JANGAN JADI GURU: “Jamu Pahit, Problematika Kesehatan Mental Dalam Dunia Pendidikan” - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 28 Nov 2023

JANGAN JADI GURU: “Jamu Pahit, Problematika Kesehatan Mental Dalam Dunia Pendidikan”

Artikel ini membahas sekelumit kebinggungan menghadapi problematika seorang guru, dan berharap dapat memotivasi para guru di tanah air untuk tetap tabah dan pantang menyerah demi tercapainya tujuan pendidikan

Seputar Guru

DWI YUNIATI, S.Pd

Kunjungi Profile
461x
Bagikan

Setelah berakhirnya pandemi covid 19, menyisahkan banyak perubahan di dunia pendidikan yang mau tidak mau kita harus mengikuti perubahan tersebut. Antara kondisi mau menerima dan tidak dengan kondisi tersebut, banyak problematika didunia pendidikan yang dirasakan oleh siswa, wali murid, dan guru. Dalam kondisi masih shock dengan perubahan mendadak yang harus diterima menyisahkan banyak cerita piludengan sistem pendidikan yang lebih menitik beratkan pada hasil yang baik daripada proses sehingga menimbulkan penyakit mental didunia pendidikan. Seolah guru hanya memprioritaskan pada hasil ujian yang baik dan kurang mempertimbangkan kondisi mental siswa, sedang siswa sendiri sebagai gen-Z melakukan segala cara untuk mendapatkan nilai baik dengan menggunakan gadzet, tanpa mempertimbangkan kaidah-kaidah akhlaq yang mulia. Diperparah lagi, wali murid banyak yang kurang memahami kondisi tersebut sehingga putra putrinya menjadi korban kebijakan wali murid. Seolah proses pendidikan hanya ditentukan oleh selembar kertas dengan catatan nilai baik. Sehingga kesehatan mental siswa dan guru menjadi prioritas perbaikan dalam dunia pendidikan. Bahkan  akhir-akhir ini banyak orang menjadi lebih sadar pentingnya kesehatan mental. Sekitar 45% orang di Amerika telah menjadikan tujuan kesehatan mental sebagai salah satu resolusi utama pada tahun baru mereka di tahun 2023, menurut survei Forbes.(Kompas.id:2023/05/19). 

Menurut World Health Organization (WHO), kesehatan mental adalah suatu kondisi kesejahteraan pada individu yang mengenali kemampuan dirinya, mampu menghadapi stress (tekanan/situasi sulit) dalam kehidupannya, tetap produktif dan berkontribusi bagi lingkungan dan masyarakat. (Nael Sumampouw:2020). Sedangkan menurut Mulyani (2020) bahwa kesehatan mental yang Islami memberikan pengertian bahwa orang yang sehat mentalnya adalah orang yang dapat mensinergiskan ilmu pengetahuan yang memunculkan ketakwaan sehingga tergambar dari perbuatan dan sikap yang ditunjukkannya. dengan kata lain bahwa kesehatan mental menurut pandangan islam ini memberikan dampak baik ,pada kehidupan individunya dengan melakukan berbagai hal - hal yang berguna bagi semua manusia. Memastikan guru memiliki kesehatan mental yang baik, tentu akan berdampak positif pada pencapaian tujuan pendidikan di Indonesia yaitu untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan juga untuk mengembangakan manusia seutuhnya (UU No.2 Tahun 1985) .

Guru merupakan sosok yang dituakan, digugu lan ditiru dalam masyarakat dapat dimaknai jika seorang guru di masyarakat adalah bisa dipercaya dan ditiru tingkah lakunya oleh masyarakat,khususnya oleh murid-muridnya.  Sebagai sebuah profesi, beberapa gelar juga melekat pada diri guru meliputi sebagai pendidik, pengajar, motivator, dan evaluator yang mana tugasnya dimulai dari persiapan perencanaan, pelaksanaan hingga evaluasi. Tugas yang begitu berat ini akan mudah dilaksanakan jika seorang guru bisa menjalaninya jika sehat jasmani dan rohaninya,  bahagia lahir dan batinnya, serta sehat mentalnya. Dengan kebahagiaan guru akan berdampak positif pada pelaksanaan tugasnya dan hasil yang optimal. Profesi guru sebagai pendidik dan pengajar adalah tugas utama dan merupakan kewajiban urgen dalam dunia pendidikan. Guru mempunyai peran ganda sebagai pengajar dan pendidik. Kedua peran tersebut bisa dilihat bedanya, tetapi tidak bisa dipisahkan. Tugas utama sebagai pendidik adalah membantu mendewasakan anak secara psikologis, sosial dan moral (Nana Syaodih Sukmadinata, 2003: 252). Akan tetapi akhir-akhir ini banyak cerita sedih terkait penjamin keselamatan guru, misalnya (jawapos.com)  peristiwa pembacokan guru oleh seorang siswa yang terjadi pada 15 november 2023 di lamongan dilatar belakangi nasehat guru yang dianggap tidak menyenangkan bagi siswa, peristiwa sebelumnya seorang guru SMA di Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu, menjadi buta permanen setelah diketapel oleh walimurid karena tidak terima anaknya ditegur oleh guru karena melanggar tata tertib sekolah dan masih banyak cerita lain yang tentunya sangat miris dan membuat keselamatan guru terancam. Keselamatan guru yang membahayakan ini akan berdampak pada  kesehatan mental guru. Kesehatan mental guru perlu diperhatikan, baik oleh pemerintah, instansi tempat mengajar maupun oleh guru itu sendiri. Kondisi aman dan nyaman dalam lingkungan pembelajaran tentu akan memberi dampak positif terkait kinerja guru.

