Mengemban Amanah di dalam Surga Perkebunan Sawit - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 10 Mei 2022

Mengemban Amanah di dalam Surga Perkebunan Sawit

Mungkin judul terasa sangat aneh untuk pembaca. Namun itulah yang saya rasakan sebagai pendidik selama di sekolah ini. Perkenalkan nama saya Amri Saleh. Saya sudah menjadi pendidik sejak tahun 2011. Sejak mengemban amanah menjadi PNS di tahun 2015 sampai saat ini sudah hampir 7 tahun lebih. Mengapa saya katakan surga dalam perkebunan sawit? Inilah yang akan saya ceritakan lebih lanjut. SD Negeri 19 Pasir Tinggi adalah salah satu sekolah di Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Jarak dari luar menuju sekolah kira-kira 8 km dengan kondisi jalan yang berbatu, tanah, berlobang, dan melewati jembatan gantung yang terbuat dari kayu. Perjalanan dari jalan raya menuju sekolah membutuhkan waktu 30 menit ditambah dengan mengantre mendahulukan sapi dan kerbau yang sedang berjalan menuju perkebunan sawit. Namun itu semuanya adalah kebahagian yang saya rasakan karena sebelumnya saya mengajar di daerah perkotaan dengan kebisingan kendaraan yang lalu lalang di depan sekolah setiap hari. 

Cerita Guru

Amri Saleh, M.Pd., Gr.

Kunjungi Profile
1068x
Bagikan

Mungkin judul terasa sangat aneh untuk pembaca. Namun itulah yang saya rasakan sebagai pendidik selama di sekolah ini. Perkenalkan nama saya Amri Saleh. Saya sudah menjadi pendidik sejak tahun 2011. Sejak mengemban amanah menjadi PNS di tahun 2015 sampai saat ini sudah hampir 7 tahun lebih. Mengapa saya katakan surga dalam perkebunan sawit? Inilah yang akan saya ceritakan lebih lanjut. SD Negeri 19 Pasir Tinggi adalah salah satu sekolah di Kecamatan Ampek Nagari, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Jarak dari luar menuju sekolah kira-kira 8 km dengan kondisi jalan yang berbatu, tanah, berlobang, dan melewati jembatan gantung yang terbuat dari kayu. Perjalanan dari jalan raya menuju sekolah membutuhkan waktu 30 menit ditambah dengan mengantre mendahulukan sapi dan kerbau yang sedang berjalan menuju perkebunan sawit. Namun itu semuanya adalah kebahagian yang saya rasakan karena sebelumnya saya mengajar di daerah perkotaan dengan kebisingan kendaraan yang lalu lalang di depan sekolah setiap hari. 

Awal penempatan di SD Negeri 19 Pasir Tinggi saya merasa sedih berpisah dengan keluarga dan sahabat. Merasa canggung karena terbiasa mengajar siswa/i perkotaan. Namun sekarang saya harus mengajar siswa/i perdesaan dan di dalam perkebunan sawit dengan bahasa daerah sebagai bahasa tutur kata sehari-hari? Gumam saya di dalam hati.  Saya tidak pernah membayangkan itu semua akan terjadi di dalam hidup saya. Mungkin ini adalah suratan dari ilahi yang harus saya jalani sebagai seorang pendidik untuk mencerdaskan kehidupan anak bangsa Indonesia. Menuju sekolah untuk pertama kali, perasaan takjub dan gembira memancar dari hati. Betapa tidak, selama perjalanan menuju sekolah saya berpapasan dengan truk pengangkut buah sawit, warga yang bekerja ke ladang, pengembala sapi dan kerbau berserta hewan ternaknya. Sampai di sekolah saya tercengang keadaan sekolah yang luasnya 1 hektar dan mempunyai siswa/i sebanyak 600 orang. Alhamdulillah, rencana Allah SWT memang sangat baik daripada rencana manusia.

Diawali dengan perkenalan dengan rekan-rekan guru dan siswa/i semuanya. Rasa senang kembali memancar dari wajah ini. Bahasa Indonesia adalah Bahasa yang digunakan di dalam aktivitas di dalam kelas dan luar kelas. Ini adalah penyampaian pertama yang diberikan oleh kepala sekolah kepada saya. Siswa/i disini beragam. Ada yang beragam islam, beragama Kristen protestan, beragama Kristen katolik. Suku mereka juga banyak. Ada yang bersuku Minangkabau, ada yang bersuku Batak, ada yang bersuku Nias, ada yang bersuku Sumbawa, ada yang suku Jawa. Masyaallah, itulah ucapan keluar dari mulut saya dna saya sampaikan kepada kepala sekolah dan rekan-rekan guru. Sungguh surga yang indah berada di perkebunan sawit. Dengan berbagai macan agama dan suku yang ada di SD Negeri 19 Pasir Tinggi menjadikan sekolah ini multietnis dan multikultur. Sangat sesuailah penerapan kurikulum 2013 di sekolah ini tutur saya. 

Seiring berjalannya waktu saya melihat sendiri betapa antusiasnya siswa/i dalam belajar dan bekerjasama ketika melaksanakan bergotong royong. Semangat kepedulian, saling bahu membahu menciptakan suasana sekolah yang indah, bersih, dan asri dipandang mata dapat diwujudkan. Siswa/i sangat menghormati guru dan teman-temannya dalam perbedaan agama dan suku. Setiap hari, kami sebagai pendidik memberikan nasihat agar menjadi pribadi yang baik kepada siswa/i. Prilaku baik yang harus dicontohkan terlebih dahulu oleh guru-guru dan kepada sekolah dengan bersalaman setiap pagi, mengambil sampah di halaman sekolah, membiasakan diri menuju kelas di pagi hari sebelum bel berbunyi, bercengkrama dengan siswa/i. Rasa betah dan nyaman di sekolah membuat kami lupa untuk pulang ke rumah. Datang hampir bersamaan dan pulangpun bersama-sama.   Kadang banjir dilalui dengan perahu “Ponton” untuk menyebrangi sungai yang melupa ketika hujan. Kadang terjatuh karena jalan licin dan berlobang.  Begitu banyak kenangan selama 7 tahun ini yang saya temukan dan peroleh di SD Negeri 19 Pasir Tinggi. Surga pendidikan di dalam perkebunan sawit, tempat mengemban amanah menjadi pendidik untuk mencerdaskan generasi penerus bagi bangsa ini.  

  

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Semarakkan Program Literasi dengan Platform Digital
Guru Harus Tau! Cara Mengidentifikasi Masalah Di Dalam Kelas

Hafecs HRP

Nov 27, 2021
3 min
Mentari Terbit di Desa Paleran
Guru yang tak pernah bercita-cita menjadi guru

HASMAWATI, S.Pd

Apr 27, 2022
5 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar