Segitiga Restitusi sebagai Perwujudan Budaya Positif di Sekolah - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 21 Mei 2024

Segitiga Restitusi sebagai Perwujudan Budaya Positif di Sekolah

Penerapan budaya positif berangkat dari fakta bahwa kecendurangan manusia yang akan selalu memenuhi kebutuhan dasarnya dengan berbagai cara. Namun tidak jarang cara yang ditempuh tersebut mengalami kendala.

Refleksi

Oktina Utami

Kunjungi Profile
871x
Bagikan

Filosofi pemikiran dari Ki Hadjar Dewantara yang diejawantahkan sebagai tujuan pendidikan nasional kita, tak lepas dari satu kalimat utama yang selalu menjadi pegangan para pendidik di era saat ini ketika mulai terhanyut dalam eksplorasi yang tak lagi mengenal batas, bahwa pendidikan sejatinya haruslah selalu berpihak pada murid. Salah satu upaya yang bisa dilakukan untuk mewujudkannya adalah dengan penerapan satu konsep mulia yang sekali pun abstrak, namun implementasinya dapat berupa tindak lanjut konkret yang memiliki tujuan yang sangat jelas. Konsep tersebut disebut para ahli sebagai budaya positif.

Budaya positif erat kaitannya dengan terminologi motivasi, karena pembentukan budaya tak bisa lepas dari motivasi yang melatarbelakangi anggota komunitasnya. Menurut Dianne Gossen, terdapat tiga jenis motivasi perilaku manusia, antara lain; untuk menghindari ketidaknyamanan atau hukuman, untuk mendapatkan imbalan atau penghargaan dari orang lain, dan untuk menjadi orang yang mereka inginkan dan menghargai diri sendiri dengan nilai-nilai Kebajikan. Jika mengacu pada ketiga jenis motivasi tersebut, untuk mencapai terwujudnya budaya positif yang sehat dalam satu komunitas terutama instansi pendidikan, maka motivasi yang tentu harus dimiliki adalah motivasi ketiga yang juga disebut sebagai motivasi intrinsik, sebuah gerakan yang berasal dari dalam diri tanpa adanya intervensi pihak luar.

Jika dirunut dari esensi dasarnya, penerapan budaya positif berangkat dari fakta bahwa kecendurangan manusia yang akan selalu memenuhi kebutuhan dasarnya dengan berbagai cara. Namun tidak jarang cara yang ditempuh tersebut mengalami kendala dan nilai-nilai kebajikan yang tadinya dipegang akhirnya harus dilanggar. Dr. William Glasser menyatakan bahwa lima kebutuhan dasar tersebut antara lain adalah Kebutuhan Bertahan Hidup, Kasih Sayang, Penguasaan, Kebebasan, dan Kesenangan.

Dalam dunia pendidikan, guru harus memahami bahwa pelanggaran nilai yang dilakukan murid adalah dalam rangka pemenuhan kebutuhan dasar tersebut. Dengan demikian, guru dapat memiliki posisi kontrol ideal. Dianne Gossen menyatakan lima posisi kontrol yang umumnya dimiliki oleh guru adalah sebagai seorang Penghukum, Pembuat Merasa Bersalah, Teman, Pemantau, dan posisi terakhir yang merupakan posisi paling bijaksana adalah sebagai Manajer. Kelima posisi tersebut memiliki sintak yang berbeda-beda dimana tidak berarti keempat posisi selain Manajer tidak boleh digunakan, karena pada kondisi tertentu, pastinya akan dibutuhkan posisi-posisi seperti tersebut di atas.

Posisi manajer yang diterapkan oleh guru kepada murid saat menghadapi pelanggaran dapat diwujudkan dalam sebuah program disiplin yang digagas oleh Dianne Gossen yang dinamakan Restitusi. Secara definitif, restitusi ini merupakan proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka agar bisa kembali ke kelompoknya dengan karakter yang lebih kuat. Secara sistematis, langkah restitusi terdiri dari tiga tahap yaitu Menstabilkan Identitas, Validasi Tindakan Salah, dan Menanyakan Keyakinan. Maka proses ini juga disebut sebagai Segitiga Restitusi. Tahapan Penstabilan Identitas berguna untuk mengubah dari identitas gagal menjadi orang yang sukses dengan proses refleksi. Tahapan yang kedua dalah Validasi Tindakan Salah untuk memahami alasan di balik tindakan murid. Pada tahap akhir yaitu Menanyakan Keyakinan, murid sudah siap untuk dihubungkan dengan nilai-nilai yang dipercaya, setelah pada tahap pertama dan kedua ia telah mencapai identitas yang sukses dan tindakan salahnya telah divalidasi.

Segitiga Restitusi sebagai Perwujudan Budaya Positif di Sekolah

Dalam penjelasannya, Dianne Gossen juga menggunakan keyakinan kelas alih-alih kesepakatan kelas, sebagai dasar untuk merestitusi murid agar kembali menjadi pribadi yang lebih baik. Keyakinan lebih mengarah pada nilai yang dijunjung tinggi dan dihargai atau disebut sebagai nilai kebajikan, yang tentu saja implementasinya luas, sedangkan kesepakatan kelas atau peraturan kelas hanya terbatas pada tindakan konkret yang tertulis saja. Keyakinan kelas adalah pernyataan universal yang bersifat positif dan sesuai dengan lingkungan penggunanya. Penyusunan Keyakinan Kelas dapat dimulai dengan mendiskusikan kondisi kelas yang kurang positif dan mencari solusi pemecahan masalah tersebut atau kondisi ideal yang memungkinkan masalah-masalah tersebut bisa dihindari. Kondisi-kondisi ideal tersebut selanjutnya dapat ditarik menjadi konsep-konsep abstrak yang disebut sebagai Keyakinan Kelas, yang nantinya dapat menjadi nilai-nilai yang disepakati dalam proses Restitusi.


Penyunting: Putra

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Mengisi Tangki Cinta Anak
5 min
Harkitnas 2024: Sejarah, Tema, dan Makna
2 min
Merancang Investasi dan Tabungan bagi Tenaga Pendidik
1 min
Tips & Trik Bijak Mengelola Uang THR untuk Masa Depan yang Gemilang
4 min
15 Ucapan Hari Kenaikan Isa Almasih Penuh Makna!
2 min
Guru Muda dan Tua

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar