Dyna Rukmi Harjanti Soeharto, A.Md

Kunjungi Profil

Kolaborasi Wali Kelas Dan Guru Pendamping Dalam Proses Pembentukan Karakter Siswa di SDIT Al Uswah B

SDIT Al Uswah Banyuwangi adalah sebuah sekolah dasar swasta yang mempunyai visi membentuk generasi Rabbani yang intelek dan kreatif. Kurikulum yang digunakan adalah kurikulum dari Dinas Pendidikan dipadukan dengan kurikulum keislaman ditambah dengan pembelajaran Al Qur’an. Dalam satu kelas terdapat dua orang guru yang bertanggung jawab, wali kelas sebagai penanggung jawab utama dibantu oleh guru pendamping.

Adanya dua guru dalam satu kelas ini dimaksudkan untuk lebih memaksimalkan perhatian kepada siswa, selain juga untuk mengoptimalkan pendampingan dalam proses pembentukan karakter siswa. Jika wali kelas biasanya adalah guru senior di sekolah, maka guru pendamping adalah guru baru, atau guru mata pelajaran di kelas tersebut. Jika guru pendamping sedang tidak ada jam mengajar, maka dia harus berada di kelas bersama wali kelas untuk mendampingi siswa.

Kedua guru ini sebagian besar waktunya harus dihabiskan di dalam kelas, khususnya di waktu istirahat siswa, karena saat istirahat adalah waktu-waktu rawan terjadi masalah di antara siswa. Di saat istirahat itulah kami biasanya mempergunakannya untuk lebih mengakrabkan diri dengan siswa. Bisa mengobrol, curhat tentang kondisi siswa di rumah, bermain bersama, ataupun berbagi makanan. Di saat itulah kami menjalin ‘bonding’ dengan siswa. Saat istirahat itu juga biasanya kami pergunakan untuk mengingatkan siswa tentang adab makan dan minum, adab berbicara, kerapian pakaian, serta mengingatkan tentang kebersihan kelas.

Tahun pelajaran 2021/2022 ini saya mendapatkan amanah untuk menjadi wali kelas 4A yang siswanya semua adalah perempuan. Di sekolah kami memang sejak kelas 4 sudah dilakukan pemisahan kelas antara laki-laki dan perempuan. Ini adalah pengalaman pertama saya mendampingi siswa perempuan, biasanya saya selalu mendapat kelas laki-laki. Pendamping saya adalah seorang laki-laki muda, guru olahraga. Ini juga pertama kalinya saya berpasangan dengan beliau. Di kalangan teman-teman guru, beliau ini terkenal cuek, sering datang terlambat, dan semaunya sendiri. Tak ada guru yang benar-benar kenal dekat dengannya. Beliau seperti hidup di dunianya sendiri.

Di awal tahun ajaran, karena masih dalam suasana pandemi dan pembelajaran dilaksanakan secara daring, maka peran guru pendamping belum terlalu diperlukan, karena tidak ada pertemuan di kelas. Kami juga jarang berinteraksi. Bahkan saat kerja bakti di awal tahun untuk menyiapkan kelas, saya bekerja sendiri. Sang pendamping ternyata mempunyai amanah lain yang juga harus dilakukan dalam waktu yang sama.

Semua berubah saat sekolah mulai memberlakukan Pertemuan Tatap Muka Terbatas ( PTMT ). Siswa mulai masuk, otomatis peran guru pendamping harus mulai diaktifkan. Tetapi saya masih belum tahu caranya mengajak pendamping saya untuk mulai menjalani perannya. Meja yang saya siapkan untuknya di kelas masih kosong, tak berpenghuni. Padahal di awal PTMT ini pengawasan terhadap siswa harus maksimal, terkait protokol kesehatan dan juga pembinaan karakternya. Maka tugas saya bertambah, mengawal pembentukan karakter siswa, sekaligus menjalin kerjasama yang baik dengan guru pendamping. Saya mulai mencari cara agar pendamping saya bisa kerasan di kelas dan kerjasama kami bisa maksimal dalam mendampingi siswa di kelas.

Saya awali ketika beliau mendapat amanah untuk mengisi kultum pada pertemuan rutin guru di sekolah. Kebetulan materi kultum yang dibawakannya adalah tentang kerjasama, masuklah saya dari sini. Saya kirim pesan pribadi lewat Whatsapp, saya sentil beliau tentang hubungan kami di kelas yang masih jauh untuk bisa disebut kerjasama yang ideal. Akhirnya keluarlah ‘uneg-uneg’ beliau yang ternyata menganggap saya ‘menakutkan’ mungkin, susah diajak bercanda dan mengobrol santai. Padahal sebenarnya tidak begitu. Dari situ saya mulai membuka diri kepada beliau. Saya ajak beliau untuk lebih terlibat dalam proses pendampingan siswa di kelas. Saya minta beliau agar menghabiskan waktu bersama siswa di kelas agar lebih kenal dengan mereka. Saya juga mengajak beliau untuk membuat pernak pernik di kelas, sambil sesekali mengobrol tentang hal-hal remeh di sekitar kami, atau tentang siswa. Bahkan tunjangan wali kelas saya bagi untuk beliau juga, karena memang guru pendamping tidak ada tunjangannya dari yayasan. Saat beliau hendak menolak, saya katakan bahwa ada hak beliau dalam tunjangan saya, karena beliau sudah banyak membantu saya di kelas.

Dari sini akhirnya beliau semakin sering berada di kelas. Anak-anak yang dulu takut kepada beliau, perlahan mulai mendekat, dan akhirnya sekarang sudah terjalin ‘bonding’ dengan beliau. Hubungan kerjasama kami yang semakin baik berimbas kepada siswa di kelas. Meskipun masih belum ideal, tetapi dibandingkan dengan di awal PTM dulu, sekarang siswa mulai bisa diajak kerjasama, mulai disiplin, dan adabnya kepada guru serta teman-temannya juga semakin baik. Dan satu hal yang tidak pernah saya tinggalkan selama menjalankan amanah ini yaitu do’a. Saya selalu menyebut nama mereka dalam do’a saya, guru pendamping dan juga 24 siswa kelas 4A. Saya harapkan mereka bisa bekerjasama dengan saya dengan baik selama tahun ajaran ini dan membawa kebaikan untuk semuanya.

Puncaknya pada peringatan Hari Guru yang baru lalu. Anak-anak itu memberikan hadiah untuk kami, sudah diberi nama untuk saya dan pendamping. Hadiahnya mungkin sepele, snack ringan, permen, dan sejenisnya. Tetapi perhatian dan rasa cinta mereka untuk kami itu yang membuat kami terharu. Dan itu mereka lakukan selama dua hari berturut-turut disertai surat cinta pula. Melihat ini semua, Ustadz Rangga, sang guru pendamping hanya bisa geleng-geleng kepala. Mungkin selama ini beliau belum pernah menerima perhatian dari siswa, sehingga yang demikian ini membuatnya terharu. Beberapa saat saya lihat beliau seperti termenung melihat semua hadiah dari anak-anak. Bahkan sempat terlontar pertanyaan, “Kok bisa sih mereka memikirkan segala detil seperti ini?”

Apa yang keluar dari hati dan dilakukan dengan sepenuh hati akan diterima oleh hati. Begitulah yang saya jalani di kelas 4A pada tahun ini. Dengan tugas ganda, yaitu memaksimalkan peran guru pendamping dan juga mengawal pembentukan karakter siswa, saya bisa menjalaninya dengan baik. Semua karena saya melakukannya dengan sepenuh hati, sepenuh cinta. Sepenuh hati untuk anak-anak saya di kelas, sepenuh cinta saya untuk SDIT Al Uswah Banyuwangi. Alhamdulillah, kini kolaborasi saya dengan guru pendamping semakin baik, dan anak-anak juga semakin baik di kelas. Memang pembentukan karakter tidak bisa serta merta dilihat hasilnya, akan butuh waktu lama untuk menjalani prosesnya. Tetapi saya yakin, dengan semakin optimalnya peran kami berdua di kelas, maka proses pembentukan karakter siswa itu akan bisa berjalan dengan baik. Insya Allah.

Tulisan ini saya persembahkan untuk guru pendamping saya Ustadz Rangga Ilham Pratama dan 24 siswa saya Aila, Alena, Alifia, Aliya, Anggun, Aqila, Ardelia, Carlen, Chika, Dhiya, Diendra, Elysia, Hafiza, Inneke, Muna, Nadhifa, Nadhira, Neysa, Nindita, Nissa, Shafi, Siti, Sivia, dan Thalita

KolaborasiWaliKelasDanGuruPendampingDalamProsesPembentukanKarakterSiswadiSDITAlUswahB
Komentar (0)

Tuliskan Komentar Anda

- Belum ada komentar, jadilah yang pertama berkomentar -