Membangun Budaya Literasi Melalui Kegiatan Membaca Karya Sastra - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 21 Des 2023

Membangun Budaya Literasi Melalui Kegiatan Membaca Karya Sastra

Membangun kebiasaan literasi dengan pendekatan aksiologi melalui membaca sastra dapat dilakukan dalam dunia pendidikan. Dengan adanya komitmen untuk membangun kebiasaan literasi melalui membaca sastra maka banyak hal yang didapatkan.

Dunia Pendidikan

Karni Dwi Irmaningsih

Kunjungi Profile
1047x
Bagikan

Kebiasaan literasi menjadi gerakan yang terus ditumbuhkembangkan di seluruh penjuru dunia. Dunia sedang dalam gencar-gencarnya menumbuhkan kebiasaan literasi. Indonesia pun tidak ingin tertinggal dengan negara-negara lain. Sayangnya, langkah mewujudkan kebiasaan literasi belum tergarap dengan baik karena berbagai kendala. Berbagai penelitian tentang kebiasaan membaca dan kebiasaan menulis telah menjamur di dunia pendidikan. Namun, hasil penelitian-penelitian itu belum dikembangkan dan diaplikasikan secara konsisten.

Sejalan dengan komitmen untuk membangun kebiasaan membaca, maka pendidikan merupakan akses utama menuju kebiasaan literasi tersebut. Melalui muatan kurikulum nasional seharusnya bisa diselipkan semangat mewujudkan kebiasaan literasi. Mata pelajaran Bahasa Indonesia dapat dipandang sebagai mata pelajaran penggerak kebiasaan ini. Mata pelajaran Bahasa Indonesia mampu menggiring ke arah kebiasaan literasi dan tanpa mengesampingkan mata pelajaran lain.

Indonesia tentu tidak ingin tertinggal dengan negara-negara lain dalam gerakan literasi ini. Salah satu langkah nyata pemerintah adalah dengan diterapkannya Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang mulai dilaksanakan pada tahun pelajaran 2016-2017. Gerakan Literasi Sekolah ini dilakukan dalam bentuk kegiatan membaca buku dalam rentang waktu tertentu yang telah disepakati. Pemerintah menganjurkan membaca selama 15 menit, namun dalam praktiknya bisa lebih dari waktu yang dianjurkan tersebut.

Melihat kondisi dan tantangan seperti ini, maka perlu dikaji tentang membangun kebiasaan literasi melalui media tertentu. Salah satunya adalah dengan sastra. Membangun kebiasaan literasi dengan pendekatan aksiologi melalui membaca sastra dapat dilakukan dalam dunia pendidikan dan pada umumnya masyarakat luas pun telah mengenal sastra sejak lama. Dengan adanya komitmen untuk membangun kebiasaan literasi melalui membaca sastra maka banyak hal yang didapatkan. Selain turut mendukung gerakan membangun kebiasaan literasi juga turut membangun karakter karakter bangsa. Hal ini disadari betul oleh semua kalangan baik pemerintah maupun masyarakat luas.

Kebiasaan Literasi

Era globalisasi dan era teknologi yang semakin canggih membutuhkan kebiasaan literasi yang tinggi. Mengapa demikian? Kebiasaan literasi diperlukan untuk mendukung perkembangan dan kemajuan dalam berbagai bidang kehidupan. UNESCO menganggap bahwa ‘Literacy is a fundamental human right and the foundation for lifelong learning (literasi merupakan hak dasar setiap orang dalam pembelajaran sepanjang hayat). Kebiasaan literasi tepat dianggap sebagai hak dasar setiap orang yang ingin terus belajar sepanjang hayatnya. Kebiasaan literasi meliputi kebiasaan baca dan kebiasaan tulis. Kegiatan membaca dan menulis tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia dalam kesehariannya. Lebih jauh lagi, literasi didefinisikan oleh Kern secara lebih komprehensif berikut ini.

Literacy is the use of socially-, and historically-, and culturally-situated practices of creating and interpreting meaning through texts. It entails at least a tacit awareness of the relationships between textual conventions and their context of use and, ideally, the ability to reflect critically on those relationships. Because it is purpose-sensitive, literacy is dynamic – not static – and variable across and within discourse communities and cultures. It draws on a wide range of cognitive abilities, on knowledge of written and spoken language, on knowledge of genres, and on cultural knowledge.

Literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaanya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan-hubungan itu. Karena peka dengan maksud atau tujuan, literasi itu bersifat dinamis – tidak statis – dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultur diskursus atau wacana. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan kultural.

Pernyataan tersebut, memperdalam pemahaman bahwa literasi adalah hal yang kompleks digunakan dalam situasi sosial, sejarah, dan kebiasaan dalam menginterpretasikan makna melalui teks. Lebih lanjut, literasi membutuhkan kemampuan kognitif, kemampuan berbahasa baik secara tulis maupun lisan dan bentuk pengetahuan lainnya seperti pengetahuan tentang genre teks yang dibaca atau ditulis, pengetahuan kebiasaan dan aspek kehidupan yang lain.

Dalam kegiatan literasi, akan terbangun banyak konsep terkait segala aspek kehidupan. Kegiatan literasi tersebut akan menuntut penafsiran dan interpretasi dari setiap individu. Dalam hal menafsirkan dan menginterpretasikan, akan membentuk ide gagasan baru sehingga dapat mengembangkan sebuah ilmu pengetahuan. Kegiatan ini tentu membutuhkan kemampuan kognitif kemampuan berbahasa yang baik. Kemampuan berbahasa yang meliputi lisan maupun tulis dan wawasan kebahasaan akan terus berperan penting dalam kebiasaan literasi.

Membaca Sastra

Literasi kaitannya dalam bidang sastra tentu sangat erat. Sastra dapat dikatakan sebagai salah satu bidang yang dapat membangun kebiasaan literasi. Dengan sastra, seseorang dapat mengungkapkan berbagai ide dan gagasan melalui bahasa tulis. Dengan sastra, seseorang pun mampu menangkap makna melalui teks-teks sastra.  Hal ini telah terbukti, sudah banyak para penulis sastra (baik prosa, puisi, naskah drama) yang telah menuangkan ide, gagasan, imajinasi dalam lembar-lembar kertas yang dapat dibaca dan dinikmati oleh siapapun.

Sastra sendiri menurut Wellek (1989: 3) mendefinisikan sastra adalah suatu kegiatan kreatif, sebuah karya seni. Dan salah satu batasan sastra adalah segala sesuatu yang tertulis atau tercetak. Dari pernyataan itulah diketahui bahwa sastra adalah sesuatu yang tertulis. Sastra dapat berupa puisi, prosa, atau naskah drama. Sastra dikatakan suatu kegiatan kreatif karena dalam sastra muncul hasil-hasil dari proses kreatif menulis untuk menghasilkan karya agung yang dikenang dan dapat dibaca sepanjang massa.

Kegiatan membaca sastra adalah bentuk apresiasi terhadap karya sastra. Karya sastra dapat berbentuk puisi, prosa, maupun naskah drama. Kegiatan tersebut merupakan salah satu kebiasaan literasi yang baik untuk terus dikembangkan. Mengapresiasi sastra dapat dilakukan dengan kegiatan membaca estetis dan membaca kritis. Membaca estetis yaitu kegiatan membaca yang dilatarbelakangi tujuan menikmati serta menghargai unsur-unsur keindahan yang terpapar dalam suatu teks sastra sedangkan membaca kritis merupakan kegiatan membaca untuk memberikan penilaian (Aminuddin, 1987:20).

Teeuw (1991:12) mengatakan bahwa membaca dan menilai karya sastra bukanlah sesuatu yang mudah. Dikatakan bukan sesuatu yang mudah karena pembaca perlu memahami kode dalam bahasa sastra. Bahasa sastra tidak seperti bahasa pada umumnya. Bahasa sastra banyak mengandung makna kias yang perlu pemahaman lebih mendalam. Menggunakan pendekatan pragmatis dapat dijadikan sebagai alternative untuk mendekati karya sastra. Pendekatan pragmatis merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada peran pembaca (Abrams dalam Teeuw, 1984: 41). Kegiatan membaca untuk memahami makna diserahkan kepada tafsiran pembaca selaku penikmat sastra. Namun, semua itu perlu pengalaman, wawasan, dan pengetahuan terhadap sastra agar pemaknaan tidak keliru.

Membangun Kebiasaan Literasi Melalui Kegiatan Membaca Karya Sastra

Dalam proses membangun kebiasaan literasi maka peran sastra sangat memungkinkan untuk berperan aktif. Dengan membaca sastra, banyak hal yang bisa kita dapatkan untuk menambah khazanah ilmu, mengembangkan wawasan, meningkatkan pengetahuan serta harkat dan martabat sebagai manusia yang berilmu dan berbudaya. Dalam karya sastra, ada banyak unsur-unsur yang membangun. Unsur-unsur tersebut terdiri dari unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik dilihat dari unsur yang membangun karya sastra dari dalam karya itu sendiri.  Salah satunya ada pesan moral yang ingin disampaikan pengarang kepada pembaca dan masyarakat luas. Pesan itu disampaikan oleh pengarang dalam rangka menyebarkan kebaikan dan gagasan-gagasan ideal yang dapat dikembangkan dalam masyarakat atau dunia nyata.

Pembelajaran sastra dalam pendidikan sendiri akan menumbuhkan sikap apresiasi. Apresiasi merupakan penghargaan tertinggi terhadap karya-karya seseorang. Apresiasi dapat dilakukan secara langsung maupun tidak langsung. Sebuah penerapan kegiatan membaca yang menyenangkan telah dilakukan oleh Johnson (2005: 284), siswa diminta untuk membaca dan membuat sinopsis untuk siswa lain yang belum membaca bahan bacaan tertentu. Dan hasilnya semua siswa merasa senang dengan kegiatan tersebut. Karena dengan begitu, semua siswa dapat mengetahui dan berbagi pengalaman membacanya kepada orang lain. Dan hal yang terpenting adalah mereka dapat belajar mengapresiasi hasil karya orang lain. Ini adalah pembelajaran karakter yang mulia.

Jika dicermati lebih dalam, kegiatan-kegiatan seperti yang dilakukan oleh Johnson, disadari atau tidak dapat membentuk karakter pada diri seseorang. Dalam sebuah karya sastra, seseorang dapat menumbuhkan sikap menghargai karya orang lain. Dengan membaca sastra pun, seseorang dapat mengambil nilai-nilai kehidupan yang ada dalam karya sastra berupa perilaku-perilaku terpuji yang dapat diteladani dan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dan tentu akhirnya dapat menghindari perilaku-perilaku yang tercela sebagai bentuk refleksi dan instropeksi diri. Setelah membaca karya sastra, seseorang pun dapat memberikan penilaian. Hal ini akan menumbuhkan sikap kritis terhadap segala sesuatu. Harapannya sikap kritis ini dapat diterapkan sebagaimana mestinya dan bukan untuk sekadar mengkritik tanpa ada keinginan untuk membangun dan memberi solusi cerdas.

Kebiasaan literasi merupakan kebiasaan yang dapat memperkuat generasi suatu bangsa menuju zamannya. Kebiasaan ini sangat diperlukan untuk menumbuhkembangkan sikap apresiatif, kritis, dan solutif menghadapi segala permasalahan dan tantangan masa depan. Generasi muda perlu dibiasakan memiliki kebiasaan literasi untuk tetap melanjutkan sebuah peradaban modern. Kebiasaan literasi ini meliputi kegiatan membaca dan menulis. Tema-tema literasi sangat beragam dalam berbagai aspek kehidupan.

Salah satu kebiasaan literasi tercermin dalam kegiatan membaca sastra. Dalam pembelajaran di sekolah sastra masih tetap ada hingga sekarang. Sastra sampai kapanpun akan tetap ada untuk memberi pencerahan dan keindahan dalam hidup manusia. Karya sastra yang berbentuk prosa fiksi banyak beredar di masyarakat. Hal ini disebabkan karena banyak pula generasi-generasi muda yang berkarya, membangun imajinasi kreatif untuk menyebarkan ide gagasan lewat tulisan mereka. Akhirnya hasil karya mereka dapat dibaca semua orang melalui kegiatan membaca sastra. 

Dewasa ini, negara semakin membutuhkan keberadaan karakter bangsa yang tangguh. Pemerintah telah menggencarkan pendidikan karakter sejak tahun 2011 silam, hasilnya sampai sekarang masih menjadi pertanyaan. Saat ini, pemerintah masih berkomitmen untuk mewujudkan karakter bangsa yang berakhlak mulia lewat bidang pendidikan.

Karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti. Karakter dapat diartikan sebagai tabiat, yaitu perangai atau perbuatan yang selalu dilakukan atau kebiasaan. Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.

Berbagai karakter yang ingin diinternalisasikan dalam pribadi individu dapat dilakukan dengan berbagai cara. Sekali lagi, salah satu cara adalah melalui sastra. Sastra yang dilahirkan oleh pengarang-pengarang memuat berbagai nilai kehidupan sosial. Nilai inilah yang dapat dijadikan sebagai salah satu usaha untuk mendalami berbagai karakter yang ada.  Idealnya, nilai karakter baik akan terus dilestarikan, nilai karakter yang buruk akan semakin ditinggalkan.

Selain nilai-nilai karakter, membaca sastra diharapkan mampu mengembangkan kebiasaan mengasah otak untuk secara kritis dan analitis dalam menikmati karya sastra. Sikap kritis dan analitis pada akhirnya mampu untuk mengembangkan kreatifitas dalam menciptakan karya-karya sastra lain yang dapat dinikmati masyarakat luas. Hal tersebut dapat dijelaskan ketika seseorang menikmati karya sastra melalui kegiatan membaca. Dalam proses membaca, disadari atau tidak, seseorang akan melakukan proses berpikir kritis dan analitis terhadap teks bacaan yang sedang dibaca. Selanjutnya dengan sikap kritis dan analitis tersebut, seseorang akan melatih keterampilan berkreatifitas menciptakan karya sastra. Jika secara konsisten dilakukan, tentu kebiasaan literasi ini akan membawa dampak signifikan bagi kemajuan sebuah bangsa.

Simpulan

Pada akhirnya, jelaslah bahwa membangun kebiasaan literasi melalui pendekatan aksiologi pengetahuan keterampilan membaca sastra perlu terus ditumbuhkembangkan dalam kancah nasional maupun kancah internasional. Dengan berbagai wujud penerapan dan usaha yang giat, cita-cita seluruh dunia mewujudkan kebiasaan literasi akan berhasil sukses. Salah satunya membiasakan kegiatan membaca sastra yang dapat membentuk karakter baik bagi setiap orang. Tentu akan mendapat manfaat ganda, selain turut mendukung kebiasaan literasi juga dapat membentuk karakter bangsa dimulai dari diri sendiri. Mulai dari hal-hal kecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai sekarang juga maka kebiasaan literasi ini akan membawa dampak luar biasa bagi kemajuan sebuah bangsa.

Penulis Karni Dwi Irmaningsih

Penulis adalah Guru Bahasa Indonesia jenjang SMP di Kota Semarang

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin. 1987. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo

Johnson, LouAnne. 2005. Teaching Outside the Box: How to Grab Your Students by Their Brains. Terjemahan Dani Dharyani. 2008. Pengajaran yang Kreatif dan Menarik: Cara Membangkitkan Minat Siswa melalui Pemikiran. Jakarta: PT Indeks.

Kern, Richard. 2000. Literacy and Language Teaching. New York: Oxford University Press.

Suyanto. 2009. Urgensi Pendidikan Karakter. http://www.mandikdasmen.depdiknas.go.id/web/pages/urgensi.html. Diakses tanggal 25 November 2016.

Teeuw, A. 1991. Membaca dan Menilai Sastra. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

------------. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra. Bandung: PT Dunia Pustaka Jaya.

UNESCO. 2015. Literacywww.unesco.org. Diakses tanggal 19 November 2016.

Wellek, Rene & Austin Warren. 1977. Theory of Literature. Terjemahan Melani Budianta. 1989. Teori Kesusastraan. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.


Penyunting: Putra

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

PERAN CANVA DALAM MENINGKATKAN KREATIVITAS GURU DAN LITERASI DIGITAL SISWA
Filter Bubble, Echo Chamber, dan Transformasi Kemampuan Berpikir Kritis dan Kreatif dalam Era Media Sosial

SAURI PERADHAYANA

Aug 30, 2023
1 min
E-Learning untuk Pembiasaan Literasi Digital

Erni Yuni M

Sep 10, 2023
2 min
DIGITALISASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH DAN KADERISASI KELOMPOK MEMBACA SEKOLAH DALAM UPAYA MENINGKATKAN MINAT BACA SISWA
8 min
Bermain sambil Belajar: 5 Aplikasi Edukatif yang Buat Siswa Ketagihan
5 min
Literasi Digital Sebagai Salah Satu Sumber Informasi Bagi Siswa Untuk Peningkatan Hasil Belajar

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar