MEMBANGUN MIMPI DARI PELOSOK NEGERI - Guruinovatif.id

Diterbitkan 27 Apr 2026

MEMBANGUN MIMPI DARI PELOSOK NEGERI

Kisah Nyata Seorang Kepala Sekolah yang Mengubah Keterbatasan Menjadi Karya: Ketika 54 Anak Petani di Tengah Sawah Berani Menuliskan Mimpi Besarnya hingga Suara Mereka Didengar Pemimpin Daerah dan Menginspirasi Sekolah Lain

Refleksi

5x
Bagikan

MEMBANGUN MIMPI DARI PELOSOK NEGERI

Kisah Nyata Seorang Kepala Sekolah yang Mengubah Keterbatasan Menjadi Karya: Ketika 54 Anak Petani di Tengah Sawah Berani Menuliskan Mimpi Besarnya hingga Suara Mereka Didengar Pemimpin Daerah dan Menginspirasi Sekolah Lain

Rita Yuana, S.Pd.SD., M.Pd.

Kepala SD Negeri Grebegan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur

Pendahuluan 

            Pendidikan merupakan instrumen fundamental dalam membentuk karakter dan masa depan generasi bangsa. Dalam konteks Indonesia, tantangan pendidikan di wilayah pedesaan masih menjadi persoalan serius yang memerlukan perhatian berkelanjutan. Data Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2022 menunjukkan bahwa capaian literasi siswa Indonesia masih berada di bawah rata-rata negara OECD, dengan skor rata-rata 359 poin untuk literasi membaca (OECD, 2023). Kondisi ini semakin diperparah oleh kesenjangan kualitas pendidikan antara wilayah perkotaan dan pedesaan, di mana akses terhadap bahan bacaan, inovasi pembelajaran, dan sumber daya pendidikan masih sangat terbatas di daerah pedesaan (Yudiana, Putri, & Antara, 2023). Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) 2021 oleh Kemendikbud bahkan menunjukkan bahwa hanya 50% siswa kelas 5 SD yang mampu memahami teks sederhana, sebuah angka yang mencerminkan urgensi penguatan literasi sejak dini.

            SDN Grebegan, sebuah sekolah dasar yang terletak di Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, merupakan representasi nyata dari kondisi pendidikan di pedesaan. Sekolah ini berdiri di tengah hamparan sawah, dengan mayoritas peserta didik berasal dari keluarga petani yang hidup dalam kesederhanaan. Meskipun demikian, keterbatasan geografis dan sosial-ekonomi tidak seharusnya menjadi penghalang bagi tumbuhnya mimpi dan cita-cita anak-anak. Sebagaimana ditegaskan oleh Asra dan Husna (2022), penguatan cita-cita pada siswa sekolah dasar merupakan langkah strategis dalam membangun motivasi belajar dan perencanaan masa depan. Siswa yang memiliki cita-cita yang jelas cenderung menunjukkan motivasi belajar yang lebih tinggi dan kepercayaan diri yang lebih kuat.

            Berangkat dari kesadaran tersebut, sebagai Kepala SD Negeri Grebegan, penulis mengambil inisiatif untuk memfasilitasi penerbitan buku berjudul "Membangun Mimpi dari Pelosok Negeri: Bunga Rampai Cita-Cita Siswa SDN Grebegan, Kalitidu, Bojonegoro". Buku ini memuat tulisan 54 siswa kelas IV, V, dan VI yang menuliskan cita-cita, harapan, dan pandangan mereka terhadap masa depan. Inisiatif ini bukan sekadar proyek literasi biasa, melainkan sebuah gerakan pendidikan berbasis keteladanan yang bertujuan menumbuhkan kepercayaan diri, memperkuat literasi, dan membentuk karakter peserta didik dari pelosok negeri. Artikel ini menguraikan secara komprehensif latar belakang, proses implementasi, dampak yang dihasilkan, serta refleksi dari perjalanan inspiratif tersebut.

frlRjm4TpKfjKaj2EBteaFvjJuM5v7SZdKrAaeN1.jpg

Gambar 1. Sampul Buku "Membangun Mimpi dari Pelosok Negeri" (Bunga Rampai Cita-Cita Siswa SDN Grebegan, Kalitidu, Bojonegoro). Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026.

Latar Belakang dan Landasan Pemikiran

Potret Pendidikan di SDN Grebegan: Antara Keterbatasan dan Potensi

            SDN Grebegan terletak di Dusun Krajan, Desa Grebegan, Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro. Secara geografis, sekolah ini berada di area pedesaan yang dikelilingi persawahan, jauh dari pusat kota dan fasilitas pendidikan modern. Mayoritas orang tua siswa berprofesi sebagai petani dengan tingkat pendapatan yang terbatas. Kondisi ini sejalan dengan temuan Badan Pusat Statistik (BPS, 2022) yang mencatat bahwa tingkat buta huruf di daerah pedesaan Indonesia masih mencapai 10-15%, jauh lebih tinggi dibandingkan di perkotaan yang hanya sekitar 1%.

            Namun, di balik keterbatasan tersebut, penulis meyakini bahwa setiap anak memiliki potensi luar biasa yang menunggu untuk dikembangkan. Penelitian TIMSS (Trends in International Mathematics and Science Study) mengungkapkan bahwa kepercayaan diri siswa Indonesia masih berada di bawah 30% (Jelita & Sholehuddin, 2024). Rendahnya kepercayaan diri ini berkorelasi dengan metode pembelajaran yang cenderung pasif dan kurangnya ruang bagi siswa untuk mengekspresikan diri. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan pembelajaran yang inovatif dan memberdayakan, yang mampu menggali potensi tersembunyi dari setiap peserta didik.

Keteladanan sebagai Fondasi Perubahan

            Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagaimana diamanatkan dalam Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 menekankan pentingnya keteladanan dalam proses pembentukan karakter peserta didik. Kepala sekolah, sebagai pemimpin pembelajaran, memiliki peran sentral dalam memberikan teladan dan menginisiasi program-program yang berdampak bagi seluruh warga sekolah. Gerakan Literasi Sekolah (GLS) berdasarkan Permendikbud Nomor 23 Tahun 2015 juga menjadi landasan penting dalam mewujudkan budaya membaca dan menulis di kalangan siswa.

            Dalam konteks ini, inisiatif penerbitan buku bunga rampai cita-cita merupakan perwujudan nyata dari keteladanan kepala sekolah dalam menggerakkan literasi dan memberdayakan peserta didik. Buku ini menjadi medium bagi siswa untuk belajar mengenali diri sendiri, merumuskan tujuan hidup, dan menumbuhkan harapan akan masa depan yang lebih baik. Sebagaimana dinyatakan oleh Lickona (1992) dalam teori pendidikan karakternya, pembentukan karakter yang efektif memerlukan tiga komponen utama: pengetahuan moral (moral knowing), perasaan moral (moral feeling), dan tindakan moral (moral action). Proses menuliskan cita-cita mengintegrasikan ketiga komponen tersebut secara holistik.

Proses Implementasi: Dari Gagasan Menuju Karya Nyata

Tahap Perencanaan dan Persiapan

            Proses pembuatan buku ini dimulai dari sebuah refleksi mendalam penulis sebagai kepala sekolah terhadap kondisi dan potensi peserta didik. Langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan identifikasi kebutuhan dan potensi siswa melalui observasi kelas, diskusi dengan guru, serta interaksi langsung dengan peserta didik. Dari proses ini, ditemukan bahwa meskipun siswa SDN Grebegan hidup dalam kesederhanaan, mereka memiliki mimpi dan cita-cita yang beragam dan penuh semangat.

            Selanjutnya, penulis menyusun konsep buku bunga rampai yang akan memuat tulisan siswa tentang cita-cita mereka. Tim editor yang terdiri dari guru-guru SDN Grebegan, yakni Sri Wuryani, Sriyanik, dan Sumiyati, dibentuk untuk mendampingi proses penulisan. Kerja sama dengan penerbit PT. Taman Baca Indonesia di Bojonegoro juga dijalin untuk memastikan buku diterbitkan secara profesional dengan QRSBN (Quick Response Standard Book Number): 62-0027-02986-2.

Tahap Pendampingan Menulis

            Proses pendampingan menulis merupakan tahap yang paling krusial dan transformatif. Sebanyak 54 siswa dari kelas IV, V, dan VI terlibat dalam penulisan buku ini. Proses ini dimulai dengan kegiatan pengenalan profesi dan diskusi tentang cita-cita melalui kegiatan “Sabtu BERSERI”, yang bertujuan untuk memperkaya referensi siswa tentang berbagai pilihan karier dan merangsang imajinasi mereka. Pendekatan ini sejalan dengan konsep Kelas Inspirasi yang terbukti efektif dalam memperkaya referensi siswa tentang profesi dan membantu mereka merumuskan cita-cita (Asra & Husna, 2022).

            Setiap siswa kemudian dibimbing untuk menuliskan esai tentang cita-cita mereka. Proses menulis ini tidak sekadar menuangkan kata-kata, melainkan menjadi sarana refleksi diri yang mendalam. Siswa diajak untuk menceritakan latar belakang kehidupan mereka, mengapa mereka memilih cita-cita tertentu, dan langkah-langkah apa yang akan mereka tempuh untuk mewujudkannya. Pendampingan dilakukan secara intensif oleh guru-guru yang bertindak sebagai editor dan motivator. Para guru memberikan umpan balik yang konstruktif sambil tetap mempertahankan keaslian suara dan gaya bahasa setiap anak.

            Hasil dari proses ini menghasilkan 54 esai yang otentik dan menyentuh. Cita-cita yang dituliskan sangat beragam, mulai dari menjadi dokter, guru, polisi, tentara, pilot, atlet, pengusaha, petani sukses, masinis, hingga konten kreator. Keberagaman cita-cita ini merepresentasikan luasnya cakrawala mimpi anak-anak desa, sekaligus menunjukkan bahwa latar belakang sosial-ekonomi tidak membatasi imajinasi dan harapan mereka. Buku ini diterbitkan dengan cetakan pertama pada Februari 2026, dengan total 100 eksemplar, 180 halaman dan berukuran 14,8 x 21 cm.

Tahap Sosialisasi dan Diseminasi

            Setelah buku diterbitkan, tahap berikutnya adalah sosialisasi dan diseminasi kepada berbagai pemangku kepentingan. Buku ini diserahkan kepada Wakil Bupati Bojonegoro, Dra. Hj. Nurul Azizah, M.M., yang memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Selain itu, penyerahan buku juga dilakukan kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Drs. Ec. Mokhamad Anwar Mukhtadlo, M.Si., yang menyatakan dukungannya terhadap gerakan literasi yang tumbuh dari sekolah pedesaan.

fZ7gm5yBiHMcMBEJ0Lh0dJ2nw4ZLoOhwnVKzVoqa.jpg

Gambar 2. Penyerahan Buku "Membangun Mimpi dari Pelosok Negeri" kepada Wakil Bupati Bojonegoro, Dra. Hj. Nurul Azizah, M.M., bersama perwakilan siswa dan guru SDN Grebegan. Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026.

FFV67DzctlE64O141uKnDoi98E14neAMzPD7Lhe2.jpg

Gambar 3. Audiensi dengan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro dalam rangka penyerahan buku dan apresiasi terhadap inovasi literasi SDN Grebegan. Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026.

Dampak Nyata: Transformasi yang Terukur dan Bermakna

Dampak terhadap Peserta Didik

            Dampak paling signifikan dari penerbitan buku ini dirasakan langsung oleh peserta didik. Proses menuliskan cita-cita telah menumbuhkan transformasi yang multidimensi pada diri siswa. Pertama, peningkatan kepercayaan diri. Siswa yang sebelumnya enggan berbicara di depan kelas kini mampu mempresentasikan tulisan mereka dengan bangga. Mereka menyadari bahwa mimpi mereka layak untuk dituliskan dan dibagikan kepada orang lain. Temuan ini konsisten dengan penelitian Jelita dan Sholehuddin (2024) yang menemukan bahwa pemberian ruang ekspresi dan apresiasi secara positif mampu meningkatkan kepercayaan diri siswa secara signifikan.

            Kedua, penguatan literasi membaca dan menulis. Proses menulis esai cita-cita mendorong siswa untuk membaca lebih banyak referensi tentang profesi impian mereka, melatih kemampuan menulis naratif, dan mengembangkan kosakata. Hasil ini sejalan dengan temuan penelitian yang menunjukkan bahwa pembiasaan menulis sederhana di sekolah dasar dapat menjadi dasar kuat dalam pengembangan literasi siswa (Audia & Mastoah, 2025). Di jenjang sekolah dasar, khususnya pada kelas-kelas awal, pembiasaan menulis sederhana terbukti efektif sebagai fondasi pengembangan literasi yang berkelanjutan.

            Ketiga, pembentukan karakter dan orientasi masa depan. Menuliskan cita-cita merupakan proses internalisasi nilai-nilai positif seperti kerja keras, disiplin, tanggung jawab, dan semangat pantang menyerah. Melalui tulisan-tulisan mereka, terlihat jelas bahwa anak-anak SDN Grebegan telah mengembangkan kesadaran akan pentingnya pendidikan sebagai jalan menuju masa depan yang lebih baik. Ini merupakan manifestasi dari tujuan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) yang menekankan pengembangan nilai religius, nasionalis, mandiri, gotong royong, dan integritas.

3sW2R5HtgZeAGWgJ32BYjWXv8wGsLzNa4m36d0In.jpg

Gambar 4. Para siswa SDN Grebegan menunjukkan buku "Membangun Mimpi dari Pelosok Negeri" yang mereka tulis bersama, didampingi oleh guru, pengawas sekolah dan ketua komite. Sumber: Dokumentasi Pribadi, 2026.

Dampak terhadap Pendidik dan Institusi

            Inisiatif ini juga memberikan dampak positif yang luas bagi para pendidik dan institusi. Bagi guru-guru SDN Grebegan, proses pendampingan penulisan buku menjadi pengalaman pengembangan profesional yang berharga. Mereka tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga sebagai editor, motivator, dan fasilitator kreativitas siswa. Pengalaman ini memperkaya kompetensi pedagogik dan kepemimpinan mereka dalam mengelola pembelajaran yang bermakna.

            Bagi institusi, penerbitan buku ini telah mengangkat reputasi SDN Grebegan sebagai sekolah pedesaan yang berdaya dan inovatif. Sekolah yang sebelumnya dipandang sebagai sekolah pinggiran kini mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah hingga komunitas pendidikan. Wakil Bupati Bojonegoro, Dra. Hj. Nurul Azizah, M.M., menyatakan bahwa inisiatif ini patut menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Bojonegoro. Sementara itu, Pengawas SD Negeri Kecamatan Kalitidu, Edwin Dwiantoro, S.Pd., M.M., mengapresiasi bahwa buku ini menunjukkan proses pendidikan yang bermakna di mana anak-anak belajar bermimpi, percaya diri, dan menatap masa depan dengan keyakinan.

            Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Drs. Ec. Mokhamad Anwar Mukhtadlo, M.Si., memberikan apresiasi yang mendalam terhadap inisiatif ini. Beliau menegaskan bahwa buku ini membuktikan mimpi besar lahir dari kesederhanaan dan ketekunan serta dari pendidikan yang memberi ruang pada harapan. Menurut beliau, anak-anak SD Negeri Grebegan telah menyalakan cahaya masa depan dari pelosok negeri, dan tugas kita bersama adalah menjaga nyala cahaya itu agar terus tumbuh dan menyala menerangi ke seluruh penjuru Bojonegoro, Jawa Timur, dan Nusantara. Pernyataan ini menjadi penegasan bahwa gerakan literasi yang tumbuh dari bawah, dari sekolah pedesaan yang sederhana, mampu mendapatkan pengakuan dan dukungan dari pemangku kebijakan tertinggi di bidang pendidikan daerah.

Dampak terhadap Komunitas dan Lingkungan Pendidikan

            Dampak inisiatif ini melampaui batas pagar sekolah. Buku ini telah menjadi sumber inspirasi bagi para orang tua siswa yang sebagian besar merupakan petani sederhana. Mereka menyaksikan bahwa anak-anak mereka mampu menghasilkan karya tulis yang diterbitkan secara nasional, sebuah pencapaian yang menumbuhkan kebanggaan dan harapan baru. Lebih dari itu, inisiatif ini telah menginspirasi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Bojonegoro untuk mengembangkan program literasi serupa, menciptakan efek domino positif dalam ekosistem pendidikan daerah.

            Kehadiran buku ini juga mendapat sambutan positif dari kalangan akademisi. Prof. Yohanes Surya, Ph.D., Fisikawan dan Pencetus Metode GASING, memberikan apresiasi dengan menyatakan bahwa anak-anak Indonesia memiliki potensi luar biasa di manapun mereka lahir dan tumbuh, serta meyakini bahwa semangat belajar dan rasa ingin tahu merupakan kunci masa depan. Demikian pula Prof. Dr. Drs. Achmad Hufad, M.Ed., Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, menegaskan bahwa buku ini menghadirkan kesadaran bahwa setiap anak memiliki cerita yang layak dihargai, dan bahwa mimpi yang dirawat dengan pendampingan serta kasih sayang akan tumbuh menjadi kekuatan hidup.

Refleksi: Keteladanan yang Menginspirasi Perubahan

            Perjalanan menginisiasi penerbitan buku ini mengajarkan penulis bahwa keteladanan bukan tentang memberikan instruksi dari atas, melainkan tentang berjalan bersama, mendengarkan, dan memberikan ruang kepada setiap individu untuk tumbuh. Sebagai kepala sekolah di daerah pedesaan, penulis menyadari bahwa peran seorang pemimpin pendidikan bukan hanya mengelola administrasi sekolah, tetapi juga menjadi agen perubahan yang mampu menginspirasi dan memberdayakan seluruh warga sekolah.

            Ketika anak-anak SDN Grebegan menuliskan cita-citanya, sesungguhnya mereka sedang belajar mengenali diri sendiri, memaknai keberadaan mereka, dan menumbuhkan harapan. Seperti yang dituliskan oleh Levin Putra Ardiansyah, siswa kelas IV, dalam esainya: meskipun ia adalah anak seorang petani dari sebuah desa kecil, ia tidak akan menyerah karena semua mimpi bisa diraih oleh siapa pun yang rajin belajar dan pantang menyerah. Atau Azzahra Khoirotun Nisa yang menegaskan keyakinannya bahwa walau ia dari desa kecil, ia bisa terbang tinggi meraih cita-cita dan suatu saat akan berdiri dengan bangga menjadi seorang guru yang hebat.

            Narasi-narasi sederhana namun penuh makna ini menjadi bukti bahwa pendidikan yang memberi ruang pada harapan mampu melahirkan perubahan nyata. Buku ini bukan sekadar kumpulan tulisan anak, melainkan dokumen pendidikan yang merekam tumbuhnya kesadaran, keberanian, dan kepercayaan diri. Inisiatif ini membuktikan bahwa inovasi pendidikan tidak selalu memerlukan teknologi canggih atau anggaran besar. Yang dibutuhkan adalah visi, keteladanan, dan keberanian untuk memulai dari hal-hal sederhana namun bermakna.

            Tim Guru SD Negeri Grebegan menegaskan komitmen bersama: "Kami memang mengajar di sekolah sederhana, di tengah sawah dan keterbatasan, tetapi kami percaya: setiap anak berhak memiliki mimpi besar. Dengan cinta, keteladanan, dan pendidikan yang bermakna, kami akan terus mendampingi mereka menapaki jalan menuju masa depan yang mereka cita-citakan."

Kesimpulan dan Rekomendasi

            Penerbitan buku "Membangun Mimpi dari Pelosok Negeri" merupakan bukti nyata bahwa keteladanan seorang kepala sekolah mampu menghasilkan dampak transformatif yang luas. Dari sebuah sekolah kecil di tengah sawah, lahir 54 esai cita-cita yang membuktikan bahwa mimpi besar tidak mengenal batas geografis, keterbatasan sarana, maupun latar belakang sosial-ekonomi. Inisiatif ini telah berhasil menumbuhkan kepercayaan diri siswa, memperkuat literasi, membentuk karakter, serta menginspirasi lingkungan pendidikan yang lebih luas.

            Berdasarkan pengalaman ini, penulis merekomendasikan agar program penulisan cita-cita siswa dapat diadaptasi dan direplikasi oleh sekolah-sekolah lain, khususnya di daerah pedesaan. Dukungan dari pemerintah daerah dalam bentuk kebijakan dan anggaran untuk program literasi berbasis sekolah juga sangat diperlukan. Selain itu, kolaborasi antara sekolah, penerbit, akademisi, dan komunitas pendidikan perlu terus diperkuat untuk menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuhnya literasi dan karakter di seluruh pelosok negeri.

            Sebagai penutup, penulis meyakini bahwa dari sekolah kecil di tengah sawah pun, masa depan bangsa sedang dibangun. Tugas kita bersama adalah menjaga nyala cahaya mimpi anak-anak itu agar terus tumbuh dan menyala menerangi ke seluruh penjuru Nusantara.

Daftar Pustaka

Asra, S., & Husna, A. (2022). Penguatan Cita-Cita Siswa Sekolah Dasar melalui Kelas Inspirasi. Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat, 5(4), 333–337. https://doi.org/10.29303/jppm.v5i4.4090

Audia, W., & Mastoah, I. (2025). Strategi Inovatif dalam Meningkatkan Literasi dan Numerasi Siswa Sekolah Dasar di Era Digital. Jurnal Pendidikan Dasar, 13(1), 86–91. https://doi.org/10.21009/JPD.v13i1

Badan Pusat Statistik. (2022). Statistik Indonesia 2022. Jakarta: BPS. https://www.bps.go.id 

Ibtisamah, I. J., & Sya, M. F. (2025). Mengatasi Kendala Literasi dan Numerasi di SD: Solusi Berbasis Metode Interaktif dan Media Pembelajaran. Karimah Tauhid, 4(7), 4274–4283. https://doi.org/10.30997/karimahtauhid.v4i7.18554

Jelita, S. K., & Sholehuddin. (2024). Upaya Guru Meningkatkan Kepercayaan Diri Siswa. Seminar Nasional dan Publikasi Ilmiah 2024 FIP UMJ, 800–809. https://jurnal.umj.ac.id/index.php/SEMNASFIP/article/view/23641

Kemendikbud. (2021). Hasil Asesmen Kompetensi Siswa Indonesia (AKSI) 2021. Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. https://hasilun.puspendik.kemdikbud.go.id

Lickona, T. (1992). Educating for Character: How Our Schools Can Teach Respect and Responsibility. New York: Bantam Books.

OECD. (2023). PISA 2022 Results (Volume I): The State of Learning and Equity in Education. Paris: OECD Publishing. https://doi.org/10.1787/53f23881-en

Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 23 Tahun 2015 tentang Penumbuhan Budi Pekerti.

Peraturan Presiden Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter.

Yudiana, K., Putri, N. N. C. A., & Antara, I. G. W. S. (2023). Kesenjangan Kemampuan Literasi Siswa Sekolah Dasar di Daerah Perkotaan, Pinggiran Kota, dan Pedesaan. Jurnal Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, 7(3), 540–547. https://doi.org/10.23887/jppp.v7i3.69790

Istiqomah, O. N., dkk. (2026). Membangun Mimpi dari Pelosok Negeri: Bunga Rampai Cita-Cita Siswa SDN Grebegan, Kalitidu, Bojonegoro. (R. Yuana, S. Wuryani, Sriyanik, & Sumiyati, Eds.). Bojonegoro: PT. Taman Baca Indonesia. QRSBN: 62-0027-02986-2

 

Dokumentasi Pendukung :

  1. File Buku Membangun Mimpi dari Pelosok Negeri 

    https://bit.ly/PortofolioInsanBerdampak_RitaYuana 

  2. Video Apresiasi Ibu Wakil Bupati Bojonegoro, Ibu Dra. Nurul Azizah, MM 

     https://www.instagram.com/reel/DWLAtkHE4oP/?igsh=MXIzdTg2cXBybDI4NA== 

  3. Video Apresiasi Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bapak Prof. Dr. Drs. Ahmad Hufad, M.Ed

    https://www.instagram.com/reel/DXJVyEfkwqY/?igsh=ZzNseXkyMWVyeTMx 

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Komunitas