Solilokui Pawiyatan Tanah Bromo; Sebuah Kisah - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 20 Apr 2022

Solilokui Pawiyatan Tanah Bromo; Sebuah Kisah

Prolog: Cerita dimabil pada Oktober, 2018

Cerita Guru

Robert Fikri Ahmada, S.Pd

Kunjungi Profile
1107x
Bagikan

Prolog: Cerita dimabil pada Oktober, 2018

Namaku Alengka, aku tidak akan menuturkan cerita inspirasi, atau sebuah inovasi modernitas yang menjamur dan menggila di era sekarang atau lebih jauh cerita motivasi penegur hati. Tidak, tidak demikian. Aku hendak berbagi secuil kisah yang sempat menjadi perdebatan batinku akhir-akhir ini. Di sepanjang bulan oktober, di sepanjang jalan yang menjadi titik kisahku bermula dan bermuara. Ngadas 2, sebuah gubuk literasi kecil yang menjulang gagah di sayap Bromo, di desa bersebut Jarak Ijo yang menyisip di lembaran-lembaran administrasi kecamatan poncokusumo. Aku paham betul, bagaimana beradunya perasaanku ketika mengecap sabuah kata yang berlafadz “PENGABDIAN”.  Kalian mungkin tak pernah tahu, bahkan takkan pernah merasakan bagaimana seorang yang masih mengisap jempol dan menetek pada sosok ayah-ibu, tengah berjuang mengemban amanah yang memang sudah disumpah-serapahkan olehnya sendiri, yah semua itu karena aku, dan aku yang membuat semua ini terjadi.

Mungkin sabtuku tak seperti sabtu-sabtu yang kalian miliki. Seperti bercengkrama bersama bapak, membantu ibu untuk sekedar mengiris bawang putih penyedap sup kaldu ayam dan sebagainya. Pagi di sabtuku berkokok lebih pagi, lebih gelap, lebih dingin dari pagi-pagi biasanya. Tak perlu beribu tanya mengapa demikian, yang pasti hanya ada satu, aku harus menunaikan sumpah yang telah kuambil beberapa bulan lalu. Sumpah yang menuntunku untuk menjadi pendidik abadi, pembelajar abadi. Seperti layaknya semburat fajar yang mulai merayap di lelayang angkasa, tak jauh berbeda dengan derap langkahku. Langkahku yang gontai memecah embun pagi yang menyelimuti sepanjang subuh, meretas di jalan aspal menuju satu titik, dimana tubuhku kuserahkan pada takdir yang sedang mengintip diam-diam di belakang layar jiwaku. 

Jika kalian bertanya, apa yang aku lakukan saat itu? Aku akan menjawabnya sebuah pengorbanan. Sebuah perjuangan yang kurelakan menjadi tumbal untuk kebahagiaan mereka, mereka yang sedang menungguku disana, di jarak terjauh dari tatapan mata yang bisa ku upayakan. Kalian mau tahu, siapa mereka? Mereka yang tengah menunggu kehadiranku, kehadiran tapakan kakiku di lemah kering yang senantiasa melahirkan debu jikalau angin sedang melakukan lelucon untuk sebentar meniup, dan sebentar menghirup. Mereka yang belum pernah kukenal sebelumnya, namun setia menebarkan tawa saat melihatku datang menghampiri dan mengelus pipi lembut mereka.  Mereka berarti bagiku, karena mereka bagian dari sumpah yang tengah ku acung-acung di muka Tuhan dengan tangisan yang mengalir lembut membasahi lentik bulu mataku saat itu. Satu hal yang harus kalian tahu, aku benar-benar belum pernah melihat mereka, pun hanya untuk sekali. Tapi ada segelintir juang yang menjamur di dalam hatiku setelah sumpahku terlontar, ya semangat juang yang membara, yang menyala-nyala, dan ku yakinkan juang itu takkan pernah padam. Takkan pernah padam untuk menemui mereka. 

Langkahku sampai dipelataran dimana perjuanganku bermula, dan disanalah aku, mulai menancapkan kendali dan mengegas kuat-kuat komstir matic yang menjadi tungganganku menuju mereka. Tak ada yang bisa melebihi diriku, melebihi betapa teguh keinginanku untuk segera berjumpa mereka, dengan segala harap dan do’a yang berlantun, yang senantiasa dorong-mondorong menuju arsyNya yang tinggi disana. Entah takdir atau apapun itu, aku merasa hatiku tertaut erat terhadap mereka. Sama sekali tak terbesit dipikaranku untuk berhenti, walau sesaat. Aku hanya ingin sampai disana, segera dengan segera. Karena dengan seperti itu, aku merasa sudah bisa memenuhi satu tahap sumpahku, dan terbebas dari serangkaian vonis tak benar yang mungkin diarahkan padaku. Kalau kalian tahu, bagaiamana rasanya ketika melintas di sepanjang lereng gunung terjal, begitupun aku sama, bahkan untuk kali pertama aku melaluinya. Jalan berliku, tanjakan terjal, tikungan tajam menjadi pengamat yang senantiasa membakar rasa juangku untuk mereka. Sampai tibalah aku di sayap Bromo, di sepandang tempat yang ku kecap untuk pertama kalinya. Dengan gelora tawa yang begitu megah, sampai ku tahu tidak ada kemegahan suara yang melebihi kemegahan teriakan tawa mereka, saat aku pertama menginjakkan kaki tepat di depan mereka. Di sebuah Gubuk Literasi berplakat “SDN NGADAS 2”.

Jika kalian bertanya siapa mereka? Aku akan menjawab cinta. Mereka adalah cintaku, benih yang ku tanam dan siap ku rawat dengan kasih sayang. Yang kelak ku do’akan dapat membangun peradaban negaraku dengan sangat baik, saat ketika ragaku sudah tiada bisa berpijak lagi disini. Mereka adalah sebuah semangat yang membuat pagiku benar-benar berarti. Merekalah adalah pewaris sepenggal ilmu yang kelak akan kusuapkan.

Perjumpaan pertama kami begitu istimewa, karena sejujurnya rasa syukur yang begitu dalam yang sengaja kuucapkan, sempat memecah huru-hara di rakyat langit yang tengah memetani diriku diam-diam. Aku memanggil mereka, adiak. Kalian tak perlu bertanya, aku memang bukan dari tanah minang, namun perlu kalian tahu, aku memanggilnya dengan sebutan cinta, bukan sebutan yang memang pantas disematkan untuk mereka. Perkenalanku berlanjut saat memasuki bilik dimana mereka akan menerima ilmu dan beragam pengalaman baru di lembar kehidupannya.  Tak perlu banyak ucap dan berbasa-basi, dengan sepenuh hati ku sapa mereka, dan jika kalian tahu, sapaan itu tak pernah hilang mangsa, karena merekapun dengan lantang menjawab apa yang terlontar dari bibir kecilku. Bersama mereka aku belajar bagaimana belajar berbagi, menerima setulus hati masing-masing sifat manusia. Dari merekapun aku belajar bagaimana untuk tidak mengedepankan ego, melatih untuk melapangkan dada yang seluas-luasnya dan mencoba memahami apa yang orang lain coba sampaikan pada kita. Tak sampai disitu, aku mencoba berbaur dengan mereka lebih dalam, ku biarkan mulut lugu mereka bercerita tentang apa yang dihabiskannya setiap hari, tepanya sebelum aku menapakkan jejak langkah di tempat ini. Beragam, cerita yang disusun menjadi narasi dan tertawa yang mengikik diantara kami menjadi penanda bahwa aku diterima dihati mereka, menjadi bagian dari memori yang tersimpat kuat di salah satu bilik dihatinya, yang paling dalam dari apapun yang terdalam.  Detik demi detik, menit demi menit, jam berganti jam berlalu dengan cepat, sampai tiada sadar, waktuku menimang mereka tengah selesai. Tak perlu bertanya apa yang akan terjadi selanjutnya, pasti adalah salam perpisahan yang harus terangkai dari kerongkongku yang gersang. Meski hanya beberapa deret untaian, namun percaya atau tidak, begitu sulit untuk ku sajikan pada mereka. Namun yang pasti, dengan segala mereka mendekat dan mengambil tangan kananku. Bukan untuk bermain, melainkan untuk menandakan bahwa hari itu aku telah selesai bersama mereka, dan mereka tengah selesai denganku. Aku mengantar mereka sampai depan kelas, melambaikan tanganku yang turut mengiringi perjalan pulang kembali kepada rumah dan keluarga mereka. 

Pernahkan terbesit pada hati kalian, apa yang sebenarnya kulakukan?, jikalau tak salah dipahami, aku sedang mencoba mengubah haluan bangsa, menjadi lebih baik nantinya, tak perlu dimaknai dalam-dalam cukup diketahui dan dimengerti. Kalian juga tahu, betapa banyak harap kita pada anak-cucu kelak. Kehidupan tua yang damai, bersamaan dengan mereka yang senantiasa mencintai dalam-dalam. Melihat mereka yang tengah menduduki kursi-kursi berpoles emas dan tertawa dengan keluarga besarnya karena peluh yang kita teteskan untuk mereka dulu. Kalian akan menjadi saksi, bagaimana mereka kelak mengubah hidup kita kedepannya. Pasti, pegang kata-kataku yang demikian.

Tak bisa dibayangkan, tak bisa diungkapkan. Hanya berbekal sepenggal harap dan tekad kuat. Aku tetap mengunjungi mereka, tidak setiap hari, namun hanya sabtu pagi yang selalu mengepulkan rasa rindu, pada keluguan dan nakalnya tingkah laku mereka. Dan sabtu ini, sabtu pagi di penghujung oktober, di hari dengan bertorehkan angka 27 di kalender tiap-tiap gubuk disana. Aku mendatangi mereka, untuk yang terakir kalinya, terakhir kali aku akan membimbing mereka, terakhir kali aku akan tertawa bersama mereka, terkahir kali aku akan berbagi secuil kisah pada mereka, terakhir kali aku akan menyentuh pipi lembut mereka, terakhir kali aku akan mendengarkan cericit keluguan yang keluar dari mulut mereka, terakhir kali aku akan melihat senyum dari bibir dan gigi ompong mereka, dan seolah ini adalah terakhir dari kisah yang paling akhir yang akan ku lukis bersama mereka disini. Segala do’a ku ucap, segala harap ku panjatkan. Untuk mereka dan karena hanya untuk mereka. 

Kembali lagi ku kecap senyum dan tawa mereka, saat kakiku melangkah masuk ke dalam kelas. Tak ku temui raut sadar bahwa hari ini aku akan berpamitan dengan mereka untuk terakhir kalinya, mereka hanya tersenyum dan merengek minta bermain dan bernyanyi lagi seperti sabtu-sabtu lain yang telah berlalu. Ku berikan cuma-cuma sebagai bagian dari kenangan indah terkahir yang bisa ku ukirkan di hati mereka. Kami bermain bersama, menyelipkan beberapa kain dan selendang, mahkota dan tiara, medali dan piala, yang setia mendekap di tubuh-tubuh kita. Saat itulah, saat diterik matahari yang mulai meranggaskan ubun-ubun, kami mengukir satu kisah yang tiada bisa terlupa sampai bila-bila. Kami bergandeng tangan, bernyanyi, menari, merangkum masa-masa indah yang akan memang kami kenang untuk seterusnya. Deburan angin, detak jantung dan gemuruhnya tawa menjadi ketukan termanis yang pernah diketukkan. Masih sempat kutahankan apa yang benar-benar terbendung di dasar jantungku. Kalian mau tahu apa? Yah, air mata. Air mata yang siap meledakkan badainya yang sengaja ku tahan kuat-kuat agar tak menetes dan membuat mereka turut bersedih. Tak mungkin aku mengusap air mata dikala mereka sedang menggelar tawa selebar-lebarnya. Meski aku tak bisa merusak keyakinanku sendiri bahwasannya aku tak bisa menahannya bahkan untuk seperempat jam lagi, aku tetap melakukannya. Kami pun menyampatkan diri untuk arak-arakan desa, berkeliling untuk bertegur sapa pada penduduk sekitar. Yah, tepatnya untuk mengucapkan salam terakhir, salam tanda perpisahan. Kami menghabiskan siang dengan bersenandung di sepanjang jalan utama desa, tanpa luka, tanpa duka yang menyertai. Dan aku merasa menjadi bagian dari meraka, bagian yang mungkin takkan pernah bisa disapu ruang dan waktu. Bagian yang menyatu dalam lorong jantungnya, yang menempati bilik termegah di jantung hatinya, yang senantiasa diingat ketika sabtu pagi kembali tiba menyapa pagi mereka. 

Sampailah kami di halaman sekolah, ditempat biasa kami berkejaran dan bermain peran bersama, dan saat itu lidahku mendadak kelu, sulit terucap, bahkan hanya untuk sekedar kata yang tak pernah bisa dikeluarkan oleh bibirku, oleh hati yang tak pernah bisa berdusta, bahwa perpisahanku dengan mereka akan menjadi balada tersakit yang mendera dadaku untuk seterusnya. Aku bersumpah, saat itu menjadi titik lemah diriku, air mataku meluap, tangis tak bisa kuhindari. Dan siang ini, perpisahan itu terjadi, dengan berat hati aku melepas mereka, memberikan salam teindah yang akan dijawab oleh mereka untuk  terakhir kalinya. Aku memeluk satu-satu mereka, mendekap erat dan memberi isyarat seakan memang begitu beratnya aku melepaskan tubuh mereka. Pada akhirnya, aku turut mengantar mereka sampai halaman sekolah dan melambaikan tangan tinggi-tinggi dengan air mataku, dengan senyum perpisahan dan lambaian tangan dari pipi mereka. seraya berteriak, 

“semoga kelak, engaku menjadi orang berguna, adiak”,

Samar-samar sosok mereka menghilang, jauh-jauh sampai akhirnya ku sadari raga mereka yang memang sudah tidak bisa terlihat oleh mataku lagi. 

Disini, di tempat ini, di detik ini, di menit ini, di jam ini, di hembusan angin seperti ini, di detakan jantung seperti ini, di dingin seperti ini, di rasa hatiku yang sedang keram seperti ini, aku bersimpuh, melantunkan segelintir do’a dan mengucap janji, bermonolog dengan hati,

“tiada nikmat yang paling indah, selain melihat mereka kelak menjadi orang besar yang bisa mengubah takdir masing-masing mereka duh Gusti. Kiranya engkau sudi merangkum do’aku dan menyimpannya di Lauhul MahfudzMu, karena saat ini, rasa syukur yang mendera ku tidak bisa terganti, duh Gusti hamba yang Maha Pemurah”,

Siang itu menjadi hari yang paling diingat di penghujung oktoberku. Dimana aku dan segala tapakku akan di kenang oleh semua hal disini. Ilmu, jeritan, luka, tawa, kegilaan dan segalanya akan abadi bersama segala yang abadi disini. Dan kini kalian tahu siapa aku yang sebenarnya. Nama Alengka yang menjadi julukan untukku,  Tidakkah begitu?

Kau tahukan siapa aku?

Note: 

Kisah ini diambil dari cerita nyata saya ketika menjadi salah satu anggota volunteer “Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan (GEMAPEDIA)” yang dulunya lebih dikenal dengan sebutan UMengajar. Salah satu UKM yang berfokus pada perkembangan pendidikan di pelosok daerah dan menguliti perkembangan dunia pendidikan terkini. Saya rasa guru bukanlah mereka yang mendapat surat keterangan guru, bukan juga mereka yang memiliki nomer unik kependidikan, atau mereka yang berdiri berjam-jam di ruang kelas dengan spidol/kapur yang terus tergapit di antara ibu jari dan telunjuknya. Guru itu ya orang yang di-Gugu dan di-tiRu. Siapapun orangnya, dari kalangan apapun, dari level apapun, selama dia layak untuk di-Gugu dan di-tiRu, maka dialah seorang Guru.

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Bermula Dari Dunia Tarik Suara Hingga Menjadi Guru Olimpiade Matematika
4 min
RASA EMPATI MENGAJARIKU MENJADI GURU INOVATIF

Agus Darwanto

Jul 09, 2022
5 min
Penguatan Ekosistem Digital di Sekolah: PENA BK Sebagai Inovasi Media Bimbingan dan Konseling
6 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar