Kisah Saya Sebagai Guru Pendidikan Agama Islam Menghadapi Peserta Didik Yang Terkapar Paham Radikal - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 06 Apr 2022

Kisah Saya Sebagai Guru Pendidikan Agama Islam Menghadapi Peserta Didik Yang Terkapar Paham Radikal

Sejak selesai kuliah, tahun 2003 saya sudah mengabdikan diri menjadi guru sukarela di beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Bone. Saya pernah mengajar 4 sekolah dalam waktu yang bersamaan. Bisa dibayangkan pada waktu itu bagaimana sibuknya menjadi guru pada 4 sekolah. Mungkin berkat ketekunan dalam mengabdikan diri kurang lebih selama 7 tahun, tahun 2009 lulus menjadi CPNS sebagai guru Pendidikan Agama Islam di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2011 minta mutasi di Kabupaten Bone, akhirnya dikabulkan dan di tempatkan di salah satu SMK yakni SMK Negeri 2 Bone. 

Cerita Guru

Rahman, S.Pd.I., M.Pd

Kunjungi Profile
2896x
Bagikan

Sejak selesai kuliah, tahun 2003 saya sudah mengabdikan diri menjadi guru sukarela di beberapa sekolah yang ada di Kabupaten Bone. Saya pernah mengajar 4 sekolah dalam waktu yang bersamaan. Bisa dibayangkan pada waktu itu bagaimana sibuknya menjadi guru pada 4 sekolah. Mungkin berkat ketekunan dalam mengabdikan diri kurang lebih selama 7 tahun, tahun 2009 lulus menjadi CPNS sebagai guru Pendidikan Agama Islam di lingkungan Pemerintah Kabupaten Kolaka Provinsi Sulawesi Tenggara. Pada tahun 2011 minta mutasi di Kabupaten Bone, akhirnya dikabulkan dan di tempatkan di salah satu SMK yakni SMK Negeri 2 Bone. 

Sekarang ini, saya adalah seorang guru Pendidikan Agama Islam di SMKN 2 Bone Sulawesi Selatan. SMKN 2 Bone salah satu sekolah Menengah Kejuruan yang cukup besar di Kabupaten Bone. Pengalaman sejak tahun 2003 sampai 2009 sebagai guru sukarela di beberapa sekolah, ditambah lagi pengalaman kurang lebih 12 tahun  telah mengabdi di sekolah SMK Negeri 2 Bone, tentu banyak hal yang membuat saya lebih bijak dan dewasa dalam menghadapi karakter setiap peserta didik. Di SMKN 2 Bone inilah yang benyak memberikan kesan pengalaman yang berharga sebagai guru Pendidikan Agama Islam. Sebagaimana di sekolah besar lainnya, di SMKN 2 Bone, peserta didik memiliki latar belakang suku, ras, budaya, dan kultur keagamaan yang berbeda-beda. Sebagai pendidik yang mengajarkan mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti, tentu sangat sensitif ketika berhadapan dengan peserta didik yang memiliki latar belakang keagamaan yang ekstrim. Sebagai pendidik saat menyampaikan materi pelajaran di kelas, kadang mendapatkan kritikan dan tanggapan keras dari salah satu peserta didik sehingga kadang membuat suasana kelas kurang kondusif.

Ada salah seorang peserta didik sebut saja namanya Rahim (nama samaran),salah satu peserta didik yang duduk di kelas X. Rahim ini cukup pintar di kelasnya. Suatu ketika, saya pernah menyampaikan materi di kelas dan sempat menyinggung tentang pentingnya moderasi beragama. Saat itu saya mengambil contoh bahwa kita menghormati saudara kita yang yang berbeda suku, agama, budaya, bahkan mazhab dalam beragama. Seketika itu pula langsung mengkritik dan tidak menerima pernyataan saya, bahkan mengatakan kelompok yang diluar sana semua sesat . Seketika itu langsung gaduh karena timbul reaksi dari peserta didik lain. Rahim ini, sepertinya kurang terbuka menerima adanya perbedaan, selalu merasa kelompoknyalah yang paling benar. Sesuatu yang tidak sesuai apa yang dia pahami dianggap salah. Tentu saja paham seperti ini sangat berbahaya jika dibiarkan, apalagi umurnya masih sangat muda.

Akibat dari sikap Rahim yang tidak terbuka dan cenderung tertutup, kadang prontal dalam kelas, sehingga pembahasan materi pembelajaran terhambat bahkan ada di antara teman mereka yang menjauhinya karena merasa berbahaya dengan pemahamannya yang ekstrim dan radikal itu. Nilai akademik khusunya sikap sosial dari saya agak kurang.

Melihat sikap Rahim yang cukup berbahaya bagi masa depannya itu, saya sebagai pendidik yang diamanahkan oleh negara tidak tinggal diam melihat anak didikku seperti itu. Rahim telah terkapar paham radikalisme melalui kelompok-kelompok sempalan yang ada di luar sekolah. Setelah mengetahui Rahim seperti itu, perhatian dan pengawasan saya banyak tertuju kepadanya. Bukan hanya di sekolah menjadi pantauan saya, tetapi juga di lingkungan tempat tinggal Rahim. Kurang lebih satu minggu saya banyak bersama dengan Rahim di sekolah. Sejak awal Rahim masuk sekolah kelihatannya selalu memisahkan diri dari teman yang lain. Saya dekati secara persuasif dengan banyak bertanya mengenai kehidupan latar belakang keagamaan keluarganya. Dari pengakuannya, latar belakang keagamaan orang tuanya ternyata biasa-biasa saja seperti masyarakat pada umumnya. Saya semakin yakin bahwa Rahim mendapat doktrin sesat di luar tanpa sepengetahuan orang tuanya. Sejak saat itu, saya bangun komunikasi khusus dengan orang tua Rahim dan langsung memberitahukan mengenai keadaan anaknya. Orang tuanya pun kaget setelah mengetahui anaknya memiliki paham seperti itu.  Orang tuanya banyak berharap dari saya selaku pendidik di sekolah untuk merubah pemahaman anaknya yang tertutup itu. Saya sampaikan ke orang tua Rahim bahwa harus ada kerjasama yang baik jika kita mau melihat Rahim berubah. Di sekolah, saat Rahim lagi sendiri saya menghampiri atau saya panggil ke ruang kerja saya. Mula-mula kami berdiskusi tentang banyak hal untuk menggali lebih jauh tentang pemahamannya mengenai cara beragama yang benar menurut dia. Ternyata apa yang dia sampaikan cukup berbahaya bagi masa depan dia. Di situlah saya menyampaikan kepada Rahim cara beragama yang baik dan benar menurut Islam. Pada awalnya  Rahim banyak membantah, itu saya bisa maklumi Rahim yang masih berjiwa labil tidak boleh dilawan dengan kekerasan karena bisa saja nekad melakukan sesuatu akibat doktrin yang selama ini dia dapatkan. Saya sebagai pendidik tidak boleh menyerah, saya arahkan Rahim masuk dalam organisasi rohis yang ada di sekolah. Melalui organisasi rohis ini, saya banyak menyampaikan materi-materi Islam Rahmatan Lilalamin, mensosialisasikan ajaran agama yang santun, saling menghargai, saling menghormati, damai, toleran, hidup rukun, menerima keberagaman dan kemajemukan, memiliki rasa cinta tanah air dan bela negara. Saya juga perintahkan secara khusus kepada kak seniornya di organisasi rohis untuk mendekati dan membujuk Rahim. Bahkan, kadang secara pribadi mengajak Rahim refresing, wisata, dan makan-makan di luar. Di samping itu, adanya kerja sama yang baik dari orang tua dengan memberikan buku penghubung untuk memantau aktifitas Rahim selama di rumah dan juga bantuan dari tokoh agama setempat. Begitu pula saya sampaikan ke warga sekolah, baik ke peserta didik, pendidik, maupun tenaga kependidikan untuk tetap ramah dan memperlakukan Rahim seperti warga sekolah lainnya. 

Sejak Rahim bergabung di organisasi rohis dan mendapatkan perhatian khusus seperti di atas, akhirnya ada perubahan. Rahim sudah banyak bersosialisasi dengan teman-teman sekelasnya dan cenderung terbuka. Kelihatannya sudah seperti teman sebayanya yang lain. Rahim tidak lagi melakukan tindakan prontal di saat berada di kelas, bahkan Rahim ini boleh dikata termasuk siswa yang pintar bicara, sehingga jika ada acara peringatan hari-hari besar keagamaan, sering dibaiat oleh teman-temannya menjadi ketua panitia.

Melihat kisah yang saya alami dan saya lakukan, jangan pernah merasa putus asa menghadapi peserta didik. Olehnya itu, sebagai pendidik harus memiliki banyak cara untuk menyentuh hati peserta didik sehingga peserta didik bisa berubah. Sekarang ini bukan lagi zamannya tindakan kekerasan untuk membuat seseorang berubah. Perubahan dapat terjadi karena adanya usaha sistematis dan terus-menerus, serta terarah yang membutuhkan kesabaran. Usaha-usaha seperti itulah, yang bisa diyakini akan memberikan hasil yang memuaskan diri kita dan sekolah dan mampu menyelamatkan peserta didik dari paham ekstrimisme dan radikalisme seperti yang dialami oleh peserta didik kita yang bernama Rahim (nama samaran).

Profil Singkat Penulis :

 

Description: D:\Camera\IMG_20160929_221203.JPG

 

Nama penulis adalah Rahman, S.Pd.I., M.Pd. lahir di sebuah desa yang bernama Malaombo (sekarang beruba jadi desa Donggala) pada tanggal 10 Juni 1976 dari keluarga yang kurang mampu. Pada tahun 1989 telah tamat SD dan melanjutkan pendidikan di Madrasah Tsanawiyah Tosiba Kabupaten Kolaka Sulawesi Tenggara. Di sekolah ini tidak sempat selesai, Karena mengikuti orangtua pindah di Kabupaten Bone Sulawesi Selatan. Di Bone ikut ujian persamaan di SMP 4 Watampone. Setelah itu, melanjutkan pendidikan di MAN 2 Watampone dan selesai tahun 1998. Kemudian melanjutkan pendidikan di IAIN Alauddin Makassar (Sekarang UIN Makassar),dan selesai tahun 2002 dengan lulusan terbaik satu di Jurusan PAI. Kemudian, melanjutkan pendidikan S2 pada tahun 2015 di STAIN Watampone dengan konsentrasi PAI, dan Alhamdulillah selesai tahun 2017 dengan predikat lulusan terbaik satu juga dari semua Jurusan.

Sekarang ini telah menikah dengan seorang gadis desa yang bernama Marta dan sudah dikaruniai dua orang putri dan satu orang putra. Bekerja sebagai pendidik di SMK Negeri 2 Bone sebagai guru tetap ASN yang mengajarkan PAI/PA-PB. Alamat sekarang tinggal di jalan poros Panyula-Bajoe Lingkungan Balakang, kelurahan Toro, Kecamatan Tanete Riattang Timur,  Kabupaten Bone, provinsi  Sulawesi Selatan

 

 

 

 

 

 

 

 

0

0

Komentar (0)

-Komentar belum tersedia-

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Pulihkan Pendidikan dengan Budaya Literasi
2 min
Menjadi Guru Inovatif, Dimulai dengan Menjadi Guru yang Inisiatif Terlebih Dahulu
Tren Guru Gondrong dengan Metode Mengajar "Nyentrik"

Yudha Adi Putra

Jul 21, 2022
1 min
Literasi Digital Melalui Portal Literasi Sekolah

Fadlan Sadli

Sep 05, 2023
2 min
Fermentasi Sampah Sehari-hari Menjadi Cairan Anti Bakteri

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB

Kursus Webinar