Jaman Serba Digital, Masih Mau Berprofesi Guru? - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 09 Mei 2022

Jaman Serba Digital, Masih Mau Berprofesi Guru?

Adakah yang sedari kecil saat ditanya mau menjadi apa, tanpa ragu menjawab “ingin menjadi guru?”

Refleksi

Nurul Mar'atus Sholihah, S. Pd.

Kunjungi Profile
1558x
Bagikan

Adakah yang sedari kecil saat ditanya mau menjadi apa, tanpa ragu menjawab “ingin menjadi guru?”

Guru – Pekerjaan yang dalam sudut pandang anak kecil saat itu sangatlah keren: Membagikan cerita seru, membuka jendela wawasan, menjadi sahabat sekaligus orang tua di sekolah, membangun ikatan yang erat, memiliki tips belajar menyenangkan, bisa tegas dan santai dengan elegan.

Guru – Pekerjaan yang sepertinya tanpa resiko, berbeda dengan dokter yang bersinggungan dengan hidup pasien, bukan seperti polisi yang siap bertaruh nyawa demi keselamatan warga, tidak juga seperti pebisnis yang harus siap hadapi kerugian.

Guru – Jam kerjanya enak karena mengikuti jam sekolah murid.

Realitanya setelah merasakan sendiri, menjadi guru tak kalah beresikonya dengan profesi lain, tak seenak yang dibayangkan, dan tak selalu terlihat keren. So, beberapa poin tersebut apa masih relevan dijadikan alasan generasi sekarang memilih berprofesi guru? Pun banyak lulusan bergelar “S. Pd” namun menolak jadi guru. 

Mengutip dari mbak @najeelashihab, “Murid dan mahasiswa menurut jurnal penelitian, hanya 3-4% yang ingin jadi guru atau dosen setelah selesai pendidikannya.” Waaah berbeda sekali dengan kondisi masa kecilku dulu. Kira-kira kenapa ya peminat profesi guru semakin menurun?

  1. Pilihan profesi yang kian beragam.

Pilihan profesi kian bervariasi seiring dengan perkembangan teknologi dan kebutuhan. Guru yang notabene menjadi pekerjaan paling bergengsi di era sebelum tahun milenium, untuk saat ini tak lagi sementereng dulu.

  1. Krisis teladan guru sebagai inspirasi di bidang Pendidikan.

Ada juga oknum guru yang memberikan pandangan buruk dimana guru yang harusnya “digugu lan ditiru” malah menjadi tokoh antagonis yang melanggar norma. Murid sepertinya haus akan teladan dari para gurunya. Padahal ilmu paling manjur disalurkan melalui teladan/memberi contoh secara langsung dari tindakan maupun lisan diri sendiri.

  1. Zaman dimana ilmu diperoleh dari mana saja dan siapapun.

Inilah era digital, dimana murid lebih senang mencari jawaban dengan bertanya kepada “Mbah Google”. Guru hanya dijadikan penghasil nilai rapot saja. Miris. Namun guru di kelas semakin tak diharapkan. Murid lebih bergantung pada gadget dan internet.

Bagaimanapun lika-liku guru saat ini, terimakasih untuk para guru yang sudah membersamai masa sekolah muridnya penuh warna dan cerita. Menginspirasi kami terus belajar menjadi sosok guru yang dibutuhkan murid. Karena teknologi tidak akan pernah bisa menggantikan kehadiran guru dalam pembelajaran.

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Peran Literasi Digital dalam Profil Pelajar Pancasila
2 min
Teori Kecerdasan Ganda
3 min
Literasi Tidak Sekadar Baca Tulis
2 min
Apa itu Uninvolved Parenting? Pola Asuh Tidak Ada Ikatan Emosional!
2 min
Mengenal dan Menerapkan Teori Labelling dalam Menciptakan Lingkungan Belajar yang Menyenangkan
3 min
Menelisik Urgensi Bahasa Inggris bagi Tenaga Pendidik
2 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB