Terpenjara Jalan Desa - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 23 Apr 2022

Terpenjara Jalan Desa

 

Cerita Guru

Masngadah, S.Pd.SD

Kunjungi Profile
917x
Bagikan

 

Hatiku menjerit ketika dinyatakan harus mendidik di sekolah perbatasan desa. Aku yang belum terbiasa melewati jalan berlumpur, motor seringkali terjebak lumpur yang hampir menelan setengah roda. Harus bersabar menunggu orang datang sekedar menolongku. Seringkali tukang dereslah yang menolongku. Siswa jarang yang bersepatu, mereka tanpa alas kaki ke sekolah bukan hal yang aneh disini. Para guru dari rumah mengenakan sandal jepit atau memilih tanpa alas kaki. Sampai di sekolah, barulah berganti pakaian selayaknya guru.

Bukan hanya kondisi jalan yang rusak, berlumpur dan naik turun. Kondisi sekolahpun nyaris tak layak disebut sekolah. Dua belas tahun yang lalu, sekolah kami masih beralaskan tegel bercampur tanah menumpuk. Atap dari rangkaian bambu yang mulai berlubang di beberapa bagian. Nampak langit mendung atau terik matahari dari dalam kelas. Kami terpaksa menggeser meja kursi ketika hujan menerobos atap sekolah. Mencari tempat yang tidak basah. Begitupun  ketika terik matahari menerobos atap sekolah, sangat menyilaukan.

Sarana prasarana sangat memprihatinkan. Ruang guru menyatu dengan dapur dan ruang tamu. Duduk berjubel dengan guru lain, satu meja untuk dua guru. Kamar mandi gelap, kotor dan menimbulkan suasana mencekam karena jauh dari halaman sekolah. Halaman sekolah masih ditumbuhi rumput liar dan pohon turi putih. Belum memiliki laptop, LCD apalagi jaringan internet. 

Prestasi sekolah tidaklah pantas dibanggakan. Banyak siswa kelas 6 dinyatakan tidak lulus. Piala kejuaraan hanya tiga buah telah patah menjadi dua bagian, pun tergeletak di atas lemari yang kotor dan berdebu. Hanya itu yang dimiliki. Padahal jumlah siswa cukup banyak, 135 siswa. Perpustakaan, mushola, tempat parkir, pagar keliling, kantin dan fasilitas lainnya masih belum memiliki. Hal ini terjadi karena rata-rata guru yang ditempatkan di SD kami adalah guru buangan dan tidak berkualitas untuk dunia pendidikan maupun sebagai contoh di masyarakat. Bahkan ada yang sampai masuk bui karena tindakan asusila pada siswanya.

Sekalipun guru yang berbobot berada di SD ini, mereka akan memilih mutasi ke sekolah lain karena kondisi jalan yang tidak layak. Seolah sekolah ini hanyalah batu loncatan tanpa ada niat memperbaiki kualitas pendidikan.

Kembali mengingat surat bermaterai yang baru beberapa waktu aku tandatangani, yang menyatakan bersedia ditempatkan di seluruh wilayah Indonesia. Akhirnya dengan berbesar hati, aku bertahan dengan keadaan itu. Ayahku penyemangat luar biasa yang membuatku bertahan.

Kondisi jalan yang sulit dilalui, memaksa janin yang ku kandung di usia mudah harus gugur. Tidak hanya satu kali, tetapi dua kali. Sedih? Tentu saja sedih. Meskipun hanya berjarak dua kilometer dari rumah, tapi membutuhkan tenaga dan perjuangan yang luar biasa untuk sampai ke sekolah. Para petugas monitoring kegiatan sekolah, baik dari kabupaten ataupun kecamatan banyak yang memilih ngojek dari jalan raya ke sekolah daripada menggunakan mobil mereka, karena rusaknya jalan.

Dua belas tahun berlalu, sekolah kami kini memiliki mushola, ruang kelas layak, kamar mandi memenuhi strandar sekolah, gedung perpustakaanpun megah berdiri meski belum mencukupi buku bacaan untuk anak didik. Piala hasil kejuaraan lomba kini berjejer indah di lemari kaca berjumlah sekitar lima puluh. Rekan guru berdaya saing dan berkualitas mampu mengukir dan membimbing siswa untuk berprestasi. Melihat keberhasilan ini, wali muridpun tergerak bersama memajukan pendidikan, tidak lupa peran komite sekolah yang sangat baik.

Kebijakan pemerintah beberapa tahun lalu terkait PPDB sekolah lanjutanpun memaksa kami tidak bisa melalui jalur zonasi, meski masih satu desa dengan sebuah SMP namun kami di batas desa tidak bisa. Akhirnya kami harus tetap berprestasi agar bisa masuk melalui jalur prestasi.

Ketika Ujian Sekolah dengan pengawas silang, banyak mereka yang menghindari sekolah kami. Lagi-lagi karena jalan desa yang rusak. Sekolah kamipun tidak pernah digunakan untuk kegiatan KKG, KKKS atau rapat lainnya dengan alasan yang sama. 

Sangat berharap pada siapa saja yang memperhatikan pendidikan juga akses jalan ke sekolah kami. 

Sejenak, tengoklah kami! 

Kami mendidik sepenuh hati untuk generasi di negeri ini, tapi kami masih terpenjara jalan desa.  

 

 

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Penguatan Ekosistem Digital di Sekolah: PENA BK Sebagai Inovasi Media Bimbingan dan Konseling
6 min
Sebuah Refleksi Seorang Guru: “Pengabdian Tanpa Batas”
2 min
GURU KREATIF DAN INOVATIF DI TENGAH TERPAAN PANDEMI MELALUI GAMIFIKASI PEMBELAJARAN
3 min
Kisah Saya Menjadi Seorang Guru Indonesia

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar