Setelah diselenggarakan di SDN Kademangan 01, Program CSR Literasi Keuangan Guru OCBC 2026 berlanjut ke SDN Pondok Cabe Udik 01, Tangerang Selatan. Program yang diinisiasi oleh PT Bank OCBC NISP Tbk bersama GuruInovatif.id, dengan dukungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangerang Selatan, bertujuan memperkuat pemahaman literasi keuangan di lingkungan pendidikan melalui peningkatan kapasitas guru.
Program yang diikuti oleh 20 guru ini berlangsung pada 10 September hingga 1 Oktober 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan pengisian Financial Fitness Check-Up untuk membantu guru mengenali kondisi dan kebiasaan keuangan pribadi, kemudian dilanjutkan dengan pelatihan, praktik, dan pengembangan perangkat ajar. Melalui rangkaian tersebut, guru tidak hanya memperdalam pemahaman mengenai pengelolaan keuangan pribadi, tetapi juga mempelajari pendekatan pembelajaran yang relevan untuk mengenalkan konsep finansial kepada siswa.
Baca juga:
Memahami Pengelolaan Keuangan untuk Kehidupan Sehari-hari
Rangkaian pelatihan diawali pada 10 September 2026 dengan materi pengelolaan keuangan pribadi. Dalam sesi ini, guru mempelajari berbagai aspek penting, mulai dari perencanaan arus kas, pengelolaan anggaran, perlindungan terhadap risiko keuangan, penyediaan dana darurat, hingga pengenalan strategi investasi dasar.
Materi ini membantu guru memahami bahwa literasi keuangan merupakan keterampilan yang berkaitan erat dengan kehidupan sehari-hari. Kemampuan mengatur pemasukan dan pengeluaran, menentukan prioritas kebutuhan, serta mempersiapkan dana untuk menghadapi situasi tak terduga menjadi bekal penting dalam mengambil keputusan finansial secara bijak.
Hasil evaluasi memperlihatkan peningkatan rata-rata nilai peserta dari 45,8 pada pre-test menjadi 82,82 pada post-test, atau naik sebesar 37,02 poin. Peningkatan ini mencerminkan perkembangan pemahaman guru setelah mengikuti pelatihan pengelolaan keuangan pribadi.
Belajar Literasi Keuangan dengan Cara yang Lebih Menarik
Pada pelatihan kedua yang berlangsung pada 17 September 2026, peserta mempelajari cara mengintegrasikan literasi keuangan ke dalam kegiatan belajar mengajar. Guru diperkenalkan pada pendekatan pembelajaran, pemanfaatan media interaktif, serta pengembangan aktivitas yang sesuai dengan karakteristik siswa sekolah dasar.

Salah satu kegiatan dalam sesi ini adalah penggunaan Financial Education Board Game yang disediakan oleh OCBC. Permainan dengan konsep menyerupai monopoli tersebut menghadirkan simulasi pengelolaan keuangan dalam kehidupan sehari-hari. Melalui permainan ini, peserta berlatih mengambil keputusan finansial, menyusun anggaran, menabung, serta mengenal pilihan investasi, seperti reksa dana dan saham.
Penggunaan permainan memberikan pengalaman langsung kepada guru dalam memahami bagaimana konsep keuangan dapat dipelajari melalui aktivitas yang melibatkan strategi dan pengambilan keputusan. Pendekatan serupa dapat diadaptasi di kelas untuk membantu siswa membedakan kebutuhan dan keinginan, menentukan prioritas pengeluaran, serta membangun kebiasaan menabung.
Dengan demikian, pembelajaran literasi keuangan tidak harus terbatas pada penjelasan konseptual. Guru dapat mengembangkan simulasi dan aktivitas sederhana yang dekat dengan pengalaman anak, sehingga siswa memiliki kesempatan untuk memahami sekaligus mempraktikkan prinsip pengelolaan uang.
Hasil evaluasi pelatihan kedua menunjukkan peningkatan rata-rata nilai peserta dari 37,37 pada pre-test menjadi 93,53 pada post-test, atau naik sebesar 56,16 poin. Hasil ini memperlihatkan perkembangan pemahaman peserta mengenai penerapan literasi keuangan melalui pendekatan pembelajaran interaktif.
Mengintegrasikan Literasi Keuangan ke dalam Perangkat Ajar
Setelah mengikuti pelatihan, para guru melanjutkan proses pembelajaran melalui praktik dan diseminasi pada 18–29 September 2026. Pada tahap ini, peserta mengembangkan perangkat ajar berbasis literasi keuangan dengan mempertimbangkan kebutuhan siswa dan konteks pembelajaran di sekolah.
Rata-rata skor penugasan perangkat ajar mencapai 85. Penilaian mencakup empat aspek, yaitu integrasi materi literasi keuangan, inovasi media pembelajaran, pengimbasan kepada siswa, serta efektivitas media dalam mendukung proses belajar. Hasil ini menggambarkan kemampuan peserta dalam menerjemahkan materi pelatihan menjadi rancangan pembelajaran yang dapat digunakan untuk mengenalkan literasi keuangan kepada siswa.
Salah satu karya yang mendapat apresiasi adalah perangkat ajar karya Ibu Fitria Ristiana Dewi berjudul Pengimbasan Literasi Melalui “Misi Uangku”. Melalui konsep petualangan dan serangkaian tantangan, siswa diajak belajar mengelola uang dengan bijak, mengambil keputusan, serta memahami konsekuensi dari pilihan yang dibuat.
Pendekatan tersebut memperlihatkan bagaimana literasi keuangan dapat diperkenalkan melalui aktivitas yang sesuai dengan dunia anak. Siswa tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga diajak berpikir, menentukan pilihan, dan memahami pentingnya mengelola uang secara bertanggung jawab.
Peningkatan Kompetensi yang Terukur
Selain hasil dari setiap sesi pelatihan, perkembangan peserta juga diukur melalui asesmen kompetensi secara keseluruhan. Rata-rata skor asesmen meningkat dari 8 menjadi 9,8. Berdasarkan klasifikasi kompetensi yang digunakan dalam program, capaian akhir tersebut berada pada kategori Guru Transformer.
Capaian ini menjadi salah satu indikator perkembangan kompetensi guru dalam memahami dan menerapkan prinsip literasi keuangan. Pemahaman tersebut diharapkan dapat mendukung pengelolaan keuangan pribadi yang lebih baik sekaligus memperkuat kemampuan guru dalam mengintegrasikan literasi keuangan ke dalam kegiatan pembelajaran.
Dari sisi partisipasi, seluruh guru mengikuti rangkaian kegiatan dengan tingkat kehadiran mencapai 100% dari keseluruhan sesi. Partisipasi ini mendukung proses pembelajaran yang menggabungkan penguatan pemahaman, eksplorasi media interaktif, dan praktik pengembangan perangkat ajar.
Pengetahuan Baru yang Relevan bagi Guru dan Siswa
Bagi pihak sekolah, program ini memberikan kesempatan untuk mengembangkan kompetensi profesional guru melalui bidang pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Kesempatan tersebut menjadi berarti, terutama di tengah terbatasnya akses terhadap pelatihan yang dirasakan oleh pihak sekolah.
Literasi keuangan juga menjadi pengetahuan baru yang menarik bagi sebagian peserta. Materi yang sebelumnya mungkin belum dipelajari secara khusus ternyata memiliki relevansi langsung dengan kehidupan pribadi maupun peran mereka sebagai pendidik. Guru dapat menerapkan prinsip pengelolaan keuangan dalam keseharian sekaligus mengenalkannya kepada siswa melalui kegiatan belajar mengajar.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa pengembangan kompetensi guru dapat memberikan manfaat yang melampaui ruang pelatihan. Pengetahuan yang diperoleh dapat mendukung pengembangan diri guru sekaligus membuka peluang bagi siswa untuk mengenal keterampilan hidup yang penting bagi masa depan.
Membangun Kebiasaan Finansial yang Bijak sejak Dini
Program Literasi Keuangan Guru OCBC 2026 di SDN Pondok Cabe Udik 01 menjadi salah satu upaya untuk memperkuat peran guru dalam mengenalkan literasi keuangan sejak usia dini. Peningkatan hasil evaluasi, penggunaan Financial Education Board Game, dan pengembangan perangkat ajar menjadi bagian dari proses membangun pembelajaran yang lebih kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa.

Melalui kolaborasi antara dunia usaha, penyedia pengembangan kompetensi guru, dan pemangku kepentingan pendidikan, program ini memberikan ruang bagi guru untuk memperkuat pemahaman finansial sekaligus mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih menarik. Dengan bekal tersebut, guru diharapkan dapat menjadi teladan dalam pengelolaan keuangan serta membantu siswa membangun kebiasaan finansial yang bijak sejak sekolah dasar.
Penulis: Shafira | Penyunting: Cahya
Ruang Diskusi
Memuat diskusi menarik...