Penulis melakukan observasi kepada guru-guru yang tergabung dalam MGMP Kimia SMK Kabuapaten Banyuasin terhdap kegiatan praktikum kimia pada Materi Indikator Alam Senyawa Asam Basa di kelas X SMK. Hasil observasi didapat bahwa (1) selama ini praktikum kurang dikaitkan dengan contoh nyata dalam kehidupan sehari hari, (2) pengetahuan siswa hanya sebatas ‘menghapal’ tanaman yang bisa dijadikan indikator alam, (3) materi pelajaran tidak bermakna karena tidak dikaitkan dengan kompetensi siswa SMK yang ‘ siap kerja dan siap berwirausaha’, serta (4) kegiatan praktikum terasa monoton, dan kurang menyenangkan sehingga siswa kurang termotivasi dan (5) hasil belajar siswa rendah.
Berdasarkan kajian empirik tersebut penulis melakukan inovasi praktikum kimia pada Materi Indikator Alam Senyawa Asam Basa melalui pembuatan Kerajinan Batik Gesek Godong. Konsep perubahan warna indikator alam dimanfaatakan sebagai pewarna kain. Model pembelajaran yang diterapkan penulis adalah pembelajaran berorientasi Chemoentrepreneurship (CEP). Sudharsono dkk (2019) menyatakan pembelajaran berorientasi CEP mengajarkan siswa untuk menerapkan proses pengolahan suatu bahan dengan konsep ilmu kimia menjadi produk yang bermanfaat, dan bernilai ekonomi serta diharapkan memotivasi siswa untuk berwirausaha.
Proses pembuatan Batik Gesek Godong adalah daun kering yang dicelupkan pada pewarna alam (seperti kuntit, bunga telang ataupun kayu secang) selanjutnya daun kering digesek pada kain menghasilkan pola daun berwarna warni yang indah sesuai dengan pewarna alam yang ditambahkan. Produk kerajinan Batik Gesek Godong berorientasi CEP akan berbeda dengan produk-produk kerajinan kain lainnya. Produk Batik Gesek Godong menjadi lebih ramah lingkungan (eco green), dirancang dengan konsep-konsep sains, mengakar pada pengetahuan, minimasi limbah, dan berbasis pengetahuan kearifan lokal (Indigenous knowledge), sehingga kerusakan lingkungan dapat dikurangi. Diharapkan praktikum kimia menjadi pembelajaran kontekstual, lebih bermakna, bermanfaat, menyenangkan dan bisa diaplikasikan menjadi produk ekonomi kreatif (kewirausahaan siswa) sehingga mampu meningkatkan hasil belajar siswa, serta menumbuhkan kreativitas dan minat berwirausaha siswa.
Penulis menerapkan model pembelajaran CEP dengan inovasi sintaks atau langkah kegiatan pembelajaran yang dinamakan ‘TEMATIK’ sehingga selanjutnya disebut sebagai ‘TEMATIK Chemoentrepreneurship (TCEP). TEMATIK merupakan akronim 7 langkah kegiatan pembelajaran yakni (1) Tumbuhkan rasa ingin tahu, (2) Eksplorasi pengetahuan dengan literasi, (3) Mendayagunakan sumber daya alam di sekitar, (4) Analisis masalah, (5) Tunjukkan karyamu, (6) Improvisasi Produk, serta (7) Kesimpulan dan Refleksi diri. Proses pembelajaran di kelas dijelaskan berdasarkan tahapan TEMATIK. Tahap pertama TEMATIK, Tumbuhkan rasa ingin tahu, guru memberi pertanyaan yang mengaitkan dengan materi sebelumnya serta motivasi siswa untuk semangat mengikuti pelajaran hari ini. Guru menjelaskan fenomena bunga Hydrangea yang unik. Bunga ini bisa berubah warna, mulai dari putih, merah, hingga ungu. Perubahan warna pada bunga ini disesuaikan dengan pH (derajat keasaman) akar pada tanah. Bunga ini akan berwarna merah jika pH netral, berwarna ungu jika pH asam dan berwarna biru jika pH basa. Rasa ingin tahu siswa ditunjukkan dalam respon, tanggapan dan pertanyaan singkat di awal pelajaran
Tahap kedua TEMATIK, Eksplorasi pengetahuan. Guru mengajak siswa berliterasi untuk mendapatkan pengetahuan berupa konsep, fakta, dan materi konstektual yang berhubungan dengan Indikator Alam Senyawa Asam Basa. Tahap ketiga TEMATIK, Mendayagunakan suber daya alam di sekitarmu. Guru mendorong siswa dengan minat, ide dan berpikir kritis melalui observasi tanaman indikator alam apa saja yang bisa dijadikan pewarna alam. Siswa menyelidiki bunga, daun, batang serta buah yang memiliki warna zat antosinin agar bisa dimanfaatkan ebagai pewarna alam. Selanjutnya tanaman itu diolah menjadi larutan pewarna alam yang siap digunakan. Tahap keempat TEMATIK, Analisis Masalah. Guru membimbing siswa untuk menganalisis perubahan warna indikator alam dengan penambahan larutan asam, larutan basa, dan netral melalui praktik pengujian indikator alam berdasarkan pH atau derajat keasamannya. Lembar kerja praktik, video pembelajaran serta materi yang ada pada LKPD digital menjadi pedoman belajar siswa.. Guru memberikan kesempatan siswa untuk bekerja secara mandiri, atau berkelompok, dan sesuai minat dan kebiasaan belajar guna mendapatkan potensi peserta didik dan terpenuhinya kebutuhan belajarnya.
Tahap kelima TEMATIK, Tunjukkan karyamu. Siswa setelah melakukan pengujian beragam tanaman dan mendapatkan variasi warna jika indikator alam dalam larutan asam, basa, dan netral. Guru memberikan contoh dengan demonstrasi langsung pembuatan Batik Gesek Godong atau melalui video, dan memperlihatkan produk Batik Gesek Godong yang sudah dibuat . Siswa mulai melakukan praktik pembuatan Batik Gesek Godong. Proses ini dimulai dari kegiatan mordan kain agar lilin yang menempel pada kain hilang, pori-pori kain terbuka dan siap untuk diberi warna. Mordan kain dilakukan dengan menambahkan tawas. Proses selanjutnya menyiapkan daun kering yang terlebih dahulu dibersihkan dari kotoran, kemudian dicelupkan pada pewarna alam seperti kunyit, kayu secang, kol ungu, dan bunga sepatu dan sebagainya yang telah diberi larutan jeruk nipis, asam sitrun, kapur sirih dan soda ash.
Proses pewarnaan daun kering juga bisa dilakukan dengan mengoles kuas dengan larutan pewarna alam secara merata. Selanjutnya daun kering ditempelkan pada kain, ditutup koran kemudian digesek dengan pipa pralon agar benar-benar menempel sempurana dan jika dirasakan sempurna maka daun diangkat dan terbentuklah pola daun pada kain sesuai warna yang diberikan. Tahap akhir dilakukan fiksasi kain guna mengunci warna agar tidak luntur. Proses fiksasi dengan penambahan tawas agar warna yang dihasilkan lebih terang. Proses fiksasi bisa dilakukan 6 sampai 7 kali agar warna melekat pada kain dengan sempurna,
Tahap keenam TEMATIK, Improvisasi produk. Tahap ini guru melakukan pembelajaran ‘berdifferensiasi produk’. Guru memberi ruang kreativitas dan minat berwirausaha siswa. Kreativitas siswa menjadikan pola daun tidak hanya digesek namun juga bisa dilukis, diberi warna degredasi sehingga warna dan bentuk daun lebih indah dan bervariasi. Minat berwirausaha siswa menjadikan siswa membuat Batik Gesek Godong pada beragam produk seperti tas kain, baju kaos, sepatu, jilbab, hiasan dinding, dan sarung bantal
Tahap ketujuh TEMATIK, Kesimpulan dan refleksi diri. Guru melakukan diskusi kelas untuk mengetahui apa saja yang pengetahuan dan keterampilan yang telah dicapai siswa dan diakhir kegiatan guru meminta siswa untuk memberikan kesimpulan materi pelajaran hari ini. Guru memberikan posttest online kepada siswa. Penilaian dan Observasi guru terhadap kreativitas dan minat berwirausaha siswa meningkat, juga peningkatan hasil belajar siswa dengan nilai pretest 50,67 menjadi posttest 88,75. Pada akhir proses pembelajaran, guru meminta siswa untuk berbagi pengalaman, apa saja kendala yang mereka temukan dan solusi yang mereka tempuh selama pembuatan Batik Gesek Godong. Salah satu perwakilan siswa menjelaskan pada praktik, siswa menemukan sendiri kendala sekaligus menemukan solusinya dalam pembuatan Kerajinan Batik Gesek Godong yakni pewarnaan alam mudah luntur sehingga diperlukan bahan penguat salah satunya adalah susu kedelai ditambah dengan pengolesan warna dengan kuas. Pengetahuan ini mereka dapat dari penelusuran literature/ literasi dan bertanya langsung ke orang tua atau masyarakat sekitar tempat tinggal mereka.
Pembuatan Batik Gesek Godong tidak hanya sampai di kelas saja namun mengisi Unit Produksi (UP) sekolah dan juga mengikuti pameran produk siswa SMK. Hal ini memacu semangat siswa untuk produktif karena bisa menghasilkan uang jajan .Pembuatan Batik Gesek Godong juga diterapkan dalam kegiatan Proyek Penguatan Profil Pelajar Pancasila (P5) bertema Kewirausahaan. Guru sebagai Pembina Sekolah Pencipta Wiraausaha mengajak siswa untuk mengisi waktu luang mereka dengan membuat jilbab dan Baju Kaos Batik Gesek Godong yang dijual di Toko Oleh-Oleh SMK di Palembang. Berbagai produk Batik Gesek Godong juga sudah banyak dikenal masyarakat sehingga menerima kunjungan dari pihak luar yang ingin belajar, dan bekerjasama dalam pembuatan batik gesek godong sepertidari DinasPMD Kabupaten Banyuasin dan Bank Daerah Sumsel Babel/