A. SITUATION AND TASK (SITUASI DAN TANTANGAN)
“Anak-anak, mengapa kita harus mematikan lampu saat tidak digunakan?” tanya Bu Chitra membuka pembelajaran IPAS pagi itu.
“Supaya hemat energi, Bu!” jawab siswa serempak.
“Kalau di rumah, bagaimana cara menghemat listrik?” lanjut Bu Chitra.
“Mencabut charger setelah dipakai!” jawab Abunaya dengan lantangnya.
“Mematikan televisi kalau tidak ditonton!” sahut Raline.
“Bagus anak-anak. Kita harus menghemat energi listrik di manapun itu,” lanjut Bu Chitra.
Jawaban mereka tepat, lancar, dan penuh percaya diri. Secara konsep, siswa kelas VB SD Negeri Sambiroto 02 telah memahami pentingnya hemat energi. Namun, beberapa saat setelah pembelajaran usai, sebuah pemandangan berbeda justru terlihat. Lampu kelas masih menyala saat ruangan kosong saat jam pelajaran olahraga atau setelah pulang sekolah, kipas angin tetap berputar tanpa penghuni, lampu tetap menyala terang, dan tidak ada yang merasa perlu untuk mematikannya. Siswa beranggapan bahwa itu semua tugas penjaga sekolah.
Fakta ini menunjukkan bahwa pemahaman mereka masih berada pada level hafalan teori, belum berkembang menjadi kesadaran dan kebiasaan hidup hemat energi. Di sisi lain, pembelajaran IPAS selama ini cenderung berfokus pada aspek kognitif berupa hafalan konsep, rumus, atau definisi. Pembelajaran jarang melibatkan pengalaman nyata yang menuntut siswa berpikir kritis, berkolaborasi, atau berkreasi. Akibatnya, siswa kurang terbiasa menghubungkan materi dengan persoalan di lingkungan sekitar mereka.
Padahal, tantangan global seperti krisis energi dan kebutuhan konservasi energi listrik menuntut kontribusi nyata generasi muda. Hal ini sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 7 (Energi Bersih dan Terjangkau) serta SDGs 13 (Penanganan Perubahan Iklim), yang menekankan pentingnya kesadaran dan aksi nyata dalam penggunaan energi secara bijak. Artinya, siswa tidak cukup hanya mengetahui konsep, tetapi perlu dilatih menjadi individu yang peduli, terampil, dan mampu berkontribusi.
Kondisi ini diperkuat oleh hasil refleksi guru bahwa siswa sering merasa bosan jika pembelajaran hanya berupa penjelasan dan latihan soal. Sebaliknya, mereka lebih bersemangat ketika terlibat dalam kegiatan praktik, diskusi kelompok, atau proyek yang menghasilkan karya nyata. Hal ini menjadi peluang untuk menghadirkan pembelajaran mendalam, yaitu pembelajaran yang aktif, kolaboratif, kontekstual, dan bermakna.
Kurikulum Merdeka menekankan pentingnya pembelajaran mendalam (deep learning), yaitu proses belajar yang tidak hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi juga kemampuan mengaitkan konsep dengan kehidupan nyata, mengembangkan penalaran kritis, kolaborasi, kreativitas, dan kewargaan sebagai dimensi profil lulusan. Dengan latar belakang tersebut, pembelajaran IPAS di SD Negeri Sambiroto 02 perlu dirancang ulang agar lebih bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan.
Guru kemudian memilih model Project Based Learning (PjBL) dengan pendekatan STEAM, didukung media inovatif CERDAS (Cipta Elektronik Ramah Lingkungan dengan Tenaga Alternatif Surya) sebagai wujud implementasi pembelajaran mendalam. Melalui pembelajaran mendalam ini, siswa diharapkan tidak hanya mampu menjawab soal tentang cara hemat energi, tetapi juga benar-benar menerapkannya dalam kehidupan nyata serta tumbuh menjadi agen perubahan dalam konservasi energi listrik di sekolah, rumah, dan masyarakat.
B. ACTION (AKSI)
Untuk menjawab tantangan tersebut, guru merancang sebuah pembelajaran IPAS yang berbeda dari praktik sebelumnya. Pembelajaran ini mengintegrasikan model Project Based Learning (PjBL) dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics), serta didukung oleh media inovatif CERDAS (Cipta Elektronik Ramah Lingkungan dengan Tenaga Alternatif Surya). Rancangan ini berorientasi pada pembelajaran mendalam, yang tidak hanya menekankan penguasaan konsep, tetapi juga menghadirkan pengalaman nyata, pemecahan masalah kontekstual, kolaborasi, kreativitas, serta aksi nyata dalam kehidupan sehari-hari.
Kegiatan Asinkronus
Sebagai langkah awal, guru menerapkan strategi Flipped Classroom untuk membangun kesiapan belajar siswa. Sebelum pembelajaran tatap muka, siswa diminta mempelajari materi secara mandiri melalui berbagai sumber digital. Guru mengirimkan video pembelajaran dan e-komik interaktif tentang energi alternatif yang kontekstual dengan lingkungan siswa, yaitu E-Komik “WOW!!! Rahasia Goa Kreo dan Energi Matahari di Waduk Jatibarang” yang dapat diakses melalui tautan berikut: https://online.anyflip.com/vpawf/mebt/ (e-komik karya guru Chitra Sintarani) serta video pembelajaran energi alternatif: https://youtu.be/wS1ooGpd4eY?si=W4O_w6fWpG6N9fKU.

Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya membaca dan menonton, tetapi juga diminta membuat rangkuman sederhana sebagai bentuk refleksi awal. Aktivitas ini melatih kemandirian belajar sekaligus membantu siswa membangun pengetahuan awal sebelum memasuki pembelajaran di kelas. Dengan bekal tersebut, pembelajaran tidak lagi berpusat pada penjelasan guru, melainkan pada proses berpikir siswa yang lebih aktif, kritis, dan kontekstual sehingga mendukung terciptanya pembelajaran mendalam.
Kegiatan Sinkronus
Kegiatan Awal Pembelajaran
Kegiatan pembelajaran diawali dengan penerapan prinsip Pembelajaran Mendalam (PM) yang berorientasi pada suasana berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Murid berbaris dengan tertib di depan kelas dipimpin oleh ketua kelas, kemudian masuk ke dalam kelas secara disiplin. Setibanya di dalam kelas, murid menempelkan foto dirinya pada papan emosi sebagai bentuk refleksi perasaan. Kegiatan ini menjadi bagian dari olah rasa dan penguatan sosial-emosional, sekaligus membantu guru memahami kondisi awal siswa. Guru kemudian memasuki kelas dengan mengenakan seragam dan helm PLN untuk menarik perhatian dan membangun suasana kontekstual pembelajaran. Kegiatan dilanjutkan dengan salam, doa bersama, yel-yel kelas, serta menyanyikan lagu Indonesia Raya sebagai bentuk olah hati dan penguatan nasionalisme. Selanjutnya, guru melakukan presensi sekaligus menanyakan kondisi emosional siswa berdasarkan papan emosi. Guru dan murid saling memberikan penguatan positif untuk menciptakan suasana belajar yang aman dan nyaman. Setelah itu, guru bersama murid mengingat kembali kesepakatan kelas sebagai landasan dalam berinteraksi selama pembelajaran.

Memasuki kegiatan inti pembuka, guru memancing rasa ingin tahu siswa melalui pertanyaan pemantik mendalam (olah pikir):
- Siapa di sini yang setiap hari menyalakan lampu di rumahnya?
- Jika lampu tiba-tiba padam, apa yang kalian rasakan?
- Dari mana sebenarnya listrik yang kita gunakan berasal? Apakah PLN dapat menyediakan listrik tanpa batas?
- Jika listrik padam seharian, adakah cara lain agar kita tetap bisa menggunakan energi?
Pertanyaan-pertanyaan ini mendorong siswa untuk berpikir kritis dan mengaitkan pengalaman sehari-hari dengan konsep energi. Untuk memperkuat pemahaman kontekstual, guru mengajak siswa melakukan diskusi analisis sederhana terhadap struk listrik rumah, sehingga siswa menyadari bahwa penggunaan energi berkaitan langsung dengan kehidupan mereka. Kegiatan dilanjutkan dengan olah rasa melalui menyanyikan lagu hemat energi, yang bertujuan menanamkan nilai kepedulian terhadap penggunaan energi secara menyenangkan.🎵 Link lagu: https://youtu.be/xfgkbzjFJ1M?si=I-xa7-lCLjBcay8s. Melalui rangkaian kegiatan awal ini, siswa tidak hanya diajak memahami konsep energi, tetapi juga mulai membangun kesadaran bahwa hemat energi merupakan bagian dari tanggung jawab bersama dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.
Kegiatan Inti Pembelajaran
Kegiatan inti pembelajaran diawali dengan pengalaman belajar memahami yang berorientasi pada prinsip Pembelajaran Mendalam (PM) yang berkesadaran dan bermakna. Guru mengajak murid melakukan tanya jawab terkait materi macam-macam energi dan energi alternatif berdasarkan video yang telah dipelajari pada kegiatan asinkronus. Aktivitas ini membantu mengaktifkan pengetahuan awal sekaligus melatih kemampuan berpikir siswa. Selanjutnya, murid mengamati struk pembayaran listrik yang dibawa dari rumah dan berdiskusi mengenai perbedaan tagihan listrik antar rumah serta dampak hemat energi bagi keluarga dan lingkungan. Kegiatan ini mengintegrasikan aspek STEAM (Mathematics) karena melibatkan analisis data dalam konteks nyata.
Guru kemudian memfasilitasi pemahaman konsep energi alternatif, khususnya energi surya, sebagai solusi pengganti listrik PLN, sekaligus mengarahkan siswa dalam merumuskan pertanyaan dasar proyek (STEAM: Science; PjBL: menentukan pertanyaan dasar). Untuk memperkaya pengalaman belajar, murid bekerja secara berkelompok mengeksplorasi berbagai sumber energi terbarukan melalui media berbasis AR dan VR yang imersif (Media AR dibyat sendiri oleh guru: Chitra Sintarani).

Pembelajaran semakin kontekstual dengan kehadiran petugas PLN Unit Pelaksana Pendidikan dan Pelatihan (UPDL) Semarang. Murid terlihat antusias memperhatikan penjelasan dari kakak PLN, menyimak dengan penuh perhatian tentang pentingnya hemat listrik dan energi terbarukan, serta berani mengajukan berbagai pertanyaan kritis seputar energi listrik, sumber energi, dan penggunaannya dalam kehidupan sehari-hari. Interaksi ini tidak hanya memperkuat pemahaman konsep, tetapi juga menumbuhkan rasa percaya diri dan rasa ingin tahu siswa terhadap isu energi di lingkungan sekitar.

Pada tahap berikutnya, pembelajaran berlanjut pada pengalaman belajar mengaplikasikan yang berorientasi pada prinsip berkesadaran, bermakna, dan menggembirakan. Murid dibagi menjadi enam kelompok dengan anggota 5–6 orang untuk mendorong kolaborasi. Guru menjelaskan proyek yang akan dilakukan, yaitu membuat perangkat elektronik sederhana seperti kipas, mobil-mobilan, atau rumah-rumahan yang memanfaatkan energi panas matahari (sel surya) sebagai sumber energi alternatif. Untuk menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, pemilihan jenis proyek dilakukan melalui pengundian interaktif menggunakan spin wheel atau duck race.
Selanjutnya, murid mulai merancang dan merangkai miniatur dari media CERDAS secara kolaboratif (STEAM: Technology dan Engineering; PjBL: mendesain perencanaan proyek dan menyusun penjadwalan). Pada tahap ini, terlihat bahwa siswa sangat antusias—mereka aktif berdiskusi, saling berbagi ide, mencoba berbagai kemungkinan rangkaian, serta menunjukkan rasa ingin tahu yang tinggi terhadap cara kerja energi surya. Suasana kelas menjadi hidup karena setiap kelompok terlibat penuh dalam proses mencipta, bukan sekadar mengikuti instruksi. Dalam proses tersebut, murid belajar berbagi peran, memecahkan masalah, serta mengembangkan kreativitas melalui pengalaman langsung. Guru berperan sebagai fasilitator dengan memantau, membimbing, dan melakukan observasi terhadap perkembangan proyek setiap kelompok (PjBL: memantau kemajuan proyek), sehingga pembelajaran berlangsung aktif, bermakna, dan berorientasi pada pengalaman nyata.
Murid melakukan uji coba miniatur tenaga surya sederhana yang telah dibuat di halaman SD Negeri Sambiroto 02 sebagai bentuk implementasi nyata konsep energi surya (olah raga; PjBL: menguji hasil proyek). Pada tahap ini, siswa terlihat sangat antusias. Mereka mencoba balapan mobil-mobilan bertenaga surya hasil rakitan kelompoknya, saling membandingkan kecepatan, serta menunjukkan rasa bangga terhadap karya yang telah dibuat. Tidak hanya itu, siswa juga melakukan eksplorasi lebih lanjut dengan mencoba menutup sel surya atau memindahkan alat ke tempat yang tidak terkena cahaya matahari untuk melihat apa yang terjadi. Dari pengalaman ini, siswa menemukan secara langsung bahwa kinerja alat sangat bergantung pada cahaya matahari sebagai sumber energi.

Selanjutnya, setiap kelompok mempresentasikan hasil karyanya, baik berupa kipas, mobil-mobilan, maupun rumah-rumahan bertenaga surya. Kelompok lain bersama guru memberikan umpan balik yang konstruktif, sehingga terjadi proses evaluasi dan perbaikan yang bermakna (PjBL: evaluasi pengalaman). Guru kemudian memberikan penguatan terhadap konsep dan hasil karya yang telah dibuat agar pemahaman siswa semakin utuh.
Pembelajaran kemudian memasuki tahap merefleksi sebagai bagian penting dari pembelajaran mendalam yang berkesadaran dan bermakna. Murid menjawab pertanyaan reflektif, seperti hal baru yang dipelajari tentang energi alternatif (sel surya), bagian paling menyenangkan dari kegiatan proyek, kesulitan yang dihadapi, serta pesan hemat energi yang ingin disampaikan kepada orang lain. Dari proses refleksi ini, muncul kesadaran untuk melakukan tindak lanjut berupa Gerakan Aksi Nyata Hemat Energi.
Sebagai bentuk implementasi, siswa merancang berbagai media kreatif seperti poster, stiker, komik, dan video ajakan yang akan mereka sebarkan kepada teman, keluarga, hingga masyarakat sekitar. Kegiatan ini menjadi jembatan antara pembelajaran di kelas dengan kehidupan nyata, sekaligus menumbuhkan kesadaran bahwa siswa bukan hanya sebagai pembelajar, tetapi juga sebagai pelaku perubahan dalam upaya konservasi energi.

Kegiatan pembelajaran ditutup dengan guru dan murid bersama-sama menyimpulkan pembelajaran tentang macam-macam energi, pentingnya energi alternatif, serta pengalaman merancang perangkat elektronik sederhana berbasis energi surya. Murid kemudian mengisi self-assessment melalui Google Form sebagai refleksi diri, dilanjutkan dengan perencanaan pembelajaran berikutnya. Sebagai bentuk apresiasi, guru memuliakan siswa atas kreativitas, kerja sama, dan keberhasilan proyek yang telah dicapai. Pembelajaran diakhiri dengan doa bersama dalam suasana yang hangat dan bermakna.
C. RESULT(HASIL/DAMPAK)
Dampak dan Tindak Lanjut Pembelajaran
Implementasi pembelajaran mendalam berbasis STEAM–PjBL dengan media CERDAS memberikan dampak yang signifikan tidak hanya pada pemahaman siswa, tetapi juga pada perubahan sikap dan perilaku mereka dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini tergambar secara jelas melalui infografis hasil pembelajaran yang menunjukkan bahwa seluruh siswa mengalami peningkatan pada tiga aspek utama, yaitu penalaran kritis, kolaborasi, dan kreativitas. Dari sisi kognitif, siswa mampu memahami konsep energi dan energi alternatif secara lebih bermakna serta mengaitkannya dengan kehidupan nyata. Dari sisi keterampilan, terjadi peningkatan kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis dan memecahkan masalah, kemampuan bekerja sama dalam kelompok, serta kreativitas dalam menghasilkan karya inovatif. Hal ini terlihat dari aktivitas merancang dan merangkai miniatur perangkat bertenaga surya yang kemudian dikembangkan menjadi sebuah maket kota berbasis energi surya, sehingga siswa dapat melihat secara konkret penerapan energi alternatif dalam skala yang lebih luas dan terintegrasi.
Selain itu, infografis di bawah ini juga menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi siswa terjadi secara konsisten dengan rata-rata peningkatan lebih dari 50%, yang menandakan bahwa pembelajaran yang dilakukan tidak hanya efektif, tetapi juga berdampak nyata. Dari aspek sikap, tumbuh kesadaran dan kepedulian siswa terhadap pentingnya penghematan energi. Dampak ini tidak berhenti di lingkungan sekolah, tetapi berlanjut ke rumah dan masyarakat. Di sekolah, siswa secara konsisten menunjukkan perilaku nyata dengan mengecek setiap ruang kelas sebelum pulang untuk memastikan lampu dan kipas angin telah dimatikan. Di rumah, siswa mulai membiasakan diri mematikan lampu dan peralatan elektronik yang tidak digunakan, mencabut charger setelah pemakaian, serta mencatat penggunaan listrik bulanan sebagai bentuk kontrol energi. Bahkan, siswa juga mengajak anggota keluarga untuk ikut berhemat listrik dan membagikan pesan hemat energi melalui media sosial, sehingga dampaknya semakin meluas.

Sebagai tindak lanjut, siswa menginisiasi Gerakan Aksi Nyata Hemat Energi dengan membuat dan menyebarkan berbagai media kampanye kreatif, seperti poster, stiker, komik, dan video. Aksi ini dilakukan secara langsung dengan membagikan stiker kepada pedagang di depan sekolah, tetangga rumah, masyarakat sekitar, hingga kepada K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah) Korsatpen Kecamatan Tembalang dan kelompok PKK. Kegiatan ini menunjukkan bahwa siswa tidak hanya belajar, tetapi juga mampu menjadi agen perubahan yang berkontribusi nyata dalam upaya konservasi energi di lingkungan yang lebih luas.

Dengan rangkaian dampak dan tindak lanjut tersebut, pembelajaran IPAS di SD Negeri Sambiroto 02 tidak lagi sekadar menyampaikan teori energi, melainkan benar-benar menghadirkan pembelajaran mendalam yang bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan, serta mampu membentuk kebiasaan positif dan tindakan nyata yang berkelanjutan.
Link Video Implementasi Pembelajaran: https://www.youtube.com/watch?si=q2y3MawlfLR_5IG3&v=iX6B99z9uTw&feature=youtu.be
Link RPPM : https://anyflip.com/vpawf/zjex/
“Saat matahari mengajar dengan cahaya, kita berkarya menjaga bumi dengan tindakan nyata.”
(Chitra Sintarani-SDN Sambiroto 02 Kota Semarang