Murid Bahagia, Belajar di Kelas Jadi Bermakna - Guruinovatif.id

Diterbitkan 27 Nov 2025

Murid Bahagia, Belajar di Kelas Jadi Bermakna

Artikel ini membahas strategi menciptakan pembelajaran bermakna melalui pendekatan Deep Learning (Meaningful, Mindful, Joyful) dalam Kurikulum Merdeka. Dengan suasana belajar yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan nyata, siswa menjadi lebih termotivasi dan memahami pelajaran secara mendalam

Dunia Pendidikan

Rizal Dhiky Hermawan

Kunjungi Profile
162x
Bagikan

Bayangkan sebuah ruang kelas di mana tawa terdengar sesekali, mata siswa berbinar penuh rasa ingin tahu, dan tangan-tangan mereka teracung aktif untuk bertanya. Suasana ini bukanlah mimpi belaka, melainkan gambaran dari sebuah kelas di mana prinsip Deep Learning (Meaningful, Mindful, dan Joyful) diterapkan. Kebahagiaan di sini bukan sekadar senang sesaat, melainkan perasaan aman, diterima, termotivasi, dan terdorong untuk mengeksplorasi ilmu secara mendalam. Dalam konteks Kurikulum Merdeka, kebahagiaan ini menjadi fondasi untuk mewujudkan Pembelajaran Bermakna dan mengembangkan Profil Pelajar Pancasila.

Mengapa Kebahagiaan dan Deep Learning Sangat Penting?

Penelitian dalam bidang neurosains dan pendidikan telah membuktikan bahwa emosi positif memainkan peran kunci dalam pembelajaran. Otak yang sedang stres, takut, atau cemas akan kesulitan menerima informasi baru. Sebaliknya, otak yang rileks dan bahagia lebih terbuka, kreatif, dan mampu membentuk memori jangka panjang.

Fakta ini semakin krusial mengingat tantangan pendidikan Indonesia. Data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022 menunjukkan bahwa lebih dari 99% siswa Indonesia hanya mampu menjawab soal dengan keterampilan berpikir tingkat rendah (LOTS). Ini mengindikasikan dominannya surface learning (pembelajaran permukaan) di kelas. Penerapan prinsip deep learning yang menitikberatkan pada kebahagiaan dan pemahaman mendalam bukan hanya pilihan, melainkan sebuah keharusan untuk mendongkrak kualitas pendidikan dan menyelaraskannya dengan semangat Kurikulum Merdeka.

Tiga Pilar Kelas Bahagia dan Bermakna: Meaningful, Mindful, dan Joyful

Berdasarkan penelitian Rahmawati et al. (2025) di SD Negeri Socah 3, berikut adalah wujud nyata "kelas bahagia" yang diterjemahkan ke dalam tiga pilar Deep Learning:

1. Joyful learning: Suasana hati yang positif untuk belajar

Pilar ini berfokus pada penciptaan lingkungan belajar yang positif, menantang, dan memotivasi. Ketika siswa menikmati prosesnya, motivasi intrinsik mereka meningkat.

  • Strategi di Kelas:

    • Penggunaan media interaktif seperti word wall dan permainan edukatif berbasis game.

    • Penerapan metode kolaboratif yang memungkinkan siswa belajar sambil bermain dan berkreasi.

    • Pemanfaatan ice breaking singkat untuk mengembalikan fokus dan menghilangkan kejenuhan.

  • Dampaknya: Siswa menjadi lebih antusias, percaya diri, dan memiliki keterlibatan aktif yang tinggi dalam pembelajaran.

2. Mindful learning: Belajar dengan kesadaran penuh

Kebahagiaan juga hadir dari rasa aman dan kesadaran diri. Pilar mindful learning mendorong siswa untuk hadir secara penuh dalam proses belajar, memahami tujuan belajar, dan mampu meregulasi diri.

  • Strategi di Kelas:

    • Melakukan sesi refleksi di akhir pembelajaran, misalnya dengan menuliskan hal baru yang dipelajari dan relevansinya dengan kehidupan sehari-hari.

    • Membangun dialog terbuka antara guru dan siswa.

    • Latihan regulasi diri dan pemberian jeda untuk menjaga fokus.

  • Dampaknya: Siswa menjadi lebih fokus, disiplin, memiliki kesadaran metakognitif (tahu cara mereka belajar), dan mampu mengelola emosi.

3. Meaningful learning: Menghubungkan pelajaran dengan kehidupan

Kebahagiaan muncul ketika siswa merasa bahwa yang mereka pelajari berguna. Pilar ini menekankan pada keterkaitan materi dengan konteks nyata siswa, sehingga pengetahuan tidak hanya dihafal tetapi dipahami dan dapat diterapkan.

  • Strategi di Kelas:

    • Pendekatan kontekstual, seperti mengaitkan materi dengan pengalaman sehari-hari atau kondisi lingkungan sekitar sekolah.

    • Penerapan Project-Based Learning (PjBL). Contohnya, saat belajar fotosintesis, siswa diajak praktek langsung menanam dan mengamati.

    • Asesmen autentik seperti portofolio, jurnal, dan presentasi hasil proyek, yang menilai proses, bukan hanya hasil akhir.

  • Dampaknya: Pemahaman konsep menjadi lebih mendalam, retensi memori jangka panjang lebih kuat, dan siswa melihat relevansi pengetahuan dalam kehidupannya.

Peran Guru sebagai Fasilitator Kebahagiaan

Guru adalah kunci utama dalam mengintegrasikan ketiga pilar ini. Hasil wawancara dengan guru di SDN Socah 3 menunjukkan peran guru yang telah bergeser:

  • Dari ceramah menjadi fasilitator yang “memuliakan murid.”

  • Dari penyedia informasi menjadi perancang pengalaman belajar yang variatif dan menarik.

  • Dari penghakim menjadi pendukung yang membangun hubungan positif, menjadi pendengar yang baik, dan memodelkan sikap antusias serta empati.

Kesimpulan: Bahagia sebagai Jantung Pembelajaran

Menciptakan murid yang bahagia di kelas bukan tentang menghilangkan tantangan. Justru, dengan fondasi meaningful, mindful, dan joyful learning, setiap tantangan dapat dihadapi dengan rasa percaya diri, ketahanan, dan kegigihan. Sebagaimana terbukti dalam implementasi Kurikulum Merdeka, integrasi sinergis ketiga prinsip ini menciptakan pembelajaran yang holistik, humanis, dan berpusat pada peserta didik. Ketika kebahagiaan menjadi jantung proses pendidikan, kita tidak hanya mencetak siswa yang pandai secara akademis, tetapi juga pembelajar sepanjang hayat yang kreatif, adaptif, dan siap menghadapi masa depan dengan optimis. Mari jadikan kelas sebagai taman yang menumbuhkan, bukan sekadar pabrik yang menjejali.

Referensi:

Ausubel, D. P. (1963). The psychology of meaningful verbal learning. Grune & Stratton.

Immordino-Yang, M. H. (2016). Emotions, learning, and the brain: Exploring the educational implications of affective neuroscience. W. W. Norton & Company.

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. (2025). Naskah Akademik Pembelajaran Mendalam: Menuju Pendidikan Bermutu untuk Semua. Pusat Kurikulum dan Pembelajaran.

Rahmawati, L., Nisfah, N. L., Anisa, H. B., & Setyawan, A. (2025). Strategi Penerapan Prinsip Deep Learning (Meaningful, Mindful, Joyful) untuk Mewujudkan Pembelajaran Bermakna dalam Konteks Kurikulum Merdeka di Sekolah Dasar. Jurnal Ilmu Sosial, Ekonomi dan Pendidikan, 1(2), 45–54.

OECD. (2023). PISA 2022 Results: The State of Learning and Equity in Education. OECD Publishing.


Penyunting: Putra

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Kipin School 4.0 Revolusi Pembelajaran Digital di Kelas
0 sec
Contoh Pertanyaan Interview Magang, Simak Tips dan Trik untuk Menjawabnya!

kampus inovatif

Nov 14, 2023
0 sec
Pemerintah Siapkan SMK 4 Tahun dan SMK Go Global, Lulusan Ditargetkan Lebih Siap Industri
0 sec
Mewujudkan Indonesia Emas 2045 Melalui Penerapan P5 Wirausaha “Market Day” Sejak Dini
0 sec
Tips "JARIKU" untuk Kesehatan Reproduksi bagi Disabilitas
Komunitas