Adhe Yogi Irawan

Guru mapel

Saya guru yang senang memambah ilmu pengetahuan.

Kunjungi Profil

Menjadi Guru adalah Kebaikan yang Bermuara pada Kebaikan

Menjadi guru bukan hanya sekedar profesi melainkan sebuah perjalanan dari sang pelukis masa depan. Dari tangan gurulah muara-muara kebaikan akan tercipta, salah satu muara kebaikan itu tercermin dari sosok guru yang sangat menginspirasi bagi saya. Beliau adalah Almarhum H. M Kholiq, guru Agama Islam di SMAN 1 Srengat. Sore itu sekitar tahun 2015, saya begitu dikejutkan dengan adanya kabar yang saya terima melalui pesan singkat (SMS). Dalam pesan itu tertulis, “Innalillahi wa innailaihi roji’un, telah berpulang ke Rahmatullah Guru Agama Islam SMAN 1 SRENGAT, Bapak H. M. Kholiq, S.Ag, dan rencananya malam ini juga akan langsung dikebumikan”. Pesan singkat itu langsung mengubah suasana sore saya. Saya masih tidak percaya dengan berita tersebut, karena pada hari sebelumnya saya masih sempat menjenguk beliau yang sedang sakit dan beliau masih terlihat begitu kuat. Namun, ternyata Takdir berkata lain, Pak Kholiq, guru yang mengajarkan saya mencintai profesi guru sekaligus sosok pendakwah jenius yang pernah saya temui, harus berpulang ke Haribaan Yang Maha Agung. Almarhum Bapak H. M. Kholiq bukan hanya sekedar seorang guru untuk murid-muridnya, tapi juga guru untuk semua orang dalam berbagai hal. Beliau menanamkan segala sifat keguruannya kepada semua murid-muridnya, dengan bahasa yang santun, segar, namun tak jarang dibalut dengan humor. Beliau menyampaikan kebenaran demi kebenaran untuk kebaikan semua orang. Kalau dalam bahasanya Jamaluddin El-Banjary, penulis buku 7 Zona Pemantik Sukses Menjadi Guru Inspiratif, sosok seperti Almarhum Bapak Kholiq merupakan seorang inspiring Teacher, karena beliau bukan hanya sekedar mengajar, tetapi juga menginspirasi murid-muridnya. Satu hal yang pernah beliau katakan dan terus saya ingat hingga saat ini adalah “kebaikan itu akan bermuara pada kebaikan dan guru dengan penuh kesyukuran memiliki kesempatan yang luas untuk menyampaikan kebaikannya itu di sela pelajaran yang diberikan”. Nasehat itulah yang membuat saya terinspirasi untuk selalu menyempatkan memberikan pelajaran hidup di sela pembelajaran kepada anak-anak didik saya dengan nama pembelajaran “Secangkir Kopi Kegelisahan”. Selain itu, masih banyak pelajaran hidup yang saya dapat dari sosok beliau sebagai seorang inspiring teacher. Dan hari itu, saya harus melepas beliau ke tempat yang insyaAllah lebih indah tentunya.

Sore itu, setelah mendengar kabar kepergian Pak Kholiq, saya langsung bergegas mempersiapkan diri untuk takziah dan segera berangkat. Jarak rumah saya dengan rumah beliau tidak terlalu jauh, hanya sekitar 15 menit perjalanan.Namun, perjalanan saya terhenti di perempatan jalan menuju rumah almarhum, karena di perempatan itu sudah sesak dengan kendaraan para pelayat. Padahal rumah almarhum masih agak jauh dan tak terlihat dari perempatan itu. Akhirnya saya pun memarkir kendaraan saya di perempatan itu. Setelah itu, saya mulai berjalan kaki menuju rumah beliau. Saya merasa tak terlalu asing dengan para pelayat yang datang. Mayoritas di antara mereka adalah para alumni dari sekolah tempat kami mengabdi. Gema tahlil dan dzikir mengiringi kepergian beliau. Bisa dibayangkan, andai saja lautan manusia yang datang hari itu berjajar satu-persatu, mungkin tak perlu ada ambulans yang mengantarkan beliau ke tempat peristirahatan terakhirnya, mengingat begitu luar biasa banyaknya para pelayat yang datang untuk ukuran seorang guru sederhana. Jumlah yang sudah cukup menggambarkan bagaimana sosok seorang inspiring teacher ini di mata para muridnya, atau sekedar membuktikan bahwa memang benar bahwa setiap kebaikan akan bermuara pada kebaikan. Kebaikan yang beliau tanamkan ke murid-muridnya saat ini sudah bermuara pada kebaikan untuk almarhum sendiri, setidaknya tercermin pada lantunan doa yang mengiringi kepergian seorang Inspiring Teacher, Almarhum H.M.Kholiq.

Waktu itu, hati saya begitu terharu dan meletup seperti uranium yang ditembak oleh sejumlah besar neutron, meledak tak tentu arah. Di satu sisi saya merasa kehilangan sosok beliau, tetapi di sisi lain saya merasa terharu bercampur bahagia mendengan lantunan tahlil dan dzikir yang tak henti-hentinya mengiringi kepergian beliau. Lalu memunculkan pesan rohani di sisi lain lagi, yakni bahwa suatu saat nanti saya pasti akan menyusul beliau dalam keadaan tak berdaya dan hanya membutuhkan bantuan orang lain untuk mengantarkan saya ke tempat peristirahatan terakhir, sembari membayangkan seberapa banyak doa yang akan mengiringi kepergian saya nanti. Entahlah...

Memang dalam hidup ini, sejatinya kita sedang antri untuk menghadapi kematian, namun hal yang terpenting dari itu semua adalah bagaimana dan seperti apa kematian itu datang. Apakah setelah kematian itu, nama kita hanya akan berlalu begitu saja di kehidupan ini, ataukan nama kita masih tertanam di hati banyak orang.  Doa dan kebaikan yang kita tanam senantiasa mengalir dan memayungi kita di alam kubur atau tidak sama sekali. Itulah pilihan hidup kita sebagai manusia.

Seperti pilihan hidup yang telah didedikasikan oleh Almarhum Bapak Kholiq, sebagai manusia beliau telah mendapatkan kehormatan dengan hadirnya lautan manusia yang mengantarkan kepergian beliau. Beliau bukanlah tokoh besar, bukan pula Kyai atau Ulama besar, bukan juga Pahlawan Nasional, atau Pemimpin Negara. Beliau hanyalah seorang guru sederhana yang mengajar dan mendidik dengan cara sederhana dan menjalani hidupnya dengan cara guru, namun mendapatkan kehormatan itu. Kehormatan untuk pergi ke tempat peristirahatan terakhirnya dengan iringan doa yang meneduhkan dari lautan pelayat yang hadir pada hari itu. Dan saya yakin, lautan manusia tersebut begitu ikhlas dalam mendoakan dan mengiringi kepergian beliau. 

Saat itu, dikarenakan begitu banyak pelayat yang hadir dan ingin melakukan shalat jenazah, kami terpaksa harus menunggu dan bergantian dengan pelayat lain untuk melakukan sholat jenazah. Sembari menunggu antrian sholat jenazah, saya duduk di halaman depan rumah almarhum Pak Kholiq dan menyapa seseorang yang saya kenal. Beliau tak lain adalah pemilik sebuah percetakan yang juga merupakan langganan saya mencetak banner untuk keperluan sekolah. Dari obrolan singkat kami, terpetik sepotong kisah kedekatan beliau dengan almarhum pak Kholiq. “Sejak masih SMA hingga sudah lulus pun, Pak Kholiq sering memberikan motivasi pada saya untuk berubah menjadi lebih baik.Pak Kholiq sering ‘ngumbah’ saya”, tuturnya. Ngumbah atau dalam bahasa Indonesia berarti mencuci yang bermakna memberikan wejangan hidup agar menjadi lebih baik. “Banyak hal yang terjadi dalam hidup saya. Segala hal yang telah saya dapat dan perjuangkan sempat hilang tak bersisa karena ulah seseorang. Hampir gila saya rasanya saat itu, tapi pak Kholiq menguatkan saya. Beliau menampar saya dengan kata-kata beliau yang mengingatkan saya tentang hakikat kehidupan. Hingga perlahan saya mulai menata hidup saya dan bisa mengembangkan usaha sampai seperti sekarang ini. Alhamdulillah pelan tapi pasti, hidup saya berangsur-angsur membaik. Saya sudah menganggap beliau seperti ayah saya sendiri”, lanjutnya.

Mendengar kisah itu, semakin nyata pula kekaguman saya pada sosok almarhum pak Kholiq. Beliau mengajar bukan sekedar transfer ilmu pengetahuan semata, namun mencoba untuk menyentuh hati murid-muridnya.Beliau membantu semampu yang dimilikinya, baik nasehat, pikiran, atau bahkan materi sekalipun. Dan seperti yang bisa ditebak, beliau tidak mengharapkan imbalan berlebih dari murid-murid tercintanya. Beliau hanya ingin membuka pikiran, menyentuh hati, membentuk masa depan, dan memuarakan kebaikan kepada murid-muridnya, yang tanpa disadarinya kebaikan itu bermuara pada dirinya sendiri. Dan begitulah demikianlah kawan, sepenggal kisah dari seorang Inspiring Teacher Almarhum Pak Kholiq. Almarhum Pak Kholiq mengajar dan memberikan makna hidup lebih dari sekedar materi yang diajarnya. Seperti kata Karl Menninger seorang filsuf dan pemikir terkemuka dari Amerika yang menyatakan bahwa “Makna guru itu lebih penting daripada apa yang ia ajarkan”.

Kata-kata Karl Menninger tentunya berlaku untuk guru-guru yang penuh dedikasi dalam menjalankan profesinya sebagai guru. Dan sekali lagi yang mampu menyentuh hati murid-muridnya, bukan hanya tentang materi yang diajarkan, tapi tentang memahami muridnya sebagai seorang manusia. Seperti halnya Pak Kholiq, ketika beliau mengajar, tidak terfokus hanya pada materi yang diajarkan saja, namun juga membagi fokus itu terhadap murid-muridnya, memberikan kesan, dan memberikan pembelajaran hidup yang penuh dengan kehangatan.   

Dari pengalaman spriritual yang saya dapatkan dari Almarhum H. Kholiq tersebut, saya sangat yakin bahwa menjadi guru adalah kebahagiaan dan kesempatan yang begitu indah, karena di dalamya ada ladang amal yang terputus, tabungan akhirat dan kebaikan yang pasti akan bermuara kepada kebaikan. Setelah kejadian itu, saya termotivasi untuk menebarkan setitik demi setitik kebaikan bukan hanya tentang materi pelajaran yang saya ajar, tapi materi tentang kebaikan hidup. Dengan harapan agar mereka bukan hanya pandai dalam mata pelajaran saja, tetapi juga mampu memiliki kecakapan hidup sebagai pegangan untuk menjadi manusia yang paripurna baik ilmu ataupun akhlak. Sampai saat ini, setidaknya setiap awal memulai pokok bahasan baru, saya memberikan materi renungan dan motivasi hidup tentang kebaikan yang saya beri nama “Secangkir Kopi Kegelisahan”. Kegiatan itu adalah renungan dari beberapa cerita fiksi yang saya buat agar mereka mampu belajar menjadi manusia yang memanusiakan manusia dan sekaligus hambaNya yang mengingat betapa indahnya berbagi kebahagiaan. Dalam kegiatan tersebut saya menyiapkan cerita fiksi untuk direnungkan bersama. Karena saya mengajar mulai dari kelas X, XI, sampai kelas XII dan tiap semester minimal ada 5 BAB, maka saya membuat banyak cerita fiksi untuk direnungkan.

Kegiatan renungan dan motivasi tersebut memberikan dampak positif bagi siswa, setidaknya mereka mampu menjadi sosok yang jauh lebih baik, santun, dan religius. Kisah-kisah yang saya buat dalam program renungan dan motivasi “Secangkir Kopi Kegelisahan” tersebut mengilhami saya untuk mengumpulkannya dan merangkainya menjadi sebuah buku agar bisa dinikmati oleh siswa-siswi lainnya yang tidak saya ajar, atau siapapun yang membaca  sehingga barokah kebaikan akan semakil mengalir luas. Alhamdulillah pada tahun 2019 rangkaian kisah-kisah tersebut  akhirnya menjadi buku sederhana berjudul “Secangkir Kopi Kegelisahan” yang telah diterbitkan ber-ISBN oleh Penerbit Litera Mediatama dan mendapatkan kata pengatar langsung dari Bapak Prof Dr. Muhadjir Effendy, M.AP yang saat itu menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia karena beliau menyambut positif kisah-kisah renungan kebaikan utamanya untuk para pelajar generasi penerus bangsa. Semoga hadirnya buku ini mampu memberikan inspirasi seluas-luasnya kebaikan bagi siapa saja yang membacanya. Sebuah buku sederhana yang terinspirasi dari  seorang “Inspiring Teacher” Almarhum H Kholiq.

Saudaraku, profesi guru memang profesi yang mulia, karena guru medianya bukanlah kanvas, melainkan jiwa manusia. Ketika seorang guru mampu menyentuh jiwa muridnya dengan keikhlasan dan kebaikan, maka suatu saat nanti keikhlasan dan kebaikan itu akan bermuara untuk kebaikan guru itu sendiri, seperti janji Allah dalam surat Al Naml ayat 89, “Barang siapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tentram dari kejutan yang dahsyat pada hari itu”. Selamat menjadi guru kawan, guru dengan pribadi terbaik yang senantiasa mengajar dan bekerja  dengan hati untuk membaikkan jiwa-jiwa manusia dan tetap istiqomah melakukan kebaikan yang tanpa disadari kebaikan itu sejatinya akan bermuara untuk kebaikan diri kita sendiri.

MenjadiGuruadalahKebaikanyangBermuarapadaKebaikan
Komentar (52)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

Nurina Putri Manggiasih, S.Pd.
2 bulan yang lalu

Sukses terus Pak Adhe, semoga selalu dimudahkan dan dilancarkan dalam menjadi pelukis masa depan. Aamiin


bintang zuhra s.p bintang zuhra s.p
4 bulan yang lalu

Buku yang menarik tuk dibaca ini


Adhe Yogi Irawan
4 bulan yang lalu

Terima kasih saya haturkan kepada tim Hafecs Yang berkenan hadir di SMAN 1 Srengat tanggal 23 Maret 2022 untuk memberikan pelatihan/workshop kepada seluruh guru di SMAN 1 Srengat sehingga kami bisa ikut berbagi inspirasi dilomba artikel ini... Saya juga ucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada kawan-kawan seperjuangan guru yang telah like artikel saya, semoga memberikan barokah manfaat untuk semuannya... #Salam Merdeka Belajar


Ag. Ari Budi Cahyanto, S.Ag.,MM
5 bulan yang lalu

Salam hormat, terima kasih atas inspirasinya. Semoga sukses.


Yeni Imro'ah
5 bulan yang lalu

Selamat pak ade. Smangat terus. Seoga sukses


BAGAS DAVID PRASETYO. S.Pd
5 bulan yang lalu

Tetap semangat melukis masa depan generasi penerus bangsa


HELMY NUR HARIDA S.Pd
5 bulan yang lalu

Selamat bapak ade tetap berkarya untuk mencerdaskan anak bangsa


Asri Widowati, S.Pd.
5 bulan yang lalu

Guru memang bukan sekedar profesi tetapi jembatan menuju surga jika dijalankan sebaik-baiknya. Terimakasih telah memantik semangat untuk menjaga 'Api Perjuangan' dalam upaya mencerdaskan anak bangsa.


Adhe Yogi Irawan
5 bulan yang lalu

Terima kasih untuk para inspiring teacher...semoga mampu terus mengukir karya dengan rasa.


WAWAN SAHA?
5 bulan yang lalu

🔥🔥