Melindungi Pahlawan Tanpa Jubah: Membahas dan Mendukung Kesehatan Mental Guru dalam Pendidikan Modern - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 30 Nov 2023

Melindungi Pahlawan Tanpa Jubah: Membahas dan Mendukung Kesehatan Mental Guru dalam Pendidikan Modern

membahas-dan-mendukung-kesehatan-mental-guru-dalam-pendidikan-modern

Seputar Guru

idris fadillah

Kunjungi Profile
346x
Bagikan

“Guru adalah satu-satunya orang yang kehilangan tidur karena anak orang lain” (Nicholas A. Ferroni). Jika dilihat dari kata-kata bijak tersebut, guru sering kali berada di garis depan, membimbing dan membentuk generasi mendatang dalam mengejar tugas mulia mereka sebagai pendidik (Reinke dkk, 2011). Namun, ruang gerak guru dalam mendidik siswa telah diperluas oleh berbagai tantangan yang kompleks, beban kerja yang meningkat, dan tuntutan profesional yang berat (Reinke dkk, 2011. Muenchhausen, 2021). Hal ini dapat berdampak besar pada kesehatan mental mereka. Karena peran penting guru dalam membentuk masa depan masyarakat, penting untuk memahami, mendukung, dan memprioritaskan kesejahteraan mental guru karena ini berdampak besar pada pengalaman belajar dan perkembangan siswa selain guru itu sendiri (Huang, 2020). 

Kesehatan mental guru sangat penting untuk kesejahteraan pendidikan (Harding dkk, 2018. Huang, 2020). Diperlukan diskusi yang terbuka dan konstruktif tentang hal-hal seperti membuat lingkungan kerja yang mendukung, cara mengelola stres, dan bagaimana komunitas pendidikan dapat bekerja sama untuk membuat platform yang mendukung kesehatan mental guru. Untuk mencapai pendidikan yang inklusif, produktif, dan berkelanjutan, sangat penting untuk memprioritaskan kesehatan mental guru, mengingat perubahan yang terus terjadi dalam dunia pendidikan. Faktor risiko berikut dapat mempengaruhi kesehatan mental guru:

1.Tekanan kerja dan keprofesionalan.

Guru seringkali dihadapkan pada tekanan kerja yang signifikan dan tuntutan profesional yang terus meningkat. Dalam menjalankan perannya sebagai pendidik, mereka bertanggung jawab tidak hanya untuk menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga untuk mengelola administrasi, mengikuti perkembangan kurikulum, dan memastikan kesejahteraan siswa belum lagi kesuksesan guru dilihat dari prestasi individu guru dan juga dari output lulusan siswa (Baker dkk, 2021. Muenchhausen, 2021). Hal ini menuntut guru agar menjadi pembelajar aktif di dalam segala bidang, mulai dari kelengkapan administrasi hingga proses pembelajaran dan pengembangan life skill belum lagi jika terjadi gesekan antara guru dengan siswa hingga sampai berhubungan dengan orang tua siswa yang bisa dikatakan “ngeyel” membela anaknya (Kovess-Masfety dkk, 2007. Harding dkk, 2018). Tuntutan ini selain menciptakan beban kerja yang berat, juga meningkatkan tingkat stres, dan bahkan berkontribusi pada risiko burnout. Selain itu, aspek-aspek eksternal seperti ekspektasi dari orangtua siswa dan tekanan untuk mencapai target hasil belajar juga dapat menambah beban psikologis guru. Beberapa hal yang dijelaskan tersebut membuat generasi  tidak banyak yang berminat terhadap profesi guru. Oleh karena itu, penting untuk memahami dan mengakui dampak tekanan ini pada kesehatan mental guru agar dapat mengembangkan strategi yang efektif untuk mengatasi tantangan ini.

2.Dampak lingkungan 

Lingkungan kerja yang mendukung memainkan peran penting dalam kesehatan mental guru. Faktor-faktor seperti dukungan dari rekan kerja dan kepemimpinan sekolah yang memahami dan mendukung kebutuhan guru dapat menciptakan suasana yang positif. Sebaliknya, konflik interpersonal, lingkungan yang tidak mendukung, atau kurangnya dukungan dari pimpinan dapat meningkatkan stres (Kovess-Masfety dkk, 2007). Oleh karena itu, sangat penting bagi institusi pendidikan untuk memprioritaskan budaya kerja yang mendukung, mendorong kerja sama, dan memberikan ruang bagi guru untuk berbagi pengalaman dan pendekatan untuk mengatasi tantangan pekerjaan. Mungkin bagi guru untuk mengatasi tekanan dan menjaga kesehatan mental mereka jika mereka merasa didukung di tempat kerja mereka (Kovess-Masfety dkk, 2007). Oleh karena itu, sekolah harus mempertimbangkan program pelatihan, kebijakan yang mendukung kesejahteraan guru, tempat diskusi terbuka, dan akses mudah ke sumber daya stres. Untuk membantu guru menjaga keseimbangan antara tuntutan pekerjaan dan kehidupan pribadi mereka, mereka dapat mendapatkan dukungan seperti pelatihan manajemen stres dan konseling. Pimpinan sekolah kadang-kadang tidak menerima dukungan ini, dan gaji guru rendah dibandingkan dengan guru di negara-negara ASEAN.

 

Guru dapat mengalami tanda-tanda stres dan lelah sebagai akibat dari faktor resiko yang mempengaruhi kesehatan mental mereka. Tanda-tanda ini termasuk kelelahan fisik karena jumlah waktu yang mereka habiskan untuk bekerja tidak sebanding dengan tingkat kesejahteraan yang mereka peroleh, kekurangan energi positif karena banyaknya tekanan dari luar diri guru dan pemikiran negatif terhadap diri sendiri, dan penurunan keinginan untuk mengajar karena telah menerapkan berbagai model atau metode dalam mengajar tetapi siswa masih mengabaikannya. Selain itu, perubahan perilaku seperti perasaan keterasingan sosial, ketidakmampuan untuk berkonsentrasi, dan peningkatan irritabilitas dapat menjadi tanda kesehatan mental yang terganggu (Muenchhausen, 2021).

Guru yang mengalami stres berlebih atau burnout mungkin mengalami penurunan kinerja, yang pada gilirannya kesehatan mental guru tidak hanya mempengaruhi mereka secara pribadi, tetapi juga dapat berdampak signifikan pada kualitas pengajaran dan kesejahteraan siswa (Harding dkk, 2018). Guru yang mengalami stres atau burnout mungkin kesulitan memberikan perhatian yang memadai pada kebutuhan belajar dan perkembangan emosional siswa. Kesehatan mental guru yang baik, sebaliknya, dapat menciptakan lingkungan kelas yang positif, mempromosikan hubungan yang sehat antara guru dan siswa, serta meningkatkan kemungkinan kesuksesan akademis (Harding dkk, 2018).

Studi menunjukkan bahwa pendidik yang memiliki kesehatan mental yang baik lebih mungkin menciptakan lingkungan kelas yang ramah dan mendukung (Harding dkk, 2018). Oleh karena itu, mendukung kesejahteraan guru bukan hanya investasi dalam kehidupan mereka sendiri, tetapi juga strategi proaktif untuk meningkatkan pengalaman belajar siswa. Institusi pendidikan dapat mempertimbangkan untuk menawarkan program dukungan kesehatan mental khusus untuk guru serta menciptakan lingkungan di mana guru saling mendukung dan saling memahami. Untuk instansi atau pihak terkait dapat memberikan dukungan yang diperlukan segera, sangat penting untuk mengenali tanda-tanda stress atau burnour pada diri guru dan mengkomunikasikannya dengan orang yang dipercaya atau atasan. Berikut beberapa strategi untuk menjaga kesehatan mental guru:

1.Strategi Koping dan Pemulihan

Strategi koping sangat penting dan berguna untuk menjaga kesehatan mental guru. Ini dapat melibatkan manajemen waktu yang baik, seperti merencanakan dengan bijak, mengakui batasan diri, dan menetapkan prioritas (Harding dkk, 2018). Selain itu, dukungan sosial sangat penting; guru harus merasa nyaman untuk berbicara tentang masalah mereka, dapat berkomunikasi dengan lancar dengan pimpinan mereka tentang masalah dan solusi yang ada, dan mencari dukungan dari rekan kerja atau keluarga mereka. Sekolah juga dapat membantu dengan menawarkan pelatihan kesehatan mental, program kesejahteraan untuk guru honorer, dan lingkungan yang mendorong keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan (Baker dkk, 2021). Metode ini memungkinkan pendidik untuk membangun ketahanan mental yang kuat dan menangani tantangan dengan lebih efektif.

2.Peran Keseimbangan Hidup

Pentingnya menciptakan keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi sangat menonjol dalam menjaga kesehatan mental guru. Guru yang terlalu terfokus pada tugas-tugas pekerjaan mungkin mengalami kelelahan dan stres yang dapat merugikan kesejahteraan mereka dan mempengaruhi kehidupan pribadi para guru (Harding dkk, 2018). Oleh karena itu, perlu diterapkan pendekatan yang memungkinkan guru untuk menetapkan batasan sehat antara waktu kerja dan waktu pribadi. Ini melibatkan kemampuan untuk mengenali kapan harus istirahat, melibatkan diri dalam aktivitas yang menyegarkan, dan memberikan waktu untuk keluarga dan kegiatan non-pekerjaan (Baker dkk, 2021).

Situasi seperti ini, sekolah dan institusi pendidikan memiliki tanggung jawab untuk menciptakan budaya yang mendukung keseimbangan ini. Meningkatkan fleksibilitas, memberikan waktu istirahat yang cukup, dan mendukung kebijakan bekerja yang sehat dapat membantu kesejahteraan mental guru. Selain itu, membuat ruang untuk berbicara tentang strategi keseimbangan hidup, seperti melalui seminar atau kelompok dukungan, juga dapat membantu.

3.Pelatihan dan Sumber Daya Dukungan

Sumber daya dukungan dan pelatihan khusus dapat sangat berguna untuk membantu guru mengelola kesehatan mental mereka dengan baik. Program pelatihan yang berkonsentrasi pada teknik koping, manajemen stres, dan keterampilan interpersonal dapat membantu pendidik memperoleh kemampuan untuk menangani tantangan sehari-hari (Reinke dkk, 2011). Pelatihan ini tidak hanya memberi guru pengetahuan yang berguna, tetapi juga dapat membantu guru menjadi lebih percaya diri dan kuat mental. Sangat penting bagi guru untuk dikembangkan dalam hal keterampilan adaptasi dan ketangguhan mental. Program pelatihan yang mendukung guru dalam menghadapi perubahan, memberikan alat untuk mengatasi kesulitan, dan meningkatkan kepercayaan diri dalam lingkungan pendidikan yang dinamis sangat penting. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa pendidik selalu dihadapkan pada berbagai perubahan di dunia pendidikan, termasuk perubahan pada kurikulum, teknologi, dan teknik pengajaran. 

Sumber daya dukungan, seperti layanan konseling di sekolah atau akses ke jaringan profesional, juga penting. Guru perlu merasa bahwa ada tempat untuk berbicara tentang tantangan yang mereka hadapi tanpa takut akan penilaian. Institusi pendidikan dapat berperan dalam menyediakan sumber daya ini, termasuk akses ke layanan kesehatan mental atau program bantuan karyawan. Melalui investasi dalam pelatihan dan sumber daya ini, lembaga pendidikan dapat membangun lingkungan yang mendukung kesehatan mental guru, memastikan bahwa mereka memiliki alat yang diperlukan untuk sukses dalam peran mereka.

4.Pentingnya Self-Care

Dalam hal menjaga kesehatan mental guru, self-care sangat penting. Guru sering terlalu fokus pada pekerjaan dan kesejahteraan siswa daripada kebutuhan diri sendiri. Melakukan aktivitas self-care, bagaimanapun, sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan hidup dan menghindari kelelahan (Baker dkk, 2021). Ini mencakup aktivitas dasar seperti menjaga kesehatan, tidur dengan cukup, dan mengatur waktu untuk aktivitas rekreasi atau hobi yang menyenangkan.

Sekolah dan lembaga pendidikan dapat membantu mempromosikan self-care dengan membangun budaya yang menghargai dan mendorong guru untuk merawat diri mereka sendiri, melakukan “healing” bersama-sama karyawan satu institusi. Mendorong guru untuk mengenali kebutuhan pribadi mereka, menetapkan batasan sehat dalam pekerjaan, dan memberikan ruang untuk istirahat yang diperlukan dapat membantu mencegah kelelahan dan meningkatkan kesejahteraan secara keseluruhan. Melalui praktik self-care yang konsisten, guru dapat meningkatkan ketahanan mental mereka dan memberikan kontribusi yang lebih baik dalam lingkungan sekolah yang sehat.

5.Peran Dukungan Institusional

Dukungan institusional sangat penting untuk menjaga kesehatan mental guru. Semua tanggung jawab ada pada sekolah dan institusi pendidikan untuk membuat kebijakan dan lingkungan kerja yang mendukung kesejahteraan guru (Kovess-Masfety dkk, 2007; Harding dkk, 2018). Ini dapat termasuk menyediakan program pelatihan kesehatan mental, meningkatkan kesadaran akan masalah kesehatan mental, dan mendorong pendekatan yang membantu orang menemukan keseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi yang sehat. Untuk membantu guru merasa lebih baik, kebijakan sekolah dapat menyediakan waktu untuk refleksi, mentorship, atau bahkan program dukungan psikologis (Baker dkk, 2021). Langkah penting dalam membangun lingkungan yang sehat secara keseluruhan adalah menciptakan lingkungan di mana guru merasa didukung untuk mengatasi masalah kesehatan mental dan tidak ada stigma tentang meminta bantuan. Lembaga pendidikan dapat meningkatkan retensi guru, meningkatkan kualitas pengajaran, dan menciptakan komunitas pendidikan yang inklusif dan peduli dengan memberikan dukungan institusional kepada guru.

6.Pentingnya Dukungan Komunitas

Dukungan dari komunitas sekitar sangat penting. Komunitas pendidikan yang inklusif dan mendukung dapat menawarkan platform untuk berbagi pengalaman, solusi, dan cara untuk mengatasi masalah yang mungkin dihadapi guru (Harding dkk, 2018). Membangun hubungan yang kuat dengan rekan kerja, administrator, dan anggota staf sekolah lainnya dapat memberikan dukungan emosional dan nyata yang sangat dibutuhkan.

Institusi pendidikan dapat membantu membangun komunitas ini dengan mengadakan acara kerja sama, forum diskusi, atau program mentoring. Selain itu, dukungan dari komunitas dapat membantu guru menghindari rasa isolasi, terutama saat menghadapi tekanan pekerjaan atau perubahan besar. Dengan membuat lingkungan yang mendukung, baik di dalam maupun di luar sekolah, guru dapat merasa diakui, didukung, dan memiliki sumber daya yang diperlukan untuk menjaga kesehatan mental mereka.

Selain itu, memahami bahwa perubahan adalah bagian alami dari dunia pendidikan dan mendapatkan dukungan yang tepat untuk membantu guru beradaptasi dapat berdampak positif pada kesehatan mental mereka. Memberikan lingkungan yang mendorong pembelajaran berkelanjutan dan adaptasi dapat membantu guru merasa lebih siap dan mengurangi stres.

Kesimpulannya, mengakui dan mendukung kesehatan mental guru adalah tindakan moral dan langkah yang bijaksana untuk masa depan pendidikan. Kita dapat membantu guru menjaga keseimbangan antara memiliki lingkungan kerja yang mendukung, memiliki sumber daya yang diperlukan, dan mendorong self-care. Oleh karena itu, kita memungkinkan pendidikan yang lebih inklusif, berdaya, dan membantu membentuk generasi yang memiliki potensi yang luar biasa. Dengan menjaga kesehatan mental guru, kita membangun fondasi yang kuat untuk sebuah komunitas pendidikan yang berdaya dan berkelanjutan.

Rujukan

Kovess-Masféty, V., Rios-Seidel, C., & Sevilla-Dedieu, C. (2007). Teachers’ mental health and teaching levels. Teaching and Teacher Education, 23(7), 1177-1192.
Harding, S., Morris, R., Gunnell, D., Ford, T., Hollingworth, W., Tilling, K., ... & Kidger, J. (2019). Is teachers’ mental health and wellbeing associated with students’ mental health and wellbeing?. Journal of affective disorders, 242, 180-187.
Reinke, W. M., Stormont, M., Herman, K. C., Puri, R., & Goel, N. (2011). Supporting children's mental health in schools: Teacher perceptions of needs, roles, and barriers. School psychology quarterly, 26(1), 1.
Baker, C. N., Peele, H., Daniels, M., Saybe, M., Whalen, K., Overstreet, S., & The New Orleans, T. I. S. L. C. (2021). The experience of COVID-19 and its impact on teachers’ mental health, coping, and teaching. School Psychology Review, 50(4), 491-504.
Huang, H., Liu, Y., & Su, Y. (2020). What is the relationship between empathy and mental health in preschool teachers: The role of teaching experience. Frontiers in Psychology, 11, 1366.
Muenchhausen, S. V., Braeunig, M., Pfeifer, R., Göritz, A. S., Bauer, J., Lahmann, C., & Wuensch, A. (2021). Teacher self-efficacy and mental health—their intricate relation to professional resources and attitudes in an established manual-based psychological group program. Frontiers in Psychiatry, 12, 510183.


Penyunting: Putra

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Tips Menjadi Guru Hebat Dalam Mempersiapkan Siswa Menghadapi Era Society 5.0
3 min
GURU BERKEMBANG SISWA PINTAR DENGAN LITERASI DIGITAL
1 min
Pentingnya Menjadi Role Model bagi Siswa
4 min
KIAT GURU BAHAGIA, SEHAT FISIK, DAN MENTAL
Waspada Sindrom Guru Gosong (Burnout Teacher)
3 min
Menjaga Kesehatan Mental Guru melalui Fun Game ( Outbond)

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB