Méntal guru jangan mental !! - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 30 Nov 2023

Méntal guru jangan mental !!

Artikel ini berisi tentang pentingnya kesehatan mental guru, pemicu terganggunya kesehatan mental seorang guru, solusi, harapan dan doa bagi generasi emas yang akan datang.

Seputar Guru

ani sumiani

Kunjungi Profile
659x
Bagikan

Méntal Guru Jangan Mental !!

Menurut Hawari (1997), kesehatan mental adalah satu kondisi yang memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari seseorang dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain. Didunia pendidikan, guru adalah barisan terdepan yang diharapkan mampu mengenali kondisi peserta didik dengan sangat baik, mereka harus memiliki kepribadian yang dapat dijadikan contoh, sehingga secara tidak langsung kehidupan seorang guru diharapkan menjadi figur yang paripurna terutama bagi murid-muridnya. Hal ini sesuai dengan pendapat seorang psikolog dalam bukunya yang berjudul Educational Psychology Review yang menyatakan Teachers are considered the most influential in-school factor that contributes not only to students’ achievement, but also to students’ sense of belonging, life satisfaction, and flourishing”. (Allen et al., 2018). Mengapa kesehatan mental seorang guru itu penting? Karena guru dianggap sebagai faktor paling berpengaruh di sekolah yang berkontribusi tidak hanya terhadap prestasi peserta didik, tetapi juga terhadap rasa memiliki, kepuasan hidup, dan perkembangan mereka.

Ada beberapa hal yang bisa menganggu kesehatan mental seorang guru, yang pertama  adalah besarnya tanggung jawab yang harus dipikul oleh guru terhadap seluruh kehadiran dan ketidak hadiran peserta didiknya. Profesi sebagai seorang guru adalah unik, mari kita bahas beberapa keunikan dari profesi yang sangat mulia ini yang akan penulis bandingkan dengan profesi-profesi yang lain. Seorang dokter ketika pasiennya tidak datang berobat, dia tidak akan mencari tahu sebab dan alasan pasien tersebut tidak datang ke klinik atau rumah sakit, dokter tidak akan mencari sumber informasi yang bisa membantu menjawab kenapa pasien tersebut absen.Tapi seorang guru, apakah dia wali kelas, guru kelas, bahkan guru mata pelajaran, akan mencari informasi yang lengkap dan akurat ketika seorang peserta didik tidak datang ke kelas. Mereka akan mencari tahu penyebab peserta didik itu tidak mengikuti pelajaran seperti biasa. Tidak ada beban yang dirasakan dokter ketika pasien tidak datang, tapi buat seorang guru hal tersebut menjadi hal yang harus ditindak lanjuti. 

Hal yang mengganggu kesehatan mental seorang guru berikutnya adalah logical fallacy yang terjadi pada diri peserta didik. Seorang motivator hebat, dia tidak akan terlalu memikirkan bagaimana dampak dari sebuah logical fallacy (kondisi kesalahan logika berpikir) yang bisa ditimbulkan dari pendengar atau audiencenya pada saat itu. Tapi bagi seorang guru logical fallacy ini sangat penting karena berhubungan dengan sikap dan tindakan selanjutnya yang akan dipilih oleh seorang peserta didik. Beberapa contoh logical fallacy yang sering terjadi di lingkungan sekolah yaitu Ad Hominem “menyerang pribadi”, ketika seorang guru meminta peserta didik menjauhi narkoba karena bahaya, mereka akan menganggap hal tersebut sebagai sesuatu yang tidak bisa dibuktikan karena guru tersebutpun bukan seorang pemakai narkoba. Hal ini perlu diluruskan oleh seorang guru, bahwa tidak semua yang bicara pernah merasakan, tapi apa salahnya menyampaikan jika tahu bahayanya. Berikutnya, special pleading (percaya bahwa argumennya itu benar dan mencoba meyakinkan argumennya yang bersifat pembelaan), contoh kasusnya adalah penerapan kedisiplinan oleh sekolah. Peserta didik yang melakukan social pleading ini cenderung menganggap bahwa aturan sekolah tidak make sense dan tidak berpihak kepada mereka, sehingga sering terjadi pelanggaran yang dilakukan oleh peserta didik. Kenapa memahami logika berpikir peserta didik itu penting? Karena pikiran pasti mempengaruhi perasaan dan tindakan-tindakan, sehingga seorang guru wajib memperhatikan setiap kalimat yang diucapkan peserta didik dengan teliti, agar mampu memahami secara tajam. 

Selanjutnya yang bisa menganggu kesehatan mental guru adalah administrasi yang sangat banyak dan rumit, menjadi sebuah momok yang setiap tahun selalu digaungkan oleh guru-guru. Di MGMP kota, wilayah bahkan provinsi. Kami selalu mempertanyakan hal ini dan memohon  kebijakan baru yang akan meringankan beban kami sebagai pelaksana lapangan. Kepentingan melengkapi administrasi ini sering ditinjau, diteliti, direvisi, diseminarkan oleh para pakar pendidikan Indonesia, tapi sampai saat ini hasilnya nol besar bahkan terkesan semakin “diada-ada”. Kurikulum Merdeka yang awalnya hanya perlu selembar RPP yang digadang-gadang merupakan sebuah kurikulum terobosan baru Mas Menteri, berubah wujud menjadi hal yang sangat “complicated” dan terkesan “mahal”. Hal tersebut terjadi karena selain kegiatan belajar mengajar dengan materi seabreg, kami masih harus mempersiapkan Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Pelajar Rahmatan lil Alamin (P5 PPRA) yang merupakan pengembangan dari Panduan Pengembangan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila di Satuan Pendidikan, Badan Standar Kurikulum dan Asesmen Pendidikan, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia, yang nota bene memerlukan banyak biaya. Mungkin bagi sebagian sekolah dengan bayaran yang tinggi hal itu merupakan sebuah pembuktian ke-favoritan mereka, tapi bagi kami sekolah negri hal tersebut menjadi beban yang menyita pikiran karena dana yang tidak mudah kami dapat,apabila hal tersebut ingin kami wujudkan. 

Helicopter Parenting pun menjadi hal yang sangat melelahkan bagi para guru, Helicopter Parenting adalah pola pengasuhan orang tua yang sangat mengontrol dan ikut campur kehidupan anakOrang tua yang menerapkan pola asuh ini cenderung ingin selalu terlibat, khawatir, dan secara terus menerus ingin membantu anak dalam kehidupannya. Pola asuh ini juga kerap disebut sebagai over-parentingHelicopter parenting terjadi ketika orang tua berusaha untuk sebisa mungkin selalu ada di dekat anak dan mengawasi segala gerak-geriknya demi memastikan kondisi anak agar tetap baik-baik saja. Ada tiga hal yang membuat terjadinya Helicopter Parenting ini, yang pertama pengalaman masa lalu orang tua, mungkin waktu kecil orang tua merasa kurang perhatian, kurang dicintai sehingga memastikan anak mereka tidak mengalami hal-hal buruk tersebut. Yang kedua adalah kecemasan akan anak yang berlebihan misalnya cemas dengan pendidikan, masa depan anak, finansial anak, dan lain-lain. Yang terakhir adalah pengaruh dari pola asuh orang tua lain. Melihat pola asuh orang tua lain membuat orang tua juga ingin menerapkan hal tersebut pada anaknya tanpa melihat apakah cocok atau tidak pada anak. Secara tidak langsung Helicopter Parenting membuat para orang tua terlalu intervensi kedalam ranah sekolah yang cenderung kebablasan. Mereka turut mengatur para guru untuk membuat skenario belajar, tempat duduk bahkan pengaturan penanganan masalah yang terjadi di sekolah, apalagi kalau hal tersebut menimpa anak-anak mereka.

Lemahnya perlindungan hukum bagi para guru juga membuat kesehatan mental guru terganggu. Kasus terakhir yang viral terjadi di Kabupaten Sumbawa (NTB), seorang guru honorer bernama Akbar Sarosa dituntut oleh orang tua murid yang tidak terima anaknya dihukum karena tidak shalat. Mereka menuntut agar Akbar Sarosa membayar ganti rugi, padahal mereka tahu alasan guru tersebut menghukum anaknya, tapi mereka menutup mata dan mencocok telinga mereka dengan amarah yang luar biasa, mereka tidak peduli bahwa hal yang dilakukan Pak Akbar adalah demi masa depan anaknya. Terlepas dari apa yang sudah dilakukan Akbar Sarosa, kejadian tersebut membuat kita miris, bukankah shalat merupakan kewajiban dan pondasi utama yang harus dilakukan oleh setiap muslim dan para orang tua merupakan orang pertama yang wajib mengingatkan bahkan memaksa anaknya untuk shalat, yang meng-estafetkan tanggung jawab tersebut secara tidak langsung kepada para guru saat anaknya berada di sekolah. Tapi kejadian ini seakan membuka tabir yang selama ini terselubung, betapa sebagian orang tua pikirannya terlalu picik dan menganggap bahwa sekolah seperti tempat penitipan “barang”, tidak ber-ruh, yang pada akhirnya membuat mereka berani melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas kepada para guru. Pak Akbar hanya satu contoh kecil, dari sekian ribu rentetan kejadian yang berakhir dengan guru sebagai pihak yang selalu dirugikan. Lihatlah yang terjadi, laporan seorang anak manja tentang hukuman yang diberikan seorang guru agama kepadanya karena dia tidak shalat, disambut dengan ancaman penjara atau ganti rugi sebesar Rp. 50.000.000. Dimana keadilan, dimana hak asasi guru, dimana gaung dan ruh pendidikan, jika seorang guru harus masuk penjara hanya karena meneruskan kewajiban orang tua di sekolah? Apakah mereka lupa bahwa guru adalah orang tua bagi anak-anaknya saat di sekolah? Apa yang harus kami lakukan, kalau mengajak peserta didik melaksanakan kewajiban kepada  Allah saja kami sudah diancam bui? Dampak dari hal tersebut, membuat kami ragu-ragu menegur dan mendidik siswa kami, karena kami takut mendapat perlakuan yang sama dari para orang tua, kalau sudah begini siapa yang salah?

Faktor selanjutnya yang membuat kesehatan mental guru terganggu adalah masalah finansial. Kesehatan mental guru berbanding lurus dengan hal tersebut, namun sayang tunjangan-tunjangan yang seharusnya kami terima di awal bulan sering macet dan kadang dipending sampai bulan berikutnya, padahal tidak bisa kita tepis, kesejahteraan secara finansial berdampak besar bagi ketenangan dalam bekerja dan berkarya bagi semua profesi termasuk para guru. Tunjangan-tunjangan yang “cair” tepat waktu, membuat kami percaya bahwa pemerintah sedang memuliakan kami, tunjangan tersebut membuat kami lebih fokus dan semangat dalam mengajar dan mendidik. 

Selain hal-hal yang dapat menganggu kesehatan mental guru, penulis juga mengutip strategi mempertahankan kesehatan mental bagi para guru menurut Dr. Samir Parikh dalam bukunya Health Shots yaitu :

  1. Pengelolaan waktu yang efektif: perencanaan dan persiapan materi secara matang sebelum mengajar di kelas.
  2. Menjaga hubungan baik dengan keluarga dan teman di sekolah.
  3. Terapkan gaya hidup sehat
  4. Pandai bersyukur.
  5. Selalu berfikir positif
  6. Me time, berilah diri anda untuk sejenak beristirahat dan menikmati hidup.
  7. Berorganisasi : baik dengan sesama guru mata pelajaran di sekolah atau komunitas belajar anda.
  8. Berkomunikasi dengan kolega, supervisor atau konselor sekolah, dengan cara sharing ilmu dan hal yang bermanfaat lainnya.
  9. Mengikuti pelatihan pendidikan kesehatan mental bagi para guru
  10. Jaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Itulah beberapa hal yang menjadi pemicu terganggunya kesehatan mental para guru, juga solusi yang diberikan ahli. Dari sekian banyak hal yang membuat kesehatan mental guru dapat tergoyahkan, seorang guru tetap harus jadi contoh terbaik bagi siswa-siswanya. Saat pembelajaran, sesulit apapun masalah yang dihadapi, serumit apapun tekanan stress kepada kami, serepot apapun tugas yang dibebankan, selelah apapun seorang guru, mereka tetap menjalankan tugasnya secara professional, walaupun tidak jarang guru menerima ketidak berpihakan stake holder dan support system lainnya. Mental para guru sudah membaja karena tempaan sang godam perubahan kurikulum yang memukul dengan beringas berganti-ganti, mental guru sudah teruji karena telah lahirkan ribuan generasi, mental guru sudah terpahat bahkan diatas batu sekalipun, tidak akan mundur sejengkalpun walau bumi kadang tidak berpihak kepada kami, mental kami sudah kokoh walaupun kami bukanlah Sang Tokoh, Méntal guru tidak akan  mental walau kami harus berjuang sendirian, kami adalah pasukan kedua dari Tuhan yang diciptakan untuk membentuk generasi hebat, semoga Allah melindungi semua guru di Indonesia khususnya, dan membalas lelah kami dengan ampunan dosa. Semoga di waktu yang akan datang, pendidikan Indonesia lebih humanis kepada para guru, lebih menjamah ramah hati kami yang mulai terengah-engah dengan semua regulasi yang kami hadapi, semoga semua guru selalu dilindungi Allah SWT dan semoga pendidikan dinegri kita tercinta ini, terus maju dan berjaya menghasilkan anak-anak bangsa yang kuat, hebat, kompetitif dan berahlak mulia, aamiin

KEYWORDS : Kesehatan Mental, Figur Paripurna, Profesi, Logical Fallacy, Ad Hominem, Social Pleading, P5 PPRA, Helicopter Parenting, Akbar Sarosa, Bui, Cair, Health Shots, Solusi.

Daftar Pustaka :

  1. Allen et.al (2018), Educational Psychology Review
  2. Hawary (1997), Kesehatan Mental
  3. Parikh, Samir DR, Health Shots

Penyunting: Putra

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Guru Wajib Tahu Empat Keterampilan di Era Industri 4.0
3 min
Kesehatan Mental Guru dalam Menjawab Tantangan Global
4E STRATEGI MENJAGA KESEHATAN MENTAL GURU
2 min
INOVATIF DENGAN PENGABDIAN DAN CINTA

Winarni, S. Si.

Jul 21, 2022
2 min
Tips Menjadi Guru yang Inovatif dan Ideal di Era Pendidikan 4.0

umi fatirah

Jul 26, 2022
6 min
Kesehatan Mental Guru Sangat Penting

Neneng Leni

Nov 22, 2023
2 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB