Ungkapan Sunda “Tong asa kapake ngan kudu kapake” yang berarti “jangan merasa terpakai tapi harus layak dipakai” bukan sekadar petuah budaya, melainkan cermin etika kepemimpinan. Kalimat ini sederhana, tetapi sarat makna tentang tanggung jawab moral di balik sebuah jabatan, terutama ketika kita berbicara tentang kepemimpinan kepala sekolah dan pengelola yayasan pendidikan.
Dalam dunia pendidikan, jabatan sering kali datang lebih cepat daripada kesiapan. Banyak orang merasa “terpakai” karena dipercaya menjadi kepala sekolah, pengurus yayasan, atau pemegang kewenangan tertentu. Namun, rasa terpakai tidak selalu sejalan dengan kelayakan memimpin. Di sinilah persoalan mendasar pendidikan sering bermula: jabatan hadir lebih dahulu, sementara kapasitas dan integritas tertinggal di belakang.
Kepala sekolah, misalnya, bukan sekadar pelaksana administrasi atau perpanjangan tangan kebijakan. Ia adalah pemimpin pembelajaran. Kepala sekolah dituntut memahami pedagogi, membangun budaya sekolah yang sehat, serta menjadi teladan etika dan profesionalisme bagi guru dan peserta didik. Kepala sekolah yang hanya merasa terpakai cenderung sibuk mengamankan posisi dan rutinitas administratif. Sebaliknya, kepala sekolah yang sadar bahwa dirinya harus layak dipakai akan terus belajar, mendengar guru, dan berani mengambil keputusan yang berpihak pada mutu pendidikan.
Prinsip yang sama berlaku pada yayasan pendidikan. Yayasan bukan hanya badan hukum atau pengelola aset, melainkan penjaga nilai, visi, dan arah lembaga. Ketika pengurus yayasan lebih sibuk dengan kekuasaan dan kepentingan jangka pendek, sekolah kehilangan ruang tumbuh. Namun ketika yayasan dipimpin oleh orang-orang yang paham bahwa mereka harus layak dipakai, keputusan-keputusan strategis akan lahir dari kesadaran pendidikan, bukan sekadar kepentingan struktural.
Ungkapan “Tong asa kapake ngan kudu kapake” pada dasarnya adalah kritik terhadap mentalitas puas diri. Dalam pendidikan, legitimasi formal, SK jabatan, atau masa tugas tidak otomatis melahirkan kepemimpinan yang bermakna. Yang dibutuhkan adalah integritas yang terjaga, kapasitas yang terus diasah, dan keberpihakan nyata pada guru dan peserta didik.
Di tengah tantangan pendidikan hari ini, perubahan kurikulum, tekanan administrasi, dan krisis keteladanan, kepemimpinan pendidikan dituntut untuk terus bercermin. Apakah keberadaan di suatu posisi tertentu benar-benar memberi dampak, atau sekadar menambah beban sistem?
Pada akhirnya, pendidikan hanya akan maju jika dipimpin oleh mereka yang tidak berhenti pada rasa “terpakai”, tetapi terus membuktikan diri layak dipakai. Sebab dalam pendidikan, jabatan adalah amanah, bukan hadiah dan kepercayaan hanya layak dijaga oleh mereka yang pantas menerimanya.
Wildan, S.Pd., M.M.
Penyuka Manchester United
Penyunting: Putra