengembangkan tulisan secara lebih terarah.
2. Mengasumsikan peran
Pada tahap ini, pendidik membimbing siswa untuk mengidentifikasi peran yang akan mereka ambil dalam proses penulisan. Setiap kelompok melakukan diskusi internal untuk memahami peran masing-masing anggota. Agar proses ini berjalan optimal, siswa diajak merefleksikan beberapa pertanyaan berikut:
Apa yang saya ketahui tentang peran ini?
Jika saya berada dalam peran tersebut, tindakan apa yang akan saya lakukan?
Sumber informasi apa yang dapat digunakan untuk mengeksplorasi peran ini secara lebih mendalam?
Melalui proses ini, siswa belajar melihat suatu topik dari sudut pandang tertentu, sehingga tulisan yang dihasilkan menjadi lebih hidup dan kontekstual.
Baca juga:
Teaching at the Right Level (TaRL): Inovasi Pembelajaran untuk Menutup Kesenjangan Belajar
3. Memilih peserta
Pemilihan audiens dilakukan dengan pendekatan yang serupa dengan pemilihan peran. Siswa memanfaatkan pertanyaan-pertanyaan yang telah disusun sebelumnya untuk menentukan kepada siapa tulisan tersebut ditujukan. Proses ini dapat dilakukan melalui diskusi atau jajak pendapat di dalam kelompok. Ketika ide mulai terbatas, siswa juga dapat menunjuk atau melibatkan teman lain untuk menyampaikan sudut pandang tambahan.
Tahap ini membantu siswa memahami bahwa setiap tulisan memiliki pembaca yang berbeda, sehingga bahasa dan pesan yang disampaikan perlu disesuaikan.
4. Memilih format
Setelah peran dan audiens ditentukan, siswa memilih format tulisan yang akan digunakan sebagai output akhir. Pada tahap ini, siswa perlu memiliki pemahaman tentang berbagai alternatif format, seperti surat, artikel, laporan, poster, atau bentuk lainnya. Pemahaman ini penting agar siswa mampu mengekspresikan ide secara kreatif dan terhindar dari praktik plagiarisme.
5. Mengorganisir informasi dan menulis
Tahap terakhir adalah mengorganisir seluruh informasi yang telah dikumpulkan. Setiap kelompok menyatukan ide, data, peran, audiens, dan format yang telah dipilih, lalu mulai menyusun tulisan secara utuh. Dalam proses ini, pendidik berperan sebagai fasilitator yang memberikan arahan dan bimbingan apabila diperlukan, terutama dalam hal struktur penulisan dan ketepatan bahasa.
Berbagai penelitian menunjukkan bahwa penerapan metode RAFT mampu memberikan dampak positif terhadap keterampilan menulis peserta didik. Salah satunya terlihat pada siswa kelas VII SMP Nasrani 2 Medan, yang mengalami peningkatan dalam pengembangan ide dan penguasaan kosakata pada penulisan teks deskriptif.
Hasil serupa juga ditemukan pada penelitian terhadap siswa kelas VIII SMP Swasta GKPS 3 Pematangsiantar. Implementasi metode RAFT terbukti memberikan pengaruh positif dan signifikan terhadap kemampuan menulis teks eksplanasi siswa.
Pada dasarnya, metode RAFT dikembangkan sebagai alat pedagogis untuk membantu siswa memahami tujuan dan konteks penulisan mereka. Dengan mendorong siswa untuk mengambil peran, menentukan audiens, memilih format yang tepat, dan berfokus pada satu topik, metode ini mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengorganisir gagasan, memperkaya kosakata, serta menggunakan tata bahasa secara lebih tepat. Hasil akhirnya, siswa tidak hanya menulis dengan lebih terstruktur, tetapi juga dengan tujuan yang jelas dan bermakna.
Tingkatkan mutu pengajaran di sekolah Anda secara eksklusif dengan In House Training (IHT) dari GuruInovatif.id. Sesuaikan kebutuhan dan jadwal pelaksanaan sekolah Anda.

Konsultasi kebutuhan IHT sekolah
Referensi:
Kecanduan Gawai Kurangi Minat Baca Tulis Siswa
Mewujudkan Merdeka Belajar dengan Pembelajaran Menulis Cerpen melalui Pendekatan Proses
Pengaruh Strategi Pembelajaran RAFT (Role, Audience, Format, Topic) terhadap Kemampuan Menulis Teks Eksplanasi Kelas VIII SMP Swasta GKPS 3 Pematangsiantar
Peningkatan Kemampuan Menulis Teks Deskripsi melalui Penerapan Strategi RAFT (Role-Audience-Format-Topic) pada Siswa Kelas VII SMP Nasrani 2 Medan
Penulis: Eka | Penyunting: Putra