SITUATION (Situasi dan Latar Belakang Masalah)
Sebagai guru IPA di jenjang SMP, saya melihat bahwa konsep skala pH seringkali menjadi materi yang menantang bagi siswa. Banyak dari mereka kesulitan memahami perbedaan antara larutan asam, basa, dan netral, terutama ketika harus menghubungkan konsep tersebut dengan contoh nyata dalam kehidupan. Berdasar hasil rapat MGMP IPA dan refleksi pembelajaran sebelumnya yang diperoleh dari para teman sejawat, didapatkan kesimpulan bahwa pada topik pH asam-basa siswa cenderung hanya menghafal bahwa ‘asam memiliki pH rendah dan basa pH tinggi’ tanpa benar-benar memahami bagaimana skala pH itu bekerja, jenis larutan yang diuji, serta peran indikator sebagai alat pengukurnya.
Seiring berkembang pesatnya teknologi di era digital ini, muncul kebutuhan bagi guru untuk menghadirkan pengalaman belajar sains yang lebih kontekstual, interaktif, dan relevan dengan kehidupan siswa. Kemajuan kecerdasan buatan (AI) telah membuka peluang baru dalam pembelajaran sains yang bukan hanya untuk membuat media otomatis, tapi juga untuk menganalisis data, memvisualisasikan konsep, dan memfasilitasi pembelajaran yang berdiferensiasi. AI kini menjadi salah satu bagian penting dalam dunia pendidikan, dan guru perlu memanfaatkannya secara pedagogis, bukan sekadar teknologis yakni sebagai alat bantu berpikir ilmiah, berkreasi, dan bereksperimen.
Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan sebuah metode pembelajaran yang tidak hanya memfasilitasi kegiatan praktikum, tapi juga mampu menghadirkan pengalaman belajar yang interaktif dan kontekstual melalui pemanfaatan teknologi digital. Pembelajaran yang mengintegrasikan eksperimen nyata dengan visualisasi digital dan AI diharapkan dapat membantu siswa memahami konsep pH secara lebih konkret, menarik, dan bermakna.
TASK (Tantangan dan Tujuan)
Dari refleksi tersebut, saya merancang praktik baik berjudul “When Science Meets AI: Learning pH through Color and Creativity,” yang bermakna bahwa pembelajaran sains tidak lagi berdiri sendiri sebagai kegiatan praktikum saja, namun telah bertransformasi dengan dukungan teknologi AI dan media digital lain.
Dalam merancang inovasi tersebut, saya menghadapi sejumlah tantangan, terutama bagaimana mengintegrasikan konsep AI dalam pembelajaran sains tanpa menghilangkan esensi ilmiah dan proses berpikir induktif yang menjadi ciri khas IPA. Tantangannya berupa merancang prosedur pembelajaran yang berpusat pada siswa, tapi tetap memiliki struktur ilmiah yang sistematis. Kemudian tantangan dalam hal literasi digital siswa yang beragam. Sebagian siswa cepat beradaptasi dengan platform AI, sementara sebagian lainnya memerlukan pendampingan intensif agar dapat memahami cara kerja dan etika penggunaannya. Kondisi ini menuntut penerapan pembelajaran berdiferensiasi, yang mana setiap siswa diberi kesempatan untuk belajar sesuai dengan gaya dan potensinya masing-masing.
Untuk menjawab tantangan tersebut, saya kemudian merancang inovasi pembelajaran ini sebagai kegiatan berbasis eksperimen langsung yang dipadukan dengan eksplorasi AI melalui dua kegiatan yakni Creative AI dan Interactive AI.

ACTION (Langkah-Langkah Inovasi)
Implementasi ini berlangsung selama 2x pertemuan dengan tahapan kegiatan yaitu,
1. Tahap Concept Orientation
Pembelajaran diawali dengan kegiatan pemantik ‘Mystery Cup Challenge.’ Guru menyiapkan tiga gelas plastik transparan yang berisi larutan soda kue, larutan asam sitrat, dan air mineral.
Siswa lalu diminta menebak apa isi larutan dan apakah asam/netral/basa? Kemudian guru meneteskan larutan pH indikator universal ke tiap gelas. Warna larutan secara otomatis berubah, menjadi kemerahan (larutan asam), warna hijau (netral), dan warna kebiruan (basa). Setelah itu, diadakan sesi diskusi kelas tentang skala pH dan peran indikator dalam mengidentifikasi sifat suatu larutan.
2. Tahap Hands-on Activity
Pada tahap ini, siswa diajak ke laboratorium IPA untuk mengukur skala pH pada beberapa zat seperti soda kue, cuka, gula, dll. dengan menggunakan pH universal indikator, bunga Telang, dan pH meter digital.
Selanjutnya mereka meneteskan indikator universal ke tiap gelas yang berisi larutan tadi. Siswa mengamati perubahan warna yang terjadi, seperti warna yang berubah menjadi kuning/orange untuk pH asam, hijau untuk pH netral, dan kebiruan pH basa.
Agar pengukuran pH lebih akurat, mereka menggunakan pH meter digital. Kemudian mencatat hasil pengamatan tersebut pada lembar kerja siswa. Mereka juga mencoba menguji berbagai pH larutan itu dengan ekstrak bunga Telang yang sudah dibuat sebelumnya oleh guru (dilarutkan dalam air panas).
Kegiatan ini mendorong siswa untuk berpikir ilmiah seperti mengamati, mengumpulkan data, dan menyimpulkan, dengan cara yang menyenangkan dan relevan dengan kehidupan mereka.

3. Tahap AI Integration
Setelah tahap eksperimen, siswa melanjutkan proses ilmiah ke ranah digital dengan memanfaatkan berbagai platform AI untuk menyajikan hasil pengamatan dan pemahaman masing-masing. Kegiatan integratif ini dibagi menjadi dua level pembelajaran utama yaitu Creative AI dan Interactive AI.
Creative AI : Creating Digital Product
Di tahap ini, siswa memanfaatkan berbagai platform AI untuk membuat beragam produk yang berbeda sesuai dengan minat dan kemampuannya (aspek diferensiasi) misalnya ada yang membuat lagu, jingle, podcast, video, chatbot, slide presentasi, website, dll. Mereka sekali lagi tidak hanya asal membuat produk, namun mereka harus mampu menulis prompt yang jelas dan spesifik, serta harus berusaha untuk memfilter atau mengecek sebelum produk itu di generate, agar tercipta produk yang tercipta itu lebih bermakna dan memberi manfaat.

Interactive AI : Train AI Tool
Di tahap ini, siswa menggunakan platform Teachable Machine (TM) untuk membuat model klasifikasi gambar. Mereka mengumpulkan gambar berbagai bahan rumah tangga seperti jeruk, sabun, soda kue, cuka, air mineral, susu, dsb. untuk dijadikan sumber latihan bagi TM itu. Siswa kemudian membuat tiga label klasifikasi utama:
Acidic (bahan asam seperti jeruk, cuka, air lemon)
Neutral (air mineral, larutan garam, air putih)
Basic (sabun, soda kue, deterjen cair)
Setelah melatih model, siswa menguji AI dengan gambar baru yang belum dikenali sistem, lalu membandingkan hasil klasifikasi AI dengan konsep skala pH asam basa. Dari sini, mereka mendiskusikan kecocokan antara hasil eksperimen manual dan prediksi AI, sekaligus menilai apakah AI dapat ‘memahami’ sains seperti manusia.
4. Tahap Virtual Extension
Setelah kegiatan hands-on, siswa lanjut ke eksplorasi digital menggunakan PhET Interactive Simulation pH Scale. Melalui simulasi ini, siswa mencoba berbagai jenis larutan lain yang tidak tersedia di laboratorium seperti darah, soda pop, kopi, air liur, dan air aki untuk melihat nilai pH dan warna indikator secara real time.
Siswa kemudian membandingkan hasil pengamatan virtual dengan hasil eksperimen nyata, serta mendiskusikan adakah perbedaan dan kesamaan yang ditemukan.
Guru memandu refleksi singkat dengan pertanyaan, seperti: “Apakah hasil simulasi menunjukkan pola yang sama dengan eksperimen nyata?” atau “Apa yang bisa kalian simpulkan tentang hubungan antara warna, angka pH, dan sifat larutan?”
Kegiatan ini berfungsi sebagai jembatan konseptual antara eksperimen langsung dan pembelajaran berbasis AI, memperkuat pemahaman siswa tentang konsep pH secara visual dan kuantitatif sebelum mereka membuat model klasifikasi AI.
Refleksi Mini di Tahap Ini
Kegiatan ini menumbuhkan pemikiran kritis dan literasi AI yang autentik yakni siswa menyadari bahwa AI itu dapat bekerja berdasar data dan input yang diberikan, sedangkan manusia memaknainya berdasarkan sains atau pengetahuan yang dimiliki. Dengan demikian, pembelajaran menjadi integratif antara logika ilmiah dan kecerdasan digital. Siswa tidak hanya belajar bagaimana AI mengenali sesuatu, tetapi juga mengapa hasil tersebut terjadi.

5. Tahap Presentation & Reflection
Di tahap ini, setiap kelompok menampilkan hasil proyek mereka di depan kelas. Siswa saling memberikan umpan balik, dan guru kemudian memfasilitasi diskusi reflektif seperti “Apakah AI selalu benar?” “Bagaimana perasaan kalian saat teknologi bisa membaca hasil eksperimen kalian?” Melalui refleksi ini, siswa tidak hanya mereview konsep pH, tapi juga menumbuhkan kesadaran berpikir reflektif kolaboratif, dan digital. Pembelajaran terasa lebih bermakna, siswa memiliki pengalaman belajar yang berbeda, dan semuanya terhubung dalam satu benang merah yakni belajar sains dengan cara kreatif dan relevan di era AI. Sebagai penutup, guru memberikan games berbasis quiz menggunakan Wordwall.
6. Tahap Evaluation
Evaluasi pembelajaran dilakukan secara autentik melalui tiga aspek yaitu,
- Kognitif: hasil analisis siswa terhadap data eksperimen dan interpretasi pH.
- Keterampilan: kemampuan siswa menggunakan alat eksperimen, aplikasi digital, dan platform AI
- Sikap dan kolaborasi: keaktifan siswa dalam diskusi, tanggung jawab, dan kontribusi dalam proyek kelompok.
RESULT (Dampak dan Implementasi Inovasi)
Pelaksanaan inovasi “When Science Meets AI: Learning pH through Color and Creativity,” ini memberikan hasil yang nyata dan berdampak bagi siswa (secara kognitif, afektif, dan psikomotorik), guru, dan lingkungan sekolah.
Berikut dampak bagi siswa secara lebih terperincinya :
- Aspek kognitif, siswa menunjukkan peningkatan pemahaman terhadap hubungan antara warna indikator dan nilai pH. Melalui eksperimen langsung dengan indikator dan visualisasi digital, mereka mampu mengkategorikan antara larutan asam/netral/basa.
- Aspek afektif, siswa lebih antusias, percaya diri, dan berani bereksperimen, serta menunjukkan rasa ingin tahu tinggi ketika mempresentasikan karya digital mereka. Mereka juga menunjukkan kesadaran kritis terhadap teknologi, misalnya dengan mempertanyakan hasil prediksi AI yang kurang akurat, sebuah tanda tumbuhnya nilai tentang AI awareness dan scientific mindset.
- Aspek psikomotorik, siswa mampu melakukan aktivitas secara sistematis, dan menyajikan temuan mereka dalam bentuk media digital. Produk yang dihasilkan pun beragam, mulai dari podcast, video animasi, lagu, hingga chatbot. Di sesi Interactive AI, beberapa kelompok bahkan berhasil membuat model Teachable Machine dengan akurasi klasifikasi mencapai 70-90%.
Link hasil karya siswa : https://drive.google.com/drive/folders/1yqdTCqOGEfz3oICgj7ZdVjmmohpIFamc?usp=sharing
Dampak bagi guru yaitu inovasi pembelajaran ini mendorong guru untuk lebih adaptif dalam memanfaatkan teknologi dan AI secara pedagogis dalam pembelajaran IPA. Guru tidak hanya berperan sebagai penyampai materi, tetapi juga sebagai fasilitator yang membimbing siswa dalam berpikir ilmiah, kreatif, dan kritis terhadap penggunaan teknologi. Melalui proses ini, guru juga memperoleh pengalaman baru dalam merancang pembelajaran berbasis diferensiasi, mengintegrasikan eksperimen nyata dengan media digital, serta mengevaluasi pembelajaran secara lebih otentik dan kontekstual.
Dampak bagi lingkungan sekolah yaitu implementasi inovasi ini turut memperkuat budaya pembelajaran yang inovatif, kolaboratif, dan berbasis teknologi di sekolah. Kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan eksperimen laboratorium, simulasi digital, dan AI menjadi inspirasi bagi guru lain untuk mengembangkan praktik pembelajaran yang lebih kreatif dan relevan dengan kebutuhan peserta didik di era digital. Selain itu, penggunaan berbagai platform digital dalam pembelajaran juga membantu menciptakan ekosistem sekolah yang lebih terbuka terhadap transformasi teknologi dan penguatan literasi digital warga sekolah.
Ke depan, implementasi praktik pembelajaran “When Science Meets AI: Learning pH through Color and Creativity” direncanakan untuk terus dikembangkan dan direplikasi pada materi IPA lainnya dan bahkan bisa diimplementasikan di mata pelajaran lain seperti IPS dan Bahasa. Inovasi ini juga berpotensi menjadi praktik baik yang dapat dibagikan melalui forum MGMP IPA maupun kegiatan berbagi praktik pembelajaran di sekolah, sehingga dapat menginspirasi guru lain dalam mengintegrasikan eksperimen sains, teknologi digital, AI secara pedagogis. Dengan pendekatan yang fleksibel dan adaptif, pembelajaran berbasis AI ini tidak hanya dapat diterapkan pada satu kelas saja, tetapi juga berpeluang menjadi bagian dari budaya pembelajaran inovatif yang berkelanjutan di lingkungan sekolah.