Cerita Saya dalam Menerapkan Pembelajaran Project Based Learning Dengan Capaian WISER - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 12 Apr 2022

Cerita Saya dalam Menerapkan Pembelajaran Project Based Learning Dengan Capaian WISER

Tujuh belas tahun bukanlah sebuah pengalaman yang singkat bagi saya dalam mengajar. Lulus menyandang sebagai Sarjana Pendidikan, membuat saya tertarik untuk mengabdi di sebuah Lembaga Pendidikan Formal, yakni sebuah sekolah swasta yang ada di Kota Malang, dengan mayoritas siswa dari kalangan menengah ke atas. Saat ini saya mengajar bidang studi Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar tersebut. Pengalaman pertama saat menjadi guru, membawa kesan bahwa sekolah tempat saya mengajar ini memanjakan murid. Terbukti saat mereka masuk gerbang sekolah, sudah disambut dengan beberapa guru yang berbaris rapi di pintu gerbang. Tak hanya itu, servis pun berlanjut ketika PBM dilaksanakan. Para guru pun dituntut untuk membuat persiapan pembelajaran yang rumit dengan kreativitas yang tinggi, dengan metode dan media pembelajaran yang menarik. Semua ini tentu saja untuk satu tujuan, yaitu bagaimana proses belajar manusia-manusia kecil, calon profesor masa depan  itu menjadi menyenangkan dan materi yang disampaikan mampu menyentuh memori jangka panjang mereka.

Cerita Guru

Imroatul Mufidah, S. Pd.

Kunjungi Profile
10277x
Bagikan

Tujuh belas tahun bukanlah sebuah pengalaman yang singkat bagi saya dalam mengajar. Lulus menyandang sebagai Sarjana Pendidikan, membuat saya tertarik untuk mengabdi di sebuah Lembaga Pendidikan Formal, yakni sebuah sekolah swasta yang ada di Kota Malang, dengan mayoritas siswa dari kalangan menengah ke atas. Saat ini saya mengajar bidang studi Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar tersebut. Pengalaman pertama saat menjadi guru, membawa kesan bahwa sekolah tempat saya mengajar ini memanjakan murid. Terbukti saat mereka masuk gerbang sekolah, sudah disambut dengan beberapa guru yang berbaris rapi di pintu gerbang. Tak hanya itu, servis pun berlanjut ketika PBM dilaksanakan. Para guru pun dituntut untuk membuat persiapan pembelajaran yang rumit dengan kreativitas yang tinggi, dengan metode dan media pembelajaran yang menarik. Semua ini tentu saja untuk satu tujuan, yaitu bagaimana proses belajar manusia-manusia kecil, calon profesor masa depan  itu menjadi menyenangkan dan materi yang disampaikan mampu menyentuh memori jangka panjang mereka.

Awalnya memasuki dunia anak-anak sungguh membuat saya bingung. Bagaimana saya harus beradaptasi pada setiap kecenderungan yang dimiliki setiap anak? Namun itu tak membuat saya patah semangat. Semua tingkah laku murid saya yang penuh warna dan beraneka ragam menjadi ajang kreativitas dalam setiap pembelajaran yang saya sajikan. Di sinilah letak tantangan menarik yang membuat saya untuk terus belajar dan belajar untuk selalu menemukan ide-ide baru yang kreatif dalam pembuatan lesson plan.

Tahun ke lima belas dalam pengabdian saya menjadi guru, benar-benar menjadi tantangan yang luar biasa. Saat dunia pendidikan sedang diuji dengan adanya pandemic Covid-19 yang mengharuskan seluruh siswa harus belajar di rumah. Tentu saja ini adalah tantangan terberat bagi saya. Di awal pandemic covid saya hanya mengajar melalui aplikasi whatsapp, share video, dan pemberian tugas melalui file PDF yang saya kirim melalui grup Whatsapp orang tua. Itu saya lakukan kurang lebih selama 4 bulan, dan pembelajaran pun menjadi tidak bermakna sehingga berdampak buruk bagi siswa. Sistem pembelajaran dalam jaringan (daring) selama masa pandemic Covid-19 membuat banyak pihak terutama orang tua dan siswa mengeluhkan berbagai alasan. Mereka mengeluh mulai dari fasilitas penunjang, akses internet, biaya, tuntutan kurikulum, hingga degradasi intelektual, dan moral yang dialami oleh siswa. Belum lagi penggunaan ponsel pintar yang meningkat serta lemahnya kontrol dari orang tua, membuat siswa saya bebas dalam mengakses berbagai game maupun sosial media selama pembelajaran daring dilakukan. Alhasil tugas-tugas yang saya berikan seringkali tidak dikerjakan. Bahkan siswa yang dulunya aktif, kreatif, dan hasil belajarnya bagus, sejak pembelajaran masa pandemi mengalami penurunan yang drastis. Ada yang malas-malasan di rumah, enggan mengikuti pembelajaran secara daring, ada yang terpaksa mengikuti pembelajaran, namun tak punya semangat, bahkan hanya sekadar mengirim tugas saja terkadang tidak dikerjakan. Sungguh tahun itu menjadi masa-masa sulit, di mana saya banyak meneteskan air mata, tak nyenyak tidur, tak enak makan, bahkan sampai terbawa mimpi karena harus menemukan ide-ide baru yang kreatif dalam membuat lesson plan.

Sejak saat itu sekolah mencari cara untuk memberikan layanan terbaik bagi siswa terutama dalam hal proses belajar mengajar. Maka lahirlah sistem aplikasi E-Learning yaitu sebuah aplikasi pembelajaran berbasis Web atau biasa disebut Web Based Learning. Di sinilah peran saya sebagai guru dituntut harus melek teknologi. Saya pun tertantang bagaimana untuk bisa memanfaatkan fitur-fitur cerdas di E-Learning sekolah dengan membuat media video pembelajaran interaktif. Saya memanfaatkan fitur-fitur interaktif yang menfasilitasi siswa dan guru untuk dapat berkomunikasi langsung melalui chating maupun Video conference. Saya juga membuat Quiz menarik untuk dapat melakukan evaluasi hasil belajar siswa. Awal nya semua itu sulit saya lakukan, bagaimana tidak? Saya harus banyak belajar teknologi, dengan berbekal tutorial youtube saya belajar bagaimana membuat video pembelajaran yang menarik dan interaktif, membuat Quiz yang menantang siswa, sehingga siswa bisa tetap berliterasi meski di masa pandemi, dan tujuan yang paling utama adalah siswa menjadi senang belajar, tetap aktif,  meski secara daring.

Proses kegiatan pembelajaran yang saya lakukan yaitu pembelajaran Hybrid Leraning di mana 50% siswa belajar secara daring di rumah, dan 50% siswa belajar PTM di sekolah secara bersamaan. Tentu saja itu tantangan bagi saya sebagai seorang guru dalam kegiatan pembelajaran agar siswa yang di rumah maupun di sekolah dapat dengan mudah memahami materi yang saya sampaikan. Dengan memanfaatkan E-Learning selama 20 menit di awal siswa masuk live zoom. Kemudian saya memberikan motivasi, arahan, sekaligus mengulas pembelajaran sebelumnya. Di sini saya mengemas strategi pembelajaran daring yang menarik, dengan menerapkan metode pembelajaran berbasis proyek yang kita kenal dengan  istilah PjBL (Project Based Learning.) dengan capaian WISER.  Saya pun merancang pembelajaran dengan menghadirkan suasana tantangan yang positif yang membuat pembelajaran bagi siswa sebagai hal yang menyenangkan dan menantang, siswa dapat berselancar dengan memanfaatkan kemajuan teknologi khususnya internet dan berbagai alat komunikasi seperti handphone, smartphone, laptop, dan lain sebagainya untuk mendapatkan informasi lebih banyak selama proses belajar mengajar. Di sinilah kemampuan literasi siswa muncul kembali, Kemampuan 4C’s, yang meliputi: 1) critical thinking skills, 2) creative thinking skills, 3) collaboration skills, dan 4) communication skills pun mulai terasah.

Pada tahap presenting,  saya memberikan issue berupa artikel, video, gambar, dan foto terkait sebuah masalah yang ada dalam kehidupan sehari-hari. Saya mengajak siswa untuk melakukan kegiatan berselancar yakni melakukan literasi, pengamatan, dan juga identifikasi masalah terhadap apa yang diamati maupun yang dialami siswa. Dari kegiatan presenting tersebut, saya mengajak siswa melakukan kegiatan wondering Habits yaitu mengajak siswa mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang baik terkait issue yang sedang dibahas saat itu. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, siswa melakukan investigating skills. Di sini, saya memotivasi siswa agar berusaha menemukan sendiri jawabannya, entah dengan cara bertanya kepada orang tua, saudara, kepada guru atau kepada siapapun yang lebih mengetahui, atau siswa dapat kembali berselancar  melakukan penelusuran informasi di internet, atau melakukan survey dan cara lain. Setelah itu siswa masuk pada kegiatan analizing yaitu melakukan analisis kelemahan dan kelebihan serta yang paling menarik dari identifikasi issue yang telah diamati. Analisis kritis tersebut dipakai sebagai acuan dalam menentukan rencana proyek yang akan dibuat. Misalnya menemukan ide gagasan, menemukan berbagai alternatif proyek, memilih proyek yang mendukung dan lain sebagainya. Dari sini saya mengajak siswa untuk melakukan synthesizing skills yaitu berlatih mengembangkan kemampuan mengambil kesimpulan dari berbagai macam informasi yang sudah didapat. 

Tak hanya berhenti sampai di sini, kegiatan pembelajaran saya lanjutkan  dengan tahap planning dan executing, di sini siswa menjadi tertantang dalam merancang sebuah proyek yang excellent (luar biasa),yang bisa mengatasi masalah yang sedang dibahas tersebut, meliputi rancangan (sketsa),kebutuhan, dan time line penyelesaian proyek. Siswa melaksanakan proyek dengan mengacu pada rancangan (plan) dan arahan guru sebagai fasilitator untuk melatih keterampilan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif dan komunikatif. 

Kegiatan PjBl saya akhiri dengan reporting. Saya meminta siswa membuat video performance presentasi hasil proyek yang bisa memesona teman, orang tua, maupun guru. Pada kegiatan reporting ini, siswa melakukan kegiatan expressing skills yaitu siswa mampu mengomunikasikan hasil proyeknya dengan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah didapat dengan berselancar tadi. Pada akhir pembelajaran, siswa saya ajak melakukan kegiatan reflecting, yaitu dengan membuat list pada selembar kertas kosong tentang masalah yang sedang dibicarakan, dan bagaimana solusi untuk mengatasi masalah tersebut, serta cara yang bisa dilakukan agar suatu masalah yang sedang dibahas itu tidak terjadi.

Dari sinilah akhirnya saya dapat menyimpulkan, bahwa selain metode pembelajaran yang menarik di era new normal. Peran teknologi sangatlah penting untuk mempermudah proses belajar mengajar. Dengan adanya teknologi yang canggih, siswa dapat memaksimalkan penggunaan teknologi dengan baik sesuai kebutuhannya. Sehingga teknologi dapat memberikan dampak positif bagi penggunanya. Misalkan, seorang siswa kesulitan dalam mencari buku referensi bacaan, maka dengan adanya teknologi siswa dapat berselancar mencari berbagai sumber terpercaya tidak hanya terfokus pada satu buku saja. 

Metode PjBL dengan capaian WISER yang saya terapkan pada pembelajaran di masa pandemic ini, hasilnya sangat luar biasa, siswa saya dapat menerapkan keterampilan, meneliti, menganalisis, membuat sampai dengan presentasi produk. Kegiatan PjBL ini memiliki potensi yang besar untuk membuat pengalaman belajar yang menarik dan bermakna bagi siswa saya terutama pembelajaran di era new normal Hybrid Leraning/PTM terbatas saat ini. Siswa saya menjadi lebih aktif belajar. Meskipun secara daring, pembelajaran terkesan mengasikkan dan bermakna bagi siswa. Saya merasakan manfaat dan perubahan yang luar biasa pada siswa saya. Banyak keterampilan yang berhasil dibangun dari pembelajaran ini. Potensi keefektifan belajar berbasis proyek ini terbukti dapat meningkatkan  siswa saya dalam pencapaian prestasi akademik, berpikir tingkat tinggi, kecakapan berpikir kritis, kreatif, serta siswa menjadi lebih produktif untuk menjadi calon-calon profesor masa depan. 

Lampiran Foto Dokumentasi

 

0

1

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Kisah saya sebagai guru Indonesia
2 min
KACA DALAM NASEHAT GURU

Laili Rachmawati

Jun 24, 2022
3 min
Mendidik Dari Hati

Quroniya Rizqiyah

Apr 17, 2022
2 min
“Guru” Pelabuhan Terakhir sang Pengejar Cita-cita
4 min
Perjuangan Fresh Graduate Menjadi guru di 3T

Ms Nirmawati

Apr 26, 2022
2 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar