Sikap Orang Tua yang Dapat Menyakiti Anak: Pengaruh Mendalam Terhadap Perkembangan Emosional Anak - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 18 Agu 2023

Sikap Orang Tua yang Dapat Menyakiti Anak: Pengaruh Mendalam Terhadap Perkembangan Emosional Anak

Pahami dampak tindakan orang tua terhadap perkembangan emosional anak. Hindari sikap yang bisa menyakiti perasaan anak. Pelajari cara membangun hubungan positif untuk kesejahteraan mereka.

Refleksi

Redaksi Guru Inovatif

Kunjungi Profile
1912x
Bagikan

Orang tua adalah sosok yang mempunyai peran vital dalam membentuk perkembangan emosional anak. Namun, layaknya manusia pada umumnya, kita sebagai orang tua juga bisa berbuat kesalahan yang kadang kita tidak sadari dapat menyakiti perasaan anak, dan dampaknya bisa jauh lebih mendalam daripada yang kita bayangkan.

Bagaimana sebenarnya akibat orang tua menyakiti hati anaknya, dan apa saja sikap-sikap yang perlu dihindari? Mari kita telaah dengan cermat.

8 Tindakan Orang Tua yang Tak Disadari dapat Menyakiti Anak

Ketika anak melakukan tindakan yang tidak kita inginkan biasanya orang tua refleks memberitahu anak dengan cara menegurnya. Dari luar, anak terlihat menjadi penurut, namun di dalam benak si anak ada berbagai hal kompleks yang tidak kita ketahui. Bahkan bisa menumbuhkan bibit perilaku negatif anak di masa depan.

Tidak ada kata terlambat untuk menjadi lebih baik dalam mengasuh anak. Maka, kita perlu mengetahui dan memahami perilaku yang tanpa kita sadari membuat anak terluka.

1. Mengabaikan kebutuhan emosional

Salah satu akar penyebab dari orang tua menyakiti perasaan anak adalah ketidakpahaman akan kebutuhan emosional mereka. Banyak orang tua berfokus pada pemenuhan kebutuhan fisik dan prestasi akademis, namun keberhasilan anak dalam bidang ini tak selalu mengindikasikan kesejahteraan emosional yang sehat. Anak-anak membutuhkan perhatian, kasih sayang, dan penerimaan dari orang tua mereka. Mengabaikan aspek ini dapat berujung pada perasaan diabaikan dan rendah diri pada anak.

2. Memanipulasi rasa bersalah anak

Melatih anak agar disiplin bukanlah perkara yang mudah, hingga terkadang membuat orang tua secara tak sadar melakukan berbagai cara agar anak merasa bersalah dan memanfaatkan rasa bersalah atau memanipulasi rasa bersalah tersebut untuk menuruti aturan orang tua.

Rasa bersalah itu memang diperlukan agar anak bisa belajar bertanggung jawab dan memperbaiki perilakunya. Namun jika tindakan yang dilakukan orang tua sampai mempermalukan anak, hal ini merupakan sikap yang keliru.

3. Memarahi anak di tempat yang ramai

Terkadang anak melakukan tindakan yang membuat kita sebagai orang tua perlu menegur bahwa tindakannya itu mengganggu orang lain. Tanpa sadar kita menegur dengan cara memarahi anak di tempat yang ramai. Hal ini tentu membuat anak merasa dipermalukan yang dapat menyebabkan berkurangnya rasa percaya diri anak.

Bisa jadi kebiasaan ini akan membangun pribadi anak yang egois dan arogan. Karena anak akan menganggap memarahi orang di tempat yang ramai adalah tindakan yang lumrah dilakukan.

4. Memukul atau mencubit anak

Masih berkaitan dengan poin nomor 3, jika anak masih bertindak tidak sesuai yang diinginkan, sebagian orang tua memberi hukuman seperti memukul, mencubit, atau bentuk hukuman fisik lainnya. Secara tak langsung, hal ini mengajarkan kepada anak bahwa perilaku kekerasan ini bisa diterima jika perilaku orang lain tidak sesuai dengan keinginan kita.

5. Kritik yang berlebihan

Apa akibat orang tua menyakiti hati anaknya dengan kritik yang berlebihan? Dalam usaha untuk membimbing anak-anak menuju kesempurnaan, beberapa orang tua cenderung memberikan kritik yang terlalu banyak dan terlalu keras. Meskipun niatnya baik, kritik yang berlebihan dapat merusak harga diri anak dan menjatuhkan rasa percaya diri mereka. Anak-anak yang terus-menerus mendengar kritik mungkin akan merasa bahwa mereka tidak mampu memenuhi harapan orang tua, sehingga menghambat perkembangan potensi mereka.

6. Tidak memberikan ruang untuk berekspresi

Sikap yang mungkin kurang disadari oleh orang tua adalah ketidakmampuan memberikan ruang untuk ekspresi diri anak. Anak-anak perlu merasa didengar dan dihargai dalam setiap perasaan dan pendapat yang mereka miliki. Jika orang tua selalu mendominasi percakapan atau menolak pandangan anak, ini dapat membuat anak merasa bahwa pendapat mereka tidak berharga. Seiring waktu, mereka mungkin menjadi enggan untuk berbicara tentang perasaan mereka, menghambat perkembangan komunikasi yang sehat.

7. Membanding-bandingkan anak dengan saudaranya

Sering kali, orang tua tanpa sadar terjebak dalam perangkap perbandingan antara anak-anak. Mengatakan sesuatu seperti "Mengapa kamu tidak seperti adikmu yang pintar?" bisa berdampak besar pada anak. Perbandingan semacam ini dapat merusak hubungan saudara dan menciptakan rasa cemburu yang tidak sehat. Setiap anak unik dengan potensi dan kelebihannya masing-masing, dan mereka harus dihargai atas nilai-nilai unik tersebut.

8. Tidak menepati janji

Ketika anak merengek, orang tua berusaha untuk menenangkan anak melalui berbagai cara, salah satu cara tersebut adalah mengucapkan janji agar anak menjadi tenang. Saat anak sudah tenang ternyata kita menepati janji tersebut. Hal ini akan menimbulkan rasa kecewa, sakit hati, hingga tidak percaya pada orang tua.

Membangun Hubungan yang Positif dengan Anak

Penting bagi setiap orang tua untuk memahami dampak mendalam dari tindakan mereka terhadap perkembangan emosional anak. Menghindari perilaku yang dapat menyakiti perasaan anak adalah langkah pertama menuju hubungan yang positif dan mendukung. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil:

  • Aktif mendengarkan: Luangkan waktu untuk mendengarkan apa yang ingin dikatakan anak-anak. Berikan perhatian penuh dan tunjukkan bahwa pendapat mereka berarti.
  • Beri pujian dengan tulus: Memberikan pujian yang tulus atas usaha dan prestasi anak dapat meningkatkan rasa percaya diri mereka tanpa memicu rasa takut akan ekspektasi yang terlalu tinggi.
  • Praktikkan empati: Cobalah untuk melihat dunia dari sudut pandang anak dan mencoba memahami perasaan dan pengalaman mereka.
  • Berikan ruang ekspresi: Ajak anak untuk berbicara tentang perasaan mereka tanpa takut dihakimi. Tunjukkan bahwa pendapat mereka penting.
  • Hormati individualitas: Hargai keunikan dan potensi setiap anak tanpa membanding-bandingkan dengan saudara atau teman lain.
  • Kontrol emosi: Belajarlah mengendalikan emosi dan mengekspresikannya dengan cara yang sehat dan tidak merusak.
  • Buka komunikasi: Jadilah sumber informasi yang dapat diandalkan bagi anak. Buka ruang untuk bertanya dan berdiskusi tentang topik apapun.
Sikap Orang Tua yang Dapat Menyakiti Anak: Pengaruh Mendalam Terhadap Perkembangan Emosional Anak
Orang tua tak berperan penting dalam perkembangan fisik anak, namun juga perkembangan emosional anak (Sumber gambar: Freepik)

Kesimpulan

Pentingnya peran orang tua dalam membentuk perkembangan emosional anak adalah tidak terbantahkan. Namun, sikap-sikap yang bisa tidak disadari dapat menyakiti perasaan anak dan berdampak negatif dalam jangka panjang. Dengan memahami konsekuensi dari tindakan-tindakan tersebut dan mengambil langkah-langkah untuk membangun hubungan yang positif, orang tua dapat memberikan lingkungan yang mendukung pertumbuhan emosional yang sehat bagi anak-anak mereka. Menghargai, mendengarkan, dan berempati adalah kunci untuk menciptakan ikatan yang kokoh dan menciptakan generasi masa depan yang kuat secara emosional.

Sumber:

Sikap Orang Tua yang Dapat Menyakiti Anak

20 Perbuatan Orang Tua yang Tanpa Disadari Menyakiti Hati Anak, Hindari ya Bun

7 Ucapan Orang Tua Yang Menyakiti Anak

Daftar Akun sekarang untuk mendapatkan 7 hari gratis layanan premium!
Dapatkan akses ke seluruh materi online course dan fasilitas di GuruInovatif.id.


Penulis: Eka | Penyunting: Putra

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Degradasi Kesehatan Mental pada Pendidik Milenial dan Cara Mengatasinya

eprina roganda

Nov 30, 2023
3 min
Media Sosial; Solusi Penguatan Literasi Digital bagi Guru dan Siswa
Jaman Serba Digital, Masih Mau Berprofesi Guru?
Apa itu Neglectful Parenting? Pola Asuh yang Acuh!
2 min
Melawan Bahaya Narkoba: Sejarah, Bahaya, dan Perjuangan - Hari Anti Narkoba Internasional
2 min
Kurikulum Merdeka Belajar, Sebuah Oase Kecil Dalam Gurun Pendidikan Indonesia

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar