Masih Perlukah Orientasi Otoriter dalam Profesionalisme Guru Hari Ini? - Guruinovatif.id

Diterbitkan 16 Des 2025

Masih Perlukah Orientasi Otoriter dalam Profesionalisme Guru Hari Ini?

Paradigma hubungan guru dan murid merupakan salah satu elemen pendidikan yang bergerak jauh lebih lambat daripada kurikulum di tengah arus perubahan pendidikan yang semakin cepat. Meski berbagai konsep pembelajaran telah diperkenalkan, sebagian guru masih memegang kuat orientasi otoriter.

Seputar Guru

Nada Shoba AR

Kunjungi Profile
53x
Bagikan

Paradigma hubungan guru dan murid merupakan salah satu elemen pendidikan yang bergerak jauh lebih lambat daripada kurikulum di tengah arus perubahan pendidikan yang semakin cepat. Meski berbagai konsep pembelajaran abad ke-21, psikologi perkembangan, dan pendekatan humanistik telah diperkenalkan, sebagian guru masih memegang kuat orientasi otoriter yang mereka warisi dari masa sekolah dulu. Pertanyaannya: dalam profesionalisme guru hari ini, apakah orientasi otoriter masih relevan atau sebenarnya menjadi hambatan?

Orientasi Otoriter: Efektif di Masa Lalu, Bermasalah di Masa Kini

Orientasi otoriter tidak muncul begitu saja. Model sekolah kolonial dan struktur sosial Indonesia yang hierarkis pernah membentuk sebuah pola pikir: guru adalah pusat kebenaran, sedangkan murid hanya sebagai penerima yang harus patuh dan tidak bertanya.

Pendekatan ini dianggap “efektif” pada konteks pendidikan masa lalu yang menekankan:

  • kepatuhan,

  • keteraturan, dan

  • homogenitas perilaku murid.

Bagi banyak guru generasi lama, wibawa identik dengan jarak, ketegasan identik dengan ancaman, dan disiplin identik dengan kontrol penuh. Tidak mengherankan jika sebagian guru hari ini masih memaknai profesionalisme melalui kaca mata tersebut.

Namun efektivitas masa lalu tidak otomatis relevan pada realitas sekarang. Anak-anak kini tumbuh dalam ekosistem digital terbuka, terbiasa berpendapat, dan tidak lagi menganggap suara keras sebagai legitimasi otoritas.

Otoriter vs Fasilitator: Dua Pendekatan Kepemimpinan Pembelajaran

Diskusi tentang orientasi otoriter tidak bisa dipisahkan dari perbandingannya dengan pendekatan fasilitatif. Yang harus digarisbawahi: keduanya bukan sekadar “guru galak vs guru baik hati”, melainkan dua paradigma kepemimpinan pedagogis. Guru otoriter memusatkan kontrol, membangun disiplin lewat tekanan, dan memandang pertanyaan sebagai bentuk pembangkangan.

Sebaliknya, guru fasilitator memimpin proses belajar, memposisikan murid sebagai subjek aktif, serta membangun disiplin berbasis relasi dan kejelasan peran.

Perbedaannya terletak pada fondasi psikologis: dominasi versus kolaborasi.

Benturan Paradigma di Sekolah Hari Ini

Di ruang kelas Indonesia, dua paradigma ini kerap bertabrakan. Murid generasi Z dan Alpha kritis, sensitif terhadap relasi kuasa, dan membutuhkan ruang dialog. Sementara sebagian guru masih memaknai kritik sebagai ancaman dan mempertahankan kekerasan simbolik seperti bentakan atau mempermalukan.

Akibatnya, konflik terus berulang: guru menilai murid tidak sopan, murid menilai guru tidak profesional. Masalahnya bukan pada sikap murid semata, melainkan pada orientasi profesional yang tidak berkembang.

IQ, EQ, dan SQ dalam Profesionalisme Guru

Kerangka IQ–EQ–SQ relevan bukan untuk memaksakan teori, melainkan untuk menjelaskan kebutuhan profesional guru masa kini.

Orientasi otoriter bertumpu hampir sepenuhnya pada IQ—penguasaan materi sebagai sumber legitimasi. Padahal, pembelajaran modern menuntut lebih. EQ dibutuhkan untuk mengelola emosi, membangun relasi, dan menangani konflik tanpa intimidasi. SQ menjadi fondasi wibawa: integritas, keteladanan, dan penghargaan terhadap martabat murid.

Dalam kerangka ini, orientasi fasilitatif jauh lebih selaras dengan profesionalisme modern dibanding orientasi otoriter.

Otoritas, Bukan Otoritarianisme

Menolak orientasi otoriter bukan berarti meniadakan otoritas guru. Yang dibutuhkan adalah otoritas profesional: dihormati karena kompetensi, diikuti karena relasi yang sehat, dan dipercaya karena keteladanan moral.

Disiplin tidak lahir dari rasa takut, tetapi dari kejelasan nilai dan konsistensi sikap.

Apakah Orientasi Otoriter Masih Diperlukan?

Jawabannya tegas: tidak. Orientasi otoriter tidak relevan dengan psikologi murid hari ini, bertentangan dengan profesionalisme berbasis IQ–EQ–SQ, merusak relasi jangka panjang, dan menghambat perkembangan holistik.

Otoriter adalah bagian dari sejarah pendidikan. Orientasi fasilitatif adalah kebutuhan masa depan.

Profesionalisme guru tidak diukur dari seberapa patuh murid karena takut, melainkan dari kemampuannya memimpin pembelajaran secara manusiawi. Kelas bukan ruang untuk menundukkan, tetapi untuk menumbuhkan. Pendidikan yang bermutu tidak membutuhkan dominasi, melainkan integritas, empati, dan kecakapan memfasilitasi belajar.


Penyunting: Putra

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Pentingnya Guru Menengok ke Bawah, Sawah, dan Lembah

Rozi Ahdar

Dec 08, 2023
0 sec
Prinsip Cara Menyusun Modul ajar sesuai Ketentuan Kemendikbud
0 sec
Ruang Guru Untuk Tumbuh

Dewi Oktaviani

Dec 28, 2023
0 sec
Jangan Membuat Mental Guru Terjegal

Dwi Rahayu, S.Pd.

Nov 30, 2023
0 sec
Media Pembelajaran Terbaru: Kelebihan dan Tantangan dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran
0 sec
Tips Membuat Soal Ujian HOTS (Higher Order Thinking Skill)
0 sec
Komunitas