Sacoji (Sabun Eco-enzyme Muhajirin) merupakan inovasi pendidikan lingkungan berbasis proyek (project-based learning) yang dikembangkan melalui pemanfaatan limbah minyak jelantah dan limbah organik menjadi sabun padat ramah lingkungan di lingkungan sekolah. Program ini mengintegrasikan pembelajaran ilmu pengetahuan alam, pendidikan lingkungan hidup, kewirausahaan, serta penguatan karakter peserta didik dalam satu kegiatan nyata yang aplikatif. Melalui inovasi ini, siswa tidak hanya memahami teori mengenai pencemaran lingkungan, limbah rumah tangga, fermentasi eco enzyme, dan proses kimia saponifikasi, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik pengolahan limbah menjadi produk bernilai guna dan bernilai ekonomi.
Latar belakang program ini berangkat dari banyaknya limbah minyak jelantah dan sampah organik yang dihasilkan dari aktivitas dapur sekolah maupun asrama. Apabila limbah tersebut dibuang sembarangan, dapat menyebabkan pencemaran tanah, air, serta mengganggu kesehatan lingkungan. Oleh karena itu, Sacoji hadir sebagai solusi edukatif dan berkelanjutan dengan mengubah limbah menjadi sabun padat yang bermanfaat, sekaligus menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa.
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan Sacoji meliputi minyak jelantah yang telah dimurnikan melalui proses penyaringan, eco enzyme hasil fermentasi limbah organik seperti kulit buah dan sayuran, natrium hidroksida (NaOH) sebagai bahan alkali, air bersih, serta bahan tambahan seperti pewangi alami jika diperlukan. Alat yang digunakan antara lain wadah tahan panas, alat pengaduk, timbangan, saringan, cetakan sabun, sarung tangan, masker, dan alat pelindung lainnya.
Proses pembuatan dimulai dengan menyaring minyak jelantah hingga bersih dari sisa kotoran. Selanjutnya, dibuat larutan NaOH dengan mencampurkan NaOH ke dalam air secara hati-hati sesuai prosedur keselamatan. Minyak jelantah kemudian dicampur dengan eco enzyme, lalu larutan NaOH ditambahkan sedikit demi sedikit sambil diaduk hingga mencapai kondisi trace atau mengental. Setelah adonan homogen, campuran dituangkan ke dalam cetakan dan didiamkan selama 24–48 jam hingga mengeras. Sabun yang telah terbentuk kemudian melalui proses curing selama 3–4 minggu agar kualitasnya optimal dan aman digunakan.
Dampak dari inovasi Sacoji sangat luas, baik secara akademik maupun non-akademik. Bagi peserta didik, program ini meningkatkan keterampilan berpikir kritis, pemecahan masalah, kreativitas, kolaborasi, serta kesadaran terhadap pentingnya pelestarian lingkungan. Siswa juga memperoleh pengalaman nyata dalam produksi barang yang memiliki nilai ekonomi, sehingga mampu menumbuhkan jiwa kewirausahaan sejak dini. Bagi pendidik, Sacoji menjadi strategi pembelajaran kontekstual yang inovatif, menarik, dan relevan dengan tantangan kehidupan modern. Sementara itu, bagi sekolah dan komunitas pendidikan, program ini membantu mengurangi limbah, menciptakan budaya peduli lingkungan, serta memperkuat citra sekolah sebagai lembaga yang mendukung pendidikan berkelanjutan.
Dengan demikian, Sacoji bukan sekadar produk sabun ramah lingkungan, tetapi juga menjadi media pendidikan transformatif yang membangun generasi muda yang cerdas, kreatif, peduli lingkungan, dan berdaya saing. Inovasi ini menunjukkan bahwa pengelolaan limbah dapat menjadi sarana pembelajaran yang efektif dalam menciptakan solusi nyata bagi permasalahan lingkungan sekaligus mendukung pengembangan pendidikan masa depan.