Hindari Burnout Dengan Restitusi - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 30 Nov 2023

Hindari Burnout Dengan Restitusi

Stres pada guru terkadang diciptakan oleh guru itu sendiri. ilusi bahwa guru merupakan pengontrol murid menjadi hal yang melekat, sehingga ketimpangan ini menjadikan guru merasa tertekan saat tidak bisa mengontrol muridnya. padahal teori kontrol menyebutkan bahwa kendali ada pada diri sendiri.

Seputar Guru

Nur Trianingsih

Kunjungi Profile
632x
Bagikan

“Sampai kita bisa mengatur waktu, kita tidak bisa mengatur hal-hal lain.” 

Kutipan dari Peter F Drucer ini menjadi pemaantik bagaimana kita bisa melakukan banyak hal dengan menaklukkan waktu. Dengan waktu yang sama setiap orang akan menghasilkan sesuatu yang berbeda. Modal utama yang dimiliki oleh semua orang ini menjadi pemicu terganggunya kesehatan mental manakala tidak dikelola dengan bijak. Waktu yang berlalu dengan cepat, pekerjaan yang menumpuk, pressure dari pimpinan yang begitu kuat merupakan beberapa hal penyebab burnout atau stres pada guru sehingga mental health menjadi rapuh.

Sekolah Institusi Moral

sekolah sebagai intitusi moral memiliki andil yang besar dalam membentuk dan menjaga kesehatan mental guru-gurunya. Guru dan murid menjadi pelaku utama yang saling berinteraksi bahu membahu menjalin chemistry untuk mencapai tujuan bersama. hubungan keduanya tak selalu harmonis bahkan sering muncul gap yang dalam dan curam sehingga terdapa celah yang menyebabkan terganggunya mental health guru, bahkan murid 

Parubahan paradigma

Tingkah laku murid yang tidak sesuai harapan menjadi salah satu pemicu burnout pada guru. penerapan disiplin yang kaku justru membuat murid menjadi semakin membangkang. Murid cenderung patuh hanya saat ada yang mengawasi. Motivasi untuk mematuhi disiplin hanya berupa motivasi insrinsik. penerapan disiplim yang seperti ini tentu tidak akan banyak berdampak pada kondisi lingkungan belajar di sekolah bahkan hanya bisa berperan sebagai pengekang kebebasan. paradigma berpikir bahwa guru adalah orang yang bisa mengontrol murid perlu dirubah. teori kontrol Dr. William Glasser menyebutkan bahwa kita tidak bisa mengontrol perilaku orang lain, hanya diri k ita yang bisa mengontrol kita sendiri. 

Dalam teori kontrol dijelaskan bahwa terdapat beberapa miskonsepsi yang perlu diluruskan yaitu, guru dapat mengontrol murid, walaupun pada kenyataanya terlihat seperti guru mengontrol murid namun sejatinya muridlah yang memiliki kendali penuh atas dirinya. Mereka melakukan hal yang mereka inginkan. Teori kontrol menyatakan bahwa semua perilaku memiliki tujuan, bahkan terhadap perilaku yang tidak disukai. 

Budaya positif 

sebagai guru agar kesehatan mental tetap bagus dan terhindar dari berbagai gangguan mental kita perlu menerapkan budaya positif di sekolah. Budaya positif di sekolah adalah perwujudan dari nilai-nilai atau keyakinan universal yang diejawantahkan ke dalam kebiasaan sehari-hari para warganya di lingkungan sekolah, sehingga terbentuk suatu lingkungan positif yang aman dan nyaman untuk bertumbuh. (Modul GP Dasus 1.4) dengan kondisi seperti ini sekolah akan menjadi tempat nyaman sehingga kewaraasan tetap terjaga. 

Nilai-Nilai Kebajikan universal 

Diane Gossen (1998) mengemukakan bahwa dengan mengaitkan nilai-nilai kebajikan yang diyakini seseorang maka motivasi intrinsiknya akan terbangun, sehingga menggerakkan motivasi dari dalam untuk dapat mencapai tujuan mulia yang diinginkan. 

Motivasi instrinsik yang terbangun ini yang diharapkan dapat tercermin dalam menjalankan nilai-nilai kebajikan yang sudah diyakini. Dalam dunia Pendidikan Indonesia salah satu nilai yang diyakini dan akan diwujudkan adalah profil pelajar Pancasila. Yang terdiri dari beriman, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia, mandiri, bernalar kritis, berkebinekaan global, bergotong royong, dan kreatif.

Restitusi 

Salah satu yang membuat guru sering stress adalah kondisi murid yang diharapkan tidak terjadi. Saat hendak mengajar tentu seorang guru berharap bahwa muridnya akan mendengarkan mencatat dan paham dengan apa yang diharapkan sehingga tujuan pembelajaran bisa tercapai. Namun apakah selalu berlaku demikian? Jawabnya tentu tidak bahwa setiap murid juga memiliki tujuan dan keinginan sendiri sehingga kadang bertentangan dengan keinginan guru. 

Mereka sering membuat gaduh dikelas karena kebutuhan diperhatikan, sering melawan karena butuh membela diri. Disaat seperti ini hukuman tentu tidak bisa diterapkan jika tidak ingin menambah konflik baru dalam penyelesaian masalah. Saatnya menciptakan kondisi lingkungan belajar yang nyaman dengan restitusi sebagai solusi dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Restitusi adalah proses menciptakan kondisi bagi murid untuk memperbaiki kesalahan mereka, sehingga mereka bisa kembali pada kelompok mereka, dengan karakter yang lebih kuat (Gossen; 2004). 

Dalam restitusi kita bisa belajar secara kolaboratif untuk menyelesaikan masalah, memahami sebenarnya apa yang kita inginkan, dan bagaimana kita bisa memperlakukan orang lain. Mengapa harus restitusi? karena restitusi bukanlah cara menebus kesalahan namun cara untuk belajar dengan kesalahan. Restitusi juga dapat berfungsi untuk memperbaiki hubungan, setiap murid yang melakukan kesalahan akan Kembali ke kelompoknya dengan identitas diri yang semakin kuat. Alasan berikutnya adalah karena restitusi merupakan sebuah tawaran bukan paksaan. Tahapan untuk melakukan restitusi diawali dengan menstabilkan identitas (tabilize the Identity), yang kedua validasi tindakan yang salah (validate the misbehavior). Menyakan keyakinan (Seek the Belief)

Korelasi Restitusi dengan mental health guru

Restitusi sebagai cara menyelasaikan masalah bisa diadobsi oleh semua guru. Keterampilan melakukan restitusi terhadap murid yang bermasalah akan mendatangkan ketenangan jiwa bagi guru. Jiwa akan merasa lebih lapang dan memiliki penguatan diri yang lebih positif. Setiap murid tidak akan kembali kepada kelompok dengan identitas yang gagal namun kembali dengan identitas yang lebih kuat. Restitusi tidak bersifat memaksa namun sebuah tawaran, dengan restitusi kita bisa belajar dari kesalahan. Proses restitusi ini akan semakin medewasakan cara berpikir sehingga terhindar dari burnout yang mungkin muncul selama melakukan pembelajaran di kelas maupun di sekolah. Selamat berestitusi. 


Penyunting: Putra

16

0

Komentar (16)

edi susilo

Dec 02, 2023

Tulisan yang sangat menginspirasi Bu... Sukses selalu

Nur Trianingsih

Dec 03, 2023

Terimakasih pak Edi

Balas

Nana Riyanti

Nov 30, 2023

Sangat menginspirasi sekali Bu Tria ,suskes selalu .

Nur Trianingsih

Dec 03, 2023

Terimakasih bu NAna

Balas

YULIANTI YULIANTI

Nov 30, 2023

Tulisan yang sangat inspiratif bu Tria, Restitusi memang sangat relevan diterapkan sebagai salah satu solusi untuk membangun iklim positif di lingkungan sekolah. Dengan restitusi guru dapat terhindar dari burnout. sukses dan sehat selalu ibu :-)

Nur Trianingsih

Dec 03, 2023

Terimkasih bu Yuli

Balas

Lihat Komentar Lainnya

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Kurikulum Merdeka vs Kurikulum 2013, Mana yang Lebih Baik?
2 min
Resiliensi Kesehatan Mental Guru
Kalender Pendidikan 2023: Peningkatan Kualitas Pendidikan Melalui Jadwal yang Lebih Baik
2 min
Cara Mudah Mengkomunikasikan Pembelajaran kepada Murid
Tips Menjaga Kesehatan Mental Guru

Devita Sri. S. Pd

Nov 30, 2023
3 min
Menulis Memoar : Upaaya Mental Tidak Ambyar
3 min

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB