Ketika Konflik Anak SD Berujung Kekerasan: Pentingnya Kecerdasan Emosional di Sekolah - Guruinovatif.id

Diterbitkan 09 Jan 2026

Ketika Konflik Anak SD Berujung Kekerasan: Pentingnya Kecerdasan Emosional di Sekolah

Artikel ini membahas kasus kekerasan antar siswa SDN Kaliacar I sebagai cerminan lemahnya kecerdasan emosional anak. Peristiwa tersebut menegaskan pentingnya peran sekolah dan orang tua dalam menanamkan empati, pengendalian diri, dan penyelesaian konflik secara damai sejak dini.

Refleksi

Elsa Novianti

Kunjungi Profile
80x
Bagikan

Sekolah dasar seharusnya menjadi ruang aman bagi anak untuk belajar mengenali diri, emosi, dan orang lain. Namun, video kekerasan antar siswa di SDN Kaliacar I, Kecamatan Gading, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, justru menunjukkan realitas yang memprihatinkan. Peristiwa ini tidak dapat dipandang sekedar sebagai konflik biasa, melainkan mencerminkan lemahnya kemampuan pengelolaan emosi anak sejak usia dini.

Video yang viral di media sosial tersebut memperlihatkan seorang siswa menjadi korban kekerasan fisik, sementara beberapa siswa lain hanya menyaksikan tanpa berupaya menghentikan kejadian. Peristiwa ini memicu reaksi publik yang menilai tindakan tersebut sebagai bentuk perundungan di lingkungan sekolah. Meski pihak sekolah menyatakan bahwa kejadian tersebut merupakan konflik pribadi yang dipicu persoalan “cinta monyet”, insiden ini tetap menjadi sorotan karena melibatkan anak usia sekolah dasar dengan perbedaan usia dan kekuatan fisik yang mencolok.

Berdasarkan informasi yang beredar, korban berusia enam tahun, sedangkan pelaku berusia dua belas tahun. Konflik bermula dari persoalan peminjaman buku yang berkembang menjadi adu mulut, disertai ucapan tidak pantas hingga berujung pada kekerasan fisik. Kejadian tersebut berlangsung setelah jam pelajaran berakhir dan akhirnya diselesaikan melalui mediasi antara pihak sekolah dan orang tua.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, anak-anak yang terlibat masih berada pada tahap perkembangan emosional dan sosial yang belum matang. Menurut teori kecerdasan emosional Daniel Goleman, kemampuan mengenali dan mengelola emosi, berempati, serta menjalin hubungan sosial yang sehat merupakan keterampilan penting yang perlu dilatih sejak dini. Ketidakmampuan mengendalikan emosi marah dan cemburu dalam kasus ini menunjukkan rendahnya penguasaan kecerdasan emosional, sehingga konflik kecil berubah menjadi tindakan kekerasan.

Sementara itu, Erik Erikson menjelaskan bahwa anak usia sekolah berada pada tahap industry versus inferiority, yaitu fase pembentukan rasa percaya diri dan kompetensi sosial. Ketika anak tidak memiliki keterampilan menyelesaikan konflik secara sehat, perilaku agresif dapat muncul sebagai bentuk pelampiasan emosi.

Kasus ini juga menunjukkan bahwa perbedaan antara konflik pribadi dan perundungan kerap menjadi bias ketika terjadi ketimpangan usia, kekuatan fisik, dan posisi sosial. Meskipun tidak bersifat sistematis, peristiwa tersebut tetap mengandung unsur perundungan situasional karena korban berada pada posisi yang tidak seimbang untuk membela diri.

Penyelesaian melalui jalur mediasi menegaskan bahwa pendekatan edukatif lebih tepat diterapkan pada anak usia sekolah dasar dibandingkan hukuman semata. Mediasi memberi ruang bagi anak untuk memahami dampak tindakannya, belajar bertanggung jawab, dan memperbaiki hubungan sosial. Dalam hal ini, peran guru, kepala sekolah, dan orang tua sangat penting dalam menciptakan lingkungan yang aman dan berkeadilan.

Kasus di SDN Kaliacar I menjadi pengingat bahwa kecerdasan emosional bukan sekadar pelengkap pembelajaran, melainkan kebutuhan dasar dalam pendidikan anak. Penguatan empati, pengendalian diri, serta kemampuan menyelesaikan konflik secara damai harus ditanamkan secara konsisten agar sekolah benar-benar menjadi ruang aman bagi tumbuh kembang anak, tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga matang secara emosional dan sosial.

Elsa Nopianti, Zahira Meisya Azzahra, Fariz Mumtaz.

Psikologi Pendidikan, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Universitas Pamulang.


Penyunting: Putra

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Tips & Trik Bijak Mengelola Uang THR untuk Masa Depan yang Gemilang
0 sec
Membangkitkan Kembali Pendidikan Multikultural di Indonesia: Strategi dan Solusi Terbaik
0 sec
Menjadi Teman Bagi Remaja
0 sec
Kenali Gejala Burn Out pada Guru dan Cara Mengatasinya
0 sec
Karakter MURAH HATI
Perfeksionis, Prokrastinator, atau Pecandu Rasa Nyaman? Mengenal 5 Tipe Orang yang Menunda Pekerjaan
0 sec
Komunitas