Dari Kelas ke Panggung Prestasi : Sentuhan Guru yang Mengubah Siswa Jadi Kompetitor - Guruinovatif.id

Diterbitkan 27 Apr 2026

Dari Kelas ke Panggung Prestasi : Sentuhan Guru yang Mengubah Siswa Jadi Kompetitor

Sebuah perjalanan inspiratif guru yang bertransformasi melalui program inovatif di sekolah menjadi sebuah pencapaian membanggakan di panggung prestasi, menyoroti peran pembimbingan, kerja keras dan kolaborasi dalam mengubah potensi menjadi kebanggaan yang mengharumkan nama sekolah.

Cerita Guru

Fariz Nur Hamzah, S.Pd

Kunjungi Profile
26x
Bagikan
ry1AZrYaD3AUCbMthOl9ei7NOvM4UOJo2ebk0SRL.jpg

Menjadi guru bukan soal hanya datang membawa buku, memberi tugas dan sekedar mengajarkan materi ke kelas. Guru adalah mesin pelecut bakat dan potensi siswa setelah orangtua di rumah. Keberadaannya memungkinkan membuat babak baru bagi siswa dengan hadirnya latihan dan motivasi yang kuat. Lulus kuliah kependidikan di tahun 2015 dan terjun di bangku pendidikan di tahun 2016 membuat saya bersemangat membawa pundi-pundi ilmu yang siap saya tebarkan ke peserta didik. Awalnya mungkin masih di tahap kurang percaya diri karena teori di bangku kuliah tak semudah ketika praktik di kelas. Namun satu suntikan besar datang dari sosok pimpinan sekolah yang memberi kepercayaan kepada saya. Beliau mengajak saya bercengkerama sembari memberi dukungan, “Kamu masih muda, tumpuan harapan saya. Belajarlah dengan keadaan, Prestasi siswa mampu kamu dapatkan”. Dari obrolan yang ringan itulah akhirnya saya terus memecut diri saya untuk keluar dari zona aman saya. Saya belajar banyak melalui pelatihan, intens mengerjakan modul sampai mengikuti banyak kegiatan penunjang lain yang serumpun dengan arah peningkatan prestasi siswa. Dan pada akhirnya saya pelan pelan membangun tim olimpiade matematika yang siap saya ajak untuk maju dan berkembang mempersembahkan prestasi untuk sekolah. Diawali dengan memberikan mereka bimbingan secara intensif selama kosong di sela sela jam mengajar, rutin memberikan latihan soal tipe rutin hingga non rutin sampai pada akhirnya menyentuh hati mereka untuk semangat berkompetisi. Bagi saya kompetisi bukan hanya soal pencapaian, lebih dari itu dibaliknya ada lelah yang perlu diperjuangkan. Menikmati proses demi proses secara semangat dan tulus akan mampu memberikan energi luarbiasa yang bisa menumbuhkan prestasi. Dengan berkompetisi kita mampu menjalin relasi dengan banyak orang, mengenal berbagai medan dan karakter secara dalam juga membuat pecutan ledakan “out of the box” dalam diri. Bagaimana dengan hasil? Apakah terus berhasil? Tentu tidak. Menang dan kalah itu saling berdampingan. Dinamakan bisa berproses dengan baik jikalau bisa mengakui kekalahan dan terus berbenah hingga mendapatkan hasil yang maksimal. Kemenangan adalah bonus dari upaya kita bekerja keras dan berdoa. Mungkin ada yang menyebutnya beruntung, tetapi keberuntungan atas penyertaan dua hal tersebut. Lewat campur tangan dia sendiri yang juga melibatkan tuhan. Masih mengawali berdirinya tim olimpiade matematika, saya ikutkan mereka berkompetisi secara lokal. Awalnya gayung belum bersambut, namun ternyata pelan tapi pasti saya bisa membawa perubahan itu. Masih teringat ketika anak anak saya lepas sendiri berangkat diantar oleh pihak sekolah ke kota luar. Saya yang tidak bisa mendampingi karena ada tugas lain hanya bisa mensupport dan mendoakan. Beberapa jam berlalu tampak mobil sekolah datang dan dia bersalaman kepada saya sambil menangis, dia pulang membawa predikat Juara 1 Olimpiade Matematika se Karesidenan. Ditambah lagi dua duanya yang saya kirimkan juga berhasil masuk 5 besar di ajang tersebut. Hati guru siapa yang tidak tersentuh manakala seorang murid yang mulai ragu akan keyakinannya bisa sampai di titik ini. Pun, sekolah juga nampak bahagia. Beberapa tahun tidak mencapai prestasi gemilang di matematika akhirnya tahun 2017 menjadi titik balik dimana saya bisa mematahkan rekor yang kelam itu. Tahun berganti tahun masih dengan strategi yang sama, tim olimpiade mulai digandrungi banyak anak anak untuk menempa diri mereka. Alhasil juara demi juara berhasil kami koleksi. Mulai tingkat kota, provinsi, nasional bahkan sampai internasional. Tim olimpiade matematika sukses meraih juara OSN (Olimpiade Sains Nasional) di tingkat Kota/Kabupaten, beberapa kali menjuarai kompetisi matematika yang diadakan sekolah dan kampus lokal, menjuarai KSM (Kompetisi Sains Madrasah) tingkat provinsi, berlanjut ke tingkat nasional pada ajang KOSSMI (Kompetisi Siswa Sains Muslim Indonesia) sampai pada titik yang pernah tak terbayangkan saya sebelumnya ada siswa yang berhasil meraih kejuaraan Bricsmath serta The Guangdong Hongkong Macau Greater Bay Area Mathematical Olympiad tingkat internasional.  Kebiasaan mereka untuk berkompetisi dan berani berkembang terus saya bawa sampai di titik ini. Memang kerap ada pasang surut namun saya tetap tidak henti memberi energi dan perhatian tak terbatas untuk mereka. Atas pencapaian demi pencapaian itu, pimpinan sekolah mempercayai saya menjadi koordinator bidang prestasi akademik. Jabatan dibawah wakil sekolah bidang kesiswaan yang menangani prestasi akademik siswa. Alhasil terbitlah program yang saya beri nama “SASI2 APIK (Satu Siswa Satu Prestasi, Akselerasi Program Integritas Berkelanjutan)”. Program SASI2 APIK diharapkan mampu meningkatkan prestasi siswa secara menyeluruh dan berkelanjutan. Dengan kolaborasi antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua, program ini dapat menjadi motor penggerak budaya prestasi di sekolah saya. Alur program ini adalah mengharuskan siswa mempunyai minimal 1 prestasi dalam setahun. Lebih banyak malah lebih baik. Akan ada pelaporan setiap peraihan juara. Juga mereka berkesempatan mendapatkan apresiasi di  tiap upacara bendera hari Senin serta pengumuman resmi sebagai pahlawan prestasi di sosial media sekolah. Semakin banyak mereka memperoleh prestasi mereka berkesempatan mendapatkan predikat Siswa Berprestasi terbaik dengan pemberian penghargaan khusus pada akhir tahun sebagai bentuk apresiasi setinggi-tingginya yang telah mengharumkan nama baik sekolah. Lantas apakah pendampingan dan pembinaan dibiarkan begitu saja? Tentu tidak. Sekolah terus mengawal, mendampingi dan memfasilitasi jika siswa akan berlomba. Disini peran guru pembimbing menjadi vital karena dengan pecutannya yang terarah siswa mampu meraih hasil optimal. Orangtua juga harus mendukung selama kegiatan pengembangan prestasi ini, Dengan dukungan baik materil maupun psikis mampu menjadikan harmoni yang selaras demi tercapainya program ini. Prestasi tidak serta merta menjadi kebutuhan sekolah dalam mencetak trademark positif. Tetapi prestasi akan membuat keuntungan yang sangat besar bagi siswa. Melalui pencapaian ini siswa akan semakin lebih percaya diri, termotivasi lebih tinggi, mampu mengembangkan potensi dan keterampilan yang dimiliki. Untuk portofolio akademik jelas prestasi mampu mengantarkan mereka ke sekolah atau jenjang yang diharapkan selanjutnya. Terkadang di tengah perjalanan, prestasi bisa naik dan turun. Dan itu lumrah terjadi karena beberapa hal. Bisa karena kurangnya manajemen waktu dalam diri siswa, motivasi yang cenderung turun manakala terombang ambing padatnya kegiatan, metode belajar yang kurang tepat, lingkungan yang kurang mendukung serta tujuan atau target yang ingin dicapai kurang jelas atau spesifik. Dalam penggerak program SASI2 APIK saya coba melakukan pendekatan dengan SMART (Spesific, Measurable, Achievable, Relevant and Time Bound). Pada langkah Spesific saya selalu menekankan target yang harus dicapai siswa secara spesifik, sementara langkah Measurable berarti terus mengukur dan memantau dalam jurnal terdokumentasi. Pada langkah Achievable siswa betul ditantang untuk berprestasi tetapi harus tetap sadar akan potensi yang dimiliki, tidak memaksakan jika bukan bidang dan keterampilannya agar bisa lebih fokus. Dalam langkah Relevant siswa harus banyak banyak dimotivasi apa dampak dari prestasi yang ia torehkan hari ini untuk jangka panjang. Sementara di langkah akhir jangan lupa memperhatikan Time Bound dimana memotivasi semangat belajar siswa agar terus tepat waktu dan terarah. Menjadi guru adalah panggilan jiwa yang harus diniati dengan ikhlas. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan kepada siswa akan menumbuhkan afirmasi positif dalam diri. Tidak perlu membuat pencapaian yang muluk muluk, kata kuncinya adalah terus konsisten. Konsisten dalam membuat perubahan kecil yang nantinya bisa berdampak besar untuk lingkungan yang kita tempati. Budaya berjiwa kompetisi hingga meraih prestasi bukanlah tujuan akhir. Namun itu adalah rangkaian program yang terus berlanjut demi terciptanya harmoni yang indah di bangku sekolah. 

gXncZs2Svgr8Y6gXHP2ASrUwFvL3iWpY8nYpQDNb.jpg

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Komunitas