Dari Kelas Klasikal ke Online: Begini Gaya Belajar Gen Z yang Efektif dan Praktis - Guruinovatif.id

Diterbitkan 08 Jan 2026

Dari Kelas Klasikal ke Online: Begini Gaya Belajar Gen Z yang Efektif dan Praktis

Artikel ini membahas tranformasi atau perubahan gaya belajar dari kelas klasikal menuju pembelajaran online, karakteristik belajar Gen Z serta strategi pembelajaran efektif dan praktis yang dapat diterapkan baik oleh pendidik maupun peserta didik.

Dunia Pendidikan

Widya Anggraini

Kunjungi Profile
92x
Bagikan

Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan yang sangat signifikan dalam dunia pendidikan khususnya dalam gaya belajar Generasi Z (Gen Z). Menurut Utomo (2018), Generasi Z merupakan orang-orang yang lahir sekitar tahun 2000-2010. Gen Z adalah generasi yang memang lahir di era serba canggih, era dimana internet merambah semua kalangan. Generasi ini bergantung pada teknologi, berbakat menggunakan berbagai sarana informasi serta tidak ada waktu tanpa smartphone dan selalu terhubung kepada internet (Lubis, 2022). Generasi ini tumbuh dan besar dalam lingkungan serba terhubung, cepat dan multimodal, sehingga kebutuhan dan gaya belajar mereka berbeda dari model pendidikan klasikal konvensional.

Artikel ilmiah populer ini membahas tranformasi atau perubahan gaya belajar dari kelas klasikal menuju pembelajaran online, karakteristik belajar Gen Z serta strategi pembelajaran yang efektif dan praktis yang dapat diterapkan baik oleh pendidik maupun peserta didik. Analisis disajikan menggunakan bahasa yang ringan namun berbasis teori psikologi pendidikan dan tren riset teknologi pembelajaran terbaru.

Sejak era digital menguasai kehidupan manusia global, berbagai aktivitas manusia mengalami perubahan termasuk dunia pendidikan. Pergeseran dari pembelajaran yang klasikal menuju pembelajaran online menjadi sebuah fenomena besar yang semakin nyata khususnya pasca pandemi COVID-19. Transformasi ini menampilkan suatu yang cukup penting: cara belajar peserta didik Gen Z berbeda secara fundamental dibandingkan generasi sebelumnya.

Gen Z tumbuh dan berkembang bersama kehadiran internet cepat, smartphone, dan media sosial. Mereka terbiasa  dengan informasi yang instan, visual yang menarik dan interaksi digital yang sangat intens. Pengaruh teknologi ini telah memberikan dampak besar pada cara berkomunikasi, belajar dan berinteraksi dengan dunia (Sunyoto, 2024). Jika pada masa sebelumnya ruangq kelas identik dengan papan tulis, buku, dan ceramah maka Gen Z memiliki sudut pandang yang berbeda. Mereka menilai belajar sebagai sebuah aktivitas yang harus fleksibel, cepat, interaktif, dan relevan dengan kehidupan nyata.

Perubahan sosial-teknologis tersebut menuntut adaptasi menyeluruh pada model pembelajaran. Tulisan ini mencoba menjawab berbagai pertanyaan kunci: bagaimana karakteristik belajar Gen Z? Sejauh mana perbedaan pembelajaran klasikal dan online menciptakan peluang baru? Serta bagaimana mendesain sebuah pembelajaran yang efektif, menarik dan praktis bagi Gen Z?

Transfomasi dari kelas klasikal ke pembelajaran online menampilkan sebuah perubahan yang mengharuskan semua pelakunya untuk ikut beradaptasi bersama perubahan tersebut. Pembelajaran tatap muka merupakan pola yang dominan selama ratusan tahun. Model pembelajaran ini umumnya memiliki karakteristik bahwa guru sebagai pusat informasi utama. Interaksi antara guru dan siswa berlangsung linier atau searah. Penjelasan lebih cendrung dengan metode ceramah. Pembelajaran klasikal juga memiliki keterbatasan ruang dan waktu serta memiliki media belajar yang cendrung terbatas dan sederhana (Sirampun et al,. 2024). Dalam berbagai penelitian pendidikan menunjukan hasil model klasikal sangat efektif pada era dimana teknologi belum merambah kehidupan manusia. Namun terhadap Gen Z, model pembelajaran klasikal dianggap terlalu lambat, kurang interaktif dan tidak cukup visual.

Tantangan pembelajaran klasikal pada Gen Z berupa rentang perhatian lebih pendek sehingga ceramah yang panjang kurang efektif, kebutuhan akan visual yang cukup tinggi. Preferensi pengalaman interaktif dan mengharuskan untuk berbasis teknologi digital. Serta kecenderungan yang multitasking dan ekspektasi umpan balik yang cepat.

Tanpa adaptasi, pembelajaran klasikal dapat kehilangan daya tarik bagi peserta didik yang menjadi generasi digital saat ini. Dibutuhkan sebuah pendekatan pembelajaran baru yang dekat dengan generasi saat ini yaitu pembelajaran multimedia baik yang dilakukan secara tatap muka maupun online. Pembelajaran multimedia membuka ruang baru bagi fleksibelitas dan personalisasi. Sistem pembelajaran ini memungkinkan siswa untuk bisa belajar kapan saja, dimana saja dan dengan berbagai media yang beragam. Pembelajaran multimedia memiliki keunggulan diantaranya akses yang tidak pernah terbatas, kecepatan distribusi materi pembelajaran, fleksibelitas yang tinggi, media yang interaktif, kolaborasi jarak jauh serta kemampuan merekam aktivitas belajar (Siregar, 2024). Sementara itu tantangan pembelajaran multimedia memiliki ketergantungan pada koneksi internet, potensi distraksi digital, kurangnya kontrol langsung dari guru serta manajemen waktu pada siswa. Namun Gen Z sangat terbiasa dengan perangkat digital, pembelajaran berbasis multimedia menjadi ruang yang nyaman dan sesuai dengan ritme hidup mereka.

Gen Z terbentuk dari ekosistem digital semenjak mereka dilahirkan. Beberapa karakteristik penting mereka adalah digital native, visual oriented, multitasker, cepat, dan praktis, kolaboratif, mandiri namun butuh bimbingan. Digital native adalah keadaan dimana mereka lahir saat internet menjadi bagian hidup masyarakat. Smartphone, media sosial, dan aplikasi adalah dunia mereka semenjak kecil. Visual oriented seperti video pendek, infografis atau animasi lebih mudah mereka pahami dari pada teks panjang. Mereka mampu membuka beberapa aplikasi sekaligus, misalnya menonton video sambil membaca komentar sembari juga sambil mendengarkan musik. Mereka sangat suka mengeksplorasi diri secara mandiri namun harus diberi arahan yang jelas dari orang-orang di sekeliling mereka diantara guru dan orangtua.

Karateristik Gen Z memengaruhi cara mereka belajar dan menyerap informasi serta berinteraksi dengan materi pembelajaran. Pembelajaran yang efektif bagi Gen Z harus menggunakan multimedia, menyediakan tantangan dan aktivitas yang interaktif, memberikan umpan balik yang cepat, menggabungkan elemen game, mendukung pembelajaran mandiri dan kolaboratif serta menyediakan akses yang fleksibel melalui perangkan digital. Kegagalan memahami karakteristik ini dapat menyebabkan siswa cepat bosan, serta tidak terlibat atau merasa materi tidak sesuai dan relevan dengan kehidupan mereka meski pada dasar materi tersebut ada dalam keseharian mereka, akan tetapi kesadaran akan hal ini harus dipancing dan dibangkitkan.

Gen Z berada pada persimpangan antara kebutuhan belajar yang cepat, fleksibel dan menyenangkan. Keterbutuhan mereka dengan dunia digital menciptakan pola belajar baru yang berbeda dari generasi sebelumnya. Gaya belajar mereka tidak dapat disamakan dengan metode klasikal yang bertumpu pada ceramah panjang atau teks yang berat. Agar pembelajaran lebih efektif, pendidik perlu menyesuaikan pendekatan dengan preferensi mereka.

Microlearning merupakan salah satu strategi belajar yang paling cocok untuk Gen Z, pendekatan ini menyajikan materi dalam potingan-potongan kecil yang bisa diselesaikan dalam waktu yang cukup singkat, biasanya dalam durasi kurang dari 5 menit. Format ini sejalan dengan cara berpikir Gen Z yang menyukai sesuatu yang cepat, ringkas dan langsung ke inti permasalahan (Farhan M, 2024). Bentuk-bentuk microlearning yang direkomendasikan diantaranya video singkat yang menjelaskan konsep inti dengan visual yang menarik, infografis ringkas yang meringkas bab atau topik serta berupa modul pendek yang to the point  dan tidak bertele-tele. Pendekatan ini membantu mengatasi keterbatasan rentang perhatian, sekaligus menjaga minat dan konsistensi belajar. Microlearning tidak hanya efektif sebagai penghantar, tetapi juga sebagai penguatan konsep sebelum siswa menghadapi materi yang lebih kompleks.

Video sudah menjadi “makanan” sehari-hari Gen Z semenjak kecil mulai dari YouTube, TikTok, Reels, hingga video tutorial, maka sangat tidak mengherankan jika pembelajaran yang berbasis video menjadi salah satu pendekatan paling kuat untuk meningkatkan pemahaman mereka. Video menggabungkan elemen visual dan audio sehingga mampu memperkuat daya ingat, memperjelas konsep abstrak dan meningkatkan engagement.

Beberapa jenis video yang efektif digunakan dalam pembelajaran berupa eksplainer video yang menjelaskan konsep gaya sederhana namun menarik. Simulasi eksperimen terutama untuk materi sains yang membutuhkan visualisasi proses. Video juga dapat berupa konsep abstrak, misalnya penjelasan gaya gravitasi atau reaksi kimia yang tidak dapat dijelaskan dalam bentuk visual nyata. Video interaktif memungkinkan siswa menjawab pertanyaan ditengah tayangan. Dengan video ini guru tidak hanya menyampaikan penjelasan, akan tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih kaya dan immersive.

Gamifikasi adalah strategi yang memasukkan unsur-unsur permainan kedalam proses belajar. Pendekatan ini juga begitu lekat dengan keseharian Gen Z. Gen Z yang dalam kesehariannya terbiasa bermain game cenderung menunjukkan antusiasme tinggi ketika pembelajaran memiliki elemen yang serupa. Gamifikasi mampu menghadirkan suasana pembelajaran yang menyenangkan, kompetitif sekaligus meningkatkan motivasi intrinsik. Elemen gamifikasi yang umum digunakan dapat berupa poin sebagai bentuk apresiasi atas tugas atau latihan. Level yang memberikan rasa progres atau kemajuan. Badge untuk merayakan pencapaian tertentu serta leaderboard yang menampilkan persaingan sehat antar siswa. Selain dapat meningkatkan motivasi, gamifikasi juga membuat proses belajar terasa ringan namun tetap bermakna. Siswa dapat belajar sambil bermain, tetapi tetap mencapai kompetensi yang diharapkan.

Gen Z sangat nyaman bekerja dalam tim melalui media digital. Mereka sering menyelesaikan tugas, diskusi atau proyek menggunakan aplikasi kolaboratif. Tools seperti Google Workspace, Miro, Padlet, Discord, dan Microsoft Teams memungkinkan mereka berkerja secara kolaboratif dalam realtime, bahkan ketika sedang tidak berada dilokasi yang sama. Pembelajaran kolaboratif melalui aplikasi dapat mendukung kreativitas siswa karna dapat membuat mindmap, desain, atau sketsa secara bersama. Komunikasi dengan fitur obrolan, komentar dan revisi dokumen. Manajemen tugas melalui pembagian peran, deadline, to do list digital serta rasa kebersamaan karena mereka merasa menjadi bagian dari komunitas belajar. Pendekatan ini menjadikan pembelajaran lebih hidup dan berorientasi pada kerja sama, bukan hanya kompetisi semata.

Gen Z pada dasarnya memiliki kecenderungan untuk belajar secara mandiri. Mereka terbiasa mencari tutorial di YouTube, membaca artikel di platform digital atau mencoba aplikasi baru tanpa instruksi yang panjang. Jika dihubungkan dengan konsep pendidikan, guru perlu memanfaatkan kecenderungan ini dengan menjadikan siswa sebagai agen belajar yang aktif. Guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber pengetahuan, tetapi berperan sebagai fasilitator yang memberi arah, menyediakan sumber terakurasi dan memastikan proses belajar tetap terstruktur. Model pembelajaran mandiri ini mampu mendorong siswa mengembangkan kemandirian, kemampuan riset, serta rasa percaya diri dalam memecahkan masalah.

Smartphone adalah perangkat utama Gen Z. hampir semua interaksi sosial, hiburan dan pencarian informasi dilakukan melalui perangkat kecil tersebut. Karena itu pembelajaran perlu memanfaatkan kelebihan mobile learning agar siswa dapat belajar dimanapun mereka berada. Mobile learning mendukung aktivitas belajar di sela waktu seperti saat menunggu kendaraan, diperjalanan, sebelum tidur atau saat jeda aktivitas lainnya. Aplikasi belajar seperti e-book, Learning Management System (LMS), platform microlearning menjadi alat yang sangat efektif. Fleksibilitas ini membuat proses belajar tidak lagi terbatas ruang dan waktu. Gen Z juga membutuhkan pembelajaran yang relevan dengan dirinya. Mereka lebih termotivasi ketika materi desesuaikan dengan minat mereka, kemampuan awal, target pribadi, dan ritme belajar masing-masing. Dengan hadirnya teknologi kecerdasan buatan (AI) dan LMS yang canggih, personalisasi menjadi semakin mudah. Sistem dapat merekomendasikan materi berdasarkan performa sebelumnya, memberikan latihan adaptif hingga menyesuaikan dengan tingkat kesulitan. Personlized learning tidak hanya meningkatkan efektivitas tetapi juag memberikan pengalaman belajar yang unik bagi setiap siswa.

Dibalik keterampilan digitalnya, Gen Z menghadapi tantangan unik yang memengaruhi proses belajar mereka. Guru dan institusi pendidikan perlu memahami tantangan ini agar strategi pembelajaran dapat di rancang lebih tepat sasaran. Gen Z cenderung mudah  bosan dan sulit mempertahankan fokus dalam durasi yang panjang. Paparan media sosial dan video pendek telah membentuk pola perhatian mereka, maka video pendek harus lebih padat dan menarik, melibatkan siswa dalam aktivitas interaktif. Guru juga harus mengombinasikan berbagai jenis media. Disamping itu smartphone menyediakan sumber distraksi seperti media sosial, game, dan notifikasi tanpa henti maka guru harus menggunakan mode fokus atau airplane mode. Membuat jadwal belajar yang terstruktur. Aplikasi anti distraksi yang memblokir notifikasi serta membuat kesepakatan belajar tanpa smartphone pada momen tertentu.

Lautan informasi yang diterima setiap harinya oleh Gen Z membuat mereka tidak mampu memilah mana yang relevan dan kredibel (Ryanda, 2024). Maka diperlukan akurasi informasi yang diterima serta pendampingan dalam sebuah informasi yang mereka dapatkan. Tidak semua siswa dapat mengatur waktu atau mengelola beban belajar secara mandiri. Untuk itu diharuskan untuk memberikan rubrik tugas yang jelas, gunakan reminder, sedikan mentor digital dan bimbingan rutin dari guru seta ajarkan manajemen waktu sejak awal. Dalam mengajar Gen Z, guru perlu melakukan perubahan peran dari “penyampai materi” menjadi “ arsitek pengalaman belajar” artinya guru harus mampu mendesain dan membangun pembelajaran yang mendalam dan menyenangkan. Pendekatan blended learning yang merupakan kombinasi tatap muka dan online menjadi interaksi sosial namun tetap memberikan fleksibilitas yang diinginkan para Gen Z.

Smartphone bukanlah sebuah ancaman tetapi sarana untuk menciptakan pembelajaran yang lebih menarik dan kontektual. Guru harus menerapkan model Project-Based Learning (PJBL) yang mengaitkan permasalahan nyata sehingga pembelajaran lebih bermakna. Guru juga dapat melakukan flipped classroom dimana siswa mempelajari teori melalui video dirumah, sementara waktu dikelas digunakan untuk diskusi, eksperimen, dan praktik. Gen Z juga terbiasa dengan respon yang instan, sehingga feedback yang cepat akan meningkatkan motivasi belajar mereka. Forum diskusi, kanal chat, atau papan ide digital membantu siswa berinteraksi secara menyeluruh. Siswa juga perlu dibekali dengan kemampuan memilih informasi, mejaga etika digital, dan memanfaatkan teknologi secara bijak.

Transformasi pendidikam tidak akan berhenti pada pembelajaran online. Gen Z juga akan memasuki era pembelajaran baru yang memadukan AI, realitas virtual, dan analitik data. Sistem AI akan menyediakan pembelajaran otomatis, memberikan evaluasi adaptif dan menyesuaikan materi dengan kebutuhan belajar siswa. Pengalaman belajar imersif seperti pratikum virtual, tur sejarah digital, hingga simulasi fisika akan membuat pembelajaran lebih hidup. Platform akan mampu mengatur tingkat kesulitan siswa secara otomatis jadi tidak lagi “satu materi untuk semua.” Masa depan pembelajaran akan lebih personal, responsif dan interaktif. Gen Z bukan hanya pengguna teknologi, mereka adalah katalis perubahan yang mengharuskan dunia pendidikan menuju era baru.


Penyunting: Putra

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Memaksimalkan Literasi Digital Melalui Platform Digital: Fokus pada Learning Management Systems (LMS)
Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan! Ada Tiga! Apa Saja?
0 sec
Dari Screen Time ke Smart Learning: Peran Bahan Ajar Interaktif dalam Membangun Pelajar Cerdas Digital

Najmil Khaira

Dec 11, 2025
0 sec
Membentuk Agora Masa Kini
0 sec
Analisa Kesalahan Struktur Tata Bahasa Pada Teks Terjemahan Mahasiswa Program Studi Sastra Inggris
0 sec
Pemanfaatan Musik Sebagai Pembelajaran Inovatif Bahasa Indonesia Jenjang SMA
Komunitas