Anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya di sekolah. Di sana, mereka belajar membaca, menulis, berhitung, sekaligus mengenali emosi dan merasakan empati terhadap teman sebaya. Sayangnya, ketika rasa aman itu hilang, sekolah bisa berubah menjadi tempat menakutkan, bukan ruang belajar yang nyaman. Luka psikologis bahkan fisik bisa membayangi masa depan mereka.
Tragedi yang menimpa Muhammad Abdul Rohid, siswa kelas IV SD Negeri 108 Kota Pekanbaru, menjadi peringatan keras bagi dunia pendidikan. Rohid meninggal setelah seminggu menjalani perawatan karena nyeri dada, sementara keluarganya menegaskan ia tidak memiliki riwayat penyakit bawaan. Dugaan tekanan dan kekerasan dari teman sebaya di sekolah menjadi sorotan utama. Kasus ini menunjukkan bahwa bullying bukan sekadar pertengkaran anak-anak, tetapi ancaman serius bagi keselamatan dan kesejahteraan mereka.
Perilaku anak dalam situasi seperti ini dapat dipahami melalui psikologi pendidikan. Penyesuaian sosial kemampuan anak menghargai orang lain, mematuhi aturan, dan membangun hubungan sehat (Hurlock, 1980) sering kali belum berkembang. Bullying menunjukkan anak belum memahami hak dasar orang lain untuk merasa aman, kurang empati, dan belum mampu menyesuaikan diri dengan norma sosial. Ketika kemampuan ini belum tumbuh, interaksi sosial bisa berubah menjadi agresi yang merugikan.
Rendahnya kecerdasan emosional juga memperburuk keadaan. Anak yang belum mampu mengenali emosi diri, mengendalikan impuls, dan memahami perasaan orang lain (Goleman, 1995) cenderung menggunakan kekerasan sebagai jalan keluar konflik. Penelitian menunjukkan bahwa penguatan kecerdasan emosional melalui Social Emotional Learning (SEL) terbukti efektif menurunkan perilaku agresif dan meningkatkan empati (CASEL, 2020). Sekolah yang hanya fokus pada prestasi akademik tanpa membina karakter dan emosi berisiko menciptakan ruang belajar yang “kering” secara kemanusiaan.
Untuk itu, setiap pihak memiliki peran sebagai berikut:
Guru
Memperkuat empati, mendorong refleksi emosi, dan mengawasi interaksi sosial. Menyiapkan mekanisme pelaporan yang aman serta menerapkan intervensi restoratif untuk membina pelaku secara moral dan emosional.
Sekolah
Menetapkan SOP anti-bullying, membentuk Tim Perlindungan Anak, dan menyediakan ruang kelas aman yang mendukung perkembangan sosial-emosional siswa.
Orang tua
Membangun komunikasi terbuka, mendampingi anak, menanamkan disiplin positif, dan menekankan penyelesaian masalah tanpa kekerasan.
Kurikulum
Mengintegrasikan SEL dan pendidikan karakter secara berkelanjutan, sebagai bagian dari Profil Pelajar Pancasila, untuk menanamkan empati dan kontrol diri sejak dini.
Tragedi Rohid mengingatkan kita bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya soal nilai akademik. Keberhasilan sejati tercermin dari kemampuan sekolah menciptakan rasa aman, melindungi anak secara psikologis, dan menumbuhkan karakter manusiawi pada setiap siswa. Momentum ini harus menjadi refleksi bersama agar lingkungan pendidikan mampu mendidik dengan hati, melindungi anak, dan mencegah segala bentuk kekerasan sejak dini. Pendidikan tidak hanya mengarahkan anak, tetapi juga membantu mereka tumbuh menjadi individu yang percaya diri, empatik, dan bangga pada diri mereka sendiri.
Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi dari kemampuan sekolah menciptakan rasa aman, empati, dan perlindungan psikologis bagi setiap anak. Ketika empati gagal diajarkan, sekolah kehilangan makna dasarnya sebagai ruang tumbuh yang manusiawi.
Penyunting: Putra