Yudha Adi Putra

Kunjungi Profil

Tren Guru Gondrong dengan Metode Mengajar "Nyentrik"

Rencana untuk mengajar dengan cara yang berbeda, tentu akan mendapatkan respon yang berbeda juga. Itu berdekatan dengan semangat seperti apa yang hendak disampaikan dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran berkaitan dengan hati tentu akan sampai pada hati para siswa juga ketika persiapan yang dilakukan dengan hati untuk melayani. Dalam kebijakan pendidikan, gambaran guru seolah membosankan dengan seragam, berkacamata, tumpukan buku, hingga senyum yang kadang masam karena ada banyak kerjaan. Sekarang, akan ada banyak respon dengan kemunculan guru dengan cara mengajar yang unik. Misalnya, penampilan yang berbeda dengan guru kebanyakan. Rambutnya panjang, nada, dan cara berceritanya berbeda dari guru yang lain. Tentu akan memunculkan respon yang berbeda juga. Bahkan antara sesama guru, tetapi itu menarik untuk menjadi tren. Alasannya sederhana, untuk menambah warna dalam peziarahan pembelajaran bersama para siswa.

Guru menjadi sosok penting dalam potret pendidikan kita, tetapi kadang menjadi membosankan ketika tidak sesuai dengan perkembangan jaman. Entah dalam metode mengajar hingga dalam berpenampilam. Muncul guru dengan rambut gondrong dan mengajar sambil merokok tentu akan berkaitan dengan kode etik. Tetapi, keberadaannya yang “nyentrik” kadang akan dirindukan dan memberikan kesan tersendiri dalam proses pembelajaran siswa. Mungkin, guru yang berpenampilan nyentrik dengan gaya belajar serta mengajar yang berbeda harus bisa kerja dua kali. Setidaknya memiliki prestasi yang cemerlang. Lain setelah itu, mereka juga perlu bisa mengajar dan membawa suasana. Sehingga apa yang ditampilkan hanya tipuan, penampilan akan merugikan dalam pandangan pertama. Tetapi menyelamatkan dalam perkembangan pembelajaran selanjutnya.

Relevasi dan urgensi guru dengan metode belajar serta mengajar yang berbeda dan kontekstual seolah menjadi tuntutan siswa. Keberadaan era digital dengan kemudahan akses teknologinya tentu mempermudah siswa dan guru dalam mendapatkan akses pembelajaran. Dengan kata lain, guru tidak menjadi sumber pembelajaran utama dan pertama. Tetapi, guru menjadi teman dalam siswa belajar serta memberikan pengarahan dalam pembelajaran. Ketika teman belajar itu membosankan dan ranah belajarnya mudah ditebak, tentunya siswa hanya akan mudah bosan. Dalam meresponnya, kemunculan guru nyentrik dengan metode belajar serta mengajar yang lain itu patut diapresiasi. Meski demikian, kritik terhadap penampilan dan apa yang disajikan tetap saja menjadi bagian dalam proses belajar.


Komentar (1)

Tuliskan Komentar Anda

Komentar Terbaru

Heri Adhi Nugraha
1 bulan yang lalu

Keren juga idenya...