Momentum Hari Pendidikan Nasional 2026 bukan sekadar peringatan seremonial, melainkan refleksi terhadap praktik pendidikan yang harusnya semakin relevan. Setiap proses pembelajaran harus mampu memberikan dampak nyata bagi peserta didik, yang tidak lagi sebatas transfer pengetahuan, tetapi berkembang menjadi proses yang kontekstual, partisipatif, dan berbasis pengalaman langsung atau nyata.
2021 saya menapaki peran sebagai pendidik (guru honorer) di Sekolah/Madrasah yang kurang lebih 30km atau sekitar 45 menit dari pusat kota. Perjalanan menuju madrasah bukanlah hal yang mudah, rute yang dilalui sebagian besar jalannya rusak, sementara berterbangan debu dari angkutan berat yang ikut melintas. Jarak tempuh yang panjang menjadi bagian dari realitas keseharian saya sebagai pendidik. Segala keterbatasan seperti: fasilitas mini, akses sumber belajar terbatas, serta rendahnya eksposur peserta didik terhadap minat belajar, khususnya seni budaya. Hal ini menjadi tantangan nyata bagi saya dalam menciptakan proses pembelajaran yang berdampak dan relevan. Namun di Madrasah yang sering dianggap pinggiran inilah, esensi pendidikan menemukan urgensinya.
Mengajar bukan hanya aktivitas transfer pengetahuan kognitif, tetapi sebuah proses kompleks yang melibatkan pembentukan afeksi, pengasahan sensitivitas, dan rekonstruksi pola pikir. Hal ini sejalan dengan pernyataan Wina Sanjaya: Mengajar adalah proses mengatur lingkungan belajar agar peserta didik dapat belajar secara optimal, mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik (Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, Jakarta: Prenada Media, 2006) hlm 22. Dalam pendidikan Seni Budaya, harusnya tidak lagi dipandang semata-mata intruksional, melainkan harus menyentuh dimensi rasa, imajinasi, dan keberanian untuk berekspresi. Sebagai pendidik yang mengampu pembelajaran Seni Budaya, saya dihadapkan pada peserta didik dengan latar belakang yang beragam, tingkat minat belajar yang minim dan resistensi terhadap perubahan. Secara reflektif, saya menyadari bahwa disitulah letak tantangan pendidikan yang sesungguhnya, bagaimana proses pembelajaran itu tidak lagi dilakukan secara konvensional, melainkan memerlukan pendekatan pedagogis yang bersifat stimulatif dan partisipatif. Paling penting bukan pada peserta didik yang siap, tetapi pada peserta didik yang perlu dipersiapkan. Saya berpandangan tentang pendidikan saat ini, harusnya dipandang sebagai instrument transformasi sosial yang tidak boleh eksklusif. Melainkan harus menjangkau mereka yang jauh, yang terpinggirkan, dan mereka yang belum menyadari pentingnya belajar. Karena mencerdaskan yang terfasilitasi mungkin adalah keberhasilan, tetapi menghidupkan semangat belajar diruang yang minim minat adalah perjuangan yang bernilai.
Pada tahap awal perjalanan mengajar saya, peserta didik sangat menunjukkan resistensi terhadap sistem pembelajaran yang diterapkan. Bahkan sebagian peserta didik cenderung menolak keterlibatan aktif dalam praktik gerak. Kondisi ini cukup melelahkan bagi saya, namun tidak menghentikan upaya untuk terus berinovasi melalui pendekatan yang lebih adaptif dan kontekstual. Secara bertahap, saya mulai merancang aksi nyata dengan membangun ruang eksplorasi gerak yang tidak kaku. Mengintegrasikan musik yang dekat dengan keseharian peserta didik, menciptakan suasana belajar yang aman, suportif, bahkan saya merancang pembelajaran berbasis permainan (game-based learning), ini yang paling disukai peserta didik, adanya reward sebagai stimulus motivasional. Aktivitas tersebut dirancang agar keterlibatan aktif peserta didik terbangun tanpa tekanan yang berlebihan, sehingga memperkuat motivasi intrinsik maupun ekstrinsik. Reward yang diberikan tidak semata-mata bersifat material tetapi sebuah apresiasi verbal, pengakuan performa, dan keterampilan. Dengan demikian peserta didik akan semakin menunjukkan ketertarikan, keberanian bergerak, serta peningkatan keterlibatan dalam proses pembelajaran Seni Budaya, khususnya Seni Tari.

Seiring waktu, realitas praktis pembelajaran Seni Budaya menunjukkan progres yang signifikan. Terjadi peningkatan dalam partisifasi, apresiasi, serta keberanian peserta didik dalam mengekspresikan diri khususnya dalam bidang Seni Tari. Proses pembelajaran yang berbasis pengalaman langsung dan partisipatif, mampu menjadi strategi efektif dalam membangun kompetensi holistik peserta didik. Transformasi ini bukan hasil instan, melainkan akumulasi dari konsistensi, pendekatan humanistik, dan kepercayaan diri bahwa setiap individu memiliki potensi yang dapat ditumbuhkan.
Inisiasi praktik pembelajaran dimulai tahun 2022 melalui penyelenggaran Gelar Karya di lingkungan Madrasah/Sekolah, sebagai bentuk asesmen autentik berbasis performatif. Seluruh peserta didik dari kelas X, XI, dan XII dilibatkan secara kolektif untuk menampilkan hasil pembelajaran di ruang terbuka, sehingga tercipta ekosistem belajar yang partisipatif dan apresiatif. Kegiatan ini berlangsung secara konsisten selama periode 2022-2024, yang tidak hanya berfungsi sebagai media evaluasi, tetapi interaksi sosial untuk meningkatkan kompetensi holistik. Memperkuat kepercayaan diri, kolaborasi, dan kemampuan reflektif antar peserta didik, sehingga hasil tersebut juga menunjukkan adanya kontinuitas dan penguatan kualitas dalam konteks pembelajaran seni.


Tidak terhenti di tahun 2024, mengawali semester genap tahun 2025 model pembelajaran dikembangkan melalui peluasan konteks yang menghadirkan temu karya lintas sekolah. Hal ini memungkinkan peserta didik berinteraksi dalam ruang yang lebih luas dan beragam, ekspansi untuk memperkaya pengalaman belajar melalui pertukaran ide, peningkatan standar performatif, serta penguatan jejaringan sosial-artistik.

Puncaknya 2026, praktik pembelajaran Seni Budaya mencapai tahap implementasi yang lebih kompleks dan representatif, yang kemudian dipertunjukkan di Taman Budaya Jambi. Capaian ini merefleksikan sebuah transformasi pembelajaran yang bukan sekadar aktivitas di ruang kelas, tetapi menjadi praktik edukatif yang berdampak, terukur, dan memiliki legitimasi kultural. Secara keseluruhan, semua rangkaian praktik menegaskan bahwa pembelajaran Seni Budaya: Seni Tari, Seni Musik, Seni Teater dan seni lainnya, mampu mengembangkan dan meningkatkan kompetensi holistik peserta didik secara berkelanjutan.

Cuplikan Karya-Karya (Hasil Pembelajaran Seni Budaya) di Taman Budaya Jambi https://vt.tiktok.com/ZS9C9VXAp/
Karya Seni (Hasil Pembelajaran Seni Budaya) - https://sites.google.com/view/bilik-al-fann/jejak-karya/panggung-ekspresi-xi-xii
Realitas praktis pembelajaran Seni Budaya sangat menegaskan bahwa pendidikan yang berangkat dari pengalaman nyata, konsistensi, inovasi, dan keberanian, pasti akan membuka ruang ekspresi yang mampu menghasilkan dampak dan berkelanjutan. Hal ini yang kemudian Seni Budaya tidak lagi diposisikan sebagai pelengkap mata pelajaran umum, melainkan ada strategi pedagogis yang efektif dalam membentuk kompetensi holistik peserta didik. Dan perjalanan ini mengajarkan saya, bahwa pendidikan bukan soal kemudahan melainkan komitmen dan keteguhan untuk perubahan. Semua menjadi bukti bahwa transformasi pendidikan dimulai dari ruang sederhana, yang berujung pada capaian yang bernilai akademik, artistik, dan sosial secara simultan.
SELAMAT HARI PENDIDIKAN NASIONAL 2026 – Pendidikan yang utuh adalah pendidikan yang mampu menggerakkan pikiran sekaligus menghidupkan rasa, mari tempatkan SENI BUDAYA sebagai fondasi penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi peka dan berbudaya – Suci Intan Maulia, S.Sn., M.Sn.
Berikut link tautan website pembelajaran Seni Budaya - https://sites.google.com/view/bilik-al-fann
Suci Intan Maulia - https://www.instagram.com/suciintanmaulia?igsh=dnk5OHRjajNubDRx&utm_source=qr