MIRINGNYA PENDIDIKAN KITA - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 15 Jul 2022

MIRINGNYA PENDIDIKAN KITA

Lagi-lagi ada kasus yang mencoreng pendidikan kita. Sepertinya tidak pernah ada henti-hentinya persoalan menyelimuti pendidikan kita. Jika tidak persoalan dari dalam, ada masalah terkait kekerasan terhadap siswa yang dilakukan guru,  dan yang dilakukan wali murid terhadap guru. Selanjutnya baru-baru ini masih ada saja didapati hukuman fisik terhadap siswa kita. Mereka terlambat masuk sekolah, lalu diberi hukuman fisik di bawah guyuran hujan deras. Akhirnya membuat mereka tumbang pingsan dan harus menjalani perawatan di puskesmas dan rumah sakit.

Berita

Fatmawati Ode. S,Pd

Kunjungi Profile
850x
Bagikan

Lagi-lagi ada kasus yang mencoreng pendidikan kita. Sepertinya tidak pernah ada henti-hentinya persoalan menyelimuti pendidikan kita. Jika tidak persoalan dari dalam, ada masalah terkait kekerasan terhadap siswa yang dilakukan guru,  dan yang dilakukan wali murid terhadap guru. Selanjutnya baru-baru ini masih ada saja didapati hukuman fisik terhadap siswa kita. Mereka terlambat masuk sekolah, lalu diberi hukuman fisik di bawah guyuran hujan deras. Akhirnya membuat mereka tumbang pingsan dan harus menjalani perawatan di puskesmas dan rumah sakit.

Melihat kasus tersebut, tentu masyarakat kita tidak akan terima alasan apa pun dari pihak sekolah. Kasus ini, tentu menjadi tambahan untuk deretan persoalan pendidikan kita. Bagaimana akan maju dan berkualitas sesuai cita-cita pendidikan nasional kita, jika masih saja ada hambatan-hambatan. Pastinya segala hal yang merugikan bagi siswa, guru, sekolah, bahkan bagi masa depan pendidikan kita.

Apa pun alasannya, segala bentuk kekerasan, baik verbal maupun fisik, tak seharusnya dilakukan oleh pengelola sekolah. Sekolah yang tentunya diidamkan bagi siswa sebagai tempat menuntut ilmu, bersosialisasi, berproses kreatif, menemukan jati diri, dan tentu sebagai ruang menjalani proses pendewasaan. Namun, jika masih saja ada suatu hal yang seperti kasus tindak kekerasan di sekolah tersebut. Maka, pendidikan di benak anak didik kita akan menjadi tempat yang membosankan, keras, dan menakutkan.

Butuh Pendidikan Ideal

Masyarakat kita, orangtua murid, barang tentu anak didik kita, sangat butuh pendidikan yang ideal. Seperti halnya yang dicatat Sutari Imam Barnadib (1983), bahwasanya Ki Hajar Dewantara dalam Taman Siswa selalu menitik-beratkan pendidikan yang bertumpu pada pertumbuhan anak didik secara harmonis.

Pendidikan kecerdasan, pikiran, kesusilaan, keindahan, dan keluhuran budi pekerti. Tidak lupa pula terkait pertumbuhan dan perkembangan jasmani. Juga pekerjaan tangan (keterampilan) mendapatkan perhatian, termasuk pendidikan kesenian yang mendapat perhatian istimewa, di antaranya seni suara, seni tari, seni lukis, seni sastra. Meskipun, segala itu perlu penggenjotan terus-menerus.

Laku harmonis dalam pendidikan, keselarasan dalam mensukseskan rencana dan cita-cita pendidikan, tentu yang utama menjadi tanggung jawab bagi pengelola sekolah. Lebih-lebih bagi nakhoda sekolah, yang tentu bertugas memegang komando tertinggi di atas kapal pelayaran pendidikan.

Kita semua pasti juga telah sadar. Masyarakat kita sadar. Bagaimana kondisi anak didik kita sekarang ini. Pola pikir dan segenap pemahamannya tentu berbeda dengan masa-masa anak didik yang hidup pada era 1980 atau 1990. Anak didik kita saat ini seakan merasa telah memiliki banyak pilihan. Segalanya seakan telah terpenuhi, dan dengan mudah mereka peroleh. Apa lagi era cyber seperti sekarang ini. Interaksi mereka terhadap teman sepergaulan, komunitas anak muda, bahkan terhadap dunia luar, segalanya dapat ditempuh hanya dalam hitungan detik.

Informasi tumbuh dan berlangsung dengan begitu cepat. Tentu, segala itu membuat anak didik kita seakan kehilangan kendali, jika memang misalnya, lingkungan tertentu kurang berpihak atau mungkin kurang menyenangkan baginya. Maka selanjutnya, anak didik kita akan mengambil keputusan tanpa berpikir panjang. Tidak peduli yang dilakukannya berdampak positif atau negatif.

Memberi “Nilai Lain”

Terkait berderet penggambaran tersebut, sekolah yang dalam hal ini sebagai ruang berproses bagi anak didik kita. Maka, haruslah berupaya atau bahkan harus mampu menciptakan segala yang dibutuhkan anak, agar sekolah mendadi ruang menjalani proses pendidikan yang harmonis tadi.

Paling tidak, kepala sekolah sebagai nakhoda harus memberikan contoh positif. Mampu memberikan kebijakan atas tawaran yang menarik terhadap anak-anak didiknya. Harus sanggup memberikan ‘nilai’ lain, selain proses mengguyur materi pelajaran semata. Sekolah harus memompa penciptaan godaan bagi anak didiknya. Misalnya yang sempat disinggung tadi, terkait penyediaan ekstrakurikuler jasmani dan kesehatan (olahraga), kesenian, atau keistimewaan dukungan terhadap beragam kegiatan positif lainnya.

Setidaknya, godaan tersebut akan menjadi rangsangan lain, agar siswa merasa betah berproses di sekolah. Dengan adanya kegiatan-kegiatan tersebut, paling tidak akan mengurangi aktivitas mereka di luar sekolah yang kiranya tidak bermanfaat. Kali ini, sekolah perlu mempertimbangkan iklim kegiatan positif bagi segenap anak didik dengan berbagai perlakuan istimewanya. Bukan malah membatasi atau malah melarang mereka. Maka yang berkembang saat ini, sekolah-sekolah sudah mulai berlomba-lomba dalam memberikan godaan atas penyediaan ekstrakurikulernya. Baik ekstra olahraga, kesenian, maupun tawaran aktivitas positif lainnya.

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

4 Fakta mengenai Hari Museum Internasional
2 min
Mendapat 1jt dengan Afiliasi GuruInovatif !
1 min
SKB 4 Menteri Atur Jam Belajar PTM
2 min
Menggunakan Media Sosial Instagram Sebagai Sarana Pembelajaran Siswa SMA

Fardan Mubtasir

Jul 31, 2022
4 min
Mengenal Sejarah, Tema, dan Makna Penting Hari Pendidikan Internasional
4 min
Literasi digital Bagi Milenial dan Gen Z
3 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar