YASIR HUSAIN, S.Pd.I

Guru Bahasa Inggris

Guru yang suka seni dan menulis.

Kunjungi Profil

Dari Pelosok Membuka Jendela Dunia

Pendidikan adalah hak dasar semua orang. Bahkan di negara kita, Indonesia, eksistensi pendidikan sebagai hak seluruh warga negara telah dijamin dalam Undang-udang negara dan Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional. Namun begitu, segala hal tentang pendidikan di negeri ini belum sepenuhnya merata. Bukan karena pemerintah yang tidak peduli, tapi memang kita masih menemui banyak tantangan yang tidak bisa diatasi secara instan. Meski demikian, kita tak boleh menyerah untuk melakukan berbagai inovasi. Sebab, ketika kita bergerak, dengan sendirinya akan muncul ide-ide cemerlang. Saya akan bercerita sedikit tentang pengalaman selama menjadi guru, tentang beberapa inovasi yang telah saya lakukan.

Pertama-tama, perkenalkan, namaku Yasir Husain. Aku adalah seorang pengajar di sebuah madrasah yang terletak di pelosok, di kaki gunung, desa Garuntungan, Kec. Kindang, Kab. Bulukumba, Prov. Sulawesi Selatan. Oh ya, madrasah tempatku mengajar bernama Madrasah Aliyah (MA) Pondok Pesantren Nurul Falah Borongganjeng Bulukumba. Mungkin pertama kali terdengar di telinga para pembaca sekalian. Walau begitu, madrasah ini juga melaksanakan kegiatan pendidikan dengan kurikulum sebagaimana ditetapkan oleh pemerintah di bawah naungan Kementerian Agama RI.

Seperti yang saya tuliskan di atas, madrasahku berada di pelosok desa. Letak kedudukannya cukup memengaruhi keberadaannya. Ya, awal saya mengajar di madrasah ini, seolah tak ada semangat. Jumlah siswanya sangat sedikit hingga per kelasnya hanya ada 9 sampai 14 orang. Tak banyak yang bisa kami banggakan dengan kondisi madrasah seperti ini. Belum lagi status madrasah kami yang swasta, seolah menambah rasa pesimis di kalangan siswa bahwa, madrasah ini tak akan bisa berbuat banyak. Kondisi belajar sehari-hari pun tak selalu full-time, bahkan terkadang tak ada proses pembelajaran. Mungkin karena beberapa guru kurang semangat, ditambah para siswa yang seolah bersekolah dengan mengikut arus saja—tanpa ada target dan tujuan pencapaian.

Sekitar 2 atau 3 bulan keberadaanku di madrasah itu, saya mulai berpikir dan gelisah bahwa, keadaan ini tak boleh dibiarkan terus. Harus ada perubahan, mesti ada tindakan. Tapi bagaimana? Letak kami yang di pelosok menyulitkan kami memperoleh fasilitas dan informasi untuk melakukan inovasi. Belum lagi jumlah siswa yang terbatas, dan fasilitas yang ada memang kurang memadai, bahkan cenderung tak ada yang bisa dimanfaatkan. Tapi saya tak kehabisan akal. Saya masih memiliki Handphone untuk mencari informasi, walaupun masih bukan smartphone. Masih ada jalan untuk menemukan referensi pengembangan yang disesuaikan dengan kondisi dan keadaan madrasah kami.

Waktu terus berjalan, hingga akhirnya saya menemukan nilai plus di balik segala kekurangan madrasah ini. Ya, letaknya di pelosok dan kaki gunung yang selama ini kami anggap kekurangan, justru merupakan kelebihan tersendiri yang tak dimiliki oleh sekolah-sekolah yang ada di perkotaan. Dari sini, saya mulai menjelaskan ke siswa bahwa kita bisa melakukan banyak kreasi dengan beragam pemandangan khas pedesaan dan pegunungan untuk dijadikan sebagai lingkungan belajar. Maka, tercetuslah kemudian program “Kampung Inggris”. Tepatnya, kami memprogramkan Perkampungan Bahasa Inggris dengan belajar di alam sekitar sebagai langkah awal.

Oh ya, saya lupa memberi tahu di awal. Saya adalah guru Bahasa Inggris, sekaligus mengajarkan mata pelajaran Seni Budaya. Kolaborasi kedua pengetahuan yang sempat saya dalami ini, saya format dalam sistem pembelajaran Kampung Inggris. Awalnya, saya hanya menerapkan sistem pembelajaran yang “Have Fun” karena mayoritas siswa belum memiliki dasar sama sekali tentang Bahasa Inggris. Saya membuat lagu-lagu berbahasa inggris dengan materi pelajaran di dalamnya, kemudian dihafalkan dan dinyanyikan oleh setiap siswa. Selain itu, saya juga memaksimalkan media sosial untuk pembelajaran dan mempublikasikan apa yang telah kami lakukan. Saya bilang ke siswa, “Kalian posting saja setiap kegiatan dengan menggunakan Bahasa Inggris di media sosial.” Mereka awalnya malu dan kurang percaya diri. Takut ada yang jika salah dan malu bila ada yang memberi komentar. Tapi saya katakan ke mereka, “Tak usah malu dan kurang percaya diri, ada gurumu (saya) yang akan membelamu jika tulisan kalian ada yang buli.” 

Suasana Perkampungan Bahasa Inggris yang Dilaksanakan di Alam Terbuka. (Dokpri)

 

Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan sukses. Setelah dua-tiga kali kami lakukan, madrasah kami pun mulai dikenal dengan program Kampung Inggris-nya. Anak-anak semakin percaya diri dan tak lagi malu menampilkan diri dengan karya dan inovasi. Tapi saya belum puas sampai di sini. Setelah sukses dengan Kampung Inggris, saya berpikir lagi untuk membuat “Kampung Arab”. Ya, kegiatan yang serupa tapi menggunakan Bahasa Arab. Format yang sama tapi dengan inovasi bahasa yang berbeda. Singkat cerita, program ini pun berjalan sukses sebagaimana Kampung Inggris sebelumnya. Dengan kedua program bahasa asing tersebut yang boleh dibilang berhasil, akhirnya madrasah kami pun mulai dikenal dengan program Bahasa Asingnya yang unggul.

Tak terasa, saya sudah memasuki tahun kedua berada di MA PP. Nurul Falah Borongganjeng Bulukumba. Oh ya, kata Borongganjeng yang melekat pada namanya adalah nama sebuah Dusun tempat madrasah ini berada. Di tahun kedua ini, tanpa saya duga, jumlah siswa meningkat drastis. Siswa baru yang mendaftar lumayan banyak hingga menyebabkan jumlah siswa secara keseluruhan di tahun berjalan meningkat hingga di atas 50%. Saya sebenarnya sangat senang sekaligus bingung dengan keadaan tersebut. Senang karena madrasah kami mulai diminati, dan bingung mau memberikan apa pada siswa-siswa baru yang jumlahnya begitu banyak.

Setelah melalui masa perkenalan siswa baru atau yang umum kita dengar dengan istilah masa orientasi, saya kembali melanjutkan program. Program Bahasa Asing yang menjadi unggulan untuk sementara, kami berikan ke siswa-siswa baru. Maklum, hampir seluruh siswa baru menjadikan Kampung Bahasa sebagai alasan mereka tertarik untuk bersekolah di madrasah kami. Lagi-lagi program ini berjalan sukses. Tapi kebingunganku masih menyelimuti. Saya masih gelisah. Ada perasaan kurang. Saya berpikir, Kampung Bahasa tak boleh dijadikan satu-satunya program yang ada di madrasah. Harus ada inovasi lain. Madrasah memerlukan hal-hal baru untuk terus berkembang.

Tahun ajaran yang berjalan waktu itu, tak terasa sudah melewati semester ganjil. Pembelajaran telah berlanjut ke semester kedua. Setelah meneliti kembali perkembangan siswa dan madrasah, saya berkesimpulan bahwa madrasah kami mulai dikenal karena banyak dipengaruhi oleh peran media sosial. Selama ini, setiap kegiatan dan inovasi, kami publikasikan di media sosial. Namun, saya melihat masih ada celah. Bentuk komunikasi di media sosial yang dilakukan oleh siswa-siswa kami masih ada yang kurang. Akhirnya, tercetus ide untuk mendirikan Pers Madrasah sebagai kegiatan ekstrakurikuler baru di madrasah. Ya, saya berpikir, para siswa juga harus mengenal dunia jurnalistik. Selain itu, saya juga ingin mengasah lagi pengetahuan jurnalistik yang dulu saya pelajari di UKM Jurnalistik Kampus semasa kuliah.

Awalnya, Eskul Jurnalistik ini kurang diminati. Mungkin karena waktu itu para siswa belum paham dan tak mengerti sama sekali. Tapi seiring berjalannya waktu, beberapa di antara mereka pun tertarik. Satu yang tertanam di benak mereka adalah “Kita adalah wartawan”. Ternyata mereka sangat senang bergaya bak wartawan dengan ID Card di seragam mereka. Akhirnya Pers Madrasah ini pun menjadi primadona di madrasah kami. Program-programnya tentang liputan, fotografi, pemberitaan dan sebagainya, menjadi inovasi tersendiri yang membangun. Sekaligus, tanpa disadari, mampu mengembangkan kompetensi mereka.

Peserta Dididk yang tergabung di Eskul Pers Madrasah MA PP. Nurul Falah Borongganjeng Bulukumba. (Dokpri)

Singkat cerita, Pers Madrasah pun menjadi unggulan di sekolah kami. Apalagi setelah sekolah juga memberikan fasilitas berupa kamera dan peralatan jurnalistik lainnya, jadilah program-program jurnalistik semakin banyak inovasi. Ya, dengan semakin bertambahnya jumlah siswa di madrasah kami, jumlah dana BOS pun dari pemerintah semakin meningkat. Dengan ini, kami bisa sedikit demi sedikit menyediakan fasilitas-fasilitas yang dibutuhkan madrasah yang disesuaikan dengan anggaran dana BOS. Melihat perkembangan yang lumayan pesat ini, saya terkadang masih tak percaya bahwa madrasah kami mampu berada di tahap tersebut. Sudah mulai diminati, mulai menjadi tujuan, dan bahkan sudah ada yang menyebutnya sebagai sekolah unggulan.

Hari berganti hari, pekan, bulan hingga tahun. Saya sudah memasuki tahun kelima di madrasahku. Siswa setiap tahunnya terus meningkat. Kondisi ini membuat saya juga semakin tertantang untuk memberikan inovasi. Di tahun kelima ini, banyak hal-hal baru yang saya munculkan. Saya membentuk Sanggar Seni dan Literasi (SASLI), Komunitas Penulis Muda (KPM), Komunitas Pecinta Bahasa dengan nama Norul Falah Language Lovers (NO FALLS), dan ada Sanggar Hijau yang dicetuskan oleh salah satu rekan saya di madrasah. Komunitas-komunitas tersebut menjadi kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler  yang menyibukkan para siswa dengan kreativitas dan inovasi. Perpaduan bakat seni, literasi, menulis, bahasa, dan pecinta lingkungan, semuanya tersaji pada eskul-eskul yang saya sebutkan di atas.

Semuanya berjalan dengan baik. Banyak perubahan signifikan pada pengembangan bakat dan minat siswa. Madrasah sontak disibukkan dengan aktivitas-aktivitas yang membangun, bernuansa pendidikan dan keterampilan. Saya senang, semuanya gembira. Lalu datanglah berita Pandemi Covid-19 yang menggemparkan dunia, termasuk Indonesia. Kami semua resah. Apalagi semakin gencarnya berita bahwa sekolah-sekolah di luar negeri sudah mulai ditutup. Kami khawatir jika sekolah-sekolah di Indonesia juga ditutup. Dan akhirnya, kekhawatiran itu terjadi juga. Tepatnya 17 Maret 2021, menteri pendidikan, secara resmi mengumumkan bahwa semua proses pembelajaran dan kegiatan sekolah lainnya harus dilaksanakan dari rumah. Ini terjadi setelah sepekan sebelumnya, di Indonesia, mulai ditemukan kasus positif Covid-19.

Keadaan ini benar-benar membuat saya terpukul. Semangat para siswa yang lagi naik-naiknya menjadi berantakan. Ibarat api yang menyala membara diterpa angin kencang, hingga nyala dan baranya berserakan entah ke mana. Padahal madrasah kami dalam tren bagus. Baru saja meningkat dengan berbagai programnya. Dalam benak kami, mudah-mudahan keadaan ini tak membuat kondisi seperti dulu. Sepi, tak banyak kegiatan karena kurangnya siswa. 

Adanya pandemi tak banyak yang bisa kami lakukan. Dua pekan awal sekolah ditutup, kami hanya vakum. Pembelajaran online yang sudah mulai dilaksanakan oleh sekolah-sekolah di perkotaan tak bisa kami terapkan dengan baik. Penyebabnya adalah jaringan internet yang tak stabil merata di setiap tempat tinggal siswa. Karena tempat kami di pelosok, banyak lokasi siswa yang tak terjangkau internet. Tempat yang paling stabil hanya di sekitar madrasah. 

Sebulan kondisi belajar dari rumah diberlakukan. Saya mulai menemukan ide untuk mengatasi masalah ini. Semua siswa saya klasifikasikan dalam dua kategori. Yang pertama kategori siswa yang lokasinya memiliki jaringan internet stabil, dan satu kategori lainnya adalah mereka yang sulit mendapatkan akses internet. Kategori pertama, saya bimbing mereka dengan belajar online memanfaatkan fasilitas online yang mudah digunakan oleh semua siswa. Kegiatan pembelajaran termasuk kegiatan-kegiatan Eskul, saya sampaikan semuanya lewat online. 

Bagi mereka yang tak bisa mendapatkan jaringan internet stabil, saya buatkan program belajar berantai. Saya bentuk kelompok-kelompok yang terdiri dari 5 anggota, lalu saya gilir datang ke madrasah untuk menerima materi pelajaran. Program-program Eskul pun tetap saya sampaikan. Siapa pun yang kena giliran ke madrasah, mereka harus menyampaikan materi ke teman-temannya yang dekat dari tempat mereka. Selanjutnya yang menerima dari temannya, menyampaikan lagi pada teman lainnya yang dekat dari mereka juga. Begitu seterusnya hingga menjangkau semuanya.

Awalnya begitu sulit. Tapi setelah berjalan beberapa pekan, para siswa pun mulai terbiasa. Bahkan, kegiatan ini perlahan menjadi tantangan yang menyenangkan bagi mereka. Mungkin tak seefektif pada saat tatap muka normal seperti biasanya, tapi ada pelajaran-pelajaran lain, yang tanpa disengaja, tercipta dengan sendirinya. Ada rasa kemanusiaan yang timbul dengan saling menolong antar mereka. Ada kerja sama yang tercipta dengan saling membantu. Ada persatuan yang terwujud walaupun mereka tak bersama seperti biasanya. Dan yang paling istimewa, ada keyakinan kuat dalam jiwa-jiwa mereka bahwa keadaan ini akan segera berlalu. Ada Tuhan yang telah mengatur segalanya dan akan memudahkan. Ya, jiwa Pancasila mereka seakan berkobar kuat untuk tegar menghadapi situasi pandemi Covid-19.

Kami sudah terbiasa. Kreativitas dan inovasi juga tetap berjalan dengan situasi pandemi. Saya banyak mengarahkan siswa-siswaku untuk lebih aktif lagi di media sosial, membagikan kegiatan-kegiatan mereka yang membangun. Mereka harus menunjukkan bahwa mereka tetap produktif. Lalu tibalah kembali tahun ajaran baru pertama sejak pandemi. Apa yang terjadi? Di luar dugaan, saya benar-benar tak menyangka, jumlah pendaftar di madrasah kami malah lebih meningkat lagi dibandingkan masa sebelum pandemi. Ini menarik dan menantang, kataku waktu itu. Ternyata tanpa disadari, madrasah kami semakin dilirik karena dianggap paling aktif walaupun dalam situasi pandemi. Lagi-lagi media sosial yang menjadi penyebabnya. 

Sekadar informasi, di masa pandemi, saya juga melibatkan siswa-siswaku untuk aktif berkompetisi. Melalui media sosial, saya mendapatkan banyak informasi mengenai kompetisi-kompetisi yang dilaksanakan. Baik itu berskala regional, nasional, hingga internasional. Baik yang dilaksanakan oleh pihak swasta maupun yang dilaksanakan oleh pemerintah. Bagaimana teknisnya saya mengikutkan siswa-siswaku dalam kegiatan ini? Ya, mereka saya bagi berdasarkan kompetisi-kompetisi yang diikuti. Saya jadwalkan waktunya untuk latihan dengan datang ke madrasah secara terbatas. Maksimal 5 orang per setiap kedatangan. Proses itu kami laksanakan dengan prinsip berjuang, mengarungi tantangan untuk memperoleh prestasi terbaik. Dan ternyata betul, kami berhasil mengukir beberapa prestasi.

Selama mengikuti kompetisi di masa pandemi, beberapa yang kami raih di antaranya adalah, menjadi Juara Harapan 2 Lomba Seni Pramuka berskala internasional. Ada juga prestasi di ajang nasional pada Festival Sahabat Karakter yang dilaksanakan oleh Lembaga Pemerintah, yaitu siswaku terpilih dalam 20 Karya Terbaik Cipta Lagu Sahabat Karakter Indonesia. Di tingkat provinsi, salah satu siswaku meraih Juara 1 ajang siswa berprestasi, yang kemudian mewakili Sulawesi Selatan di ajang Madrasah Award 2021 di bawah naungan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan. Cukup banyak prestasi yang kami torehkan. Yang paling membanggakan juga, beberapa siswaku berhasil menerbitkan buku secara nasional melalui program Komunitas Penulis Muda (KPM) yang tetap saya jalankan secara online di situasi pandemi. 

Tim Pramuka Peraih Juara Favorit 2 Lomba Pramuka Internasional. (Dokpri)

Keberhasilan beberapa siswaku menerbitkan buku selama pandemi ini adalah yang paling banyak mengundang perhatian. Sebanyak 7 buah buku berhasil ditulis oleh 8 orang siswa. Dan saat ini, hingga narasi ini dituliskan, ada sekitar 6 naskah yang kembali disiapkan untuk terbit. Kenapa program menulis ini saya kembangkan? Tentu tujuan utamanya adalah pengembangan literasi. Jika siswa terbiasa menulis, otomatis mereka juga akan terbiasa membaca dan mencerna kejadian-kejadian yang mereka temui. Mereka akan meramu setiap pengalaman menjadi referensi untuk dituliskan melalui kemampuan berliterasi.

Saat ini, seiring kasus pandemi Covid-19 yang terus melandai dan program vaksinasi yang terus meningkat, di madrasahku sudah dilaksanakan proses pembelajaran tatap muka dengan protokol kesehatan yang disiplin. Kami memetik banyak hikmah. Pengalaman selama pandemi memberi nilai tersendiri untuk mengolaborasikan berbagai program. Para siswa sudah terbiasa memaksimalkan perangkat gawai mereka. Akhirnya, proses tatap muka saat ini dikombinasikan dengan teknologi yang semakin membuat madrasah kami banyak berkembang dan berinovasi. Program merdeka belajar semakin efektif dengan tidak hanya mengandalkan pelajaran formal di kelas, tapi juga kegiatan-kegiatan pengembangan bakat dan minat melalui ekstrakurikuler yang semakin terorganisir. Kami bersyukur dan semakin giat lagi untuk memunculkan hal-hal baru yang membangun.

Yang terakhir, saya sebagai guru, tahun lalu (November 2021),dengan segala inovasi yang saya lakukan, memberanikan diri untuk ikut dalam ajang bergensi International Zakat Education Festival (IZE-Fest) 2021. Pada kompetisi ini saya mengikuti Lomba Media Pembelajaran, dan alhamdulillah berhasil meraih Juara 2. Dan di tahun 2022 ini, beberapa siswaku juga meraih prestasi nasional di bidang Seni. Salah satu di antaranya Juara Lomba Cipta Puisi I-FUN 1443 H. Jika menelusuri lagi sejak awal, rasanya beragam prestasi yang telah kami dapatkan terasa seperti mimpi. Lokasi madrasah kami yang di pelosok, fasilitas yang awalnya sangat minim, jumlah siswa yang kekurangan, dan beberapa kendala lainnya, telah berhasil kami lalui dengan terus berkembang setiap tahunnya.

Begitulah segelintir pengalaman saya sebagai pendidik yang mengajar di pelosok. Bagi saya saat ini, keadaan dan situasi tidak boleh menjadi hambatan untuk berkembang dan melakukan inovasi. Saya sempat tak semangat dengan jumlah siswa yang sedikit. Saya pernah minder dengan keberadaan sekolah yang terletak di pelosok. Saya pernah tak percaya diri dengan status sekolah yang bukan sekolah negeri. Tapi seketika saya sadar bahwa saya juga diberikan kemampuan untuk mendidik. Bagaimana pun keadaan manusia, mau kaya atau miskin, tinggal di kota atau di desa, berkedudukan atau tidak, ketika mereka haus, maka yang mereka cari adalah air. Bagaimanapun letak dan kondisi sekolah, yang diperlukan siswa-siswanya adalah pendidikan. Maka, bukan status sekolahnya yang penting, tapi kemauan yang serius untuk mendidik. Prinsip itulah yang saya pegang hingga kini. 

Saya berkesimpulan, dari semua hal yang telah saya lalui, memulai dari serba kekurangan hingga memperoleh banyak nilai plus, ternyata yang dibutuhkan pendidikan itu adalah bergerak. Mau seperti apa pun kondisi sekolah, jika tak ada langkah nyata yang kita lakukan, tetap saja tak ada yang bisa kita capai. Kita jangan menyerah dengan keadaan, sebab di situasi gelap sekalipun selalu ada jalan yang menuntun kita menemukan setitik cahaya yang selanjutnya mengarahkan kita pada sinar yang lebih terang. Biji dari buah yang busuk saja ketika dilemparkan ke tanah, akan tumbuh menjadi pohon yang berbuah. Apalagi jika biji itu sengaja kita tanam dan kita rawat baik-baik, tentu hasilnya akan lebih baik lagi. Sekali lagi, satu kuncinya, bergerak. 

DariPelosokMembukaJendelaDunia
Komentar (1)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

CH Tutut Hastuti
1 bulan yang lalu

Sungguh menginspirasi...