Hasan Ismail, S. Pd

Guru Bimbingan dan Konseling

Kunjungi Profil

IPA dan IPS Sama-Sama Hebat

Awal tahun pembelajaran telah datang. Berbeda dengan tingkatan lain, pada Sekolah Menengah Atas (SMA) para siswa sudah diminta untuk menentapkan pilihannya. Bukan hanya sekedar pilihan kelas, namun juga pilihan peminatan. Pilihan peminatan secara garis besar di Sekolah Menengah Atas (SMA) dibagi atas MIPA dan IPS. Meskipun di beberapa sekolah juga ada yang membuka peminatan bahasa. Hal ini kadang kala menyulut konflik di antara anak dan orang tua. Satu sisi Ada harapan anak dan sisi lain ada juga ekspektasi orang tua. Konflik ini tidak akan selesai jika keduanya sama-sama bersikeras terhadap pilihannya. Konflik ini akan berimbas kepada keberlangsungan anak saat dipembelajaran.

Konflik ini bisa berbentuk apa saja. Salah satu yang mungkin kita juga sering mengetahui, ada anak yang ketika di SD dan SMP selalu menonjol baik akademik dan non akademik saat SMA bisa berkebalikan. Cenderung sulit mengikuti pembelajaran dan prestasi akademik dan non akademik biasa saja. Setelah ditelisik ternyata minat jurursannya tidak sesui dengan yang diharapkan. Bisa terjadi karena paksaan dan orang tuanya. Bisa juga muncul karena ikut tren dan teman-temannya. Hal tersebut bisa menjadi hal yang bisa didiagnosa dan dicegah. Karena hasil peminatan di Sekolah Menengah Atas (SMA) akan dijadikan acuan untuk menetapkan siswa masuk MIPA/IPS atau Bahasa. Sehingga selama berada di Sekolah Menengah Atas (SMA) mereka mau tidak mau, suka tidak suka akan berada pada peminatan yang sama hingga lulus.

Siswa bertanggung jawab penuh dalam menajalani pembelajaran selama di SMA. Tidak hanya belajar dan menggali minatnya, tetapi perlu selalu berusaha mencari informasi aktual sebanyak-banyaknya tentang hal-hal yang terkait dengan perwujudan cita-citanya mulai peminatan program SMA maupun di Perguruan Tinggi apabila siswa ingin sukses dalam cita-citanya. Kesalahan dalam memilih program akan sangat merugikan dirinya sendiri. Ketidaksesuaian dengan minat, bakat serta kepandaian yang dimiliki akan membuatnya mengalami banyak kesulitan dan banyak mengalami hambatan ketika proses belajar sedang berlangsung. Siswa perlu menyelesaikan permasalahan itu jika ingin berprestasi dalam setiap tahapan prosesnya. Jika tidak, kegagalanlah yang akan terjadi.

Pada prosesnya calon siswa kelas X akan ditempatkan sesusi dengan peminatannya. Proses peminatan setiap sekolah punya cara tersendiri dalam menempatkan dan mengarahkan peminatan siswanya. Ada sekolah yang menggunakan sistem seleksi, tes minat bakat, angket harapan anak dan orang tua, serta analisis rapor SMP untuk mengetahui kecenderungan anak. Hingga pada akhirnya munculah putusan final siswa masuk dalam peminatan MIPA/IPS/Bahasa. Setelahnya mereka akan menjalani pembelajaran sesuai peminatannya masing-masing hingga mereka lulus. Seluruh siswa akan bersaing baik bidang akademik dan non akademik demi mempersiapkan lagi untuk jenjang selanjutnya.

Demi menempatkan sesuai bidang dan minat siswa di awal kelas X, perlu adanya informasi sedini mungkin.  Informasi berkaitan peminatan di Sekolah Menengah Atas (SMA) bisa dimulai pada jenjang sebelumnya. Karena akan sangat terlambat ketika siswa masuk kelas X dan baru akan memutuskan peminatannya. Orang tua, siswa dan sekolah sudah mulai bekerja sama dalam menggali minat siswa. Menyiapkan beberapa opsi dalam peminatannya. Dengan adanya kesiapan dan kemantapan siswa dalam peminatannya mau dalam jurusan apapun siswa akan siap dan sudah mempunyai gambaran kedepannya. Karena di pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) ada jenjang selanjutnya yang masih berkesinambungan yakni di Perguruan Tinggi. Perlu persiapan yang matang dan opsi-opsi lain agar karier pendidikan di SMA sukses, karier di Perguruan Tinggi sukses dan karier pekerjaan sukses. Maka telitilah bakat, minat dan kepandaian siswa cenderung ke program apa, fakultas serta jurusan mana yang cocok dengan diri siswa yang paling tahu adalah siswa itu sendiri. 

Beberapa paradigma tentang peminatan MIPA dan IPS. Pertama, yang paling mencolok pasti karena peminatan IPA dianggap lebih bergengsi ketimbang peminatan IPS. Saking bergengsinya banyak siswa yang memaksakan dirinya masuk peminatan IPA padahal potensinya di IPS. Kedua, Ada anggapan bahwa siswa yang berada di peminatan MIPA berpeluang lebih sukses dibanding IPS. Ketiga, siswa MIPA dianggap ahli hitung dan IPS hanya bisa hafalan. Dan mungkin masih banyak paradigma yang bermunculan di luaran. Hal tersebut memunculkan kotak-kotak yang menjadikan kesenjangan dan akan selalu membudaya apabila tidak segera dihentikan.

Kita mungkin sering melihat tokoh hebat muncul di berbagai media massa. Apakah itu dari televisi, radio, atau koran. Sebagian orang mungkin hanya tahu masa sekarang tanpa melihat perjuangannya. Mungkin kita bisa bayangkan, apakah kita bisa meihat Ibu Sri Mulyani apabila dulu beliau mengambil jurusan di MIPA?. Apakah kita akan bisa mengetahui ketenaran seorang Bapak Hotman Paris jika beliau dulu memaksakan dirinya masuk jurusan kedokteran?. Semua sudah punya garis masing-masing. Beliau semua yang hebat di masanya adalah mereka yang benar dalam mendalami dirinya, tidak menyerah dengan takdir dan  meremehkan suatu hal. Perlu kita ubah mind set yang ada dengan yang baru.

Peminatan IPS sama hebat dan sama kerennya dengan jurusan IPA. Tidak ada ketimpangan antara kedua pemianatan ini. Bila nantinya siswa sudah ditempatkan sesuai dengan jurusannya maka jalanilah dengan penuh tanggup jawab dan rasa senang. Misalnya siswa sudah dijuruskan ke jurusan IPS ikuti dan jangan mengadakan negosiasi dengan guru di sekolah agar dapat dijuruskan ke program IPA begitu sebaliknya. Karena memang jika sudah ada keputusan itu maka ada banyak aspek yang sudah dipertimbangkan dari sekolah. Semua opsi sudah dianalisa sedemikian rupa yang pada akhirnya melihat kemenonjolan siswa pada setiap kecenderungan. 

Peminatan IPS sama hebat dan sama kerennya dengan jurusan IPA. Berkreasi dan berkaryalah sesuai dengan keahlian itu. Jangan minder dengan hasil kreasi dan karya Anda. Pamerkan dengan optimis, siapa tahu Anda merupakan pencetus sebuah teori baru yang belum pernah diciptakan orang. Ingat Thomas Alpa Edison sebelum menciptakan hasil karyanya: ia selalu dihina, dicemoohkan orang karena melakukan percobaan karya barunya ratusan kali gagal, setelah beberapa ribu kali ia melakukan uji coba barulah berhasil. Kemudian dunia mengakuinya sebagai seorang yang hebat! Sangatlah mungkin Anda menjadi Thomas Alpa Edison atau Einstein zaman ini! Kuncinya adalah jangan takut mencoba dan berkarya serta jangan putus asa karena dihina. Jadikan hinaan orang sebagai cambuk untuk Anda maju melesat!

Peminatan IPS sama hebat dan sama kerennya dengan jurusan IPA. Seperti halnya baju, bukan model dan merk bajunya yang menjadikan tampilan menjadi keren tetapi juga siapa yang mengenakannya. Perlu segera dihilangkapn stereotype bahwasannya MIPA itu lebih bagus darapida IPS. Dalam kemampuan berhitung sebenarnya bisa dibilang sama saja. Hanya objek yang menjadi bahan hitungan yang membedakan. Dari kemampuan menghafal juga tidak melulu siswa IPS yang selalu unggul, dalam pelajaran MIPA juga ada hafalan. Kembali lagi hanya objeknya yang membedakan. 

Peminatan IPS sama hebat dan sama kerennya dengan jurusan IPA. Selama ada doktrin dari berbagai pihak maka akan selalu ada kesenjangan antara IPA dan IPS. Sebenarnya yangdibutuhkan adalah dengan merefleksi diri dan mencoba menggali potensi diri. Siswa perlu untuk diajak menggali potensinya apabila nantinya sudah dikelompokkan sesuai peminatannya. Jelaslah bahwa memahami potensi diri itu sangatlah penting dan memang perlu diupayakan oleh semua siswa. Sebab dengan memahami dan mengetahui potensi atau talenta yang dimiliki itu, siswa dapat membantu untuk meningkatkanproduktifitas belajar dan menyerap ilmu.  Siswa akan lebih baik lagi menyelesaikan setiap tugas-tugas, mampu menemukan ruh kesenengan dalam menjalani aktivitas sehari-hari selama masa Sekolah Menengah Atas (SMA). Namun, yang perlu dingat adalah potensi itu bukanlah sebuah produk atau barang yang sudah jadi. Potensi atau talenta tersebut meruapakan hasil atau produk dari pengalaman belajar dan pengalaman hidup kita sehari-hari selama berada di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mulai dengan menyukai yang telah didapatkan.

IPAIPS
Komentar (2)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

Aidah Amaliah
3 bulan yang lalu

semangat pak hasan


Abdullah Alhamid
3 bulan yang lalu

semangatt terusss ustadz!!!