Mata Pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) Kelas X Fase E Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Kurikulum Merdeka, salah satu materi pelajarannya adalah “Mitigasi Bencana Hidrometeorologi dan Tantangan Perubahan Iklim”. Pemahaman tentang ‘Mitigasi Bencana Hidrometeorologi dan ‘Perubahan Iklim’ sangat penting bagi siswa mengingat Indonesia merupakan negara rawan bencana khususnya ‘bencana hidrometerologi’. Sayangnya di kelas, materi mitigasi bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang, dan tanah longsor hanya diberikan ‘kulitnya saja’ karena kurangnya pengetahuan guru tentang mitigasi bencana dan keterbatasan ketersedian bahan ajar (buku, modul dan bahan praktik) pendukungnya.
Greenlab Indonesia (2025) menyatakan Indonesia “sangat rawan’ bencana hidrometeorologi. Hal ini disebabkan posisi khatulistiwa, fenomena La Nina/El Nino, dan perubahan iklim (global dan regional) serta degradasi lingkungan.. Lebih dari 90% bencana di Indonesia didominasi oleh jenis ini, dengan peningkatan signifikan sejak 2010 hingga 2026. Data ini terbukti salah satunya dengan kejadian bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh di penghujung November 2025. Bemcana yang membawa duka bangsa’ karena meninggalkan jejak kehancuran luar biasa.
Bencana banjir bandang / tanah longsor bukan lah suatu bencana yang tidak dapat diprediksi sama sekali, Bencana yang terjadi juga bukanlah semata ‘kehendak tuhan’ tetapi juga karena krisis ekologis, selayaknya ‘ketika manusia merusak lingkungan melebihi ambang batas maka alam akan membalas dengan bencana yang dahsyat”. Suatu refleksi untuk pembelajaran bersama bahwa sains, kebijakan, dan kepedulian sosial harus berjalan beriringan demi masa depan Indonesia yang lebih tangguh terhadap bencana. Oleh sebab itu, upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana ke depan harus menyeimbangkan antara pendekatan struktural (infrastruktur teknis) dan pendekatan ekologis.
Pengetahuan mitigasi seperti bencana banir bandang memerlukan strategi yang pragmatis dalam membentuk masyarakat Indonesia sadar akan bahaya bencana seperti banjir bandang /tanah longsor. Salah satu langkah strategis yang dapat dilakukan dengan melibatkan ‘sektor pendidikan’ yakni sekolah. Penelitian Mulyani, M dkk (2024) mengungkapkan sekolah sebagai lembaga formal untuk berbagi pengetahuan dan keterampilan dinilai tepat untuk menjadi role model dalam upaya mitigasi bencana. karena sekolah melalui guru dan sistem pendidikan dapat memberikan sosialisisi pendidkan mitigasi secara komprehensi dan terstruktur. Materi pengetahuan mitigasi diterapkan dalam suatu pelatihan yang diberikan secara teori dan praktek sehingga edukasi dan tumbuhnya budaya mitigasi bencana sebab akibat, sebelum, saat dan pasca bencana tercapai maksimal.
Materi pelatihan mitigasi bisa dirancang sekolah (guru, pembina eskul, dan organisasi siswa / OSIS) disesuaikan dengan kondisi dan permasalahan yang ada sekitar sekolah. Penelitian Nopilda, L (2019) menyatakan perlunya modul atau buku panduan pelatihan sebagai alat bantu /media pembelajaran yang dibuat guru saat pembejaran di kelas . Berdasarkan hal ini tahap pertama mempersiapkan pembelajaran mitigasi bencana banjir bandang dan tanah longsor adalah menyusun modul ‘Pelatihan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi’. Modul ini memuat berbagai materi terkait pengetahuan mitigasi yang diterapkan melalui permainan, pengetahuan, literasi, simulasi, pengabdian ke masyarakat serta eksibisi (pameran produk dan karya seni karya peserta selama pembelajaran).
Beberapa kajian empirik yang telah diuraikan di atas menjadi latar belakang diadakan Pelatihan BerdamPaK Mitigasi Bencana Hidrometorolgi yang diadakan di SMK Negeri 1 Suak Tapeh dengan penulis sebagai salah satu fasilitator dan dibantu tim panitia yang tergabung dalam ‘Komunitas Sampahku Berdampak’. Pelatihan BerdamPaK mitigasi merupakan akronim dari Berkarya, Berkarakter dan Berliterasi dalam Pemanfaatan Pengetahuan dan Teknologi Mitigasi. .Pelaksaan selama pembelajaran akhir semester (class meeting dan libur sekolah) selama 6 - 8 kali pertemuan baik secara daring maupung luring dengan project works selama 2 – 4 minggu sehingga total pelaksanaan selama 2 - 3 bulan. Akhir kegiatan pelatihan ditujukan semua peserta membentuk komunitas relawan peduli lingkungan.
Praktik baik ini mengkaji (1) Modul Mitigasi Bencana Hidrometeorolgi, (2) pelaksanaan Pelatihan BerdamPaK Mitigasi Bencana Hidfrometeorolgi, dan (3) terbentuknya berbagai komunitas Gen Z hasil Pelatihan Mitigasi BerdamPaK Bencana Hidrometeorologi. Hasil praktik baik adalah (1) modul pelatihan yamg disusun oleh guru berisi (a) Karakter Peduli Lingkungan, (b) Pengetahuan Mitigasi Bencana meliputi Sebab-Akibat, Penanganan pada Tahap Tanggap Darurat, Rehabilitasi dan Rekonstruksi, Kesiapan dan Mitigasi menghadapi Bencana, (c) Meminimalisir Faktor- Faktor Penyebab Panjir Bandang seperti Pengelolaan Sungai, Deforestasi, dan Pengelolaan Sampah, (d) Inovasi dan Teknologi dalam Penanganan Banjir Bandang dan (e) Komunitas Gen Z dan Relawan Sosial berdampak Kesiapsiagaan Bencana. (2) Pelaksanaan Pelatihan BerdamPaK Mitigasi Bencana Hidrometeologi menghasilkan berbagai produk yang mendukung pemahaman mitigasi bencana hidrometeorologi seperti buku, komik digital, infografis, video layanan masayarakat, alat inovasi pencegah banjir, dan sebagainya dan (3) Terbentuknya komunitas Gen Z berdampak relawan peduli lingkungan seperti, @ magic paper selulosa, @nusa daun kriya, @ kreasi suta, @ jaga pohon co,id. @ focusbuterfly. Komunitas ini memfokuskan kegiatan aksi nyata dari kesiapsiagaan bencana menjadi relawan peduli lingkungan guna mewujudkan kesiapsiagaan bencana sebelum, saat, sesudah dan pemulihan bencana di masyarakat
Tujuan akhir dri pelatihan mitigasi ini juga ini ditargetkan terbentuknya komunitas gen Z (remaja) dan komunitas relawan sosial berbasis website dengan aksi nyata peduli lingkungan dengan berkontribusi di bidang ekonomi, lingkungan. sosial, budaya dan inovasi. Komunitas Gen Z ini akan berbagi informasi, melakukan kegiatan hal- hal positif yang sudah mereka lakukan dalam aksi peduli iklim melalui website, dan media sosial mereka. Suara dari komunitas gen Z ini menjadi ‘perendam’ berita negatif tentang lingkungan yang biasa kita dengar di media sosial seperti kerusakan alam, penebangan liar, timbunan sampah plastik dan berbagai masalah lainnya. Pelatihan mitigasi ini juga telah didesiminasikan pada beberapa sekolah rawan banjir bandang (seperti SMKN1 Rambang Dangku Muara Enim, SMKN 1 NU Muara Padang Banyuasin dan SMKN 1 Sungai Lilin Musi Banyuasin) guna menguatkan siswa / pelajar menjadi warga bumi yang bertanggung jawab dan memiliki kesiapsiagaan bencana.
Memuat komentar...