Dra. Sri Suprapti

Gutu Bahasa Jawa

Suka membaca dan menulis

Kunjungi Profil

NASIHAT DALAM LAGU “ENTHIK-ENTHIK”

Artikel

NASIHAT DALAM LAGU “ENTHIK-ENTHIK”

Oleh : Sri Suprapti, Guru Bahasa Jawa di Surakarta

            Lagu ini biasanya dinyanyikan oleh Orang Tua kepada anaknya yang masih kecil, biasanya dinyanyikan setiap mau tidur ( lagu pengantar tidur ). Penulis sendiri merasakan seperti itu, khususnya Ibu yang selalu menyanyikannya ketika masih kecil. Sebenarnya tidak hanya lagu itu saja, namun ada beberapa yang lainnya. Penulis sengaja membuat tulisan seperti judul, karena selain lagu itu sebagai nasihat sekaligus ingin melestarikan (nguri-uri) budaya Jawa agar tidak hilang/ musnah.

Lagunya seperti ini “Enthik-enthik, patenana si penunggul, gek dosane apa, dosane ngungkul-ungkuli, dhi aja dhi malati sedulur tuwa”. Apabila diterjemahkan ke dalam Bahasa  Indonesia artinya Enthik-Enthik, bunuhlah si Penunggul, apa dosanya / salahnya ? Salahnya melebihi sesama, dik jangan dik, nanti kuwalat ( mendapat akibat ) dengan saudara yang lebih tua. Serasa hanya lagu dolanan biasa, namun para leluhur memberikan wejangan tanpa menggurui, menohok blak-blakan agar tidak menyakiti hati siapapun juga. 

Perlu diketahui bahwa jari tangan menjadi pilihan para leluhur karena untuk memberikan pesan pitutur / nasihat, agar kita bisa mengerti apa yang disampaikan. Untuk direnungkan saja, apabila salah satu jari kita hilang, bagaimana rasanya dan akibatnya dari kegiatan kehidupan ini? Artinya adalah baik itu saudara maupun orang lain semua adalah sesama manusia, mempunyai kodrat dan nasib sendiri-sendiri. Menerima kodrat orang lain termasuk diri sendiri, niscaya hidup akan damai dan tenteram. Semua diciptakan dengan keunikan dan beban tugas hidup masing-masing.

Menurut cerita ( dongeng ) bahwa kelima anak tersebut setiap harinya bekerja membantu orangtuanya, bahu membahu satu sama lain, bersatu padu selalu, semua pekerjaan dikerjakan secara bersama-sama, berat sama-sama diangkat, ringan sama-sama dijinjing. Ke mana-mana mereka pun selalu bersama-sama, tidak  terpisahkan sama sekali sepanjang waktu. Bahkan bisa dikatakan mereka sangat rukun dan bahagia. Semua adalah pilihan yang akan membuahkan kebahagiaan / kemudahan atau justru penderitaan / kesulitan. 

Pada suatu hari, setelah bekerja seharian, setelah membersihkan tubuh mereka, pergilah mereka ke teras tempat peristirahatan mereka setiap hari setelah bekerja seharian. Di sana sudah ada lima gelas minuman hangat segelas seorang. Di sana juga ada sepiring agar-agar bundar untuk mereka berlima, namun belum diiris, belum dibagi lima. Tiba-tiba entah karena sangat lelah entah karena sangat lapar Penunggul yang badannya paling tinggi dan tanggannya paling panjang langsung mengambil sepiring agar-agar itu dan dihabiskannya sendiri tanpa melihat kanan kiri dan tanpa berkata sepatah kata pun juga kepada keempat saudaranya yang lain. 

Oleh karena itu tanpa dapat ditahan-tahan lagi Penuding yang sifatnya paling pemarah di antara mereka berlima itu langsung menunjuk-nunjuk Penunggul sambil mengata-ngatai Penunggul  dengan kata-kata yang sangat kasar sekali dan tidak enak di dengar. Begitu juga dengan Manis dan Jentik juga sangat marah sekali. Dengan kemarahan Manis dan Jentik itu membuat si Penunggul diam saja dan tidak berusaha membalas apapun kepada saudara yang memarahinya.

Maka dengan sangat geram Manis berkata kepada Jentik, "Enthik, Enthik, Patenana Si Penunggul ( jentik, jentik, bunuhlah Penunggul ). Penuding yang merasa mendapat angin ikut-ikut menasehati Jentik, Ya bener,ya bener ager-ager enak seger ( iya, benar, iya, benar, agar-agar enak segar ). Mendengar kata-kata Manis itu si sulung Jempol berkata kepada Jentik, Aja Dhi, aja dhi, sedulur tuwa malati, ( jangan, Dhik, jangan, Dhik, saudara tua itu bisa membawa tuah ). Dan saudara-saudaranya semua mendengarkan kata-kata Jempol, taat patuh pada kata-kata Jempol, mereka pun mengampuni Penunggul, serta menghargai semua kata-kata dari saudara yang lebih tua dan selanjutnya penuh canda tawa penuh kasih mereka memberi maaf kembali.

Makna dari lagu itu adalah ada anak yang berjumlah  lima ( 5 ) bersaudara yang hidup penuh kasih sayang antara satu dengan yang lainnya. Anak yang sulung bernama Jempol yang mempunyai badan gemuk, anak yang nomor dua bernama Penuding, nomor 3 namanya Penunggul yang paling tinggi postur tubuhnya, yang nomor 4 bernama Manis, sedangkan yang bungsu paling kurus tubuhnya dibanding saudara yang lainnya dinamakan Jentik.

Makna yang sangat relevan untuk kita semua yang sedang dilanda bermacam-macam konflik berupa apapun juga, seharusnya tidaklah untuk saling bunuh membunuh. Artinya menjatuhkan nama baik, membunuh karakter seseorang, menjatuhkan dari jabatan, memfitnah, mendiskreditkan, memberikan cap sesat, cap kafir, hanya karena masalah makanan. Di dalam kehidupan sehari-hari saling mengampuni adalah solusi terbaik di dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang timbul. Berusaha untuk tidak mengikuti bisikan hawa nafsu yang negatif namun sebaliknya dengarkanlah bisikan nafsu yang baik dan positif.

Selain penjelasan seperti tersebut diatas, cerita ini juga memberikan gambaran kehidupan yang harmonis antara kakang kawah adhi ari-ari. Nafsu dari ari-ari ( kuning ),getih ( merah ) dan puser ( hitam ). Mereka selalu tunduk, taat dan patuh kepada nafsu yang baik karena nafsu putih yang dimaksud di sini adalah kakang kawah sebagai saudara tua atau bisa dikatakan saudara sulung. Nafsu-nafsu ini sangat patuh pada bimbingan orang tua yaitu roh dan jiwa, yang setiap saat selalu membantu dan menjaga keselamatan seluruh badan jasmani dan membantu mencapai tujuan yang baik.

Sedangkan dari adhi ari-ari bertugas melindungi seluruh badan jasmani dan memancarkan wibawa pribadi. Darah / getih yang berwarna merah untuk membantu semua kehendak Tuhan didalam kehidupan sehari-hari. Untuk puser membantu menyampaikan permohonan kepada Tuhan dan mengabulkan permohonan. Semua masalah yang muncul diselesaikan dengan hukum Tuhan yaitu hukum kasih dan sayang. Inilah pelajaran yang sangat berharga bagi manusia yang hidup di dunia ini untuk selalu melakukan pengetahuan spiritualnya agar mendapatkan buah dari perilaku spiritual tersebut. Tidak akan mendapatkan apapun, bagi orang yang hanya diam saja dan tidak melaksanakan pengetahuan spiritualnya.

Jika dihayati lebih mendalam, sebenarnya gambaraan yang diwujudkan dalam lagu / tembang “Enthik-Enthik” tadi adalah keadaan manusia di alam dunia ini. Dalam budaya Jawa, masyarakat Jawa tua-muda itu pada posisinya masing-masing. Menjadi tua atau yang dituakan berarti siap untuk memberikan wewarah ( contoh ) dan nuwasi-malati (ber-kharisma) untuk yang muda. Menjadi contoh itu tidak hanya contoh baik saja, namun ada juga contoh yang tidak baik. Menjadi orang tua yang bijaksana adalah berusaha menjadi contoh yang baik untuk orang lain. Artinya harus bisa menjadi contoh yang baik bukan malah sebaliknya.

 Artinya, yang muda harus ngajeni (menghargai) dan ngurmati (menghormati) kepada yang tua, sebaliknya, yang tua tidak boleh sewenang-wenang, mudah mengumbar hawa nafsu, sombong, dan sok punya kuasa. Sikap baik dari yang tua (atau dituakan) adalah memberi contoh, mengingatkan, mengajak kepada kebaikan, memberi tuntunan kepada yang muda, supaya yang muda dapat menghayati kehidupan dengan baik. Selebihnya adalah sebuah timbal-balik antara yang tua dan muda untuk saling bekerjasama mengingatkan apabila ada yang kurang benar/baik sehingga kerahmatan dari Tuhan YME dapat selalu menyertai.

Tembang Enthik-Enthik menggambarkan keadaan manusia di dalam dunia ini. Dalam budaya Jawa, tua muda harus bisa menempatkan dirinya masing-masing. Orang tua itu nuwasi-malati artinya yang muda harus menghormati kepada yang lebih tua. Apabila tidak mau maka akan kuwalat, sengsara hidupnya. Orang tua itu tidak boleh dipermalukan harus mikul dhuwur mendhem jero (menjaga nama baik orang tua ). 

Sebaliknya orang tua juga tidak boleh sembarangan, mudah mengumbar hawa nafsu, berkuasa, sombong. Yang lebih baik adalah orang tua yang bisa memberi petunjuk kepada yang muda, mengingatkan, mengajak suatu kebaikan. Agar supaya yang muda bisa melakukan kehidupan dengan baik dan benar jalannya. Antara yang tua dan muda bisa bekerja sama dan apabila ada sesuatu yang tidak benar bisa saling mengingatkan. Seperti perilaku yang dilakukan oleh Jempol memberi petunjuk kepada Jenthik. 

Dengan penjelasan seperti tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa tembang/lagu Enthik-Enthik yang dibuat sebagai pengantar tidur kepada anak kecil oleh orang tua masyarakat Jawa, sebagai pelajaran, nasihat atau peringatan. Sebetulnya sangat baik / tinggi maknanya untuk membentuk pribadi yang berkarakter. Seorang anak yang akhirnya tumbuh dewasa, dengan bekal pitutur atau perkataan yang dimulai sejak dini telah ditanamkan dalam kehidupan sosial paling awal yang dilakukan oleh keluarga.

Saudara tua itu malati oleh karena itu dengan saudara yang lebih tua jangan terlalu berani tetapi harus dihargai dan dihormati. Bahkan jangan ditantang karena merasa lebih kuat! Kuwalat!


Komentar (0)

Tuliskan Komentar Anda

- Belum ada komentar, jadilah yang pertama berkomentar -