Membentuk Agora Masa Kini - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 10 Sep 2023

Membentuk Agora Masa Kini

Kita membutuhkan Socrates masa kini untuk Agora masa kini pula. Artikel ini akan membuat pembaca menyadari pentingnya guru sebagai mediator kebebasan di era digital yang 'liar' dan penuh kebebasan.

Dunia Pendidikan

ACENG, S.PD., M.PD.

Kunjungi Profile
2291x
Bagikan

Socrates dan Para Muridnya 

            Siapa yang tidak mengetahui Socrates? Seorang filsuf-manusia yang paling ramai dibicarakan dalam sejarah filsafat. Kepribadian dan pemikiran Socrates yang unik membuat semua orang yakin bahwa kebenaran menyertai dirinya. Karena saat itu, Athena ibarat ‘kuda gemuk dalam kandang’. Socrates bertugas sebagai nyamuk, mengganggu kuda itu agar mengamuk, menjadi pahlawan di medan perang realitas. Socrates tidak mengasingkan diri dari warga negaranya, tetapi sepanjang hari ia berada di jalan-jalan, di pasar, dan selalu bercakap-cakap dengan setiap orang yang ditemuinya.[1]

            Selain sering bercakap dengan orang-orang acak yang ia temui, Socrates juga memiliki banyak murid. Itu pula yang menjadi sebab kematiannya. Ia kerap kali menyampaikan ‘kebenaran’ yang sulit dicerna bangsa Athena saat itu. Pengadilan memutuskan untuk menghukum mati Socrates dengan alasan ‘merusak generasi muda Athena’. Namun, apakah benar demikian? Kesaksian Plato menyangsikan sebaliknya, kita sebagai pembaca di masa modern dapat mencerna secara lebih adil pemikiran Socrates. Seorang bapak filsafat-manusia, yang menurunkan filsafat dari langit ke bumi, ke meja makan dan warung-warung kopi, hingga ke sekolah-sekolah dan universitas. Kebenaran yang digaungkannya 2500 tahun yang lalu bergema hingga saat ini. 

Para ‘Sofis’ Masa Kini

            Banyak yang Socrates ajarkan, dari mulai pengetahuan diri hingga etika dan kebijaksanaan. Namun yang paling menonjol adalah ajarannya atas dialog dan ironi, kedua ajaran itu sering dipraktikan olehnya. Tidak sedikit orang yang merasa takjub bahkan malu setelah berdiskusi dengan Socrates. Kebijaksanaannya dipahami sebagai cara yang sama sekali ‘lain’. Bijaksana adalah ‘tahu’ bahwa ia tidak tahu apa-apa. Semangat Socrates inilah yang paling dirasa ‘asing’ bagi guru-guru di Indonesia. Guru-guru sekedar menjadi corong dari kurikulum. Diakui atau tidak, akibat dari pendidikan yang telah dimuarakan pada pembangunan nasional, produk dari pendidikan tidak memiliki kepekaan sosial yang tinggi sebagai manusia.[2] Kita hanya melihat bahwa siswa adalah calon-calon pekerja. 

            Akibatnya guru mengubah perannya menjadi sofis-sofis masa kini. Orang yang sengaja di desain untuk bijaksana dan mengetahui segala hal. Ketidaktahuan menjadi sebuah aib yang serius dalam dunia pendidikan. Kita telah berjalan di jalur yang sangat keliru, pendidikan bagi manusia harus dilakukan secara manusiawi pula. Seharusnya guru adalah pengajar-yang-belajar. Pendidikan ideal yang dituntut oleh situasi kita saat ini ialah pendidikan yang membuat manusia berani membicarakan masalah-masalah lingkungannya dan turun tangan dalam lingkungan tersebut.[3] Pendidikan harus membebaskan, dan guru harus berani pula untuk angkat kaki dari pemahaman sofistiknya. Guru tidak harus tahu segala hal karena guru bukan bank ilmu pengetahuan. Guru harus didesain menjadi seorang Socrates masa kini, seorang filsuf-pengajar. Seorang guru harus tahu bahwa ia bukan ‘si-bijaksana’ namun “si” pecinta kebijaksanaan, yang sama-sama belajar memahami dunia dengan para muridnya.  

Era Digital dan Agora Baru

            Munculnya platform digital yang sangat luas itu seakan memberikan secercah harapan atas era modern sekarang. Modernitas memang dibangun atas keyakinan bahwa subjek dapat dan “harus” ‘berpikir sendiri’.[4] Maka digitalisasi atas dunia bukan sekedar upaya liberasi dunia pendidikan. Dunia digital dapat menjadi ‘Agora’ baru bagi manusia dunia. Semua orang dapat mengakses bebas Agora itu. Dan semua orang tahu, Agora sebagai sebuah pasar mengandung kebebasan sekaligus sesuatu yang berbahaya didalamnya. Entah itu pencopet, penipu atau provokator akan selalu ada di Agora. Harapannya, guru dapat menjadi Socrates di Agora masa kini. Dimana pendidik bukan hanya menjadi fasilitator kelas, namun juga fasilitator dunia kebebasan. Guru harus bisa menjadi tempat pulang bagi akal sehat murid-muridnya. 

 

Referensi

Bertens, Kees. Sejarah Filsafat Yunani. 5th ed. Yogyakarta: PENERBIT PT KANISIUS, 2023.

Freire, Paulo. Pendidikan Sebagai Praktek Pembebasan. 1st ed. Jakarta: PT Gramedia, 1984.

Hardiman, Fransisco. Aku Klik Maka Aku Ada. 1st ed. Yogyakarta: PENERBIT PT KANISIUS, 2021.

Yamin, Moh. Menggugat Pendidikan Indonesia: Belajar Dari Paulo Freire Dan Ki Hajar Dewantara. 2nd ed. Yogyakarta: AR-RUZZ MEDIA, 2020.


Penyunting: Putra

470

0

Komentar (470)

FADHEL MN

Sep 21, 2023

Artikelnya sangat bagusss dan kerenn banget pak.Dari kosa kata , kalimatnya , hingga cerita dari artikelnya mudah dipahami , ditambah dari cerita artikel ini dapat menginspirasi banyak pembacanya. Alwys Kerennn karyanya pakkkk, N Semangatt teruss pak...

ANITA NUR ANGGRAENI

Sep 21, 2023

Menurut saya, ini termasuk artikel yang bagus. Memuat banyak informasi penting namun tidak bertele-tele, mudah untuk dipahami. Informasi yang dikemukakan di artikel ini juga cukup lengkap membuat saya tahu siapa itu Socrates. Untuk gambar yang disajikan juga cukup aesthetic dan penuh makna yang terpendam didalamnya. Perpaduan artikel dengan gambar sangat sempurna, membuat kami para pembaca sangat tertarik dengan artikel ini. Semangat terus untuk Bapak Aceng, sukses selalu.

ANNISA APRILIANTI

Sep 21, 2023

Artikel nya sangat kerennn dan bagusss. Penggunaan kosakata yang mudah dipahami ditambah grafik gambar yang diberikan sangat indah dan membuat seseorang jadi tertarik akan membaca artiker ini. Semangat terus pak acengg🙌🏻🙌🏻

Lihat Komentar Lainnya

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

MENGGENGGAM MASA DEPAN: PERAN LITERASI DIGITAL DALAM MANIFESTASI KURIKULUM MERDEKA
7 min
Pentingnya Menumbuhkan Karakter kepada Siswa
Generasi Emas 2045, Refleksi Guru Sejahtera

Iefone Shiflana

Dec 12, 2023
8 min
Filter Bubble, Echo Chamber, dan Transformasi Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Era Media Sosial

SAURI PERADHAYANA

Aug 30, 2023
1 min
Mengintegrasikan Permainan Tradisional dalam Pembelajaran: Membangun Karakter Siswa dengan Nilai-Nilai Lokal
3 min
Peran Teknologi Pasca Pandemi pada Penerapan Kurikulum Merdeka dalam Mewujudkan Indonesia Emas 2045
3 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar