Pendidikan adalah kunci utama untuk membuka pintu menuju masa depan yang lebih cerah. Pendidikan tidak hanya memberikan pengetahuan, tetapi juga membentuk karakter dan keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan. Namun, masih banyak anak-anak di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia yang belum mendapatkan akses ke pendidikan berkualitas. Tantangan seperti kesenjangan akses, kualitas pendidikan yang tidak merata, dan kurangnya fasilitas menjadi penghalang besar. Oleh karena itu, upaya untuk meningkatkan pendidikan harus dilakukan dengan serius dan penuh dedikasi.
Pendidikan berkualitas merupakan pondasi untuk membangun masyarakat dan negara yang maju dan sejahtera. Namun, untuk mencapainya, kita harus mengatasi berbagai tantangan yang menghalangi akses dan peningkatan kualitas pendidikan. Tantangan ini tidak hanya terkait dengan infrastruktur dan sumber daya, tetapi juga melibatkan aspek sosial, budaya, dan ekonomi. Dalam bagian ini, kita akan membahas tiga topik utama yang menjadi fokus dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan khususnya di Indonesia:
Kesenjangan Akses Pendidikan
Kesenjangan akses pendidikan masih menjadi masalah serius, terutama di daerah pedesaan dan terpencil. Banyak anak harus menempuh jarak puluhan kilometer untuk mencapai sekolah terdekat, dan tidak jarang mereka harus berjalan kaki melewati medan yang sulit. Selain itu, biaya pendidikan yang tinggi sering kali menjadi penghalang utama bagi keluarga kurang mampu. Banyak orang tua terpaksa memilih untuk tidak menyekolahkan anaknya karena harus mengalokasikan dana untuk kebutuhan sehari-hari.
Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) melalui susenas tahun 2023: menunjukan bahwa presentase penduduk di usia 15 tahun ke atas yang tidak pernah menempuh pendidikan di Indonesia masih lebih tinggi di daerah pedesaan ketimbang di perkotaan.
Sementara tingkatan penyelesaian Sekolah Menengah Atas (SMA) di pedesaan lebih rendah presentase akses pendidikannya dari pada di daerah perkotaan. Tampaknya kesenjangan pendidikan masih terlihat jelas pada jenjang pendidikan, dimana Angka Partisipasi Kasar (APK) Nasional masih sepertiga dari kelompok usia kuliah serta sangat tidak seimbang antara wilayah satu dengan wilayah lain nya, seperti di Yogyakarta APK disana sangat jauh di banding wilayah di timur Indonesia (Papua). Faktor geografis tidak bisa di pungkiri. Akan tetapi kondisi ekonomi juga semakin memperlebar kesenjangan antar provinsi karena itu anak dari keluarga miskin lebih rentan putus sekolah akibat biaya, serta minimnya fasilitas guru dan sekolah.
Tidak hanya itu, budaya dan norma sosial di beberapa daerah juga menjadi tantangan. Misalnya, anak perempuan sering kali diprioritaskan untuk membantu pekerjaan rumah atau menikah di usia dini, sehingga kesempatan mereka untuk bersekolah sangat terbatas. Hal ini semakin memperparah ketimpangan akses pendidikan antara anak laki-laki dan perempuan.
Kualitas Pendidikan yang Tidak Merata
1. Kurangnya guru terlatih
Guru adalah ujung tombak dalam proses pendidikan. Namun, di banyak daerah, terutama di pedesaan, jumlah guru yang terlatih dan berkualitas masih sangat minim. Banyak guru yang mengajar di daerah terpencil tidak memiliki latar belakang pendidikan yang memadai atau tidak pernah mengikuti pelatihan profesional. Akibatnya, metode pengajaran yang digunakan sering kali tidak efektif dan tidak sesuai dengan kebutuhan siswa.
Data dari Kemendikbudristek menunjukan bahwa di Indonesia kekurangan lebih dari 1,3 juta guru di tahun 2024, karena setiap tahun sekitar 70.000 guru pensiun sedangkan jumlah lulusan Pendidikan Profesional Guru (PPG) belum mampu untuk menutup kekurangan guru tersebut. Selain itu pemindahan guru profesional di Indonesia tidak begitu merata, sehingga semua sekolah di Indonesia sering mengalami kekurangan guru tetap. Terutama, untuk mata pelajaran pokok. Hal itu menjadi tantangan bagi kualitas guru juga merupakan hambatan utama dalam memajukan sistem pendidikan di Indonesia. Di Indonesia presentase guru telah yang sudah memiliki sertifikasi guru profesional hanya ada sekitar 28-30%, ini menunjukkan bahwa sebagian besar guru di Indonesia belum memenuhi standar kompetensi professional. Kondisi ini jelas membuktikan bahwa kualitas guru di Indonesia semakin menurun setiap tahunnya
Selain itu, distribusi guru yang tidak merata juga menjadi masalah. Guru-guru berkualitas cenderung memilih untuk mengajar di kota-kota besar dengan fasilitas yang lebih baik, sementara daerah pedesaan seringkali kekurangan tenaga pengajar. Hal ini membuat kualitas pendidikan di daerah terpencil semakin tertinggal.
2.2 Fasilitas yang tidak memadai
Fasilitas pendidikan yang memadai adalah salah satu faktor penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan efektif. Namun, di banyak sekolah, terutama di daerah tertinggal, fasilitas seperti ruang kelas, perpustakaan, dan laboratorium sering kali tidak memenuhi standar. Ruang kelas yang rusak, atap yang bocor, dan bangunan yang tidak layak menjadi pemandangan umum di beberapa sekolah.
Menurut data Kemendikbudristek, 12.064 sekolah tidak memiliki perpustakaan, 1.454 sekolah tidak memiliki laboratorium, 5.783 sekolah belum memiliki listrik, dan 10.692 sekolah tidak memiliki akses internet, sementara sekitar 28 % fasilitas sekolah membutuhkan perbaikan (Kemendikbudristek, 2023). Ketimpangan antara sekolah di perkotaan dan pedesaan sangat jelas; misalnya, hanya sekitar 45 % sekolah pedesaan yang memiliki perpustakaan dibanding 75 % di perkotaan, dan ketersediaan laboratorium di pedesaan hanya sekitar 20 %, sementara di kota sekitar 60 % (Bayfa Publisher, 2020). Selain itu, akses air bersih dan sanitasi yang layak masih menjadi masalah bagi jutaan siswa, dengan sekitar 3,1 juta siswa tidak memiliki akses air bersih dan hanya 75 % sekolah memiliki sanitasi lengkap dengan air dan sabun (Antara News, 2021). Kondisi ini menunjukkan bahwa keterbatasan fasilitas pendidikan berdampak langsung pada kualitas pembelajaran dan kesempatan belajar yang setara di Indonesia.
Tidak hanya itu, ketersediaan buku pelajaran dan alat peraga juga sangat terbatas. Banyak siswa harus berbagi buku dengan teman-temannya, atau bahkan tidak memiliki buku sama sekali. Kondisi ini membuat proses belajar mengajar menjadi tidak optimal dan menghambat pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkan.
Solusi untuk Meningkatkan Akses Pendidikan dan Mengatasi Berbagai Tantangan dalam Pendidikan
Untuk meningkatkan akses pendidikan dan mengatasi berbagai tantangan dalam pendidikan, diperlukan solusi yang komprehensif dan berkelanjutan. Untuk solusinya pemerintah bisa mengurangi kesenjangan akses pendidikan melalui pembangunan sekolah satelit di daerah terpencil, juga memberikan subsidi untuk transportasi dan menyediakan beasiswa bagi siswa dari daerah terpencil, serta di berikan perhatian khusus bagi daerah terpencil dan memberikan tunjangan lebih bagi guru yan mengajar didaerah terpencil. Dan juga menjamin perlindungan bagi para guru yang memilih untuk mengajar di daerah terpencil.
Selain itu, pemanfaatan teknologi digital tak kalah penting bagi menghadapi tantanan dalam pendidikan. Semakin meluasnya akses internet, platform pembelajaran online dapat menjadi alternatif efektif untuk menjangkau anak-anak di daerah terpencil. Melalui platform ini, siswa dapat mengakses materi pembelajaran berkualitas dari guru-guru terbaik di dunia, tanpa harus meninggalkan rumah mereka.
Selain teknologi, peningkatan kualitas guru juga menjadi kunci utama. Program pelatihan guru yang intensif dan berkelanjutan dapat membantu meningkatkan kompetensi pendidik, terutama di daerah yang selama ini tertinggal. Pemerintah dan organisasi non-pemerintah dapat bekerja sama untuk menyediakan pelatihan dan sumber daya yang dibutuhkan oleh guru.
Pendidikan inklusif juga harus menjadi prioritas. Setiap anak, tanpa terkecuali, berhak mendapatkan kesempatan belajar. Anak-anak dengan disabilitas, anak perempuan, dan kelompok marjinal lainnya sering kali menghadapi diskriminasi dalam sistem pendidikan. Dengan menerapkan kebijakan yang inklusif dan menyediakan sumber daya yang memadai, kita dapat memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal.
Pendidikan berkualitas adalah hak setiap anak, dan upaya untuk memastikan akses yang merata harus menjadi prioritas. Dengan mengatasi kesenjangan akses, meningkatkan kualitas guru, dan menyediakan fasilitas yang memadai, kita dapat menciptakan generasi yang siap menghadapi tantangan masa depan. Pendidikan bukan hanya tentang transfer pengetahuan, tetapi juga tentang membangun karakter dan keterampilan yang dibutuhkan untuk kehidupan yang lebih baik.
Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk mendukung pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Setiap langkah yang kita ambil hari ini akan membawa dampak besar bagi masa depan anak-anak dan masyarakat secara keseluruhan. Pendidikan adalah investasi terbaik yang bisa kita berikan untuk menciptakan dunia yang lebih baik. Dengan sepenuh hati, mari kita wujudkan mimpi setiap anak untuk mendapatkan pendidikan yang layak.
Ditulis oleh: Muhammad Rafi Rahadatul Aisyi
Penyunting: Putra