Berikut ini merupakan beberapa faktor yang menimbulkan kesehatan mental guru terganggu adalah;

1. Beban kerja

Beban kerja menurut Munandar (2001) merupakan setiap beban yang di berikan kepada seseorang seharusnya di sesuaikan dan di seimbangkan dengan kemampuan fisik dan kognitifnya, pada kemampuan guru tentu memiliki keterbatasan yang dimiliki sebagai manusia biasa terhadap beban kerjanya. Dikarenakan semakin berat beban kerja seseorang, maka akan menghasilkan stres kerja yang tinggi. Seperti beban jam kerja dengan sistem kerja fullday tentu dalam jangka panjang akan berdampak pada kesehatan mental. Beban kerja akan menghasilkan stres pada lingkungan kerja, gejala yang terlihat adalah kurangnya kepuasan kerja, meningkatnya detak jantung, suka marah-marah dan motivasi kerja yang rendah. Selain beban kerja, pekerjaan yang sedikit cenderung akan membuat seseorang menjadi bosan dengan pekerjaannya. Menurut Fitria (2008), dalam Beriko Putranta Taringan (2015) mengemukakan “Stress dapat terjadi pada siapa pun dan di mana pun, termasuk pada guru. Pekerjaan mengajar dapat dikategorikan sebagai pekerjaan yang taraf stresnya tinggi. Stres pada dunia pekerjaan dapat diakibatkan karena beban kerja yang berat dan bisa diakibatkan karena beban kerja yang ringan atau santai, sehingga membuat seseorang menjadi stres kerja. Kondisi stress tersebut  tentu saja berdampak pada kesehatan mental guru, Ketika Kesehatan mental terganggu akan berdampak pada kualitas kinerja guru.

2.  Beban emosional

Menjadi seorang guru tidak serta merta menghilangkan fungsinya sebagai individu, yang sebenarnya masih memiliki kehidupan pribadi dalam keluarganya. Sering kali beban dari rumah akan terbawa ke sekolah dan sebaliknya beban dari sekolah terbawah kerumah. Perbedaan beban tersebut tentu akan memberi tekanan pada seorang guru secara emosional. Perbedaan pola kerja dinegara maju dan negara berkembang tentu membebani guru dalam melaksanakan tugasnya. Sistem pendidikan yang lebih menitik beratkan pada hasil daripada proses yang bermakna tentu membebani guru, ketika guru pulang kerja, mereka masih  membawa banyak tugas mengoreksi, bahkan membawa konsultasi permasalahan siswa hingga pulang dirumah. Sehingga masih bisa di temui guru yang kesehatan mentalnya terganggu seperti mudah marah, sering sakit dan stress.

3. Beban perubahan

Tidak ada yang abadi didunia ini, semua terasa dinamis dengan perubahannya. Sebagai guru, dituntut untuk mengikuti perubahan tersebut. Misalnya perubahan kurikulum, kebijakan sekolah, dinamika kelas dan dinamika Masyarakat selaku walimurid juga sangat dinamis perubahannya. Perubahan kurikulum dari kurikulum 2013 menuju kurikulum merdeka pada saat ini masih belum 100% memberi pemahaman bagi guru terkait perubahan tersebut. Sehingga masih terasa kurikulum merdeka yang belum merdeka. Karena keterbatasan dari guru tersebut terhadap  pemahaman perubahan kurikulum. Hal-hal tersebut akan mengganggu kesehatan mental guru, jika guru tidak dapat mengikuti perkembangan perubahan tersebut. dapat menciptakan ketidakpastian yang dapat memengaruhi kesejahteraan mental guru. Pada kenyataannya, masing-masing guru memiliki kemampuan yang berbeda terkait kemampuannya beradaptasi terhadap perubahan zaman dan tuntutan beban kerja yang semakin meningkat.

Jika dahulu menjadi seorang guru adalah sebuah profesi yang diharapkan oleh banyak orang, karena bidang kerjanya yang relatif santai dan aman. Maka, sekarang profesi guru adalah profesi penuh tantangan dengan problematika kompleks yang harus dipahami oleh semua calon guru. Untuk menjadi seorang guru harus mampu memiliki keahlian dibidang administratif, pengajar dan pendidik. Memang perlu berpikir berulang kali untuk memastikan tidak menjadi guru yang stress. Sebelum menjadi guru harus sudah tahu problematika guru dalam dunia pendidikan. Problematika tersebut seperti jamu pahit yang apabila diminum akan memberi dampak positif bagi kesehatan. Problematika tersebut harus dijadikan tantangan bagi semua guru untuk terus meningkatkan kinerjanya sehingga cita-cita para pendiri bangsa terkait pendidikan akan tercapai. 


Penyunting: Putra

13

0

Komentar (13)

nihayatin musyafaah

Dec 01, 2023

Keren bu Yuniii .. sangat menginspirasi... 🥰👍

nur khamidah

Dec 01, 2023

Kereen bu yuni

Nina Haida

Nov 30, 2023

Bu Yuni Sangat menginspirasi ❤️❤️

Lihat Komentar Lainnya

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Guru Wajib Tahu Empat Keterampilan di Era Industri 4.0
3 min
GI Academy #31 | Pengelolaan RHK Guru dan Kepala Sekolah dalam PMM
3 min
GI Class #98 | Membangun Semangat Mengajar Guru
3 min
Mengelola Stres dan Tuntutan Profesional

Nur Rochim

Nov 23, 2023
1 min
Membangun Ekosistem Digital di Sekolah Dasar

SAMINO, S.Pd

Sep 22, 2023
2 min
Cara Memfasilitasi Siswa dengan Berbagai Kemampuan dalam Kelas
4 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar