Sinergi Hati Membangun Sekolah Bermakna - Guruinovatif.id

Diterbitkan 27 Apr 2026

Sinergi Hati Membangun Sekolah Bermakna

Kisah Inspiratif Kepala Sekolah melalui Program Sistem Arisan Paguyuban (SIAP) dalam Menggerakkan Kolaborasi Sekolah dan Masyarakat untuk Pendidikan Berkualitas di SD Negeri Grebegan, Bojonegoro

Cerita Guru

7x
Bagikan

Sinergi Hati Membangun Sekolah Bermakna:

Kisah Inspiratif Kepala Sekolah melalui Program Sistem Arisan Paguyuban (SIAP) dalam Menggerakkan Kolaborasi Sekolah dan Masyarakat untuk Pendidikan Berkualitas di SD Negeri Grebegan, Bojonegoro

Oleh: Rita Yuana, S.Pd.SD., M.Pd.

Kepala SD Negeri Grebegan, Kec. Kalitidu, Kab. Bojonegoro, Jawa Timur

Email: ritayuana20@upi.edu

#GuruInovatif #Hardiknas2026 #InsanPendidikanBerdampak

Deskripsi Singkat: Artikel ini mengisahkan perjalanan inspiratif seorang kepala sekolah di pedesaan yang mentransformasi SD Negeri Grebegan melalui Sistem Arisan Paguyuban (SIAP), sebuah gerakan kolaborasi sekolah-masyarakat berbasis keteladanan dan gotong royong. Dengan pendekatan servant leadership, SIAP berhasil mengubah karakter, mindset, dan kepercayaan diri peserta didik; membangun komunikasi dua arah yang humanis; serta meningkatkan prestasi akademik dan non-akademik. Artikel ini dikaji melalui wawancara mendalam terhadap peserta didik, guru, dan komite sekolah, serta dikaitkan dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila dan delapan dimensi Profil Lulusan Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen No. 13/2025). Program ini telah divalidasi secara akademik melalui tesis berpredikat A dan Letter of Acceptance jurnal ilmiah DIVERSITY Logic Journal Multidisciplinary.

1. Panggilan Hati dari Tengah Sawah: Awal Mula Perjalanan

Menjadi kepala sekolah di SD Negeri Grebegan bukanlah sebuah pilihan yang mudah. Pada Juni 2022, ketika pertama kali menginjakkan kaki di sekolah yang terletak di tengah hamparan sawah Kecamatan Kalitidu, Kabupaten Bojonegoro ini, penulis dihadapkan pada kenyataan yang menguji seluruh komitmen sebagai pendidik. Jalan menuju sekolah becek saat musim hujan, pagar sekolah tampak kusam, ruang guru berfungsi multiguna, dan yang paling memprihatinkan banyak orang tua di desa ini justru memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah di desa tetangga. Hubungan sekolah dan masyarakat bersifat formal dan satu arah; interaksi hanya terjadi saat pembagian rapor atau rapat komite. Tidak ada ruang dialog terbuka untuk membahas aspirasi dan harapan bersama.

Namun, di balik keterbatasan tersebut, penulis melihat sesuatu yang jauh lebih berharga: semangat gotong royong dan kekeluargaan yang masih sangat kuat di kalangan masyarakat Desa Grebegan. Dewanti, Alhudawi, dan Hodriani (2023) menjelaskan bahwa gotong royong sebagai nilai kultural masyarakat Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat partisipasi warga dalam berbagai dimensi kehidupan, termasuk pendidikan. Dari modal sosial inilah penulis memutuskan untuk tidak sekadar memimpin dari balik meja, melainkan turun langsung ke tengah masyarakat, menjadi teladan yang hadir, mendengar, dan bergerak bersama.

Epstein dan Sheldon (2023) dalam kerangka teoretisnya tentang overlapping spheres of influence menegaskan bahwa sekolah, keluarga, dan masyarakat merupakan tiga ranah yang saling tumpang tindih dan harus bekerja secara sinergis. Keyakinan inilah yang menjadi titik berangkat lahirnya Sistem Arisan Paguyuban atau yang selanjutnya disebut SIAP, sebuah gerakan yang kemudian mengubah wajah sekolah secara fundamental.

2. Memimpin dengan Hati: Keteladanan sebagai Fondasi Perubahan

D’Ascoli dan Piro (2022) menjelaskan bahwa kepala sekolah yang menerapkan servant leadership mampu memfasilitasi pertumbuhan personal bagi seluruh warga sekolah, menciptakan iklim kepercayaan, dan mendorong partisipasi aktif dari seluruh pemangku kepentingan. Prinsip inilah yang penulis wujudkan dalam setiap langkah membangun SIAP.

2.1. Mendatangi Satu per Satu: Mendengar Sebelum Memimpin

Perubahan tidak bisa dipaksakan, tetapi harus ditumbuhkan melalui keteladanan. Langkah pertama yang penulis ambil adalah mengunjungi rumah-rumah warga perwakilan paguyuban satu per satu. Bukan untuk menyampaikan instruksi, melainkan untuk berdialog, mendengarkan keluhan, memahami harapan, dan menyampaikan visi bahwa sekolah seharusnya menjadi milik bersama. Pendekatan personal ini adalah perwujudan dari prinsip mendengarkan secara aktif dan komitmen terhadap pertumbuhan orang lain (D’Ascoli & Piro, 2022). Perlahan, masyarakat mulai merasakan bahwa kepala sekolah baru ini berbeda, bukan hadir untuk mendikte, melainkan untuk bersama-sama mencari solusi.

2.2. Melahirkan SIAP: Dari Arisan Biasa Menjadi Gerakan Pendidikan

Kegiatan SIAP dimulai pada November 2022 dengan konsep sederhana namun penuh makna. Pertemuan dilaksanakan secara bergiliran di rumah kepala sekolah, guru, komite, dan anggota paguyuban, dengan frekuensi satu hingga dua bulan sekali. Setiap pertemuan didesain dalam suasana kekeluargaan: duduk bersama, menikmati jamuan sederhana, lalu membahas kemajuan sekolah, perkembangan siswa, dan kebutuhan yang harus segera diatasi. SIAP tidak berorientasi pada pengumpulan dana, melainkan menjadi ruang komunikasi dua arah dan kolaborasi strategis berbasis musyawarah. Epstein dan Sheldon (2023) mengidentifikasi bahwa communicating dan collaborating with the community merupakan tipe keterlibatan yang paling krusial dan keduanya menjadi jantung program SIAP.

MEXZNjILACH4UUJgIxNBDIeoiIsJ9ShOFfGaAHcF.jpg

Gambar 1. Suasana pertemuan Sistem Arisan Paguyuban (SIAP) di rumah salah satu anggota paguyuban. Kepala sekolah, guru, komite, dan orang tua siswa duduk bersama dalam suasana kekeluargaan membahas kemajuan pendidikan di SD Negeri Grebegan.

2.3. Momen-Momen Inspiratif yang Mengubah Segalanya

Kekuatan SIAP sesungguhnya terletak pada momen-momen kemanusiaan yang lahir di dalamnya, momen yang menegaskan peran penulis bukan sekadar sebagai administrator, melainkan sebagai figur teladan yang menggerakkan perubahan nyata.

Momen pertama yang paling menggugah terjadi ketika forum menemukan dua anak dari delapan bersaudara yang tidak bersekolah karena kendala ekonomi dan ketiadaan akta kelahiran. Penulis bersama paguyuban dan pemerintah desa tidak hanya membicarakan masalah ini di ruang rapat, tetapi bergerak bersama: akta kelahiran diuruskan, perlengkapan belajar disediakan dari sumbangan sukarela warga. Pendampingan intensif kemudian mengungkap kenyataan yang lebih memprihatinkan: lingkungan keluarga tidak mampu memberikan dukungan optimal. Melalui musyawarah yang melibatkan seluruh pihak, diputuskan untuk mencarikan pondok pesantren yang memberikan jaminan pendidikan gratis hingga perguruan tinggi. Penulis bersama paguyuban dan perangkat desa melakukan survei, mencari donatur, dan akhirnya mengantar langsung kedua anak tersebut ke pondok pesantren. Momen ini adalah perwujudan nyata dari model wraparound support (Bowen & Cuddapah, 2022) dan bukti bahwa keteladanan seorang kepala sekolah dapat mengubah nasib anak.

Kisah serupa terulang ketika seorang siswa kelas 6 terancam putus sekolah karena keterbatasan biaya. Melalui forum SIAP, sekolah bersama paguyuban mencarikan sekolah lanjutan yang memberikan jaminan pendidikan berkelanjutan. Momen-momen inilah yang membedakan SIAP dari program sekolah biasa, ia adalah gerakan kemanusiaan yang menempatkan nasib anak sebagai prioritas utama, digerakkan oleh keteladanan seorang pemimpin yang hadir dan peduli.

2.4. Sabtu BERSERI: Menumbuhkan Karakter Melalui Aksi Nyata

SIAP melahirkan program turunan yang berdampak langsung pada pembentukan karakter peserta didik, salah satunya program Sabtu BERSERI (Bersih, Sehat, dan Kreasi). Dilaksanakan setiap Sabtu di awal bulan, program ini mencakup kerja bakti, senam bersama, penampilan kreasi siswa, dan sesi berbagi dari narasumber berbagai profesi. Calderon-Villarreal et al. (2025) menegaskan bahwa keterlibatan orang tua yang bersifat hangat dan afektif memungkinkan anak merasa lebih aman secara emosional. Dalam perspektif Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen No. 13/2025), Sabtu BERSERI secara langsung memfasilitasi seluruh delapan dimensi Profil Lulusan: kreativitas dan komunikasi melalui penampilan siswa; kolaborasi dan kewargaan melalui kerja bakti; penalaran kritis melalui sesi narasumber; kesehatan melalui senam; keimanan melalui nilai akhlak; dan kemandirian melalui tanggung jawab individual.

3. Dampak Nyata: Perubahan Karakter, Mindset, dan Kepercayaan Diri

Hands (2023) menekankan bahwa keberhasilan kolaborasi sekolah-masyarakat sangat bergantung pada kemampuan pemimpin dalam mengatasi hambatan dan memastikan setiap anggota merasakan manfaat langsung. Bagian ini menyajikan bukti empiris dampak SIAP berdasarkan wawancara mendalam dengan tujuh informan (Tabel 1) menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dan analisis tematik (Braun & Clarke, 2006; Creswell & Creswell, 2018).

No.

Nama

Jabatan/Status

Kelas/Bidang

Kategori

1

MayaPeserta DidikKelas 5Siswa

2

OktaPeserta DidikKelas 6Siswa

3

AurelPeserta DidikKelas 5Siswa

4

MashuriKetua Komite SekolahKomite

5

SumiyatiGuru Kelas 6Kelas 6Guru

6

AinunGuru OlahragaOlahragaGuru

7

NilnaGuru Agama IslamPAIGuru

Tabel 1. Daftar Informan Wawancara Mendalam

3.1. Perubahan Mindset Masyarakat: Dari Pasif Menjadi Mitra Aktif

Dampak paling fundamental dari keteladanan penulis melalui SIAP adalah transformasi total dalam pola hubungan antara sekolah dan masyarakat. Jeynes (2022) menunjukkan bahwa ekspektasi dan keterlibatan aktif orang tua memiliki korelasi signifikan dengan prestasi akademik peserta didik. Dalam konteks SDN Grebegan, SIAP berhasil menggeser paradigma masyarakat dari yang semula memandang pendidikan sebagai tanggung jawab eksklusif guru menjadi tanggung jawab bersama yang diemban secara kolektif.

“Sekarang komunikasi dua arah lebih terbuka sehingga semua permasalahan, kebutuhan, dan program sekolah bisa didiskusikan dengan sangat baik. Dulu, kami hanya datang saat rapat tahunan. Sekarang lewat SIAP, kami merasa benar-benar menjadi bagian dari kemajuan sekolah.” (Mashuri, Ketua Komite SDN Grebegan)

3.2. Perubahan Karakter dan Kepercayaan Diri Peserta Didik

Hasil wawancara mendalam dengan tiga peserta didik, Maya (Kelas 5), Okta (Kelas 6), dan Aurel (Kelas 5) memberikan konfirmasi empiris yang kuat terhadap dampak perubahan karakter. Ketiga informan secara konsisten menyatakan bahwa kehadiran dan keteladanan kepala sekolah melalui program SIAP telah mengubah cara mereka memandang sekolah: dari tempat yang membosankan menjadi ruang belajar yang menyenangkan, dari rutinitas tanpa makna menjadi pengalaman penuh semangat. Perubahan ini bukan sekadar perubahan suasana, melainkan perubahan karakter, mindset, dan kepercayaan diri yang mendasar.

“Sekarang belajar di sekolah jadi menyenangkan sekali, Bu. Ada banyak kegiatan yang seru, jadi saya selalu semangat berangkat ke sekolah. Prestasi saya juga lebih baik daripada dulu.” (Maya, Peserta Didik Kelas 5 SDN Grebegan)

“Dulu sekolah terasa biasa saja. Sekarang sejak ada program SIAP, banyak kegiatan yang menarik. Saya jadi lebih percaya diri dan prestasi saya meningkat. Suasana belajar tidak membosankan lagi.” (Okta, Peserta Didik Kelas 6 SDN Grebegan)

“Saya senang sekali sekolah di sini karena banyak kegiatan yang menarik. Belajarnya menyenangkan, tidak membosankan. Saya jadi lebih semangat dan nilai saya juga naik.”(Aurel, Peserta Didik Kelas 5 SDN Grebegan)
 

9cTI3fa3FmHRIMShiCDSYDsbSKf7FfmDDqOKDrJG.png

Grafik 1. Persepsi Peserta Didik terhadap Dampak Program SIAP Berdasarkan Hasil Wawancara Mendalam (Skala 1-5)

Grafik 1 menunjukkan bahwa ketiga informan peserta didik memberikan penilaian sangat positif (skor 4-5) pada seluruh aspek yang diteliti. Temuan ini mengindikasikan bahwa SIAP telah berhasil menciptakan ekosistem pembelajaran yang menyenangkan (joyful learning) dan bermakna (meaningful learning) dua dari tiga elemen utama Pembelajaran Mendalam.

3.3. Peningkatan Prestasi sebagai Buah Perubahan Karakter

Atmosfer pendidikan yang kolaboratif dan suportif melalui SIAP memberikan dampak positif terhadap prestasi peserta didik, khususnya pada bidang non-akademik. Omar (2024) menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua berpengaruh signifikan terhadap capaian peserta didik di sekolah dasar.

“Prestasi anak-anak meningkat pesat. Dulu, sebelum ada program SIAP, kami jarang sekali juara setiap ada ajang lomba, baik tingkat kecamatan maupun kabupaten. Sekarang, alhamdulillah, hampir setiap tahun pasti memperoleh piala karena anak-anak semakin percaya diri untuk berkompetisi.” (Sumiyati, Guru Kelas 6 SDN Grebegan).

y1SMrY1kZcdeHsIztk5NNO4na3zKdh5DHYkPbIDa.png

Grafik 2. Perbandingan Capaian Prestasi Peserta Didik SDN Grebegan Sebelum dan Sesudah Implementasi Program SIAP

Grafik 2 memvisualisasikan peningkatan prestasi secara menyeluruh. Peningkatan paling menonjol terjadi pada bidang non-akademik dengan 5 piala per tahun, mencerminkan dampak holistik SIAP terhadap pengembangan potensi peserta didik di luar ranah kognitif, selaras dengan semangat Pembelajaran Mendalam yang menekankan delapan dimensi Profil Lulusan (Kemendikdasmen, 2025).

“Anak-anak sangat bersemangat mengikuti kegiatan olahraga karena fasilitas olahraga di sekolah sekarang semakin lengkap dibandingkan sebelumnya. Dulu, peralatan terbatas, sekarang berkat dukungan dari paguyuban melalui SIAP, kami memiliki peralatan yang jauh lebih memadai.” (Pak Ainun, Guru Olahraga SDN Grebegan).

“Prestasi keagamaan anak-anak meningkat pesat. Sekarang kami sudah memiliki mushola, tempat ibadah yang layak, ekstrakurikuler keagamaan, dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Semua itu hasil dari kolaborasi melalui SIAP.” (Bu Nilna, Guru Agama Islam SDN Grebegan).

heuc7rchTqdZfq89p9ltYMkiLPzCOYULUlThlCof.png

Grafik 3. Pemetaan Dampak SIAP Berdasarkan Perspektif Multi-Stakeholder (Hasil Wawancara Mendalam)

Informan

Temuan Utama Wawancara

Peserta Didik (Maya, Okta, Aurel)Perubahan karakter: pembelajaran lebih menyenangkan, prestasi meningkat, lebih semangat berangkat sekolah, suasana belajar tidak membosankan, kepercayaan diri tumbuh
Mashuri (Ketua Komite)Perubahan mindset: komunikasi dua arah terbuka, seluruh permasalahan dan program sekolah didiskusikan bersama, rasa memiliki terhadap sekolah meningkat
Sumiyati (Guru Kelas 6)Dampak prestasi: anak semakin percaya diri berkompetisi, hampir setiap tahun memperoleh piala di ajang lomba kecamatan/kabupaten
Ainun (Guru Olahraga)Semangat dan fasilitas: anak-anak antusias karena fasilitas olahraga lengkap berkat dukungan paguyuban melalui SIAP
Bu Nilna (Guru Agama Islam)Prestasi keagamaan: meningkat signifikan berkat mushola, tempat ibadah, dan ekstrakurikuler keagamaan hasil kolaborasi SIAP

Tabel 2. Ringkasan Temuan Wawancara Mendalam: Dampak Perubahan Karakter, Mindset, dan Kepercayaan Diri

4. Relevansi dengan Profil Pelajar Pancasila dan Profil Lulusan Pembelajaran Mendalam

Program SIAP memiliki relevansi yang kuat dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila (BSKAP No. 031/2024; Hakim et al., 2024; Rifki et al., 2024) sekaligus berkorespondensi dengan delapan dimensi Profil Lulusan dalam kerangka Pembelajaran Mendalam (Permendikdasmen No. 13/2025; Nugroho et al., 2025). Dalehefte dan Canrinus (2023) menunjukkan bahwa pendekatan deep learning secara positif berkorelasi dengan capaian belajar yang lebih tinggi. Chen dan Singh (2024) menegaskan bahwa keberhasilan deep learning dipengaruhi oleh integrasi faktor individual, sosial, dan lingkungan. Weng, Chen, dan Ai (2023) mendemonstrasikan bahwa design-based learning mampu meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi. Seluruh elemen ini secara natural hadir dalam ekosistem SIAP.

8 Dimensi Profil Lulusan (Deep Learning)

Implementasi dalam Program SIAP dan Kegiatan Turunannya

1. Keimanan & KetakwaanPembangunan mushola sekolah, ekstrakurikuler keagamaan, program ibadah rutin, penanaman akhlak mulia — selaras dengan PPP: Beriman, Bertakwa, Berakhlak Mulia
2. KewargaanForum SIAP terbuka untuk semua kalangan, penghargaan keberagaman perspektif, kolaborasi lintas elemen masyarakat — selaras dengan PPP: Berkebhinekaan Global
3. Penalaran KritisDiskusi musyawarah berbasis data, pengambilan keputusan partisipatif, pemecahan masalah kolektif — selaras dengan PPP: Bernalar Kritis
4. KreativitasPenampilan kreasi siswa Sabtu BERSERI, panggung kreasi, inovasi solusi permasalahan sekolah — selaras dengan PPP: Kreatif
5. KolaborasiArisan paguyuban sebagai model gotong royong, kerja bakti, kolaborasi multipihak — selaras dengan PPP: Bergotong Royong
6. KemandirianPemberian tanggung jawab kepada peserta didik, pengembangan inisiatif individual, keberanian tampil publik — selaras dengan PPP: Mandiri
7. KesehatanSenam rutin Sabtu BERSERI, kerja bakti kebersihan, peningkatan fasilitas olahraga — dimensi baru Profil Lulusan
8. KomunikasiPenampilan publik peserta didik, forum dialog terbuka, pengembangan presentasi dan ekspresi diri — dimensi baru Profil Lulusan

Tabel 3. Pemetaan Keterkaitan Program SIAP dengan 8 Dimensi Profil Lulusan dan 6 Dimensi Profil Pelajar Pancasila

8EPVycHEiV1V3K9nyiSKkMuvAifQuxKZjg9skD7p.png

Grafik 4. Keterkaitan Program SIAP dengan 6 Dimensi Profil Pelajar Pancasila dan 8 Dimensi Profil Lulusan Pembelajaran Mendalam

Grafik 4 memvisualisasikan bahwa SIAP memiliki keterkaitan sangat kuat (skor 5) dengan dimensi keimanan dan ketakwaan, kolaborasi/gotong royong, kreativitas, dan kesehatan. Dua dimensi baru, kesehatan dan komunikasi terfasilitasi melalui Sabtu BERSERI dan forum dialog terbuka, menegaskan bahwa SIAP secara organik telah memfasilitasi kompetensi utuh yang menjadi target Pembelajaran Mendalam.

5. Validasi Akademik dan Pengakuan Ilmiah

Keberhasilan program SIAP telah mendapat validasi dalam ranah akademik. Pada tahun 2025, program ini dijadikan objek penelitian tesis pada Program Studi Manajemen Pendidikan dengan judul “Manajemen Sistem Arisan Paguyuban (SIAP) dalam Meningkatkan Mutu Layanan Pendidikan di SD Negeri Grebegan Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro.” Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan SIAP berkontribusi signifikan terhadap peningkatan kinerja dan mutu layanan sekolah, dengan penilaian tesis memperoleh predikat A (Yuana, 2025). Lebih lanjut, hasil penelitian telah disubmit ke jurnal ilmiah DIVERSITY Logic Journal Multidisciplinary dan memperoleh Letter of Acceptance (LoA) dengan nomor 27/SYNTIFIC/VIII/2025 (Yuana, Suyanto, & Wahyudi, 2025). Validasi ganda ini membuktikan bahwa SIAP bukan sekadar program lokal, melainkan model yang berpotensi direplikasi secara nasional.

6. Konsistensi Aksi Nyata: Keberlanjutan sebagai Bukti Dedikasi

Sejak pertama kali diinisiasi pada November 2022, program SIAP terus berjalan konsisten hingga saat ini. Keberlanjutan ini bukan merupakan hasil dari instruksi birokratis, melainkan lahir dari rasa memiliki yang tumbuh di seluruh anggota paguyuban. Hands (2023) menekankan bahwa keberlanjutan kemitraan sekolah-masyarakat sangat bergantung pada kemampuan pemimpin untuk mengadaptasi program terhadap konteks lokal.

Konsistensi juga tercermin dari semakin luasnya cakupan program. Jika pada awalnya SIAP hanya melibatkan orang tua siswa dan guru, kini forum ini telah menarik partisipasi perangkat desa, tokoh masyarakat, hingga lembaga sosial. Perluasan ini terjadi secara organik karena masyarakat melihat sendiri dampak nyata yang dihasilkan. Penguatan fungsi sosial ini sejalan dengan konsep Community Collaboration Model (Gallagher et al., 2022) yang menekankan pentingnya kemitraan sekolah-masyarakat dalam mengatasi hambatan non-akademik terhadap pembelajaran.

7. Penutup: Dari Ruang Arisan Sederhana, Tumbuh Gerakan Pendidikan

Perjalanan SD Negeri Grebegan melalui SIAP adalah bukti nyata bahwa perubahan besar dalam pendidikan dapat lahir dari keteladanan seorang pemimpin yang hadir dengan hati. Hasil wawancara mendalam dengan berbagai stakeholder secara konsisten mengonfirmasi bahwa SIAP telah menghasilkan dampak transformatif yang multidimensional: perubahan karakter dan kepercayaan diri peserta didik, transformasi mindset masyarakat dari pasif menjadi mitra aktif, peningkatan prestasi akademik dan non-akademik, serta penguatan fasilitas pendidikan.

Peningkatan prestasi non-akademik yang paling menonjol menegaskan bahwa SIAP telah berhasil mewujudkan semangat Pembelajaran Mendalam pendekatan yang berkesadaran (mindful), bermakna (meaningful), dan menggembirakan (joyful) melalui pengembangan delapan dimensi Profil Lulusan secara holistik. Keterkaitan SIAP dengan enam dimensi Profil Pelajar Pancasila membuktikan relevansinya yang kuat dengan arah kebijakan pendidikan nasional.

Kisah ini menjadi inspirasi bagi seluruh insan pendidikan di Indonesia: bahwa kita tidak perlu menunggu fasilitas sempurna atau kebijakan ideal untuk memulai perubahan. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk hadir, ketulusan untuk mendengar, dan konsistensi untuk bergerak bersama masyarakat. Dari ruang arisan sederhana di tengah sawah, telah tumbuh gerakan pendidikan yang menumbuhkan harapan dan memperkuat peran sekolah sebagai pusat kehidupan masyarakat desa. Inilah makna sesungguhnya dari menjadi insan pendidikan yang berdampak.

Daftar Pustaka

Bowen, G. L., & Cuddapah, D. (2022). Essential conditions for partnership collaboration within a school-community model of wraparound support. Journal of Child and Family Studies, 33, 2891–2905. https://doi.org/10.1007/s10826-024-02903-1 

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101. https://doi.org/10.1191/1478088706qp063oa 

Calderon-Villarreal, A., Garcia-Hernandez, A., Olvera-Gonzalez, R., & Elizondo-Garcia, J. (2025). Parental involvement barriers and their influence on student self-regulation in primary education. Education and Urban Society. https://doi.org/10.1177/00131245251314489 

Chen, J., & Singh, C. K. S. (2024). A systematic review on deep learning in education: Concepts, factors, models and measurements. Journal of Education and Educational Research, 7(1), 125–129. https://doi.org/10.54097/gzk2yd38 

Creswell, J. W., & Creswell, J. D. (2018). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (5th ed.). SAGE Publications. https://doi.org/10.4135/9781071802779 

D’Ascoli, S., & Piro, J. S. (2022). Educational servant-leaders and personal growth. Journal of School Leadership, 33(1), 3–25. https://doi.org/10.1177/10526846221134001 

Dalehefte, I. M., & Canrinus, E. T. (2023). Fostering pupils’ deep learning and motivation in the Norwegian context. Dalam R. Maulana et al. (Eds.), Effective teaching around the world (pp. 619–634). Springer. https://doi.org/10.1007/978-3-031-31678-4_27 

Dewanti, P. A., Alhudawi, U., & Hodriani, H. (2023). Gotong royong dalam memperkuat partisipasi warga negara (civic participation). Pancasila and Civics Education Journal, 2(1), 15–22. https://doi.org/10.30596/pcej.v2i1.13753 

Epstein, J. L., & Sheldon, S. B. (2023). School, family, and community partnerships: Preparing educators and improving schools (3rd ed.). Routledge. https://doi.org/10.4324/9781003124887 

Gallagher, K. K., Adams, C. M., & Pyles, D. G. (2022). The community collaboration model for school improvement: A scoping review. Education Sciences, 12(12), 918. https://doi.org/10.3390/educsci12120918 

Hakim, M. N., Solihah, K. Z., Ismail, F., Salim, A., & Prasetiyo, N. T. (2024). Optimizing the Merdeka Curriculum for developing the Pancasila Student Profile through project-based learning. Munaddhomah: Jurnal Manajemen Pendidikan Islam, 5(4), 395–408. https://doi.org/10.31538/munaddhomah.v5i4.1396 

Hands, C. M. (2023). School-community collaboration: Insights from two decades of partnership development. Dalam B. Cleveland et al. (Eds.), Schools as community hubs (pp. 35–55). Springer. https://doi.org/10.1007/978-981-19-9972-7_3 

Jeynes, W. H. (2022). A meta-analysis: The relationship between the parental expectations component of parental involvement with students’ academic achievement. Urban Education, 59(1), 90–131. https://doi.org/10.1177/00420859211073892 

Kemendikdasmen. (2025). Naskah akademik pembelajaran mendalam menuju pendidikan bermutu untuk semua. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia.

Keputusan BSKAP Nomor 031 Tahun 2024 tentang Kompetensi dan Tema Projek Penguatan Profil Pelajar Pancasila.

Nugroho, P. A., et al. (2025). Deep learning dalam pembelajaran di sekolah dasar. Penerbit Kemendikdasmen.

Omar, J. (2024). Influence of parental involvement on academic achievement in elementary school children. American Journal of Psychology, 6(3), 1–11. https://doi.org/10.47672/ajp.2223 

Peraturan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Permendikdasmen) Nomor 13 Tahun 2025 tentang Pembelajaran Mendalam.

Rifki, M., et al. (2024). Penerapan Profil Pelajar Pancasila dalam Kurikulum Merdeka pada mata pelajaran Pendidikan Pancasila di sekolah dasar. Attadrib: Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah, 8(1), 160–173. https://doi.org/10.54069/attadrib.v8i1.876 

Weng, C., Chen, C., & Ai, X. (2023). A pedagogical study on promoting students’ deep learning through design-based learning. International Journal of Technology and Design Education, 33, 1653–1674. https://doi.org/10.1007/s10798-022-09789-4 

Yuana, R. (2025). Manajemen Sistem Arisan Paguyuban (SIAP) dalam meningkatkan mutu layanan pendidikan di SD Negeri Grebegan Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro [Tesis magister, Universitas Gresik].

Yuana, R., Suyanto, & Wahyudi, M. F. (2025). The role of Sistem Arisan Paguyuban management (SIAP) in improving the quality of educational services at Grebegan State Elementary School. DIVERSITY Logic Journal Multidisciplinary, 3(2). [Letter of Acceptance No. 27/SYNTIFIC/VIII/2025].

 

 

0

0

Loading comments...

Memuat komentar...

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis
Komunitas