Belajar Matematika Mudah, Asyik, dan Menyenangkan di Era Digital - Guruinovatif.id: Platform Online Learning Bersertifikat untuk Guru

Diterbitkan 10 Sep 2023

Belajar Matematika Mudah, Asyik, dan Menyenangkan di Era Digital

Guru saat ini harus mampu beradaptasi dan memanfaatkan teknologi digital dalam pembelajaran dalam upaya membuat pembelajaran menjadi lebih menarik dan lebih dekat dengan kehidupan peserta didik, sehingga peserta didik lebih mudah memahami materi yang diajarkan

Cerita Guru

Irvan Dedy, S.Pd.,M.Pd

Kunjungi Profile
1543x
Bagikan

Dalam pendidikan modern, paradigma pembelajaran telah berubah mengikuti perkembangan teknologi dan harus signifikan dengan kebutuhan peserta didik. Pembelajaran yang dilakukan tidak hanya dari buku teks, tetapi juga melalui sumber daya digital seperti video pembelajaran, platform e-learning, dan perangkat lunak Pendidikan baik diakses secara gratis ataupun berbayar. Kondisi ini tentu menuntut guru untuk memahami cara menggunakan alat-alat digital ini dengan baik dalam menyampaikan materi pembelajaran secara efektif, sehingga penggunaan teknologi dapat membantu guru dalam mempersiapkan, melaksanakan, mengevaluasi, dan memberikan umpan balik dalam pembelajaran. 

Di era digital yang terus berkembang, literasi digital telah menjadi kebutuhan yang sangat penting bagi peserta didik dan guru.  Literasi digital ini mencakup kemampuan untuk menggunakan, memahami, dan berpartisipasi dalam dunia digital dengan efektif dan aman. Penguatan literasi digital melalui platform digital adalah langkah krusial dalam meningkatkan kemampuan peserta didik dan guru untuk beradaptasi dengan perubahan teknologi, memanfaatkan sumber daya digital dengan baik, dan menghadapi tantangan yang terkait dengan dunia digital. 

Dampak positif dengan penggunaan teknologi dengan tepat akan mampu membuat peserta didik menjadi lebih mudah dalam memahami materi pelajaran, sehingga pembelajaran menjadi mudah, asyik, dan menyenangkan. Semakin banyaknya peserta didik yang memiliki akses ke perangkat digital seperti laptop, tablet, atau smartphone harus diikuti dengan informasi, pendampingan, dan pengawasan, sehingga peserta didik dapat memahami cara menggunakan teknologi ini dengan bijak dan produktif, serta menghindari potensi risiko yang tidak baik di dunia maya.

Semua guru, semua peserta didik, semua orang tua, dan semua mata pelajaran pada saat ini selalu dikaitkan dengan teknologi, literasi, dan numerasi yang bertujuan untuk mempermudah pembelajaran, mengaitkan dengan dunia nyata, dan meningkatkan kemampuan peserta didik dalam dunia digital, membaca, dan berhitung. Termasuk mata pelajaran matematika yang menjadi “idola” di semua jenjang pendidikan, mulai tingkat SD sampai perguruan tinggi.

Matematika seringkali diidentikkan dengan mata pelajaran penuh angka, hitungan, dan ketidakjelasan penerapannya di dalam kehidupan, sehingga peserta didik menjadi kurang bersemangat, malas, dan bahkan “phobia” yang pada akhirnya matematika dijadikan ”kambing hitam” jika prestasi peserta didik menurun. Kondisi ini “diperkuat” oleh pernyataan-pernyataan, komentar, atau sindiran oleh beberapa guru mata pelajaran lain yang mempertanyakan kemampuan matematika peserta didik ketika mereka kurang mampu bernalar dan melakukan perhitungan matematis dalam menjawab permasalahan yang diajukan. 

Berdasarkan kondisi di atas, maka saya sebagai guru yang mengampu materi pelajaran matematika berusaha memanfaatkan teknologi dalam pembelajaran yang saya lakukan. Penggunaan teknologi dalam pembelajaran pada awalnya membuat saya harus “mengorbankan waktu, tenaga, biaya, dan perasaan. Butuh semangat membara pantang “padam” dalam mempersiapkan materi dan menyesuaikannya dengan teknologi yang akan digunakan, sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif dan menarik.

Pada awalnya sempat muncul keraguan dalam diri saya saat akan memulai pembelajaran matematika dengan menggunakan teknologi, karena saya melihat beberapa guru yang mencoba menggunakan aplikasi mengalami kesulitan dalam penyampaian dan membuat peserta didik menjadi bingung. Hal ini menjadi tantangan saya, sehingga pada awalnya saya hanya berani menggunakan teknologi atau internet untuk membantu pembelajaran dengan membuat website yang berisi materi pelajaran, rangkuman rumus, soal Latihan, soal ujian, dan soal masuk perguruan tinggi. Selain itu saya juga mencoba membuat video pembelajaran yang saya upload di youtube dengan harapan peserta didik bisa belajar mandiri dengan mengulang materi yang saya ajarkan, sehingga pembelajaran bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja.

Keinginan untuk membuat pembelajaran matematika itu mudah, asyik, dan menyenangkan “memaksa” saya untuk mencari informasi mengenai aplikasi atau teknologi yang mudah dan mampu membantu saya untuk dapat menyampaikan materi dengan baik, sehingga pembelajaran yang saya lakukan menjadi menarik dan mudah dipahami oleh peserta didik. informasi tersebut biasanya saya peroleh dari buku, browsing internet, diskusi dengan rekan sejawat, dan mengikuti pelatihan guru di tingkat MGMP, Provinsi, dan Kemendikbudristek.

Tepat setahun sebelum Covid 19 terjadi dan booming penggunaan aplikasi dalam pembelajaran kesempatan untuk mengikuti pelatihan guru mengenai teknologi dan penerapannya akhirnya saya dapatkan dengan mengikuti program 1000 guru dari Kemendikbud tahun 2019 di University of Queensland (UQ) Australia selama tiga minggu, khususnya di bidang pedagogik. Ternyata apa yang saya pelajari selama di UQ menjadi sebuah modal berharga untuk saya terapkan bukan hanya saat pembelajaran harus online, tetapi berlanjut sampai saat ini.

Selain belajar di University of Queensland (UQ) Australia, saya juga mengikuti pelatihan guru program Korean e-Learning Improvement Cooperation (KLIC) selama tiga tahun yang merupakan Kerjasama antara Kemendikbudristek Indonesia dengan Gangwon City Korea Selatan. Kegiatan KLIC ini bertujuan mengenalkan guru tentang teknologi digital yang dapat membantu guru mulai dari tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan refleksi. Selain itu guru-guru yang mengikuti pelatihan KLIC mampu menjadi agen perubahan dan mendesiminasikan ilmu yang didapatkannya kepada guru dan peserta didik agar mampu berliterasi digital dengan baik.

Penggunaan platform digital bukan hanya membutuhkan keahlian dalam penggunaan aplikasi saja, tetapi bagaimana materi yang diajarkan dengan menggunakan teknologi tersebut mampu mempermudah guru dalam penyampaian dan peserta didik dalam memahaminya. Sebagai guru yang telah memiliki Sertifikasi Guru dan sudah mengikuti pelatihan guru baik tingkat nasional dan internasional, maka saya berusaha melakukan tahapan-tahapan pembelajaran dengan menggunakan teknologi dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik.

1. Tahap Perencanaan Pembelajaran

Tahap perencanaan menjadi tahapan yang paling menentukan, karena pada tahapan inilah sesungguhnya semua kerangka kegiatan pembelajaran disusun agar dalam pelaksanaan menjadi terarah dan sesuai dengan harapan. Dibutuhkan kemampuan guru dalam memahami kurikulum, materi ajar, dan alat bantu yang dibutuhkan, sehingga guru harus mau belajar, diskusi, dan berkolabirasi.

a. Tentukan tujuan pembelajaran yang jelas.

Menentukan tujuan merupakan langkah penting yang saya lakukan, sehingga dalam setiap pertemuan saya mencoba untuk menargetkan apa yang akan didapatkan oleh peserta didik. Guru tidak perlu terlalu banyak dalam menetapkan tujuan pembelajaran di setiap pertemuan, karena yang terpenting adalah bagaimana peserta didik mampu memahami materi tersebut dengan baik dan pemahaman tersebut dapat digunakan kembali saat dibutuhkan atau dalam memahami materi selanjutnya. Untuk menentukan tujuan pembelajaran ini, saya menggunakan silabus atau Capaian Pembelajaran yang sudah ada dari kementerian https://guru.kemdikbud.go.id/kurikulum/referensi-penerapan/capaian-pembelajaran/sd-sma/matematika/  dan membandingkannya dengan beberapa website yang memuat topik yang sama seperti https://www.time4learning.com/ dan https://www.projectmaths.ie/ 

b. Identifikasi materi pembelajaran yang akan diajarkan.

Melakukan identifikasi terhadap materi saya lakukan dengan memperhatikan pra syarat setiap materi dan membedakan materi yang esensial, kurang esensial, dan tidak esensial. Pengidentifikasian ini sangat penting untuk memudahkan guru dalam memberikan materi sesuai pemahaman peserta didik, sehingga peserta didik mempunyai pemahaman yang terstuktur dan utuh. Untuk memudahkan pengidentifikasian ini, saya membedah dari buku paket yang disediakan Kemendikbudristek dan juga dari website seperti http://mathbitsnotebook.com/ , dan https://byjus.com/maths/derivatives/ . Dalam melakukan identifikasi materi pembelajaran, saya juga berdiskusi dan mengikuti pelatihan in House Training MGMP matermatika internal sekolah, MGMP kota Depok, dan beberapa komunitas grup guru matematika. Hasil identifikasi materi yang akan dipelajari saya infokan melalui website https://irvanhabibali.wordpress.com/ dan https://s.id/MATH_IRDEDS , sehingga peserta didik mengetahui dan dapat mempersiapkan diri lebih dahulu.

c. Membuat modul ajar

Membuat modul ajar merupakan langkah awal bagi saya untuk merencanakan pembelajaran, baik materi yang akan diajarkan ataupun strategi dalam pembelajaran. Saya secara merdeka Menyusun modul ajar dengan mengadaptasi, mengembangkan rangkaian pelajaran yang logis, terstruktur rencana, efektif, efisien, memperhatikan karakteristik, kompetensi dan minat peserta didik, sehingga peserta didik dapat lebih mudah memahami konsep-konsep matematika yang diajarkan. Dengan modul ajar, saya dapat mengembangkan metode pengajaran yang lebih kreatif dan menarik, misanya menambahkan ilustrasi, contoh kasus, atau aktivitas praktis ke dalam modul untuk membuat pembelajaran lebih menyenangkan. Modul ajar yang saya buat tentunya saya share juga ke https://guru.kemdikbud.go.id/bukti-karya/pdf/141857 untuk bisa mendapatkan masukan dari teman-teman guru agar bisa lebih baik dan menginspirasi.

 

2. Apersepsi dengan Gambar dan Video

Apa yang dipelajari akan lebih mudah dipahami oleh peserta didik jika mereka mengetahui bahwa materi yang diajarkan itu dekat dalam kehidupan, pernah mereka lihat ataupun mereka alami. Guru dapat memulai dengan memberikan video, gambar, benda ataupun tulisan dan mengaitkannya dengan materi yang akan diajarkan. Untuk melakukan apersepsi saya mencoba membaca literasi dari berbagai sumber buku, imternet, dan juga memanfaatkan https://chat.openai.com/ , mengunakan video https://www.youtube.com/watch?v=8mve0UoSxTo , gambar dari website https://www.pinterest.com/mmeli24/real-world-math-photos/ dan https://codinghero.ai/super-interesting-examples-of-maths-in-real-world/ . Video dan gambar yang kita pilih harus relevan dengan topik yang akan diajarkan, dan mudah diakses oleh peserta didik. Selain itu, peserta didik juga dapat mengeksplor platform digital untuk mengetahui materi yang diajarkan dan penerapannya di dalam kehidupan. Tentunya dalam mengakses informasi dari platform digital perlu pengawasan, sehingga peserta didik tidak membuka atau mengakses hal yang tidak baik.

3. Asesmen Awal 

Peserta didik akan lebih termotivasi dan aktif dalam pembelajaran jika mereka merasa mampu memahami materi akan atau sedang dipelajari, sehingga dibutuhkan kemampuan guru untuk dapat mengidentifikasi kemampuan belajar peserta didik sejak awal. Cara yang saya lakukan untuk bisa mengetahui kemampuan peserta didik terhadap materi yang saya ajarkan adalah dengan melontarkan pertanyaan yang relevan dengan materi yang akan diajarkan, baik untuk individua atau untuk seluruh peserta didik di kelas. Selain itu saya juga sering menggunakan Kahoot! https://kahoot.it/ dan mentimeter https://www.mentimeter.com/ untuk mengetahui kemampuan awal peserta didik terhadap materi yang akan dipelajari, sehingga saya dapat memberikan materi yang sesuai dan menggunakan metode mengajar yang tepat. 

4. Pelaksanaan Pembelajaran 

Guru matematika itu harus “galak dan ditakuti” itu sudah biasa terdengar dan mungkin menjadi kenangan atau masa lalu yang tak akan pernah terjadi lagi, karena di era digital ini bermunculan guru-guru kreatif, inovatif, inspiratif dan komunikatif yang mampu membuat pembelajaran menjadi menarik. Dalam penyampaian materi di kelas selain menggunakan glass board, LCD, dan PPT, saya mencoba menggunakan Canva dengan tampilan yang lebih menarik dipadukan dengan Pen Tablet dalam menjelaskan atau membahas soal. Pembelajaran menjadi lebih menarik, karena peserta didik menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dan tertarik mencoba menggunakan Pen Tablet dalam mengerjakan soal. Saya juga membuat rekaman video matematika baik saat pembelajaran ataupun pembahasan soal dengan menggunakan https://zoom.us/, mengedit dengan  https://www.canva.com/ , Camtasia, dan saya upload di media sosial dengan tujuan agar peserta didik bisa belajar mandiri dan berbagi dengan seluruh guru dan peserta didik di Indonesia melalui akun Instagram @irvandedyrozak7 dan https://www.youtube.com/@IrvanDedy/videos

5. Membagi Kelompok Secara Online

Pembelajaran metematika yang saya lakukan tidak hanya sekedar ceramah atau menjelaskan saja, melainkan divariasiakan dengan diskusi dengan peserta didik atau membentuk kelompok diskusi. Pembagian kelompok saya lakukan dengan menggunakan aplikasi online https://wheelofnames.com/ atau https://id.rakko.tools/tools/59/https://www.classtools.net/random-group-generator/#google_vignette https://www.classtools.net/random-group-generator/ sehingga membuat suasana kelas menjadi lebih dinamis dengan teriakan peserta didik yang melihat nama mereka ada di kelompok nomor berapa. Beberapa peserta didik ada juga yang merasa tidak puas dan meminta untuk diulang kembali, tetapi itulah hasil yang menurut saya sudah adil dan sesuai dengan prinsip “Merdeka Belajar”.

6. Diskusi Kelompok dan Presentasi

Diskusi kelompok menjadi bagian yang tidak terlepaskan dalam setiap kegiatan pembelajaran yang saya lakukan, terutama untukmembuat peserta didik bisa bekerja sama, saling menghargai pendapat, dan mengambil kesimpulan. Panduan diskusi kelompok saya berikan kepada peserta didik sebelum kegiatan, sehingga peserta didik memahami apa saja yang harus dikerjakan. Hasil diskusi kelompok ini harus dipresentasikan sebagai produk dari tiap kelompok, sehingga semua peserta didik akan mengetahui hasil diskusi kelompok lain, memberikan penilaian, bertanya, dan memberikan saran. Saya memberikan informasi kepada mereka tentang aplikasi yang digunakan untuk presentasi, seperti canva, https://studio.d-id.com/ dan https://pictory.ai/ 

7. Membuat Projek

Membuat peserta didik mampu menerapkan apa yang dipelajarinya dalam kehidupan sehari-hari tentu menjadi tujuan penting dalam setiap pembelajaran, sehingga saya selalu berusaha memotivasi peserta didik untuk menghasilkan produk dengan membuat projek. Pada dasarnya semua materi yang diajarkan dapat dibuat projeknya, tetapi kita harus tepat memberikan projek yang tepat kepada peserta didik. Indikatornya bukan hanya dekat dengan kehidupan saja, tetapi projek itu harus mudah dilakukan, bahan mudah didapat, biaya terjangkau, bermanfaat, dan dapat menginspirasi orang lain. Contoh projek 1) peserta didik membuat projek membuat bangunan yang tinggi dengan menggunakan bahan untuk membuat sphageti dan marshmalloe atau bisa juga diganti dengan lidi dan gabus busa. 2) peserta didik membuat game matematika mengunakan scratch https://scratch.mit.edu/https://stretch3.github.io/, dan https://playentry.org/ . 3) peserta didik dapat membuat video tentang penerapan matematika dalam kehidupan  yang mereka lakukan

8. Mengumpulkan Tugas di Drive dan Padlet

Penggunaan platform digital dalam dunia pendidikan harus benar-benar dimanfaatkan dengan baik, terutama bagaimana kita mengarahkan peserta didik untuk dapat menggunakan platform digital itu dengan baik untuk pembelajaran. Guru memberikan pemahaman kepada peserta didik bahwa banyak sekali manfaat dari platform digital, salah satunya adalah sebagai penyimpan data, baik data pribadi maupun untuk menyelesaiakan secara pribadi dan kelompok. Tujuan saya meminta peserta didik mengumpulkan tugas menggunakan google drive dan padlet adalah agar peserta didik bisa saling memotivasi, saling mengingatkan, dan menginspirasi peserta didik lain. Link google drive https://drive.google.com/drive/folders/1TFePqRaQWkf8lS9je0bdWSbRAEutKWyi?usp=sharing , dan link padlet yang saya gunakan https://padlet.com/dashboard?mobile_page=AccountsMenuhttps://padlet.com/yeonssem/mission-01-fxowob56k0duck3o 

9. Penilaian Harian dengan Aplikasi

Kemajuan belajar siswa seiring berjalannya waktu harus diuji atau dinilai untuk memantau perkembangan peserta didik, mengidentifikasi area yang memerlukan perbaikan, dan memberikan umpan balik yang relevan. Penilaian ini merupakan bagian integral dari sistem pendidikan dan bertujuan untuk mengukur pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran, kemampuan mereka dalam menerapkan pengetahuan tersebut, serta perkembangan keterampilan mereka seiring berjalannya waktu. Penilaian harian dapat mengambil berbagai bentuk, seperti tugas rumah, kuis singkat, pertanyaan lisan, diskusi kelas, atau tugas proyek kecil. Metode penilaian harian yang beragam membantu guru mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif tentang pemahaman peserta didik, dan pemanfaatan media digital Google Classroom, Quizizz atau Kahoot! dalam penilaian menjadi alternatif. Menurut saya, melakukan penilaian harian dengan menggunakan aplikasi online dapat mempermudah pengumpulan data dan pemantauan perkembangan belajar peserta didik. Cara penilaian dengan menggunakan aplikasi memang mempunyai kelebihan, kekurangan, dan rawan dengan “kecurangan”, sehingga saya dan peserta didik membuat kesepakatan agar mereka tidak melakukan kecurangan tersebut. Prinsip “Nilai itu penting… Jujur lebih keren” di kelas yang saya menjadi sebuah tantangan bagi mereka. 

10. Umpan Balik atau Refleksi dengan Survei

Memberikan umpan balik atau refleksi yang baik setelah pembelajaran atau penilaian adalah kunci untuk memotivasi peserta didik dan membantu mereka dalam proses belajar, sehingga dalam kegiatan ini saya fokus pada elemen-elemen tertentu yang perlu ditingkatkan oleh peserta didik dengan memberikan komentar yang jelas dan spesifik tentang apa yang baik dan apa yang perlu diperbaiki. Ajukan pertanyaan reflektif yang mendorong siswa untuk berpikir tentang langkah-langkah yang bisa mereka ambil untuk mencapai tujuan, lalu dengarkan tanggapan peserta didik sebagai input bagi guru dalam perencanaan pembelajaran selanjutnya. Dalam memberikan umpan balik, mulai dengan umpan balik positif, seperti mengakui usaha keras mereka atau merespons kemajuan yang telah dicapai.Dengan memberikan umpan balik yang spesifik, positif, dan mendukung, serta mengikutsertakan siswa dalam proses refleksi, sehingga dapat membantu meningkatkan motivasi mereka dalam belajar dan mendorong perkembangan yang lebih baik. Umpan balik yang baik membantu siswa melihat nilai dari usaha mereka dan menjadikannya alat untuk pertumbuhan dan pembelajaran yang berkelanjutan. Untuk umpan balik dapat digunakan aplikasi survei dengan https://www.mentimeter.com/   dan google classroom.

Perubahan yang sangat mendasar dari apa yang saya lakukan dalam pembelajaran dengan menggunakan platform digital adalah membuat peserta didik menjadi siap untuk menghadapi tantangan yang semakin terhubung secara digital di masa depan. Selain itu beberapa manfaat yang dirasakan oleh saya, peserta didik dan rekan guru lain yang sudah menerapkan teknologi dalam pembelajaran adalah

  1. Meningkatnya keterampilan digital guru dan peserta didik dalam penggunaan platform digital
  2. Pembelajaran yang lebih menarik, karena dengan berbagai alat multimedia, sumber daya interaktif, dan konten kreatif dapat digunakan untuk menjelaskan konsep-konsep yang sulit dengan cara yang lebih menarik.
  3. Pemahaman materi yang lebih baik dari peserta didik ketika materi disajikan dalam format yang interaktif dan terkait dengan teknologi. 
  4. Penguatan literasi digital juga membantu siswa dan guru memanfaatkan teknologi untuk mengakses sumber daya pendidikan yang lebih luas. Mereka dapat mengakses buku digital, video pembelajaran, dan berbagai aplikasi pendidikan yang memperkaya pengalaman belajar.
  5. Peningkatan prestasi belajar, karena peserta didik dapat belajar dengan lebih efektif dan efisien, yang pada gilirannya dapat menghasilkan hasil akademis yang lebih baik.

Kesimpulan dari apa yang saya lakukan degan penggunaan teknologi dalam pembelajaran, bahwa penguatan literasi digital bagi peserta didik dan guru melalui platform digital merupakan upaya yang penting dalam memajukan pendidikan di era digital ini. Transformasi digital telah mengubah cara kita belajar, mengajar, dan berinteraksi dengan informasi. Melalui berbagai tahapan dan langkah-langkah yang telah diambil oleh guru dan peserta didik, kita dapat menyimpulkan bahwa penguatan literasi digital memiliki dampak yang signifikan pendidikan


Penyunting: Putra

12

0

Komentar (12)

IM SUKENDRO

Sep 13, 2023

Mantab pak Irvan..terus bersemangat utk menginspirasi setiap orang menyukai matematika..

Irvan Dedy, S.Pd.,M.Pd

Sep 13, 2023

terimakasih pak...insyaAllah

Balas

BUNDA WINIH

Sep 11, 2023

tulisannya sangat menginspirasi sekali dengan tulisan ini membuktikan bahwa matematika bukanlah hal yang menakutkan

Irvan Dedy, S.Pd.,M.Pd

Sep 13, 2023

nah... ini salah satu tujuannya agar semua murid menyukai matematika

Balas

Eva Yulizar,S.Kom

Sep 11, 2023

Karya pak Irvan jadi inspirasi dan motivasi dalam pembelajaran.Sukses selalu ya pak

Irvan Dedy, S.Pd.,M.Pd

Sep 13, 2023

alhamdulillah... terimakasih atas dukungannya bu

Balas

Lihat Komentar Lainnya

Buat Akun Gratis di Guru Inovatif
Ayo buat akun Guru Inovatif secara gratis, ikuti pelatihan dan event secara gratis dan dapatkan sertifikat ber JP yang akan membantu Anda untuk kenaikan pangkat di tempat kerja.
Daftar Akun Gratis

Artikel Terkait

Pesona Belajar di Lingkungan Sekolah

EVA YUSNITA, M.Pd

May 09, 2022
1 min
Tingkatkan Kompetensi Guru di Era Digital Melalui Lomba Menulis Artikel Guru Inovatif

Riky Aprilianto

Apr 01, 2022
3 min
Menjadi Guru adalah Kebaikan yang Bermuara pada Kebaikan

Adhe Yogi Irawan

Apr 20, 2022
8 min
From Teacher to Podcaster

Guru Inovatif

Jam operasional Customer Service

06.00 - 18.00 WIB