Adhe Yogi Irawan

Guru mapel

Saya guru yang senang memambah ilmu pengetahuan.

Kunjungi Profil

TRIK “MAGER” UNTUK MENJAWAB TANTANGAN KURIKULUM MERDEKA

TRIK “MAGER” UNTUK MENJAWAB TANTANGAN KURIKULUM MERDEKA 

Oleh : Adhe Yogi Irawan S.Pd

Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek),Nadiem Anwar Makarim pada 11 Februari 2022 telah meluncurkan kurikulum baru yang dikenal dengan sebutan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini merupakan pengganti kurikulum prorotipe, dengan jargon utamanya adalah Merdeka Belajar. Merdeka Belajar sendiri merupakan suatu pendekatan yang dilakukan agar para peserta didik bisa mengoptimalkan bakatnya dan bisa memberikan sumbangan terbaiknya dalam berkarya bagi bangsa.

Implikasi dari kurikulum merdeka tersebut tentu berimbas pada kondisi di sekolah yang menempatkan proyek dan berkarya menjadi proritas utama. Salah satunya buktinya adalah hampir semua mata pelajaran memiliki jam khusus untuk membuat proyek dan berkarya, contohnya pelajaran Bahasa Indonesia di kurikulum 2013 terdiri dari 4 jam pembelajaran tanpa ada pemisahan, maka saat ini di kurikulum merdeka diubah menjadi 3 jam pembelajaran dan 1 jam khusus membuat proyek atau berkarya. Begitu pula dengan mata pelajaran lain, hal tersebut tercermin pada draf kurikulum yang diluncurkan di laman https://www.kemdikbud.go.id. Tujuan utama perubahan jam pembelajaran tersebut adalah memberikan ruang literasi peserta didik agar mampu membuat karya terbaik dengan memaksimalkan bakat yang dimilikinya.

Dalam rangka menjawab tantangan kurikulum merdeka tersebut, ada sebuah program yang saya canangkan dan bersinergi dengan semangat kurikulum merdeka yaitu sebuah program bernama “One Class One Book”, di mana dengan program tersebut setiap kelas diharapkan mampu berkarya dengan membuat atau menerbitkan buku baik secara individu maupun dalam bentuk antologi. Program tersebut sebenarnya telah diterapkan jauh sebelum kurikulum merdeka dilaunching, yakni semenjak tahun 2017 dengan harapan agar mampu menumbuhkembangkan semangat berkarya dan literasi sehingga menjadikan peserta didik mau dan termotivasi untuk berkarya utamanya dalam bidang sastra. Seiring berjalannya waktu, program tersebut terbukti mampu memberikan motivasi berkarya bagi peserta didik dengan melahirkan penulis-penulis baru yang kompeten, dan telah menghasilkan puluhan karya sastra dari peserta didik. 

Dalam proses pembelajaran, penerapan program “One Class One Book” tersebut harus diimbangi dengan trik-trik pembelajaran yang tepat agar peserta didik mampu berkarya dengan penuh semangat sehingga memberikan hasil terbaik. Trik pembelajaran yang diterapkan dalam program “One Class One Book” tersebut bernama “MAGER” (Motivasi, Apresiasi, Guru inspirasiku, Ekspresikan diri, dan Reward) yang namanya disesuaikan dengan bahasa gaul anak remaja saat ini agar lebih masuk dalam persepsi peserta didik. Untuk mengenal lebih jauh tentang trik “MAGER” berikut akan diuraikan secara rinci:

Pertama, Huruf  pertama dari kata “MAGER” adalah M yang  berarti Motivasi. 

Motivasi merupakan Langkah awal untuk menggerakan minat peserta didik dalam berkarya sastra. Motivasi yang dilakukan harusnya mengambil contoh dari orang yang terdekat dengan peserta didik agar memperoleh gambaran secara langsung. Dalam hal ini saya memberikan contoh alumni-alumni dari sekolah kami yang berhasil dalam bidang tulis-menulis, di antaranya Vita Ratna Sari yang telah menerbitkan novel berjudul “Exlown” tahun 2021 dan Best Seller. Selain itu, ada pula Zulva yang di tahun 2019 berhasil memenangkan lomba penulisan hingga akhirnya mendapatkan hadiah berupa Pelatihan Menulis selama 2 minggu di Turki. Selain itu, contoh alumni-alumni lainnya pun juga saya ceritakan sebagai motivasi dan terbukti mampu menumbuhkan semangat berkarya dari peserta didik di sekolah kami.

Kedua, huruf kedua dari kata “MAGER” adalah A yang berarti Apresiasi. 

Apresiasi merupakan suatu kewajiban bagi penyelenggara pendidikan, agar karya peserta didik mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari sekolah. Hal tersebut akan berdampak pada kebanggaan dan rasa percaya diri pada diri peserta didik. Penghargaan tersebut bisa dilakukan dengan hal sederhana seperti  launching buku oleh Bapak Kepala Sekolah, serta menempatkan buku hasil karya peserta didik di rak “new release” perpustakaan, atau disertakan dalam setiap pameran pendidikan yang diikuti oleh sekolah. 

 

Ketiga, Huruf  ketiga dari kata “MAGER” adalah G yang berarti “Guru Inspirasiku”. 

Ada pepatah yang mengatakan bahwa “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Pepatah itu dapat diartikan bahwa guru harus mampu memberikan keteladanan dalam berkarya sebelum meminta peserta didik untuk berkarya. Hal tersebut perlu dilakukan agar peserta didik mendapatkan contoh langsung dari gurunya, sehingga peserta didik semakin yakin dalam berkarya dengan menjadikan gurunya sebagai inspirasinya. Konsep tersebut sejalan dengan trilogi Ki Hajar Dewantara “Ing Ngarso Sung Tulodo” yang artinya seorang guru harus menjadi contoh terdepan bagi peserta didik. Dalam program “One Class One Book” ini saya memberi contoh melalui beberapa buku yang sudah saya terbitkan. Bahkan, salah satu buku saya telah mendapatkan kata pengantar dari Prof. Dr. Muhadjir Effendi M.AP (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Tahun 2016-2019). Selain itu, pada  tahun 2021 buku saya yang berjudul “Sang Pelukis Masa Depan” mendapatkan Apresiasi langsung dalam Awarding kategori buku Terinspiratif Bidang Pendidikan yang diserahkan langsung oleh Dr. Lilik Sulistyowati M.Si selaku Direktur UPBJJ UT Malang .

 

Keempat, huruf keempat dari kata “MAGER” adalah E yang berarti “Ekspresikan diri”. 

Kegiatan menulis bukan hanya sekedar berkarya semata, namum dengan menulis akan mampu mengeluarkan segala keresahan hati, sehingga sangat tepat diterapkan kepada peserta didik sebagai sarana mengungkapkan perasaan, emosi, serta kegundahan hati melalui wadah yang positif. Hal tersebut sejalan dengan penelitian dari Sunarko, dkk (2018) dalam jurnal penelitiannya yang berjudul Pengaruh “Expressive Writing Therapy terhadap Penurunan Depresi, Cemas, dan Stres pada Remaja”. Dalam jurnal tersebut dijelaskan bahwa Expressive Writing Therapy (terapi yang menggunakan aktivitas menulis) dapat menjadi “Self Healing” bagi Remaja. Terapi semacam ini juga pernah dilakukan oleh tokoh ternama Indonesia, yakni BJ. Habibie. Seperti yang pernah diungkapkan BJ. Habibie dalam suara.com, bahwa beliau pernah merasa sangat sedih sepeninggal Ibu Ainun dan dokter waktu itu mengatakan bahwa Habibie mengalami depresi atau gangguan psikologis yang disebut juga psikosomatik malignant. Ini adalah penyakit kejiwaan karena kehilangan seseorang yang begitu dekat. Habibie bisa sembuh setelah dokter menuntunnya menulis perasaannya menjadi suatu karya buku selama 2,5 bulan lamanya. Pada akhirnya buku dengan judul “Habibie & Ainun” tersebut mampu menyembuhkan B.J Habibie, sekaligus juga menjadi buku best seller dan diangkat dalam layar lebar.  Dari pemaparan di atas, kita sebagai pendidik harus mampu menjelaskan dan memberikan pemahaman bahwa betapa pentingnya menulis, dengan menulis kita akan mampu mengungkapkan dan meluapkan perasaan, kesedihan dan emosi untuk proses penyembuhan diri sendiri atau “Self Healing”.

Kelima, trik yang terakhir dari kata “MAGER” adalah R yang artinya Reward. 

Dalam dunia pendidikan kita mengenal reward dan punishment yaitu penghargaan dan hukuman sebagai salah satu cara dalam proses pembelajaran. Apabila anak melakukan kesalahan tentu ada hukuman sebagai bentuk dari tanggungjawab peserta didik. Begitu juga sebaliknya, ketika peserta didik melakukan sesuatu yang baik atau membuat suatu karya maka sepatutnya pendidik memberikan reward atau penghargaan sebagai bentuk apresiasi atas usaha peserta didik. Penghargaan tersebut bisa berupa hadiah ataupun sekedar pujian. Dalam program “One Class One Book” ini, peserta didik akan mendapatkan reward atau hadiah dengan kategori sebagai karya terbaik dan karya termotivasi. Reward tersebut diberikan untuk menumbuhkembangkan semangat berkarya lebih baik lagi sekaligus menjadi pelecut semangat peserta didik untuk terus berkarya.

Semoga  dengan trik “MAGER” pada program “One Class One Book” tersebut  diharapkan mampu menjawab tantangan kurikulum merdeka yang menitikberatkan pada karya anak bangsa dan dapat diterapkan di sekolah-sekolah lain di Indonesia. Selain itu, trik “MAGER” ini diharapkan mampu menyiapkan generasi terbaik bangsa untuk menciptakan karya sastra yang berkualitas sekaligus mampu melahirkan penulis-penulis baru yang handal dan berintelektual cerdas. 

Salam Literasi!

 

@Guruinovatif.id
Komentar (25)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

Novareza Fariz Saputra
1 minggu yang lalu

Sangat membantu 😍


Sujarwo S.Pd, M.Pd
1 minggu yang lalu

Trik yang bisa saya aplikasikan disekolh yang saya ajar...terima kasih inspirasinya...


Ananda Riski Aji Putra
3 minggu yang lalu

Wow emezing good job :)


angga smangat
1 bulan yang lalu

Istimewa. Inspiratif.


Nurina Putri Manggiasih, S.Pd.
1 bulan yang lalu

Setelah membaca artikel ini, hati saya terketuk bahwa benar dan sangat inspiratif apa yang telah disampaikan Pak Adhe dalam tulisannya. Insyaallah sangat bermanfaat untuk banyak orang, termasuk saya. Terima kasih, Pak, semoga sukses. Aamiin


ARIF FIRMANSYAH
1 bulan yang lalu

Mantap smg lolos dan juara Mr. Adee


Velany Kharin Dwisuwarni
1 bulan yang lalu

Artikel yang sangat bermanfaat juga menginspirasi, semoga menjadi yang terbaik, aamiin🙏


Masti'ah
1 bulan yang lalu

Mantaabbb pak adhe.. luaarrr biassaa .. sucses selalu.. sangat menginspirasi.. mudah2an bermanfaat bagi banyak orang.. aamiin


SUMINO, S.Pd., M.Pd
1 bulan yang lalu

Sangat menginspirasi dan memotivasi kpd para siswa dan teman-teman guru yang lain. Semoga dg program ini dapat melahirkan penulis-penulis handal


Nur cahyo Hadisunariyo, S. Pd
1 bulan yang lalu

Mantap! Lanjutkan!